Wisata Air : Danau Singkarak

Bentangan Alam Indah Pesona Wisata

Dari Singkarak nan badangkang.

Hinggo buayo putiah daguak.

Begitulah sepenggal petatah yang ada. Masih teringat saat sekolah dulu, guru Budaya Alam Minangkabau.

Danau Singkarak….

Dimulai dari arah Padang Panjang, dibawah lintasan kereta api, langsung disambut dengan pintu gerbang menuju lokasi wisata air danau Singkarak.

Kunjungan wisatawan lokal maupun mancanegara tidak berkurang, apalagi saat musim liburan tiba, setiap lokasi-lokasi wisata yang disediakan oleh masyarakat setempat ramai dikunjungi. Musim liburan juga menjadi berkah bagi para pedagang yang menjajakan makanan ringan di lokasi wisata.

Tidak ada pungutan biaya masuk, hanya biaya parkir yang dikenakan, berkisar dari 5000 – 10000 per kendaraan, tergantung jenis kendaraan yang masuk ke tempat wisata air tersebut. Didalamnya terdapat sebuah taman yang bisa dimanfaatkan oleh pengunjung untuk beristirahat dan bermain.

Wisata Air Danau Singkarak Berlalu sedikit mengarah kekota Solok, kita akan melalui sebuah pasar, yap, Pasar Ombilin, disana sangat tepat untuk berbelanja sejenak. Namanya pasar, ya, pasti macet, apa lagi hari balai. Oleh-oleh khas Ombilin adalah Ikan Bilih.

Ada yang tahu? Bilih adalah sejenis ikan kecil yang hanya ada di danau Singkarak. Bahkan, hebatnya lagi, Ikan Bilih sudah menjadi makanan ekspor kebeberapa negara di Asia dan Eropa.

Perjalanan kembali dilanjutkan melewati tepi danau, pemandangan yang indah terpancar dengan gerlingan air danau yang dibias oleh pantulan cahaya matahari mencukupkan keindahan alam Sumatera Barat.

Masih ada sebuah lokasi wisata yang menarik. Disini tidak begitu ramai, tapi sekiranya sudah menjadi tempat yang patut untuk di singgahi. Yaitu, sebuah kedai rujak, rujak Mak Simin, hmmm. Hanya saja orang-orang yang benar-benar sudah sering singgah yang tahu kalau ada menu makanan rujak. Harga yang cukup pas di kantong.

Selain itu, disini juga disediakan beberapa perahu boat atau kayuh yang bisa dimanfaatkan oleh pengunjung, tentu saja semuanya disewakan oleh si-empunya. Kawasan ini  menjadi menarik dengan pengaktifan kembali jalur kereta api, tapi sayangnya hanya ketika hari libur saja. Tapi lumayanlah dari pada tidak sama sekali.

Tidak terasa sudah mencapai ujung Danau Singkarak, perjalanan menuju Kota Solok semakin singkat, kerlingan air danau lambat laun menghilang dari pandangan. (*)

About abdimasa

Aku hanya seorang manusia biasa yang mempunyai harapan, lahir pada tanggal 5 Juni 1991 di kota Solok, Sumatera Barat, aku tumbuh menjadi anak sawah yang selalu berlarian dipematang untuk menghalau pipit yang mencuri bulir-bulir padi. Aku, setelah berusia 5 tahun, aku dan orang tua pindah ke kota Padang, ayah adalah seorang jurnalis dikota. Akupun bersekolah dasar, syukur tidak ada satu kelaspun yang harus ku ulang, hingga umur 11 tahun telah kutamatkan sekolah dasar dengan banyak kejadian yang akan ku ceritakan nanti. Tidak mau sampai disana saja, aku kembali disekolahkan oleh orang tua di sekolah menengah pertama, sama saja, syukur tidak ada kelas yang aku suka, semua sangat membenciku hingga tiap tahun ajaran baru, aku selalu naik kelas dan mendapat kursi baru. Cukup rumit jika dimasa ini, karna disini telah ku mulai yang namanya cinta, tepatnya cinta monyet, akan ada kolom khusus untuk cerita cinta ini. Menamatkan sekolah, aku juga lanjut ke tingkat yang lebih atas, sekolah menengah atas, SMA, disana tidak kalah menariknya dengan cerita-cerita sebelumnya. Aku sudah menemukan jati diri, begitu juga dengan cinta. Benar apa yang dikatakan oleh orang-orang bahwa SMA adalah masa-masa indahmu.
This entry was posted in Journey #forNusantara and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Comments are closed.