Ade Poetra’s Blog – Djarum Beasiswa Plus

karya diri yang pasti seorang penulis biasa

Ade Poetra’s Blog – Djarum Beasiswa Plus - karya diri yang pasti seorang penulis biasa

BALADA MOVE ON TERSULIT PERINGKAT 1 VERSI ON-THE-WAY

Tulisan ini merupakan ungkapan hati saya selama beberapa bulan terakhir dan menjadi momok terhebat sepanjang saya melewati hidup sampai sekarang. Saya harus dan terus memikirkannya setiap menit, jam, hari, minggu bahkan bulan. Kegalauan ini pun membuat saya tak bisa pulang kampung semenjak malam tahun baru 2013 kemarin. Maukah kalian tahu yang membuat saya galau? Membuat saya ingin berteriak ditengah-tengah keramaian dan menyebutkan namanya keras-keras? Ya satu kata, SKRIPSI (saya ingin teriak !!!!!!!).

1661376 20130211071938 264x300 BALADA MOVE ON TERSULIT PERINGKAT 1 VERSI ON THE WAY

Mahasiswa Galau Tingkat Skripsi

Skripsi merupakan syarat untuk mahasiswa menyelesaikan studinya, khususnya Strata 1. Skripsi minimal dibimbing oleh 2 dosen berpendidikan minimal S2 (peraturan kampus). Nah, kebetulan saya dibimbing oleh 2 orang dosen, dan dosen pembimbing saya tersebut salah satunya ber titel Profesor. Inilah yang membuat saya galau dan sangat lambat untuk move on dari skripsi.

penguji 300x225 BALADA MOVE ON TERSULIT PERINGKAT 1 VERSI ON THE WAY

Awalnya senang, tapi dalam perjalanannya sulit T_T

Saya mulai mengerjakan skripsi sekitar bulan September 2012, dan saya “digantung” oleh dosen bertitel prof ini selama 3 bulan !!!! Beliau sibuk dengan pencalonan diri sebagai salah satu Bupati yang ada di salah satu Kabupaten yang ada di Sulawesi Selatan. Sedangkan dosen pembimbing saya yang lain hanya mengikut dari pembimbing satu. Akhirnya dengan susah payah mengatur jadwal pada tanggal 11 Desember 2012 saya melaksanakan seminar proposal sebelum turun penelitian.

IMG01044 20121211 07261 300x225 BALADA MOVE ON TERSULIT PERINGKAT 1 VERSI ON THE WAY

ACC :’)

IMG00308 20120901 0943 300x225 BALADA MOVE ON TERSULIT PERINGKAT 1 VERSI ON THE WAY

Lagi revisi skripsi

Setelah melakukan penelitian dan mengerjakan hasil penelitian dari bulan Februari 2013, skripsi saya terus mengalami revisi hingga 2 bulan lamanya. Saya hampir stress dan frustrasi mengerjakan skripsi. Hngga sekarang saya  berjuang untuk menyelesaikan studi saya. Sudah lebih dari 180 hari saya menghitung pengerjaan skripsi ini. Saya belum bisa MOVE ON. Inilah Balada Move On #1 Versi On-the-way saya, bagaimana skripsi anda??

kucing galau1 300x300 BALADA MOVE ON TERSULIT PERINGKAT 1 VERSI ON THE WAY

Ekspresi kalau revisinya banyak

ngenes 300x225 BALADA MOVE ON TERSULIT PERINGKAT 1 VERSI ON THE WAY

Udah 180 hari lebih icon neutral BALADA MOVE ON TERSULIT PERINGKAT 1 VERSI ON THE WAY (ngenes banget)

Aaaa 300x300 BALADA MOVE ON TERSULIT PERINGKAT 1 VERSI ON THE WAY

Buat nyinggung yang lagi skripsian, hahaha..

 

 

 

Kertas-Kertas

Coretan hitam-putih…

Mengakar pada secarik kertas-kertas bersih

Kutuliskan damai untuk diri

Namun tak berarti sama sekali

Kertas-kertas putih

Merajai bingkai mimpi

Penat tak bertepi

Kertas-kertas yang sepi

Tanpa angin yang membawa kembali

Hilang jauh tak berhenti

Kertas-kertas yang tak berarti

Kertas-kertas abadi

Dan kemilau indah matahari

Terenyuh dalam putaran-putaran lebih

Lelah berdiri

Kertas-kertas tanpa tuan dan sendiri

Makassar, 1 Agustus 2012 21.54 WITA

Loka, Dusun Ajaib Di Atas Gunung

Saya pergi ke daerah ini pada bulan Mei tahun 2011. Maksud dari tujuan saya datang ke daerah ini adalah untuk melakukan praktek lapang sebuah mata kuliah di jurusan saya, dan sekaligus rekreasi karena tempatnya yang sangat sejuk dan menarik untuk ditinggali. Kawasan yang rencananya akan menjadi ekowisata ini mendapat perhatian lebih dari pemerintah daerah setempat karena potensi alam dan wilayah yang terdapat pada daerah ini. Salah satu potensi alam yang dikembangkan adalah dari segi sayur-sayuran, buah-buahan dan berbagai macam bunga, misalnya kubis, daun bawang, apel, strawberry, bunga edelweiss, bunga terompet dan lain-lain. Semua bisa menjadi potensi wisata yang menarik untuk dikunjungi.

Tempat ini berada jauh kurang lebih 120km dari kota Makassar, keindahan alam dan suasana sejuk daerah pegunungan ini memberikan suguhan yang menarik dan mempesona untuk dikunjungi. Berada di ketinggian antara 1070 m hingga 1300 m dari atas permukaan laut (mdpl), Dusun Loka di Kecamatan Uluere, Kabupaten Bantaeng ini sejak dulu dikenal sebagai dusun agrowisata penghasil berbagai jenis sayuran dataran tinggi, seperti wortel, buncis, kentang, kubis, kentang, dan lain-lain. Dalam 3 tahun terakhir pemerintah daerah telah mengembangkan budidaya stroberi dan apel dan diprediksikan kualitasnya tidak akan kalah dengan daerah lain di Indonesia.

Secara geografis Dusun ini memiliki luas areal sekitar 106,95 km2 atau 27,01% wilayah Kabupaten Bantaeng, dengan batas wilayah sebelah utara berbatasan dengan Desa Bontolojong, sebelah timur berbatasan dengan Desa Bontotangnga, sebelah selatan berbatasan dengan Desa Bontodaeng, dan sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Jeneponto. Berdasarkan mata pencaharian, penduduk Desa Bonto Marannu mayoritas penduduk memiliki mata pencaharian sebagai petani. Selain itu tidak sedikit pula penduduk memiliki mata pencaharian misalnya sebagai supir, pedagang, pegawai negeri sipil (PNS), montir, wiraswasta, dan lainnya.

Pertama kali menginjak daerah ini, suasana dingin langsung merasuk ke dalam tubuh dan membuat saya menggigil setengah mati. Perubahan suhu ini membuat hidung saya langsung terkena pilek dan apabila berbicara mengeluarkan asap seperti dalam film-film (saya senang mengeluarkan asap dari mulut saya, seolah-olah berada di luar negeri!!). Teman-teman saya yang lain pun ikut merasakan hal yang sama. Tetapi rasa dingin ini tergantikan dengan pemandangan indah bunga-bunga terompet yang menggantung di pinggir jalan dan petak-petak tanah yang telah ditumbuhi berbagai macam sayur dan buah, sangat mempesona.

img01755 20110521 11311 300x225 Loka, Dusun Ajaib Di Atas Gunung

Sayuran yang Ada Di Loka

img01779 20110521 1546 300x225 Loka, Dusun Ajaib Di Atas Gunung

Memetik Buah Stroberi

img01771 20110521 1538 300x225 Loka, Dusun Ajaib Di Atas Gunung

Suasana Sejuk Di Loka

img01791 20110521 1641 300x225 Loka, Dusun Ajaib Di Atas Gunung

Morning in Loka

Sesuai dengan judulnya, hal ajaib apa yang ada di dusun kecil di atas gunung ini???. Jawabannya sederhana, jika kita naik ke dareah paling atas dusun ini pada malam hari dan dalam cuaca yang baik, maka mulai pukul 8 malam di sebelah barat akan terlihat kerlap kerlip lampu kota Makassar yang sangat indah. Saya tidak sempat memotret momen ini karena jaraknya terlalu jauh sehingga hanya bisa dinikmati oleh pandangan mata secara langsung. Saya begitu takjub dengan dusun ini karena mengingat jaraknya yang sangat jauh dari Makassar dan kota ini bak dewa yang bisa melihat secara langsung Kota Makassar pada malam hari. Tetapi keajaiban ini berlangsung tidak terlalu lama karena awan menutupi penglihatan di bawahnya sehingga pada pukul 9 malam saya dan teman-teman pulang ke posko masing-masing. Kami antusias bercerita tentang fenomena tadi dan tidak ingin meninggalkan tempat ini secepatnya. Hingga tanpa terasa hari terakhir pun tiba, kami harus pulang. Saya telah tersihir oleh kemampuan Dusun ini memperlihatkan rahasianya. Saya pun berencana ingin pergi ke sana lagi pada suatu hari, dan mengabadikan momen ini bersama orang-orang yang saya cintai. Insya Allah.

Back To Nature and Survive For Alive; Merangkai Hidup Di Hutan Bengo-Bengo

Perjalanan ini saya lakukan bersamaan dengan kegiatan pengkaderan bagi mahasiswa baru yang dilakukan di organisasi kampus saya, yaitu Misekta (Mahasiswa Peminat Sosial Ekonomi Pertanian). Kegiatan ini berlangsung pada bulan Januari tahun 2011. Pengkaderan ini bertujuan untuk mendekatkan diri pada alam dan menantang kita bagaimana cara untuk bertahan hidup (survival) dengan keadaan yang serba terbatas, jauh dari perkotaan dan kenyamanan rumah kita sendiri.

Dalam kegiatan ini, saya berposisi sebagai “Tim Sukses”, yaitu posisi yang sangat diminati oleh semua senior kami meskipun pekerjaannya sangat melelahkan. Posisi ini bertugas untuk menyiapkan segala keperluan yang akan disiapkan di lapangan nanti, seperti tenda, membuka jalan untuk cross country, mengecek keamanan lokasi, mencari pemukiman untuk mahasiswa baru di Desa Lima Poccoe,Kecamatan Cenrana, Kabupaten Maros sehari sebelumnya yang akan ikut berangkat ke lokasi. Adapun lokasi tahun ini berada di Hutan Bengo-Bengo, yaitu sebuah hutan di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Hutan ini termasuk hutan yang dilindungi oleh Unhas (Universitas Hasanuddin), dan memiliki keanekaragaman flora dan fauna serta keindahan panorama alam yang sangat menakjubkan. Adapun aktivitas pendidikan yang berlangsung di hutan pendidikan Unhas selama ini masih didominasi oleh kegiatan praktek dan penelitian yang terkait dengan ilmu-ilmu kehutanan dasar seperti inventarisasi, perencanaan, ilmu ukur tanah, manajemen hutan, silvika, silvikultur, dendrologi, ekologi, serta social ekonomi masyarakat di sekitar hutan pendidikan. Aktivitas tersebut sejalan dengan kurikulum Jurusan Kehutanan yang masih berorientasi kepada pengelolaan hutan konvensional. Sejak dua tahun terakhir, mahasiswa juga telah melaksanakan Praktek Umum dan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Profesi Kehutanan di Hutan Pendidikan dan desa-desa yang ada di sekitarnya, yang secara administratif berada di tiga kecamatan yaitu Kecamatan Cenrana, Kecamatan Camba, dan Kecamatan Mallawa.

Sebagai tim sukses yang harus siaga dalam menyukseskan acara, kami yang berjumlah 16 orang (14 laki-laki dan 2 perempuan) berangkat terlebih dahulu ke lokasi, yaitu 1 minggu sebelum peserta datang ke lokasi. Dalam sepuluh hari tersebut kami harus selesai mendirikan tenda, mencari jalur cross country, turun ke daerah pemukiman untuk menentukan tempat tinggal mahasiswa baru, dan tentunya bertahan hidup di Hutan Bengo-Bengo. Gambar berikut adalah 16 orang tim sukses termasuk saya (orang ke-8 dari kiri).

img 5908 300x225 Back To Nature and Survive For Alive; Merangkai Hidup Di Hutan Bengo Bengo

Tim Sukses

Perjalanan dari kampus ke daerah Maros (rumah penduduk) membutuhkan waktu 2 jam, kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki menaiki gunung setelah sebelumnya beristirahat di rumah penduduk. Perjalanan ini menurut saya adalah perjalanan yang paling membutuhkan kekuatan fisik saya, karena saya membawa peralatan tenda besar yang berat dan jalanan yang saya tempuh lumayan susah. Pendakian ini memerlukan waktu kurang lebih 2 jam, dan sekitar pukul empat sore kami semua sampai di lokasi dan langsung mendirikan tenda agar kami dapat beristirahat. Ini adalah tenda tempat kami beristirahat.

img 5609 300x225 Back To Nature and Survive For Alive; Merangkai Hidup Di Hutan Bengo Bengo

Tenda Tim Sukses

Hutan Bengo-Bengo sangat menawan dengan pemandangan alam yang mengingatkan saya pada kuasa Tuhan Yang Maha Esa, perjalanan saya ini sangat berarti bagi saya pribadi karena ini perjalanan yang membuat saya cinta terhadap alam dan panorama serta flora fauna yang ada di dalamnya. Selain keindahan alamnya, saya juga menyukai tantangan-tantangan alam yang ada di Hutan Bengo-Bengo, seperti jalanan yang licin serta terjal, tanaman semak berduri yang mengganggu perjalanan, hewan-hewan liar seperti monyet dan buaya sungai yang siaga menerkam perjalanan kami. Tetapi kami semua berjalan dalam tim dan perjalanan pun terasa mengasyikkan.

Pengalaman lain yang mengagumkan adalah saat kami berjalan-jalan untuk melihat sekitar kamp, secara tidak sengaja kami menemukan air terjun yang sangat indah, kami pun sontak bergembira dan tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Sejak saat itu air terjun yang belum kami namai sampai sekarang tersebut menjadi tempat favorit kami untuk mandi dan menghibur diri dari kebosanan. Karena alat elektronik kami tidak berfungsi di sini. Kami pun mulai senang bisa berinteraksi dengan alam, back to nature.

img 5691 300x225 Back To Nature and Survive For Alive; Merangkai Hidup Di Hutan Bengo Bengo

Menjelajah Di Hutan Bengo-Bengo

img 5747 225x300 Back To Nature and Survive For Alive; Merangkai Hidup Di Hutan Bengo Bengo

Berpose Di Air Terjun

Setelah satu minggu berada di lokasi, barulah para peserta tiba di lokasi, jumlah peserta yang ikut dalam kegiatan ini berjulamh sekitar 80 orang. Merupakan tanggung jawab besar bagi kami tim sukses untuk menjaga 80 orang ini selama berada di Hutan Bengo-Bengo. Dan alhamdulillah selama kegiatan hingga pulang kami tidak menemukan masalah yang berarti, baik dari kami maupun peserta yang ikut dalam kegiatan Mapersi kali ini.

img 5840 300x225 Back To Nature and Survive For Alive; Merangkai Hidup Di Hutan Bengo Bengo

Peserta Mapersi

Itulah sedikit pengalaman ketika saya berada di Hutan Bengo-Bengo dengan total hari yaitu 12 hari. Pengalaman bertahan hidup serta berinteraksi dengan alam merupakan pelajaran yang sangat berharga untuk hidup saya ke depannya dan saya mengharapkan perjalanan saya ke hutan Bengo-Bengo ini akan mengantarkan saya untuk menikmati indahnya panorama alam Raja Ampat, yang tentunya lebih eksotis dan menarik hati. Amin.

Hidup di Antara Komunitas Tolotang- Komunitas yang Berafiliasi dengan Agama Hindu

Saya menulis ini ditengah melakukan kegiatan KKN (Kuliah Kerja Nyata), Setelah berkutat di dalam kelas dengan teori-teori yang diberikan oleh dosen selama 6 semester atau  3 tahun, saatnyalah bagi saya untuk menerapkan semua ilmu yang pernah saya dapatkan di bangku kelas selama kuliah ke masyarakat. Tentunya hal ini tidak mudah tanpa bimbingan dan usaha yang kuat dari pihak fakultas dan diri saya sendiri. Terjun langsung ke masyarakat dan mendampingi mereka dalam penyelesaian masalah merupakan bukti nyata universitas sebagai penjunjung tinggi Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Saya datang ke daerah ini pada tanggal 21 Juni 2012 dan saya ditempatkan di salah satu rumah penduduk di Kelurahan Toddang Pulu, Kecamatan Tellu Limpoe, Kabupaten Sidenreng Rappang (disingkat Kabupaten Sidrap), jarak antara kota Makassar dengan Kabupaten Sidrap kurang lebih 250 km . Saya tinggal di rumah salah satu penduduk (beliau beragama islam) dan saat itu pula saya menguatkan diri untuk mengabdi di salah satu daerah Bugis ini. Kelurahan ini termasuk daerah yang strategis karena dilalui oleh jalan poros Sidrap dan Soppeng. Secara geografis dikelilingi oleh tiga kelurahan dan dua kecamatan, yaitu Kelurahan Arateng dan Kelurahan Allakuang disebelah utara, Kelurahan Amparita dan Kelurahan Baula disebelah Timur, Kelurahan Baula disebelah selatan, dan Kecamatan Wattang Pulu dan Kecamatan Maritengngae disebelah barat. Di bawah adalah foto posko saya:

cimg5263 300x225 Hidup di Antara Komunitas Tolotang  Komunitas yang Berafiliasi dengan Agama Hindu

Posko Saya DI Kelurahan Toddang Pulu, Kecamatan Tellu Limpoe, Kabupaten Sidrap

Luas wilayah Kelurahan Toddang Pulu adalah 292.209 km2 dan jarak dari pusat kota yakni Kecamatan Tellu Limpoe adalah 2 km dimana wilayah itu memiliki 2 lingkungan diantaranya Lingkungan I Labbollongeng dan Lingkungan II Wattang Lowa. Jumlah penduduk Kelurahan Toddang Pulu sekitar 4.401 orang dan jumlah kepala keluarga sekitar 1.035 kepala keluarga yang terdiri dari laki-laki berjumlah 2.099 jiwa sedangkan perempuan berjumlah 2.297 jiwa.

cimg6429 300x225 Hidup di Antara Komunitas Tolotang  Komunitas yang Berafiliasi dengan Agama Hindu

Peta Kelurahan Toddang Pulu

Lingkungan kampung masih hijau dan asri tetapi jalan yang setapak atau lorong yang berada di pusat perkampungan kondisinya relatif kurang baik karena hanya sebagian yang sudah di aspal. Pekerjaan jalan ini dilakukan atas swadaya masyarakat setempat atau dari PNPM. Air di kampung ini masih dalam kondisi relatif cukup. Mayoritas air yang dipakai masyarakat berasal dari mata air bawah tanah dan sebagian kecil dari perusahaan air minum. Untuk air minum masyarakat lebih suka mengkonsumsi air galon. Sawah dan kebun di Toddan Pulu terbentang luas. Daratan yang subur dan memiliki dua gunung kecil di sebelah barat.

Di Kelurahan Toddang Pulu terdapat dua agama yaitu agama Islam dan agama Hindu. Untuk agama Hindu dibagi menjadi Tolotang dan Tolotang Benteng. Meskipun kelurahan ini memiliki dua agama namun kerja sama yang diwujudkan dalam gotong royong masih tetap kokoh. Ini terbukti di setiap rumah yang akan dibangun, masyarakat beramai-ramai mengangkat rumah yang akan dibangun. Masyarakat Toddang Pulu memiliki ragam suku bangsa, seperti Bugis, Makassar, dan Jawa. Mayoritas masyarakat Toddang Pulu adalah orang bugis.

Mungkin teman-teman di luar Pulau Sulawesi belum pernah mendengar tentang komunitas ini. Komunitas ini adalah sebuah kelompok masyarakat yang punya kepercayaan dan ritual sendiri di luar lima agama yang diakui di Indonesia, walaupun pemerintah memasukkan kelompok ini dalam naungan Agama Hindu, tapi dalam kesehariannya ataupun dalam perayaan hari besarnya komunitas ini punya ciri khas yaitu memakai kopiah hitam seperti layaknya orang Islam tetapi sebagian besar tidak memakai alas kaki.

Menurut sejarah yang berkembang kepercayaan ini berasal dari Kabupaten Wajo. Towani itu nama sebuah kampung atau desa di Wajo. Yang membawa adalah Ipabbere, seorang perempuan. Ia meninggal ratusan tahun lalu dan dimakamkan di Perinyameng, sebuah daerah di sebelah barat Amparita. Makam Ipabbere inilah yang kemudian selalu dikunjungi dan ditempati untuk acara tahunan komunitas ini yang selalu ramai. Acara adat tahunan yang dilaksanakan setiap bulan Januari itu juga merupakan pesan dari Ipabbere. Ipabbare berpesan ke anak cucunya bahwa jika kelak ia meninggal, kuburnya harus diziarahi sekali setahun. Makanya, seluruh warga komunitas berdatangan dari segala penjuru, mulai dari Jakarta, Kalimantan, hingga Papua. Bahkan hanya yang cacat dan anak-anak saja yang tak hadir setiap Januari itu. Foto di bawah adalah salah satu rumah tolotang.

cimg6754 1024x768 Hidup di Antara Komunitas Tolotang  Komunitas yang Berafiliasi dengan Agama Hindu

Rumah Salah Satu Tolotang

Beberapa tahun lalu komunitas ini diakui oleh pemerintah sebagai aliran kepercayaan. Namun karena ada kebijakan pemerintah yang hanya mengakui lima agama di Indonesia, maka pada tahun 1996, pemerintah menawarkan tiga pilihan ke warga Tolotang untuk memilih antara Islam, Kristen atau Hindu. Aturan itulah yang akhirnya membuat komunitas Tolotang takluk. Mereka akhirnya harus menanggalkan aliran kepercayaannya yang sudah dianut sejak ratusan tahun dan memilih untuk bernaung di bawah Hindu. Namun adat istiadat sebagai komunitas Tolotang tetap terjaga. Sejak saat itu jika ada acara agama Hindu di luar Sulsel, seperti Jakarta dan Bali, mereka selalu diundang secara khusus. Tapi acara-cara ritual yang mereka lakukan sama sekali berbeda dengan agama Hindu, hal ini juga dapat dilihat ketika perayaan Hari Raya Nyepi Agama Hindu, tak ada kegiatan apa-apa di kalangan orang Tolotang.

Menurut seorang tokoh adat Towani Tolotang resmi berafiliasi dengan Hindu pada tahun 1966. Mengapa memilih memeluk Hindu? Menurut mereka, alasannya sederhana. Di antara semua agama yang ditawarkan pemerintah, Hindu-lah yang punya kesamaan dan kemiripan, termasuk soal prinsip. Terkait sejarah komunitas ini yang berasal berasal dari Wajo. Komunitas ini ada di sana jauh sebelum Islam masuk. Waktunya sekira abad ke-16. Hanya saja saat itu tidak berkembang seperti sekarang. Namun karena sebuah proses sejarah, Tolotang kemudian harus berpindah. Masuknya Islam di Wajo rupanya tidak bisa memberi ruang yang bebas untuk berkembangnya bagi Tolotang. Makanya beralih ke Amparita. Itu sekira abad 17. Sejak itu, Tolotang berkembang dan diayomi pemerintahan Sidenreng. Terjadi hubungan yang baik antara warga Tolotang dengan warga komunitas lain. Hingga saat ini, di semua kecamatan di Sidrap anggota komunitas ini pasti ada. KomunitasTolotang juga ada di Maritengngae, Tellu Limpoe, Wattangpulu, Sidenreng, Dua Pitue, serta Dua Pitue Lama. Hanya saja, basis utamanya memang di Tellu Limpoe. Tokoh adatnya juga banyak dan menyebar di seluruh kecamatan.

Sampai saat ini saya masih mempelajari komunitas ini, terutama penganut tolotang benteng yang pada malam sebelum ramadhan kemarin melakukan pemasangan obor di bawah rumah panggung mereka di titik-titik tertentu seperti 2 obor di pagar, 1 obor di anak tangga dan di tempat-tempat lain, katanya hal itu mereka lakukan untuk menyambut bulan ramadhan (maaf foto di bawah agak kurang jelas).

cimg6654 300x225 Hidup di Antara Komunitas Tolotang  Komunitas yang Berafiliasi dengan Agama Hindu

Pemasangan Obor Di Malam Sebelum Ramadhan

Itulah sedikit gambaran saya ber-KKN diantara komunitas tolotang ini, dan saya berencana untuk menulis sisi lain yang lebih dalam dari penganut komunitas ini, karena mereka sangat menjunjung tinggi adat mereka dan mereka agak sensitif terhadap ketersinggungan masalah-masalah yang berbau agama.. Meskipun mereka agak sensitif, Komunitas Tolotang ini sangat menarik untuk dipelajari.

Sabar, Kunci Keikhlasan Pembawa Nikmat

Secara sadar atau tidak, Tuhan selalu menunjukkan jalan bagi manusia. Meskipun kita tak menyadari awalnya, tetapi Tuhan selalu memberikan apa yang pas buat kita; rejeki, jodoh, kejadian yang tak terduga, semua telah diatur. Sehebat apapun manusia merencanakan sesuatu, seputus-asa apapun seorang manusia dalam kebingungannya, Tuhan selalu hadir dan memberikan jalan yang tak pernah kita duga yang menuntun kita pada tujuan kita sebenarnya.
Saya telah mengalami itu secara nyata, beberapa kali, apapun kejadian yang kita alami, apalagi yang buruk, kita harus selalu dituntut untuk ikhlas menghadapinya, karena percayalah, Dia akan selalu membuka tabir seperti ‘upah’ atas kesabaran kita, yang sering dikenal dengan hikmah. Seburuk apapun kejadian yang kita alami, merupakan pembelajaran dari Maha Pencipta untuk menyadari kehadiran-Nya di sekitar kita. Kita selalu mendapat ‘kode’ dari Tuhan yang terkadang kita harus berusaha keras bahkan dalam jangka waktu yang lama, tetapi semua kembali lagi pada kita, apakah kita mau berusaha memecahkannya atau sekedar diam membatu menunggu keajaiban datang. Sungguh Tuhan tidak menyukai orang yang pasrah dan hanya diam menerima keadaan.
Pertolongan akan diberikan untuk mereka yang memerlukan, karena Tuhan mendengar apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan, kunci dari semua hal tersebut adalah SABAR. Sabar adalah sifat yang disukai oleh Tuhan karena menunjukkan keikhlasan kita pada kejadian-kejadian tertentu. Semakin banyak kita bersabar, maka semakin banyak ‘upah’ yang kita dapatkan dari-Nya. Dan Tuhan tak akan membiarkan umatnya jatuh dalam keterpurukan yang manusia tersebut tak dapat selesaikan, kuncinya hanya satu. Sabar. 

Tren Gombalisme Anak Muda, Sebagai Bentuk Euforia Jatuh Cinta

Segenggam lembayung di tangan

Sekuncup mawar menerka malam-malam

Benarkah ini yang kurasakan???

Rasa cinta yang amat mendalam???

Menambah rasa bumbu euforia cinta bagi mereka yang haus akan kesenangan cinta, istilah gombal pun menjadi tren yang amat sangat favorit digunakan oleh anak muda Indonesia sekarang. Tren gombalisme ini merupakan salah satu bentuk rayuan kepada lawan jenis yang bentuknya bisa dalam bentuk humor atau menghibur, tetapi kadang oleh lawan jenis rayuan ini bisa dianggap serius. Mengapa? Karena kalau dua orang yang saling menyukai itu pasti masing-masing akan berusaha untuk mendapatkannya, apapun jalannya. Karena euforia cinta telah meracuni pikiran mereka. Benar, kan?

gombal warning Tren Gombalisme Anak Muda, Sebagai Bentuk Euforia Jatuh Cinta

sumber: google

Kembali ke topik gombalisme, istilah ini mulai muncul dengan kata-kata awal, “neng, bapak kamu….” kemudian dijawab oleh pasangan, “iya, emang kenapa?” dan gombalan pun terjadi, “karena kamu telah……hatiku”. jika dilihat struktur katanya, memang sangat gombal dan kurang rasional (tergantung si pelaku) tetapi gombalan ini bisa bersifat serius dan kata-katanya bisa bervariasi dan bahkan mungkin akan menjadi cinta bagi mereka yang serius menanggapinya. Tetapi kekuatan untuk menggombal ini perlu rasa humor yang tinggi bagi pelakunya. Karena wanita biasanya suka pria yang humoris (seperti saya, haha)

merayu cewek Tren Gombalisme Anak Muda, Sebagai Bentuk Euforia Jatuh Cinta

sumber: google

Jatuh cinta memang memiliki gravitasi yang berbeda bagi para pelakunya. Bahkan selalu menjadi dominan dalam pikiran, mengalahkan rasa lapar, haus, sakit kepala dan lain-lain. Kalau sudah bicara tentang cinta, entah mengapa semua orang tersipu malu mengungkapkannya, terlalu takut untuk mengakuinya, tetapi dalam hati kita senang bukan main kalau orang lain mengetahui rahasia cinta kita. Kalau sudah terjangkit euforia tentang cinta, anak muda zaman sekarang sangat antusias membahasnya, bahkan dalam media sosial cinta menjadi tema ‘terfavorit’ yang tak pernah surut kilaunya.

Gombalan maut dari saya:

Neng, bapak kamu sering naik kapal ya?

Iya, emang kenapa?

Karena kamu telah memabukkan hatiku

#eeeaaaaaa….

DUA PERSPEKTIF SOSIOLOGI DALAM MENGKAJI PERILAKU PETANI DALAM MASYARAKAT

Pada dasarnya, perspektif diartikan sebagai cara pandang kita terhadap sesuatu. Cara pandang ini tentu bisa berbeda-beda dari setiap individu yang menilainya. Sebagai contoh, bisa jadi perspektif seseorang akan beda terhadap orang yang sedang berpacaran. Ada yang mempunyai perspektif kalau pacaran bisa mengganggu proses belajar dan tidak bisa mengembangkan potensi pribadi, karena setiap hari yang diurus hanya berpacaran saja. Dan ada pula orang yang memandang bahwa pacaran sebagai salah satu anugerah, karena dapat dijadikan penyemangat dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Hidup terasa lebih berwarna jika kita dapat saling menyayangi dengan orang yang kita sayangi. Ilustrasi diatas menggambarkan contoh yang sederhana dari pengertian perspektif.
Dalam bidang pertanian, terdapat dua perspektif sosiologi dalam mengkaji perilaku petani didalam sebuah masyarakat. Dua perspektif itu ialah sebagai berikut:
1. Perspektif Mekanistik
Pengertian umum mengenai perspektif ini ialah cara pandang dimana manusia melakukan sesuatu karena struktur sosial yang memang sudah ada sebelumnya. Manusia diatur sebagai pelaku utama oleh tatanan sosial yang kolektivitas. Tidak ada cara lain bagi seorang manusia untuk bisa keluar dari tatanan ini, karena tatanan ini telah ada jauh sebelum masyarakat berkembang dan tak bisa diganggu gugat keberadaannya. Pada masyarakat desa terdapat ikatan solidaritas yang bersifat mekanistik dalam arti bahwa hubungan antar warga seakan telah ada aturan semacam tata krama atau tata tertib yang tidak boleh dilanggar jika tidak ingin mendapat sanksi. Adanya tata tertib tersebut sesungguhnya ingin menjaga suatu comformity di kalangan masyarakat desa itu sendiri.
Saya mengambil contoh kasus perspektif yang bersifat mekanistik dalam masyarakat tani ialah munculnya kebijakan pemerintah pada era 80-an yang bertujuan agar Indonesia menjadi negara yang melakukan swasembada beras. Pada waktu itu secara “paksa” petani diberikan satu macam benih padi, pupuk yang harus digunakan, dan lain sebagainya. Tidak ada kata lain bagi petani itu sendiri selain apa yang diberikan oleh pemerintah. Sebuah pelanggaran berat jika petani menentang kebijakan tersebut. Oleh karena itu, metode ini menuai hasilnya pada tahun 1984, dimana Indonesia berhasil melakukan swasembada beras dan mendapat penghargaan sebagai negara percontohan dalam pengembangan pertanian oleh FAO. Disisi lain, petani merasa tidak nyaman dengan segala keterpaksaan ini dan merasa tidak bisa mengembangkan potensi diri mereka sendiri. Oleh karena itu, ketika pemerintahan berganti, Indonesia tidak bisa lagi melakukan swasembada beras. Ini wujud dari “kemerdekaan” petani setelah beberapa tahun terkurung dibawah kebijakan pemerintah pada masa itu.

2. Perspektif Humanistik
Merupakan suatu cara pandang melihat manusia sebagai aktor yang memiliki otonomi didalam melakukan tindakan. Manusia dilihat sebagai entitas yang memaknai realitas-realitas didalam kehidupan dan berdasarkan hasil pemaknaan itu manusia melakukan tindakan tertentu/menjalankan perilaku tertentu. Selain itu manusia juga dilihat sebagai pelaku aktif yang memiliki pikiran, akal budi, dan perasaan didalam menginterpretasikan kehidupan.
Dalam kehidupan petani, perspektif ini menggambarkan bagaimana petani menentukan pilihan didalam berbagai keanekaragaman yang ada. Bagaimana petani menentukan sikap atas pilihannya. Petani mengetahui bagaimana mengelola sawahnya sendiri sehingga lebih produktif. Dan bagaimana petani menyikapi dinamika yang terjadi dalam pasar, kebijakan pemerintah daerah, dan lain sebagainya. Misalnya, menentukan harga gabah yang sesuai dengan pasaran. Tidak mahal namun juga tidak terlalu murah. Hal ini penting dilakukan sebagai seorang petani agar ia tidak rugi dalam menjual hasil produksinya dan bisa terus berkembang dan mengikuti persaingan pasar yang ada.
Petani menjadi aktor dalam segala usaha yang dilakukannya tersebut. Ia memiliki pilihan yang baik bagi mereka sendiri sehingga mereka tetap berinovasi terus menerus, petani bisa bersikap meaning full action. Yang berarti petani melakukan sepenuhnya apa-apa yang harus dilakukan dan yang harus dihindari. Tentu orang lain harus bisa menghormati pilihan mereka karena mereka memiliki otoritas atas segala yang mereka pilih dan perjuangkan kedepannya.

Wajah dan Masa Depan Pertanian Diantara Peluang-Peluang Bisnis yang Merugikan Petani Indonesia

Menganalisis pernyataan diatas, menjadi suatu hal yang sangat dilematis bagi negeri ini. Mengikuti arus zaman dari abad ke abad membuat Indonesia sedikit demi sedikit berubah dari negara yang semula agraris menipis menjadi negara industri, meskipun kebutuhan akan hasil-hasil pertanian dimasa sekarang juga melonjak tajam. Menilik pertanian beberapa dekade yang lalu, Indonesia merupakan negara yang sangat makmur akan pertanian. Sebagai contoh kita tak bisa mengelak pada saat kepemimpinan Soeharto, Indonesia dapat mencapai swasembada beras. Sosok Soeharto sangat disegani oleh bangsa Indonesia pada saat itu dan beliau mampu mengangkat perekonomian Indonesia dari keterpurukan yang oleh seorang ekonom Amerika, Benjamin Higgins, sebagai sesuatu yang sangat parah dan kompleks.

Pada saat kepemimpinan Soeharto, berbagai aturan diterapkan mulai dari intensifikasi massal hingga bimbingan massal yang diberikan kepada petani-petani di Indonesia. Berbagai bibit unggul padi pun diberikan, teknologi tanam juga diterapkan sehingga jika secara tradisional sawah-sawah biasanya hanya menghasilkan satu kali panen dalam setahun, maka setelah revolusi itu pun diterapkan, panen padi bisa berlangsung dua hingga tiga kali dalam setahun. Hal ini menjadikan tingkat produktivitas gabah petani menjadi berlipat banyaknya. Puncak peningkatan produksi ini pun terjadi pada tahun 1984 dan FAO (Food and Agriculture Organization) memberikan penghargaan kepada Indonesia atas kesuksesannya dalam mengelola pertanian dalam negeri.

Sinergitas antar-komponen yang menyebabkan swasembada beras ini tak berjalan semulus yang dibayangkan, akibat permasalahan program pemerintah yaitu REPELITA yang bersifat berkesinambungan. Hingga pada REPELITA IV harga minyak bumi turun sangat tajam. Masalah yang semakin nampak dan dirasakan adalah masalah tenaga kerja yang melaju pada tingkat kurang lebih 2,7% per tahun. Pada tahun 1986 jumlah tenaga kerja adalah 64 juta dan tahun 1988 diperkirakan akan menjadi 73 juta. Sementara angka pertumbuhan direncanakan hanya 5% pertahun selama REPELITA IV.Di samping ciri-ciri pokok dan pola unit produksi juga merupakan hambatan bagi berkembangnya ekspor Indonesia, bahkan menghambat pertumbuhan secara keseluruhan. Inilah yang menyebabkan Indonesia berhenti berswasembada beras bahkan kembali mengimpor dari luar negeri. Sungguh sangat ironi.

Lalu, bagaimana cara memperbaiki keadaan pertanian Indonesia sekarang dibawah pemerintahan SBY? Bagi saya ini menjadi suatu ketakutan yang besar dimana lahan pertanian semakin kosong dan menipis. Dimana-mana pohon ditebang untuk kepentingan pribadi dan golongan tertentu. Upaya untuk pemberantasan illegal logging atau pembalakan liar ini sebenarnya sudah cukup gencar. Menurut Hadi Daryanto, Sekretaris Jenderal Kemenhut, pada tahun 2010 pemberantasan illegal logging ada 94 kasus, Sementara untuk kasus perambahan hutan ada 38 kasus. Ini menjadi indikator bahwa lahan yang semakin menipis akan menyebabkan produktivitas pangan berkurang, karena lahan kosong yang berkurang berbanding terbalik dengan laju pertumbuhan penduduk Indonesia yang hingga tahun 2010 mencapai 1,49% pertahun.

Tak hanya pembalakan liar, aneka ragam perindustrian pun semakin gencar dibangun, meski keuntungannya hanya berujung pada orang kaya dan para investor asing . Bisnis perumahan mewah, pembangunan pabrik-pabrik, tak ayal menjadi jamur yang tumbuh di daerah lembab. Selama pengamatan saya, banyak daerah-daerah di Indonesia sekarang  dibangun perumahan-perumahan elit yang harganya saja bermain diangka 100 juta keatas. Dan mirisnya perumahan tersebut dibangun dengan lingkungan yang sangat luas bahkan lahan pertanian penduduk miskin yang tinggal di sekitarnya menjadi korban “orang berduit”. Padahal jika memakai logika, mereka makan dari lahan pertanian yang diolah oleh para petani. Betapa kalang kabutnya 250 jutaan rakyat Indonesia jika jutaan petani serentak berhenti menanam padi, apa yang akan terjadi? Secara tidak langsung para orang kaya di negeri ini membunuh bangsa sedikit demi sedikit. Pemerintah seakan tutup mata dan tak mau tahu dengan keadaan sebenarnya, perlu pemikiran berkali lipat ketika

alasan yang diutarakan dengan adanya pembangunan ini ialah untuk meningkatkan devisa negara. Hal-hal seperti inilah yang akan merusak generasi Indonesia di masa depan.

Oleh karena itu, birokrasi yang berjalan sekarang harus lebih jeli untuk melihat keadaan petani Indonesia. Tanpa pertanian, sebuah industri tak akan berkembang. Tanpa pertanian, sumberdaya manusia tak akan bisa berjalan maksimal dan dapat menurunkan kinerja mereka. Diperlukan inovasi-inovasi yang membangun dari generasi muda (termasuk saya) untuk menjadikan bangsa Indonesia lepas dari keterpurukan di masa yang akan datang. Inovasi di bidang pertanian harus senantiasa berkembang agar dapat mengimbangi perkembangan industri di Indonesia. Program Go Green harus selalu diterapkan, tidak hanya untuk orang tua bahkan untuk anak kecil sekalipun. Misalnya dengan mengenalkan berbagai jenis pohon dan mengajarkan cara mereka untuk menanam dan merawatnya hingga tumbuh besar, selain itu dapat diajarkan kepada mereka hal-hal yang kecil seperti jangan membuang sampah sembarangan agar mereka tetap memperhatikan lingkungan. Karena hal-hal yang besar berawal dari sesuatu yang sangat kecil. Jika kita mengajarkan hal tersebut dengan generasi muda, maka bangsa ini akan bebas dari kerusakan di masa depan.  Semoga wajah bangsa Indonesia dimasa depan tetap hijau dan lestari. Hingga seratus tahun kedepan, seperti yang kita semua harapkan.

Setetes Asa di Negeri Tandus untuk Pahlawan Kecil

Kala kelam malam sambut kerikil dingin

Telapak kaki terus meninggalkan jejak tak mengenal duri

Peluh dingin yang lama tak dihiraukan

Tak menjadikan penat berakhir tanpa apa-apa

Sampah demi sampah yang terus menjadi kawan

Pantang menyerah pada kata mengemis

Sebab ia telah dilatih oleh ibunya

Tak boleh bertadah tangan pada orang lain

Oh..hidupnya untuk awan-awan sembilu

Untuk tanah-tanah yang tak pernah basah oleh tetesan hujan

Kala pagi buta membuka cakrawala hangat

Air mata-air mata yang tersisa di kasur tadi malam

Bekas Ibu dan anak itu mengucap syukur pada Tuhan

Karena masih menikmati seteguk air dari ikhtiarnya..

Tak ada dosa menyapa..

Jika jiwanya tak lagi tanpa raga

Adakah surga untuknya disana?

Untuk anak yang setia pada Ibunya..

Untuk pahlawan kecil yang selalu diuji oleh-Nya

Hidup di tengah kesedihan sendi-sendi derita dunia

Perjuangan hidup mencari setetes asa…

Kala senja berwarna merah

Kening yang tak lagi mengerut terkena cahaya

Sisa kehidupan yang berakhir dalam temaram

Esok kan lebih berharga untuk anak itu

Esok kan lebih baik untuk Ibunya

Mencari kilau merdeka untuk kehidupan selanjutnya

Berkawan dengan sampah..

Berpeluh dengan janji-janjinya sebagai pahlawan kecil

Adakah yang mau berdoa untuknya..?

Demi setetes asa yang ingin diraihnya..

Di hadapan jutaan tanah yang kering dan tandus..

Tanpa harapan..

Tanpa kehidupan..

Tanpa tujuan..

Danau Unhas, 5 Agustus 2011

Pukul 15.45 WITA