Kompetensi Budaya | ketika putu berbicara komunikasi


Dewasa ini, banyak kesalahpahaman yang terjadi akibat perbedaan persepsi dalam memaknai suatu pesan. Perbedaan ekspetasi – ekspetasi budaya dalam komunikasi dapat menyebabkan komunikasi tidak lancar. Kesalahpahaman tersebut biasa terjadi ketika kita bergaul dengan kelompok – kelompok budaya yang berbeda. Problem utamanya adalah kita cenderung menganggap budaya kita sebagai suatu kemestian, tanpa mempersoalkannya lagi, sebagai standar untuk mengukur budaya lain.

Ketika kita berkomunikasi dengan orang lain, kita dihadapkan dengan bahasa – bahasa, aturan – aturan, dan nilai – nilai yang berbeda. Sulit bagi kita untuk memahami komunikasi mereka bila kita sangat entosentrik. Kesalahan – kesalahan antar budaya diatas dapat dikurangi bila kita sedikitnya mengetahui bahasa dan perilaku budaya orang lain, mengetahui prinsip – prinsip komunikasi antar budaya dan mempraktikannya dalam berkomunikasi dengan orang lain.

Saya merupakan orang ‘lintas budaya’, yang dilahirkan sebagai keturunan bali, dibesarkan di Jakarta dan merantau ke bandung, dan sekarang saya bekerja di sebuah perusahaan asing. Saya juga berada dalam lingkungan beswan Djarum dan  karenanya saya jadi memiliki teman dari berbagai daerah di Indonesia. Tidak dapat dipungkiri bahwa kota besar seperti Jakarta pun sarat budaya karena ada bahasa, aturan dan nilai yang berkembang di dalamnya. Perilaku yang menurut kami baik, belum tentu bisa dikatakan baik di tempat lain.

Dari yang saya amati, persepsi budaya yang berbeda akan menentukan sikap dan perilaku yang berbeda pula dan berpengaruh besar seperti pada tanggung jawab pribadi, sikap terhadap otoritas dan hukum, penggunaan waktu, menghormati aturan, dan perlakuan yang adil. Isu-isu semacam ini memiliki peran yang demikian penting dalam membina hubungan yang lebih baik. Kesadaran akan adanya perbedaan saja tidaklah cukup, dibutuhkan kompetensi multicultural untuk dapat memahami dan menyikapi perilaku dan sikap dalam konteks budaya yang berbeda

Mindset dari kompetensi budaya tidak berarti mengingkari nilai-nilai dan norma yang diyakini tetapi lebih kepada penghormatan terhadap nilai-nilai dan norma yang diyakini orang lain. Adaptasi terhadap budaya orang lain merupakan pijakan bagi dinamika hubungan yang lebih baik. Berpegang teguh pada budaya sendiri ibarat pohon dengan akar yang kokoh menopang batang yang kuat. Sementara adaptasi terhadap budaya orang lain ibarat dahan, ranting, dan daun yang fleksibel terhadap perubahan sekitar, dari angin yang berhembus sampai hujan badai.

Kompetensi multikultural juga diperlukan di tingkat organisasi yang memiliki dinamika multi kultural, Djarum Beasiswa Plus misalnya. Beswan Djarum terdiri dari mahasiswa – mahasiswi berprestasi yang berasal dari daerah di seluruh Indonesia. Keberagaman budaya harus dikelola sedemikian rupa sehingga tidak berdampak buruk terhadap organisasi tetapi justru memperkaya sumber daya. Kekayaan ini dioptimalkan sebagai modal hidup nan aktif bagi pencapaian yang lebih baik

kompetensi multicultural dapat diringkas ke dalam tiga dimensi, pengetahuan, kecakapan, dan motivasi. Pengetahuan dalam kompetensi ini meliputi  parameter budaya dan bagaimana pengaruhnya. Kecakapan meliputi keingintahuan dan kemampuan mendapatkan informasi baru, menganalisisnya, berkomunikasi secara baik dengan mengelola respon terhadap hasil analisis tadi, dan secara fleksibel beradaptasi. Motivasi meliputi pemahaman atas perbedaan budaya dan sikap menghormati melandasi keinginan untuk belajar, memperbaiki dan mengembangkan untuk dapat mengelolanya secara lebih baik.

Kebudayaan bisa sangat berbeda-beda ini hanyalah sebagian kecil dari kebudayaan yang ada di Indonesia apa lagi didunia. Tetapi apresiasi dari yang sebagian kecil ini saja kita sudah mendapatkan pengetahuan dan pengalaman yang besar. Banyak hal – hal yang tidak terduga yang terjadi dan yang ada disana.

Semoga apa yang saya share ke blog ini bisa beguna juga untuk teman – teman agar dapat meningkatkan kompetensi, minimal dapat menambah pengetahuan sosial mengenai kebudayaan. Budaya bukanlah suatu hal yang membentengi hubungan kita sehari-hari, tetapi merupakan suatu yang dapat memperkaya pribadi dan juga negara kita, Indonesia.

, , , , , , , ,

  1. #1 by Herwina Wahyutami Rahayu on October 22, 2011 - 10:10 am

    Asiiikk.. Anak komunikasi banget nihh..
    Tapi setuju banget sih, komunikasi yang diterapkan ke dalam budaya itu bisa jadi salah sau cara kita melestarikan budaya Indonesia.. :D

  2. #2 by sepri on October 22, 2011 - 10:10 am

    tulisan khas anak sosial,
    mendapat sesuatu dari kompetensi multikutural,
    nice post :)

    nitip lapak

  3. #3 by Wana Darma on October 22, 2011 - 2:14 pm

    nice put! *komennya blakangan, lupa mau nulis apa*

  4. #4 by P. Agnia Sri Juliandri on October 22, 2011 - 5:24 pm

    @wina : bener win! maneh pinter jg ya cil, haha. ayo cepetan lulus biar jd S.Ikom :p

  5. #5 by P. Agnia Sri Juliandri on October 22, 2011 - 5:25 pm

    @sepri : halo sepri, salam kenal.. makasih yaa.. td udah main2 tuh ke blognya, keren! :)

  6. #6 by P. Agnia Sri Juliandri on October 22, 2011 - 5:25 pm

    @wana : hahaha wanaa, ada2 aja deh. buruan tulis! haha

  7. #7 by samuel on October 23, 2011 - 10:24 pm

    *terpukau*…
    *terpana* …
    *terharu* …

  8. #8 by D Muhamad on October 23, 2011 - 10:54 pm

    I agree when you defined budaya in a broad sense. Some people define budaya as just “lagu, tari2an, makanan khas, pakaian” instead. For me budaya is bigger than objects, it’s ranging from “cara makan, arsitektur rumah” to “adat istiadat”.
    And yeah, you have to be able to communicate well by adding some “adaptasi budaya orang lain” while maintaining your “budaya sendiri” if you’re on multicultural environment (Note: even more so if you’re overseas). After all, you have little to none identity other than your “budaya sendiri” in this globalization era. Well said on your writing.

  9. #9 by D Muhammad on October 23, 2011 - 10:56 pm

    I agree when you defined budaya in a broad sense. Some people define budaya as just “lagu, tari2an, makanan khas, pakaian” instead. For me budaya is bigger than objects, it’s ranging from “cara makan, arsitektur rumah” to “adat istiadat”.
    And yeah, you have to be able to communicate well by adding some “adaptasi budaya orang lain” while maintaining your “budaya sendiri” if you’re on multicultural environment (Note: even more so if you’re overseas). After all, you have little to none identity other than your “budaya sendiri” in this globalization era. Well said on your writing.

  10. #10 by Wana Darma on October 23, 2011 - 11:00 pm

    akhirnya setelah 3 hari baru inget model komunikasi verbal…

    Message -> Decode -> Noise -> Encode -> Message
    ah ini dia, biasanya kalo konflik kan terjadi kalo ga salah pengertian gara-gara ada noise yang ganggu, atau gara-gara message yang di decode ama yang di encode dimaknai berbeda..
    salahsatunya mungkin gara2 mereka mempunyai nilai2 yang berbeda dalam kehidupannya yah..

    lah terus ngopo? gatau deh tiba2 mendadak kepikiran model ini pas ngebaca tulisan lo..hehe

  11. #11 by P. Agnia Sri Juliandri on October 24, 2011 - 9:52 pm

    @samuel : hahahaha lebe deh saaamm.. ayo kita berpartner dengan baik untuk persiapan assessment jumat depan! haha

  12. #12 by P. Agnia Sri Juliandri on October 24, 2011 - 9:59 pm

    @dannis : yes it is ley. uooh u should share more, since u’re not in indonesia. living diversity is sooo amazing. sometimes am kinda envy you-other people who has change to live overseas, hmmmm. hey, thanks for ur comment btw! ;)

  13. #13 by P. Agnia Sri Juliandri on October 24, 2011 - 10:02 pm

    @wana: wanaaa -_-” haha. tapi bener lho, keterbatasan budaya, terutama pemaknaan bahasa bisa ngebuat salah pengertian.

    contohnya : “cicing maneh”
    (cicing = diem, maneh=kamu, dalam bahasa sunda)
    (cicing=anjing, dalam bahasa bali)
    see? diem kamu, sama anjing kamu. beda bgt kan?

    haha

  14. #14 by suprayogi on October 25, 2011 - 1:26 pm

    I love this post. Jadi ingat TUNZA kemarin kalo orang Uni Emirat Arab senang banget dengan hospitality orang Indonesia. Mungkin ini bkuti ketika kompetensi budaya diterapkan. menurut saya, tujuan sosial memiliki kompetensi budaya adalah agar membuat nyaman para mitra tutur atau pendengarnya.

  15. #15 by P. Agnia Sri Juliandri on October 25, 2011 - 8:14 pm

    true! masyog pasti udah kompeten bgt yaa..ajarin dong masyooggg *winkwink

  16. #16 by satria on October 25, 2011 - 9:31 pm

    terdiammm…. nice article… hehehe…

    jangan lupa kunjungannya yaaa di blog aku :

  17. #17 by Herwina Wahyutami Rahayu on October 26, 2011 - 12:13 am

    Dan aku baru baca comment balesannya.. Semogaa kaa semogaa secepatnya.. Aminnn o:)

  18. #18 by P. Agnia Sri Juliandri on October 26, 2011 - 10:27 pm

    @satria: heeyy nama kamu ky nama adek aku, iiihhh lucuuuu hehe. salam kenal.. nanti aku berkunjung kesana yaa :)

  19. #19 by Wana Darma on October 31, 2011 - 10:47 am

    P. Agnia Sri Juliandri :

    @wana: wanaaa -_-” haha. tapi bener lho, keterbatasan budaya, terutama pemaknaan bahasa bisa ngebuat salah pengertian.
    contohnya : “cicing maneh”
    (cicing = diem, maneh=kamu, dalam bahasa sunda)
    (cicing=anjing, dalam bahasa bali)
    see? diem kamu, sama anjing kamu. beda bgt kan?
    haha

    merasakannya pas di bali ==’

(will not be published)

Before you post, please prove you are sentient.

What is the outer covering of a tree?


  1. Stuck inside the box « Pojok Singgah Si Putu