Archive for May, 2012

May-gically May

So, we’re right in the end of May.
This month went by so fast, didn’t it? Karena gue sendiri merasa begitu.
Bulan mei kali ini kerasa magic. Setelah final assessment gue di akhir bulan lalu, awal mei ini merupakan penentuan hasil performance gue selama jadi anak trainee. Gue emang bukan anak yang pinter2 amat. Gue pun tipe pengeluh walo tetep gue kerjain apa yang menjadi tanggung jawab gue dengan sebaik2nya. Temen2 gue sesama MT boleh mandang gue sebelah mata, atau malah meremehkan gue. But i know, gue tipe orang yang learning by doing. Setelah attachment dan gue belajar ini itu, serta dukungan yang luar biasa dari orang terdekat gue, taraaaaa… Magicaly, gue berada di posisi ketiga dari sekian temen2 gue yang menurut gue cerdas2 itu.

Siapa pula yang nyangka pada minggu kedua gue bisa berangkat ke Gili, karena gue sendiri ga nyangka akhirnya bisa menginjakan kaki di lombok, tanah kelahiran nyokap gue. Gili bener2 breathtaking, 90% yang ada disana bule. I’ll tell the story about this later yaa..

The main thing about May adalah kepindahan gue ke Semarang. Ok, jadi di minggu pertama td sebenernya ada keputusan yang diambil dalam waktu sesingkat2nya apakah mempunyai alasan yang sangat jitu untuk tetap tinggal di Jakarta, which is technically gue ga punya. Alasan : pacar gue di jakarta. Tapi pas pertama kali gue ngebahas ini, setelah gue nanya ‘how if…’ dia malah bilang ‘go!’ dan serentet nasihat2 ala andre yang nyuruh gue untuk selalu ngelakuin hal-hal yg bisa ngebuat gue menjadi one step ahead, explore my ownself, dig deeper my own potentials, pushing my limit, lalala yadda yadda. See, how blessed I am! Atau alasan : keluarga saya di jakarta. Boookk, gue kuliah pun udah beda kota, ngurus sendiri pula. Dunia kerja mengharuskan semua orang untuk lebih mandiri kan? Alasan : I have no collegues, database, or anything related to my job. Oh please, di Jakarta pun gue msh zero signing. belum ada bukti.

So here I am, with no professionally reason to stay, ngepak barang dengan 2 koper besar bertolak ke Semarang. Semarang kota seems familiar karena ini bukan pertama kalinya gue kesini. Waktu gue kecil bokap pernah ngajak kesini, waktu kuliah pun gue udah 3 kali ke Semarang- pertama waktu AIESEC national conference- 2 kalinya bareng beswan. Seharusnya not that hard kan?

Uh oh, the hard thing is being separated with Meg. Yes, harder than being separated with andre :p booook, gue cm stuck di jalanan sekitar kantor-kosan doang gabisa kemana2 lagi. Mana daerah kosan sepi, kalo malem gelap bgt. Hati kangen bisa sabar pacaran pake gadget, perut laper? Senggol bacok.

But time flies. And thank God, quite fast. 2 minggu berlalu sudah, and I still have 2 years untuk dilalui. Jujur, gw agak excited. Di minggu keempat gue, gue menginjakan kaki di solo untuk visit calon debitur. See? How magic this may…..

2 Comments

Crossculture (again)

You never know your limit if you never push yourself down.

So here I am,
Perempuan yang dilahirkan di pulau dewata,
Dibesarkan dalam kerasnya ibu kota,
Menuntut ilmu di tataran sunda kota pahrahyangan,
Dan sekarang mencoba mengadu nasib mencari nafkah di tanah jawa.

Haha gatau sih ini akan seperti apa dan gimana. Totally gambling. Kalau kata Mr. big “am I strong enough to walk on water? Strong enough to come up out of the rain? Or am I fool, going where the wind blows?”

I just try to push myself. Try to be stonger, and stronger..

, , ,

2 Comments

Dan sayapun kembali mencinta..

Hai, sudah lama nih saya ga update tentang perbeswanan, sampai dari 2 hari yang lalu banyak yang mention saya di twitter minta di retweet. Saya pikir itu spam, tapi kok banyak ya yg begitu, akhirnya saya coba buka bio-nya dan menemukan foto salah satu dari orang yg mention saya itu memakai badge beswan djarum.

Saya penasaran ada apa, karena seingat saya kompetisi blog tidak diadakan dibulan- bulan sekarang.
Ooooh ternyata ada kompetisi menulis tentang euforia Jatuh cinta.
Hmmm, saya tergerak untuk ikut menulis..

Euforia jatuh cinta?
Kalau boleh memilih, semenjak lepas dari masalah di masa lalu saya tidak ingin Tuhan mengenalkan saya kembali dengan cinta, yang kamudian berlanjut dengan saya mensyaratkan diri dalam berbagai hal, menetapkan standardisasi atas obyek dari sebuah cinta.

Cinta itu perih,
Cinta itu sedih,
Cinta itu luka.
Maka dari itu kan kenapa orang menyebutnya dengan jatuh?

Saya pernah merasa sangat bahagia dengan kesendirian saya,
Saya pernah begitu bebas berteman dengan siapa saja tanpa terbatas lelaki atau perempuan,
Saya pernah merasa begitu sempurna menikmati hidup dengan aturan yang saya tetapkan tanpa ada campur tangan orang lain.
Saya menempa diri saya agar tidak lemah, tidak ‘menye-menye’ istilah jaman sekarangnya.
Saya menjadi orang yang begitu kuat dan mandiri.

Tapi bukan berarti sekarang saya tidak bahagia..

Sekitar 7 bulan lalu, saya masih berpendirian teguh dengan standardisasi ketika saya mulai dekat dengan orang yang sekarang menjadi bagian dalam hidup saya. My half, my better half.

Saya tidak menyangka di tengah teguhnya pendirian saya, saya malah menemukan seseorang yg berdiri diatas standar yang saya tentukan. Standar saya tidak muluk-muluk. Seseorang yg menarik perhatian saya HARUS ‘berada 1 step di depan saya dari sisi manapun’. Dari segi pendidikan, kecerdasan, pengetahuan, gaya hidup, kedewasaan, kebijaksanaan, pengalaman hidup dan lain sebagainya TANPA membuat saya kehilangan kebebasan saya untuk hidup seperti apa adanya saya. Bahkan dia menjelma memberikan semangat dan aura positif dalam hidup saya. Yg saya salut, dia selalu yakin akan kemampuan saya. he believe me more than i believe my own self. Seakan – akan hal itu membuat pendirian saya lumpuh dan saya kembali menjadi makhluk pecinta. Dan karenanya saya merasa kaya. Bukan dengan dengan materi, tapi dengan kasih dan segalanya. menyeimbangkan peran otak kanan, otak kiri, dan kinerja hati.

Ketika saya menemukan yang saya inginkan, bahkan disaat saya TIDAK sedang mencari, wajar kan kalau saya kembali jatuh? Yet, I feel that am blessed..

Cinta itu sakit,
Cinta itu perih,
Cinta itu luka..
Tapi sayang itu manis,
Sayang itu indah,
Sayang itu selamanya..

Saya menyayanginya dengan sederhana, tanpa basa-basi dan tanpa tuntutan. Setelah dilancarkan hubungan sayang menyayangi selama 6 bulan, kami mulai tersandung kerikil-kerikil kehidupan. Kerikil yang membuat warna-warni hubungan kami. Tidak ada hidup yang sempurna kan?
Nothing worthy comes easy, right?

Semoga Tuhan hanya memberikan kami cobaan melalui kerikil-kerikil kecil, sehingga saat kami menemukan batu penghalang, kami bisa melewatinya dengan mudah. Tentu saja, sesuai dengan petunjuk-Nya.

Bagaimana euforia kasih sayang kalian? ;)

, ,

5 Comments