May-gically May


So, we’re right in the end of May.
This month went by so fast, didn’t it? Karena gue sendiri merasa begitu.
Bulan mei kali ini kerasa magic. Setelah final assessment gue di akhir bulan lalu, awal mei ini merupakan penentuan hasil performance gue selama jadi anak trainee. Gue emang bukan anak yang pinter2 amat. Gue pun tipe pengeluh walo tetep gue kerjain apa yang menjadi tanggung jawab gue dengan sebaik2nya. Temen2 gue sesama MT boleh mandang gue sebelah mata, atau malah meremehkan gue. But i know, gue tipe orang yang learning by doing. Setelah attachment dan gue belajar ini itu, serta dukungan yang luar biasa dari orang terdekat gue, taraaaaa… Magicaly, gue berada di posisi ketiga dari sekian temen2 gue yang menurut gue cerdas2 itu.

Siapa pula yang nyangka pada minggu kedua gue bisa berangkat ke Gili, karena gue sendiri ga nyangka akhirnya bisa menginjakan kaki di lombok, tanah kelahiran nyokap gue. Gili bener2 breathtaking, 90% yang ada disana bule. I’ll tell the story about this later yaa..

The main thing about May adalah kepindahan gue ke Semarang. Ok, jadi di minggu pertama td sebenernya ada keputusan yang diambil dalam waktu sesingkat2nya apakah mempunyai alasan yang sangat jitu untuk tetap tinggal di Jakarta, which is technically gue ga punya. Alasan : pacar gue di jakarta. Tapi pas pertama kali gue ngebahas ini, setelah gue nanya ‘how if…’ dia malah bilang ‘go!’ dan serentet nasihat2 ala andre yang nyuruh gue untuk selalu ngelakuin hal-hal yg bisa ngebuat gue menjadi one step ahead, explore my ownself, dig deeper my own potentials, pushing my limit, lalala yadda yadda. See, how blessed I am! Atau alasan : keluarga saya di jakarta. Boookk, gue kuliah pun udah beda kota, ngurus sendiri pula. Dunia kerja mengharuskan semua orang untuk lebih mandiri kan? Alasan : I have no collegues, database, or anything related to my job. Oh please, di Jakarta pun gue msh zero signing. belum ada bukti.

So here I am, with no professionally reason to stay, ngepak barang dengan 2 koper besar bertolak ke Semarang. Semarang kota seems familiar karena ini bukan pertama kalinya gue kesini. Waktu gue kecil bokap pernah ngajak kesini, waktu kuliah pun gue udah 3 kali ke Semarang- pertama waktu AIESEC national conference- 2 kalinya bareng beswan. Seharusnya not that hard kan?

Uh oh, the hard thing is being separated with Meg. Yes, harder than being separated with andre :p booook, gue cm stuck di jalanan sekitar kantor-kosan doang gabisa kemana2 lagi. Mana daerah kosan sepi, kalo malem gelap bgt. Hati kangen bisa sabar pacaran pake gadget, perut laper? Senggol bacok.

But time flies. And thank God, quite fast. 2 minggu berlalu sudah, and I still have 2 years untuk dilalui. Jujur, gw agak excited. Di minggu keempat gue, gue menginjakan kaki di solo untuk visit calon debitur. See? How magic this may…..

  1. #1 by suci on June 2, 2012 - 8:37 pm

    Kereeen putuuuu…bisa di posisi 3, yeah gue setuju sama temen lo, pushing our limit, gue selalu suka suasana semarang yang gak terlalu rame, ntar kalo gue ke semarang bisa mampir2 dong. Hohoho. Goodluck buat meeting ma prospective clientnya yooo..

  2. #2 by P. Agnia Sri Juliandri on June 13, 2012 - 9:01 pm

    haha ga terlalu rame tapi setiap jalan adaaa aja mas – mas yang centil goda2. haha. Bandung is the best ci.

    sini sini main ke semarang, hehe.
    thank yoouuu :)

(will not be published)

Before you post, please prove you are sentient.

What is 8 times 2?