This is not even a lunch time (got what I mean?)


Selalu ada kegalauan disetiap paginya untuk bangun dan berangkat ke kantor. Bukan, bukan, bukan karena kantor merupakan tempat yang tidak menyenangkan atau menjadi beban. Tapi pikiran gue melayang ke “apa yang bisa gue kerjain, atau apa kontribusi yang bisa gue lakuin buat perusahaan gue?”

Gue bukan tipe males2an buat kerja, kalau kalian mengenal gue atau kalian pembaca setia blog gue, kalian pasti tau gue itu tipikal yang seperti apa. Being in a bank life seharusnya mewajibkan gue untuk kerja berat, karena sepertinya kehidupan perbankan itu keras. It is. Keras kehidupannya. Lebih keras lagi beban untuk ga ngapa2innya.

Being a nubie relationship manager itu berat, selain karena belum punya customer base, dan (khusus gue) berada di daerah yang ga gue ga kenal sm sekali dan bahkan marketnya bukan market yang ‘ramai’. Gue pun kadang ga ngerti knp mereka butuh orang di sini, karena load kerjaannya sama sekali ga banyak.

Bos gue di Jakarta pernah blg ke gue, “kita ini orang bisnis putu, kita yang nyari kerjaan dan ngasih kerjaan untuk orang2 support” yang artinya gimanapun caranya gue harus bisa dapetin pengusaha yang mau expansi atau butuh modal kerja yang percaya sm perusahaan gue.
Inilah beratnya being a RM in a foreign bank, yang mana perusahaan gue baru running bisnis untuk perusahaan2 menengah dimana sebelumnya main di level corporate (ibarat kata perusahaan kelas kakap). Siapa sih yang tau perusahaan gue, sebelom dia booming di berita karena beli sahamnya bank lokal (yang notabene sebenernya punya luar jg- msh 1 grup pula sm perusahaan gue). Gatau aja kan kalau kita bs support full dr sisi trade. Biasanya udah sentimen duluan, apalagi kalau yg dihubungin nasionalis bgt tuh maunya sm yg lokal2. Hmmm

Well, gue butuh load kerjaan yang padet, atau gue butuh kembali ke dunia lama gue? Gue msh belum tau pasti. Hmm

,

  1. #1 by sucilestari on June 12, 2012 - 3:32 pm

    Hmmmm. Interesting .Setahu gue bank2 kayak putu emang mainnya di corporate level yg pada high profil, atau di wealth management gitu. Kalau targetnya pengusaha menengah, seperti yg lo bilang, mereka emang lebih prefer ke bank2 lokal gede, mungkin putu bisa coba prospecting debitur ke pngusaha2 yg memang bermain di komoditas khas semarang kayak roko, batik (pekalongan ? ), dsb. Coba dekati dulu, gak usah acquire loan yg ‘baru’, coba aja deketin mereka punya loan ke bank mana, ratenya berapa, nah kalau memungkinkan tawarin rate yg lebih menarik ke mereka buat mau pindah ke banknya putu…alias takeover gituh, kenali teritori dulu putu, kenali semarang, yaaah siapa tahu ada pengusaha yang mau bikin resort di karimun jawa dan butuh suntikan modal, semangaaat Putuuuu !!!! :D

  2. #2 by P. Agnia Sri Juliandri on June 12, 2012 - 7:19 pm

    suciiiiii :’)

  3. #3 by irwansitinjak on June 14, 2012 - 11:42 am

    saya juga sedang berada di fase seperti ini
    same cases but different industry..

    sometimes i guess this is not my passion..
    salam kenal kak putu :D #beswan26

  4. #4 by P. Agnia Sri Juliandri on June 15, 2012 - 9:12 pm

    hai irwansitinjak,.

    kadang passion itu ujung2nya cuma bisa jadi hobi, dan kadang kita harus mikir realistis kalo (paitnya) passion gabisa ngasih kita “makan”.

    haha mau ga mau ya enjoy your life. cari2 waktu di sela2 kesibukan buat enjoying our passion/

    salam kenal juga yaa :)

(will not be published)

Before you post, please prove you are sentient.

What is 7 multiplied by 5?