Archive for July 4th, 2012

“The Great Conciousness” ketika Tao, Buddhis dan Konghuchu bersatu

Instead of being clueless, gue berusaha nyari temen yg tau jalan disetiap perjalanan gue. Waktu pementasan wayang potehi kemaren gue udah nanya sana sini tentang angkot yg bisa ngebawa gue ke kelenteng Tay Kak Sie di jalan gang lombok. Gue tanya Mas Welly (pembina Beswan Djarum Semarang) dia cm ngasih clue : “angkot nomer 5 ke arah mana hayoo” gue jawab: “arah pasar johar!” dia bales lagi: “sing beneerr??? Hahaha” -_- oke, gue totally clueless, walau gue agak yakin kalo tebakan gue bener ngarah ke daerah johar itu ngelewatin sekitar gang lombok. itu kalo berdasarkan google map.

Anyway, petilasan Laksama Muslim Cheng Ho di postingan Kelenteng Sam Poo Kong gue tempo hari lainnya berada disekitar pecinan Semarang (mirip seperti china town, atau daerah tempat tinggal orang-orang tionghoa) tepatnya ada di Gang Lombok deket kawasan Pasar Johar atau Kali mberok (berok) yang menjadi saksi catatan sejarah Semarang. Tak lain dan tak bukan ya Kelenteng Tay Kak Sie tempat gue nonton wayang potehi kemarin. Di Kali Mberok itu ada replika kapal Cheng Ho seperti yang  dipake untuk menjelajah samudra.

ini dia replika kapal Ceng Ho

seperti yang gue ceritain di postingan sebelumnya kalo gue kesana bareng Dunga dan Arief (Beswan Semarang). Gue clueless, koneksi GPS lagi ngadat, Dunga lali, arief anteng2 aja duduk dibelakang. Intinya, gang lombok ini jauh dari jalan utama dan banyak jalan satu arah untuk nyampe sana. Kita menuju bundaran Bubakan (kawasan kota lama) lalu menuju jalan Kyai Haji Agus Salim – Belok kiri ke Jalan Pekojan – Ketemu aliran kali mberok belok kanan – Gang lombok sampai di Replika Kapal Cheng Ho. Sebrangnya itu ada Kelenteng Tay Kak Sie.

Gue cerita kan kalo gue sempet ngobrol sama bapak2? Beliau baik banget nunjukin gue patung2 dan ceritain macem-macem. Jadi, Kelenteng Tay Kak Sie ini campuran untuk penganut ajaran Tao, Buddhis dan Konfusian atau kong hu chu  (ketiga aliran agama ini dikenal dgn Tridharma). Tridharma disebut Samkau dalam dialek Hokkian, yang arti secara harfiahnya adalah tiga ajaran. Dari hasil berselancar di dunia maya, Tridharma lebih tepat disebut sebagai salah satu bentuk kepercayaan tradisional masyarakat Tionghoa sebagai hasil dari sinkretisme (upaya untuk melakukan penyesuaian atau pencampuran kebudayaan yang memiliki perbedaan kepercayaan. Mengacu pada upaya untuk bergabung dan melakukan sebuah analogi atas beberapa ciri-ciri tradisi, terutama dalam teologi dan mitologi agama) dari ketiga filsafat yang memengaruhi kebudayaan Tionghoa dan sejarah Tiongkok sejak 2500 tahun lalu. Karena agama resmi yang diakui oleh pemerintah Indonesia cuma lima, maka umat Tridharma di Indonesia dikelompokkan dalam lingkup agama Buddha, yang mana hal ini sebenarnya keliru.

Nama Tay Kak Sie tertulis di papan nama besar dipintu masuk Kelenteng, dengan catatan tahun pemerintahan Kaisar Dao Guang (Too Kong dalam bahasa Hokkian) 1821 – 1850 dari Dinasty Qing (Cing dalam bahasa Hokkian). Tay Kak Sie, yang bermakna Kuil Kesadaran Agung. Tay berarti maha atau agung dan kak artinya kesadaran. Sementara sie adalah vihara atau kelenteng. Keberadaan kelenteng ini diharapkan mampu membantu umat mencapai kesadaran tinggi.

Kelenteng ini merupakan klenteng pindahan dari Gang Belakang, dibangun pada tahun 1771. Tempat yang sering disebut sebagai “The Great Conciousness” ini memang kental nafas Buddha, ditunjukkan cuplikan-cuplikan Cerita patung Buddha yang terdapat di luar dan di dalam kelenteng. Di luar istana terdapat patung singa bernama Ciok Say. Bentuk singa ini dipercaya untuk mengusir roh-roh jahat yang mengganggu kesucian kelenteng. Pada mulanya Kelenteng Tay kak Sie ini hanya untuk memuja Dewi Kwan Sie Im Po Sat, Yang Mulia Dewi Welas Asih. Dewi yang sering kita denger di film Sun Go Kong alias kera sakti. Setiap kelenteng memiliki dewa utama yang dianggap sebagai tuan rumah. Dewi Kwan Im menjadi tuan rumah di Kelenteng Tay Kak Sie. Selain itu, masih ada 33 dewa lain yang dipuja mewakili ketiga agama disitu. tapi setelah gue muter2 kelenteng ini, kok rasa2nya gue ga nemu patung Dewi Kwan Im. Well, kata Dunga di Pagoda yang ngarah ke Ungaran itu ada kelenteng yang ada patung Dewi Kwan Im yg gede banget. next destination lah yaa..

Masuk ke Kelenteng Tay Kak Sie ga dipungut biaya kayak di Sam Poo Kong. Kelenteng ini punya 3 ruangan besar, ruang tengah (tempat pemujaan utama Kelenteng Tay Kak Sie), ruang samping kanan (untuk memuja Hok Tek Ceng), ruang samping kiri (untuk memuja Poo Seng tay Tee, Seng Hong Lo Ya, Kong Tek Cun Ong dan Thay Siang Lo Kun). Dibelakang ruang samping kiri ada semacam stadion mini, yg waktu gw intip dipake untuk senam lansia.

Patung Kiang Cu Gee, yang sedang mancing ikan, didepannya ada kolam yang ada ikan hidup kecil2. konon katanya beliau ini sangat sakti, bisa mancing ikan tanpa mata kail karena ga mau nyakitin ikan yang dipancing

Entah kenapa yang gue temuin disana malem itu mayoritas lansia yang keturunan tionghoa. Cuma satu bapak necis pake kemeja kantoran yang masih tergolong muda (walau udah agak tambun) sembahyang disana.

Di sebelah kiri kelenteng ini ada pujasera, tempat jajan makan minum. untuk yang muslim mungkin harus nanya dulu kalo mesen makanan apa makanan itu halal atau engga. Disebelah kanan kelenteng ada warung yang jual kolang kaling. Enak deh, cuma 8rb perak sebotol. Ada tempat beli lumpia paling enak di Semarang, namanya lumpia gang Lombok. Tapi sayangnya tutup jam 5.

Gue kepengen balik lagi ke kelenteng ini sore2, karena banyak bgt spot foto yang keren2, dan semarang itu langitnya bagus sekitar jam 4 jam 5an. Sekalian mau jajan lumpia yang katanya paling enak itu. Hihi

Tampak luar kelenteng Tay Kak Sie

, , , , , , , , , , ,

7 Comments

Wayang Potehi, wayang yang nyaris terbenam..

Beberapa minggu lalu setelah kepindahan gue ke Semarang, ada temen gue yang berprofesi sebagai wartawan bilang kalau dia mau ke Semarang untuk ngeliput Wayang Potehi. Dia minta tolong gue untuk cari info tentang dalang wayang ini ke orang2 Semarang. Dari temen kantor, OB sampe satpam gue tanya ga ada yang tau. Iseng aja gue googling dan nemu di beberapa ulasan artikel dan blog orang kalau ternyata dalang wayang potehi di Semarang cuma sisa satu dan tinggal di Gang Lombok daerah Pecinan( daerah seperti China Town yang mana mayoritas penduduknya merupukan orang – orang keturunan Tionghoa). Dari berbagai referensi yang gue baca, gue jadi tertarik dan penasaran. Sayang karena stuck sama jam kantor gue gabisa ikut temen gue liputan.

Pas banget gue lagi mantengin timeline twitter dan secara random ada info dari @halosemarang kalau hari itu ada pagelaran Wayang Potehi di Kelenteng Tay Kak Sie. Wah? Setau gue Wayang Potehi udah jarang pentas lagi. Hal ini membulatkan tekad gue untuk nonton, krn pas bgt sesi keduanya jam 19.00 – 22.00, jadi gue bisa kesana pulang kantor. Udah ngajak sana sini, ga dpt kepastian sampe akhirnya nekat pergi sendiri. Udah nanya angkot sana sini tapi untung ada Dunga sm Arief (Beswan Semarang) yang mau nemenin di akhir2 waktu. Hihi.

Wayang Potehi ini wayang keturunan Tionghoa. No wonder dalangnya pun org Chinese yg tinggal di daerah pecinan. Karena kultur dan daerah, bisa dibilang wayang potehi ini perpaduan Tionghoa dan Jawa, dalangnya pun pake bahasa campuran Cina-Indonesia-Jawa. Menurut sejarah, katanya wayang ini ditemuin sama napi – napi yang dihukum mati di Cina trus dibawa masuk ke Indonesia sm orang2 Tionghoa.

Kita bertolak ke kelenteng Tay Kak Sie pake mobil Dunga. Kelenten itu letaknya di Gang Lombok. Gue agak kaget sih pas sampe kelenteng, gue pikir akan serame itu, tp ternyata ziiinggggg..krik krik.sepi bgt. Cuma ada para penjaga kelenteng, beberapa orang yang sembahyang dan perkumpulan lansia2 tionghoa yang duduk2 di pelataran kelenteng sm beberapa yang senam di belakang kelenteng. Trus yang nonton wayang siapa? Gue-dunga-arief. Yes, bertiga. Ada sih beberapa org yg dateng, foto, pergi lagi.

Wayang potehi itu wayang yang dibuat dr kain, nanti tangannya dalang dan asisten dalang masuk ke kain itu trus gerak2in wayangnya macem boneka tangan. Gue penasaran liat ‘dapur’ mereka, trus geng musiknya baik bgt memperbolehkan gue untuk foto2 didalem kotak panggungnya.

Dari hasil ngobrol gw sm orang sana, bapak2 itu bilang kalo wayang potehi pernah mencapai puncak popularitasnya taun 1970-an, 1979 mulai kesendat sampe pada akhirnya berenti taun 1984 karena kebudayaan Cina dilarang pada masa itu sampe akhirnya boleh lagi pas tumbangnya rezim orde baru pas Indonesia dipimpin sm Gus Dur, hmm sekitar tahun 1999. Tapi wayang potehi ga populer lagi ketutup pamornya sama barongsai. Jadi cuma dipentasin kalo ada hajatan.

Hajatan kali ini adalah dalam rangka khaul (atau nazzar) atas kesembuhan orang – orang yang sakit setelah kedatangan dewa obat mereka yang disebut Poo Seng Tay Tee. Bapak2 yang gue ajak ngobrol lebih seneng nyebutnya Sam Poo Sin Tay Tee ( baca: sam pu sin te tik). Ibaratnya, wayang ini digelar buat menghibur dewa.

ini patung Dewa Poo Seng Tay Tee

Kali ini pertunjukannya berjudul Hong Kiam Djun Djiu, bercerita tentang kerajaan Taichi yang menaklukan enam kerajaan2 kecil di Tionghoa. Dengan dalang the one and only bapak Bambang Sutrisno atau Lie Chong Gwat yang udah berumur 75 tahun. Pertunjukan dibagi jadi 2 sesi, mulai dan abisnya ONTIME. Mantap! Sayangnya, dari cerita yang gue denger, bapak2 yang katanya akrab disapa engkong ini gapunya penerus. Cucu engkong ga tertarik sama dunia perwayangan..

Engkong Bambang Sutrisno

Jadi menurut gue ini memprihatinkan, walo udah diinfoin via twitter @halosemarang yang followernya banyak bgt, tetep ga bisa menarik massa untuk nonton.  Beruntung gue bareng dunga sm arief, yg setelah gue puas foto2 dan ngobrol2 sm bapak2 disana, belom pada mau pulang. Katanya “kita apresiasi sampe pagelarannya abis”. Dan bener, abis wayangnya pamit, cm kita bertiga yang kesisa buat tepuk tangan. Huhu sedih..

, , , , , , , , , , , , ,

2 Comments

Jepret, klik klik!

Fotografi merupakan hobi yang ga pernah gue akui dan gue tekuni. Seems like when I admited ‘yes, I like photography’ itu berarti gue punya kamera super canggih, lensa bejibun dan kemampuan ngolah gambar yg diluar akal sehat. Lagipula di dunia fotografi gue atheis, gue bukan penganut agama nikon ataupun penganut agama canon. Tapi ibu pertiwi gue tanah komunikasi, dimana fotografi menjadi suatu partikel cosmos di dalamnya dan secara alamiah kamera jadi seperti bagian tubuh. Nikon mata kanan, Canon mata kiri. Gue bisa ngoperasiin keduanya, walopun ga sejago temen2 gue yg lain. Seoongok D90 dirumahpun jarang bgt gue pake untuk hunting foto atau apa. Bahkan sekarang gue membutakan diri gue dengan memakai kacamata poket. Sony TX10 yg baru gue lunasin cicilannya jadi camera paling smart dan tahan gue pake untuk foto apapun selama 6bulan terakhir. Gue cuma penikmat, dan sesekali menjadi pelaku. Mengingat muke gue ga fotogenik jadi gue lebih suka moto daripada difoto. Yaa sesekali narsis gapapa lah (tag 2000an foto di FB masih termasuk sesekali apa gimana ya?hihi).

Beberapa bulan terakhir gue ‘agak’ menggeluti keseharian memoto dan mengolah gambar. Selain frekuensi jalan2 gue yang bertambah, banyak moment2 yang sayang kalo ga diabadikan. Kegemaran gue buat curhat dan pamer di blog juga sedikit banyak ngasih gue pelampiasan atas hobi yang bagai anak haram ini (ga diaku2in maksudnya, haha :p) sekarang ada pula tempat yang bisa bikin gue belajar cara ngolah gambar yang apik, dan teman2 baru yang ngajarin dan ngasih info macem2. Dan juga tablet yg udah ky my half setahun terakhir, dengan segala aplikasinya yg ngenambah nilai dr semua hasil jepretan gue. But again, am not a professional photographer. *sight*

,

No Comments