“The Great Conciousness” ketika Tao, Buddhis dan Konghuchu bersatu


Instead of being clueless, gue berusaha nyari temen yg tau jalan disetiap perjalanan gue. Waktu pementasan wayang potehi kemaren gue udah nanya sana sini tentang angkot yg bisa ngebawa gue ke kelenteng Tay Kak Sie di jalan gang lombok. Gue tanya Mas Welly (pembina Beswan Djarum Semarang) dia cm ngasih clue : “angkot nomer 5 ke arah mana hayoo” gue jawab: “arah pasar johar!” dia bales lagi: “sing beneerr??? Hahaha” -_- oke, gue totally clueless, walau gue agak yakin kalo tebakan gue bener ngarah ke daerah johar itu ngelewatin sekitar gang lombok. itu kalo berdasarkan google map.

Anyway, petilasan Laksama Muslim Cheng Ho di postingan Kelenteng Sam Poo Kong gue tempo hari lainnya berada disekitar pecinan Semarang (mirip seperti china town, atau daerah tempat tinggal orang-orang tionghoa) tepatnya ada di Gang Lombok deket kawasan Pasar Johar atau Kali mberok (berok) yang menjadi saksi catatan sejarah Semarang. Tak lain dan tak bukan ya Kelenteng Tay Kak Sie tempat gue nonton wayang potehi kemarin. Di Kali Mberok itu ada replika kapal Cheng Ho seperti yang  dipake untuk menjelajah samudra.

ini dia replika kapal Ceng Ho

seperti yang gue ceritain di postingan sebelumnya kalo gue kesana bareng Dunga dan Arief (Beswan Semarang). Gue clueless, koneksi GPS lagi ngadat, Dunga lali, arief anteng2 aja duduk dibelakang. Intinya, gang lombok ini jauh dari jalan utama dan banyak jalan satu arah untuk nyampe sana. Kita menuju bundaran Bubakan (kawasan kota lama) lalu menuju jalan Kyai Haji Agus Salim – Belok kiri ke Jalan Pekojan – Ketemu aliran kali mberok belok kanan – Gang lombok sampai di Replika Kapal Cheng Ho. Sebrangnya itu ada Kelenteng Tay Kak Sie.

Gue cerita kan kalo gue sempet ngobrol sama bapak2? Beliau baik banget nunjukin gue patung2 dan ceritain macem-macem. Jadi, Kelenteng Tay Kak Sie ini campuran untuk penganut ajaran Tao, Buddhis dan Konfusian atau kong hu chu  (ketiga aliran agama ini dikenal dgn Tridharma). Tridharma disebut Samkau dalam dialek Hokkian, yang arti secara harfiahnya adalah tiga ajaran. Dari hasil berselancar di dunia maya, Tridharma lebih tepat disebut sebagai salah satu bentuk kepercayaan tradisional masyarakat Tionghoa sebagai hasil dari sinkretisme (upaya untuk melakukan penyesuaian atau pencampuran kebudayaan yang memiliki perbedaan kepercayaan. Mengacu pada upaya untuk bergabung dan melakukan sebuah analogi atas beberapa ciri-ciri tradisi, terutama dalam teologi dan mitologi agama) dari ketiga filsafat yang memengaruhi kebudayaan Tionghoa dan sejarah Tiongkok sejak 2500 tahun lalu. Karena agama resmi yang diakui oleh pemerintah Indonesia cuma lima, maka umat Tridharma di Indonesia dikelompokkan dalam lingkup agama Buddha, yang mana hal ini sebenarnya keliru.

Nama Tay Kak Sie tertulis di papan nama besar dipintu masuk Kelenteng, dengan catatan tahun pemerintahan Kaisar Dao Guang (Too Kong dalam bahasa Hokkian) 1821 – 1850 dari Dinasty Qing (Cing dalam bahasa Hokkian). Tay Kak Sie, yang bermakna Kuil Kesadaran Agung. Tay berarti maha atau agung dan kak artinya kesadaran. Sementara sie adalah vihara atau kelenteng. Keberadaan kelenteng ini diharapkan mampu membantu umat mencapai kesadaran tinggi.

Kelenteng ini merupakan klenteng pindahan dari Gang Belakang, dibangun pada tahun 1771. Tempat yang sering disebut sebagai “The Great Conciousness” ini memang kental nafas Buddha, ditunjukkan cuplikan-cuplikan Cerita patung Buddha yang terdapat di luar dan di dalam kelenteng. Di luar istana terdapat patung singa bernama Ciok Say. Bentuk singa ini dipercaya untuk mengusir roh-roh jahat yang mengganggu kesucian kelenteng. Pada mulanya Kelenteng Tay kak Sie ini hanya untuk memuja Dewi Kwan Sie Im Po Sat, Yang Mulia Dewi Welas Asih. Dewi yang sering kita denger di film Sun Go Kong alias kera sakti. Setiap kelenteng memiliki dewa utama yang dianggap sebagai tuan rumah. Dewi Kwan Im menjadi tuan rumah di Kelenteng Tay Kak Sie. Selain itu, masih ada 33 dewa lain yang dipuja mewakili ketiga agama disitu. tapi setelah gue muter2 kelenteng ini, kok rasa2nya gue ga nemu patung Dewi Kwan Im. Well, kata Dunga di Pagoda yang ngarah ke Ungaran itu ada kelenteng yang ada patung Dewi Kwan Im yg gede banget. next destination lah yaa..

Masuk ke Kelenteng Tay Kak Sie ga dipungut biaya kayak di Sam Poo Kong. Kelenteng ini punya 3 ruangan besar, ruang tengah (tempat pemujaan utama Kelenteng Tay Kak Sie), ruang samping kanan (untuk memuja Hok Tek Ceng), ruang samping kiri (untuk memuja Poo Seng tay Tee, Seng Hong Lo Ya, Kong Tek Cun Ong dan Thay Siang Lo Kun). Dibelakang ruang samping kiri ada semacam stadion mini, yg waktu gw intip dipake untuk senam lansia.

Patung Kiang Cu Gee, yang sedang mancing ikan, didepannya ada kolam yang ada ikan hidup kecil2. konon katanya beliau ini sangat sakti, bisa mancing ikan tanpa mata kail karena ga mau nyakitin ikan yang dipancing

Entah kenapa yang gue temuin disana malem itu mayoritas lansia yang keturunan tionghoa. Cuma satu bapak necis pake kemeja kantoran yang masih tergolong muda (walau udah agak tambun) sembahyang disana.

Di sebelah kiri kelenteng ini ada pujasera, tempat jajan makan minum. untuk yang muslim mungkin harus nanya dulu kalo mesen makanan apa makanan itu halal atau engga. Disebelah kanan kelenteng ada warung yang jual kolang kaling. Enak deh, cuma 8rb perak sebotol. Ada tempat beli lumpia paling enak di Semarang, namanya lumpia gang Lombok. Tapi sayangnya tutup jam 5.

Gue kepengen balik lagi ke kelenteng ini sore2, karena banyak bgt spot foto yang keren2, dan semarang itu langitnya bagus sekitar jam 4 jam 5an. Sekalian mau jajan lumpia yang katanya paling enak itu. Hihi

Tampak luar kelenteng Tay Kak Sie

, , , , , , , , , , ,

  1. #1 by Marhaindra Gary on July 4, 2012 - 11:10 pm

    Semangat kakak!

  2. #2 by P. Agnia Sri Juliandri on July 5, 2012 - 8:11 am

    Yeay, iya semangat! Hap hap hap!
    Eh tapi semangat dlm rangka apa? *nyengir*

  3. #3 by johantectona on July 5, 2012 - 8:55 am

    kan, tulisan putu keren kan emang :)

  4. #4 by P. Agnia Sri Juliandri on July 5, 2012 - 9:39 am

    Haha makasih masjoo, tapi bener2 ga ada apa2nya kalo dibandingin sm juara blog : johan tectona ;)

  5. #5 by johantectona on July 9, 2012 - 10:06 am

    ya elah blog saya mah kacau.. tulisannya masih TakLayak baca semua… :D

  6. #6 by Marhaindra Gary on July 14, 2012 - 11:24 pm

    mbk agnia sering ya jalan-jalan nih, mau dong diajak.

  7. #7 by P. Agnia Sri Juliandri on July 16, 2012 - 2:59 pm

    Hai marhaindra gary,
    Ayoooo.. Akhir2 ini aku sering jalan sendiri gapunya temen :(
    Haha

(will not be published)

Before you post, please prove you are sentient.

What do bees make?