halte, bus dan sebuah perbedaan


Rasa itu akan selalu ada, walau keadaan mendesak dan memaksa menjadikannya tiada..
Gue selalu membenci keadaan. Entah kenapa gue dan keadaan emang ga pernah akur. Bukan gue ga bersyukur dengan apa gue punya, tapi pada akhirnya keadaan selalu merenggut apa yang gue punya. Salah siapa? Gue gatau dan gue gabisa begitu aja protes sama Tuhan atas keadaan yang diberikan-Nya ke gue.

Gue ga pernah ngerti dengan keadaan yang mengkotak – kotakan manusia. Kenapa harus selalu ada border yang misahin antara manusia yang satu dengan lainnya. Lagi – lagi gue gapernah ngerti kenapa Tuhan nyiptain perbedaan ketika katanya persatuan dan kesatuan itu penting. Berpikir dan bersikap liberal di tengah adat budaya ketimuran pun tampaknya sulit terutama ketika gue menyadari bahwa gue ga hidup sendiri dan masih banyak hal – hal yang emang udah turun temurun melekat dalam diri gue. Hidup itu kompleks. Sayangnya manusia ga bisa milih channel hidup semudah mengklik step back atau forward di remote seperti milih channel kesukaan di TV.Nyebrang jembatan yang nyambungin jurang perbedaan atau ngebobol tembok pemisah bukan sebuah mainstream. Beda keadaannya kalau gue hidup sendiri, tanpa adanya orang tua atau keluarga besar. Karena ujung2nya disitu kan beban terberatnya? Ada adat – adat yang harus dianut, ada perasaan – perasaan yang dijaga daripada sebuah egoisme mementingkan perasaan sendiri.

Berat? Banget! Dan lagi – lagi fase “hidup merupakan sebuah persinggahan” terjadi. Pada akhirnya another bus has to leave my station. The best one. Yes. People come and go. You choose, mau jadi halte yang stay di tempat menunggu ada yang dateng atau jadi bus yang selalu move on untuk nemuin halte – halte lainnya. Gue pernah ada di posisi halte itu. Disinggahi sama bus yang satu dan bus lainnya. Sampai akhirnya gue nemuin bus gue, yang memberikan segalanya. Menawarkan sebuah kenyamanan, kebahagiaan, membawa gue menjadi pribadi yang lebih baik disetiap harinya dan mengajarkan gue banyak hal. Pokoknya segalanya. Tapi ketika sadar akan keadaannya, manajemen halte ini hanya menerima bus warna merah untuk stay forever, bus warna lainnya cuma boleh singgah. Begitupun manajemen bus itu, “cari halte berwarna biru” kata bosnya. Tapi itulah kebijakan yang diterapkan oleh manajemen secara turun temurun. Sebuah keadaan yang membuatnya berbeda. Sebuah aturan yang (mungkin) tidak bisa dilanggar. Bisa, mengingat di dunia ini ga ada hal yang mutlak. Tapi baik halte maupun bus tersebut lebih milih untuk
pasrah, daripada membuat manajemen yang udah kokoh jadi carut – marut dan menghadapi hal – hal yang ga ngenakin di kemudian harinya.

Lalu apa? Adakah keadaan lain yang bisa hidup tawarkan? Adakah cara lain untuk si bus agar bisa menetap di halte tersebut? Adakah suatu upaya yang bisa ditempuh untuk bisa tetep stay? Rest in peace? Happily ever
after?

Even fairytales don’t always have a happy ending, do they?

,

Comments are closed.