Posts Tagged batur

Desa Trunyan, Tempat Buang Mayat yang Legendaris

Tata cara dan tradisi kematian kami sebagai orang Bali bisa dibilang sangat tidak mainstream dalam adat istiadat dan budaya Indonesia. Setelah badan rohani kami meninggalkan badan kasar (jasad), maka badan kami akan di bakar, di kremasi, atau bahasa adat balinya disebut Ngaben. Engga jarang juga, tradisi ngaben di Bali jadi obyek wisata yang diburu bagi pecinta wisata budaya.

Tapi ada salah satu desa di Bali yang punya adat yang beda dalam memperlakukan badan kasar manusia ketika meninggal. Gue yakin kalian udah pernah denger kalau di Bali ada sebuah tempat diseberang danau yang disebut – sebut sebagai ‘tempat buang mayat’. Jujur aja, dari jaman gue kecil, kalau orang – orang mulai nyadar nama gue ada embel – embel Putu, yang notabene Bali banget, pasti pada nanyain tradisi gimana gue mati dan nanyain tentang ‘tempat buang mayat’ yang terkenal ini. Penasaran? Gue juga! Jujur, 23 tahun gue jadi orang Bali, gue belum pernah tau tentang tempat ini, akhirnya kesampean juga gue ngunjungin desa Trunyan dengan segenap tradisinya.

Gue udah izin sama bokap nyokap dan seniat itu pergi bareng ade gue, minta tolong dianter sama temen nyokap untuk pergi ke Trunyan. Desa Trunyan berlokasi di pinggir Danau Batur, sebuah danau berbentuk bulan sabit berdampingan dengan Gunung Batur (1717 M Diatas Permukaan Laut) yang berada di kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Kalau udah sampe Kintamani, kita bisa lewat Desa Kedisan atau Desa Toya Bungkah yang letaknya sama – sama di pinggir Danau Batur untuk nyebrang ke Desa Trunyan. Setelah menempuh arak 65 KM dari rumah gue di Denpasar untuk nyampe Kintamani, gue memutuskan untuk lewat Desa Kedisan karena mau makan siang di Resto Apung yang kebetulan letaknya cuma beberapa meter dari tempat penyeberangan di Desa Kedisan.

Sebelumnya gue udah diwanti – wanti sama orang – orang untuk make kapal penyeberangan yang resmi dari pemerintah yang bisa ditemuin di loket pembelian tiket. Emang harganya jauh lebih mahal dibanding dengan yang ga resmi, tapi lebih aman. Beberapa cerita kecurangan – kecurangan yang gue denger kalau kita pake agen penyeberangan yang ga resmi adalah nanti ditengah danau kapal motor dimatiin, trus kita bisa dipalak dimintain uang lebih banyak dari agen resmi, baru akhirnya motornya mau dinyalain lagi dan dijalanin untuk ngebawa wisatawan pulang. Tarif agen penyeberangan resmi waktu gue naik kapal penyeberangannya emang lumayan ngerogoh kocek yang agak tebel, 450 ribu untuk 4 orang. Mayaaann, tapi gapapa, kan baru abis dapet duit THR. Hekekekekekek.

Untuk nyebrang danau menuju Kuburan Desa Trunyan, cuma butuh waktu kurang lebih 15 menit. Siapin jaket dan jangan lupa minum obat penahan angin, karena walaupun matahari terang nyinarin kita, anginnya dingin banget nerpa badan. Haha, untung gue lagi ga kecentilan mentang – mentang di Bali sok pake dress atau lengan buntung. Hawa di Kintamani sejuk banget. Kurang lebih 17 derajat celcius dan kadang – kadang bisa turun sampe 12 derajat celcius kalau lagi musim tertentu. Sampe di Kuburan Desa Trunyan, kita langung disambut sama penjaga yang juga bisa jadi gaet untuk ngejelasin segala macem pertanyaan kita. Mulailah kita ngoceh nanya ini itu.

Mitos sejarahnya, dahulu kala ada Raja Solo dari Keraton Surakarta punya 4 anak yang tertarik sama bau harum yang berasal dari Bali. Anak – anaknya dateng ke Bali dan tiba di kaki Gunung Batur. Anak sulungnya akhirnya mendapati seorang dewi cantik jelita yang sedang duduk di bawah Pohon Taru Menyan yang ternyata jadi sumber bau harum itu. Taru berarti pohon, menyan berarti harum. Pada akhirnya mereka berdua menikah, kemudian dijulukin Ratu Sakti Pancering Jagat dan Ratu Ayu Pingit Dalam dasar. Mereka akhirnya menjadi  dewa tertinggi bagi desa Taru Menyan dan sang istri jadi dewi Danau Batur yang dipercaya jadi dewi penunggu Danau Batur. Atas kepemimpinan mereka, rakyat Desa Taru Menyan hidup aman sejahtera tanpa ada gangguan luar. Sang Raja memerintahkan rakyatnya untuk menghilangkan bau harum yang menyebar ke seluruh penjuru itu supaya ga menarik perhatian orang luar, demi mempertahankan keamanan desanya. Raja memerintahkan rakyatnya agar jenazah – jenazah orang yang sudah meninggal ga dikubur melainkan ditimbun di bawah Pohon Taru Menyan. Lama kelamaan bau harum tersebut ga menebar ke seluruh penjuru tapi juga ga menebar bau busuk dari bangkai jenazah yang ditaroh disana. Kemudian Desa Taru Menyan lebih dikenal dengan nama Desa Trunyan.

Pohon Taru Menyan

Desa ini merupakan sebuah desa Bali Aga, Bali Mula dengan kehidupan masyarakat yang unik dan menarik. Bali Aga, berarti orang Bali pegunungan, sedangkan Bali Mula berarti Bali asli. Kebudayaan orang Trunyan mencerminkan satu pola kebudayaan petani yang konservatif.

Secara spesifik, terkait dengan kepercayaan orang Trunyan mengenai penyakit dan kematian, maka cara pemakaman orang Trunyan ada 2 macam. Sebenernya ga semua mayat – mayat warga desa ditaruh di kuburan ini. Desa Trunyan punya tiga jenis kuburan yang terdiri dari kuburan utama, diperuntukkan untuk jenazah orang yang dianggap paling suci/baik dan meninggal secara wajar dengan jazad utuh (istilahnya mepasah). Biasanya orang -orang yang dikubur disini adalah pemuka agama dan pemimpin atau pemuka adat dan lain-lain yang dihormati. Kuburan yang kedua adalah kuburan bagi orang dewasa dan bayi yang meninggal dengan jasad utuh. Nah, jenazah – jenazah ini cuma dibungkus daun janur dan bambu. Sedangkan untuk kuburan yang terakhir adalah kuburan bagi orang-orang yang meninggal secara tidak wajar seperti dikarenakan bunuh diri, bencana alam atau kecelakaan lalu lintas dan sebagainya yang jenazahnya ga lengkap atau cacat. Nah untuk yang terakhir ini tempatnya beda, karena jenazahnya dikubur, ga ditaruh utuh di kuburan.

Untuk keperluan pemakaman, di desa Trunyan terdapat kuburan yaitu:

  • Sema wayah untuk pemakaman jenis mepasah
  • Sema bantas, untuk dengan penguburan.
  • Sema nguda, untuk kedua jenis pemakaman yaitu mepasah maupun penguburan.

Gue cuma mampir ke kuburan yang mepasah. Di depan gapura kita udah disambut sama tulang tengkorak. Masuk lewat gapuranya, kita langsung ketemu sama Pohon Taru Menyan yang sangat legendaris itu. Banyak sesajen dan bekas – bekas sarana upaca adat berserakan seperti janur kering, keranjang, uang koin, dan juga tulang – tulang manusia. Kuburan ini tergolong sempit, dengan hutan yang masih dihuni monyet – monyet di belakangnya. Kebetulan waktu gue kesana, ada mayat yang baru berumur 1 bulan. Bener aja dooonggg, mayatnya bener – bener ga bau sama sekali. Gue nanya lagi kenapa ini ga dibersihin, ternyata untuk ngebersihin kuburan ini perlu diadain upacara gede yang cuma boleh diadain selama lima tahun sekali. Nah, yang udah dbersihin, tulang tengkoraknya dijejerin di atas batu deket yang ngebatasin kuburan dengan hutan.

Sebenernya kalau mau liat desa dan kuburan lainnya, kita bisa dianterin pake boat tanpa ada biaya tambahan. Kalo gue sih karena asal gue dari Bali dan kampung gue juga masih berupa desa, so I bet it  will be the same. Yaaa, kurang lebih lah pasti sama lah. Jadi yang ngendarain boat cuma ngebawa gue keliling Danau aja. Lumayan bisa ngeliat pemandangan bukit – bukit, desa – desa dan Gunung Batur.

Danau Batur sendiri merupakan obyek wisata yang cukup menarik bagi wisatawan. Danau ini letaknya di kaki Gunung Batur dan diyakini merupakan sebuah kaldera purba. Kaldera atau kawah raksasa itu diduga terjadi akibat letusan dahsyat gunung Batur puluhan ribu tahun yang lalu. Kaldera  itu sekarang digenangin air yang menjadi sumber air dari sebagian besar lahan pertanian di Bali. Yes, air dari danau ini mengalir ke hampir seluruh sungai besar di Bali seperti sungai Unda di Bali Selatan, Sungai Suni di Bali barat, dan Sungai Bayumala di Bali Utara. Dari aliran sungai itulah air Danau Batur kemudian dibagi- bagi dengan tata aturan khusus yang disebut subak (sistem pengairan sawah di Bali). Di pinggir danau ini berdiri Pura Batur sebagi tempat pemujaan Betari Danu, yakni manifestasi Tuhan dalam fungsinya sebagai dewi pelindung pertanian

Begitu selesai wisata Trunyan dan muter – muter Danau Batur, kita bisa jalan – jalan ke sekitar Kintamani, dimana terletak batuan – batuan yang merupakan lahar gunung merapi yang udah mengering. Daerah ini baguuuussss banget!!

Nah, sekarang, coba tanya gue tentang ‘tempat buang mayat’ yang tersohor itu. Gue ga akan senyum – senyum sosial lagi kayak dulu – dulu. gue bakal ceritain sampe ke sejarah dan pemandangan alamnya. hihi.

, , , , , , , , ,

27 Comments