Posts Tagged sejarah

Tribute to the prayer

well, I have promised you to attach the photos of some prayers on the wall of Pagoda Avalokitesvara.

So, here’s the photos, please read with an open minded.

, , , , , , , , , ,

2 Comments

Desa Trunyan, Tempat Buang Mayat yang Legendaris

Tata cara dan tradisi kematian kami sebagai orang Bali bisa dibilang sangat tidak mainstream dalam adat istiadat dan budaya Indonesia. Setelah badan rohani kami meninggalkan badan kasar (jasad), maka badan kami akan di bakar, di kremasi, atau bahasa adat balinya disebut Ngaben. Engga jarang juga, tradisi ngaben di Bali jadi obyek wisata yang diburu bagi pecinta wisata budaya.

Tapi ada salah satu desa di Bali yang punya adat yang beda dalam memperlakukan badan kasar manusia ketika meninggal. Gue yakin kalian udah pernah denger kalau di Bali ada sebuah tempat diseberang danau yang disebut – sebut sebagai ‘tempat buang mayat’. Jujur aja, dari jaman gue kecil, kalau orang – orang mulai nyadar nama gue ada embel – embel Putu, yang notabene Bali banget, pasti pada nanyain tradisi gimana gue mati dan nanyain tentang ‘tempat buang mayat’ yang terkenal ini. Penasaran? Gue juga! Jujur, 23 tahun gue jadi orang Bali, gue belum pernah tau tentang tempat ini, akhirnya kesampean juga gue ngunjungin desa Trunyan dengan segenap tradisinya.

Gue udah izin sama bokap nyokap dan seniat itu pergi bareng ade gue, minta tolong dianter sama temen nyokap untuk pergi ke Trunyan. Desa Trunyan berlokasi di pinggir Danau Batur, sebuah danau berbentuk bulan sabit berdampingan dengan Gunung Batur (1717 M Diatas Permukaan Laut) yang berada di kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Kalau udah sampe Kintamani, kita bisa lewat Desa Kedisan atau Desa Toya Bungkah yang letaknya sama – sama di pinggir Danau Batur untuk nyebrang ke Desa Trunyan. Setelah menempuh arak 65 KM dari rumah gue di Denpasar untuk nyampe Kintamani, gue memutuskan untuk lewat Desa Kedisan karena mau makan siang di Resto Apung yang kebetulan letaknya cuma beberapa meter dari tempat penyeberangan di Desa Kedisan.

Sebelumnya gue udah diwanti – wanti sama orang – orang untuk make kapal penyeberangan yang resmi dari pemerintah yang bisa ditemuin di loket pembelian tiket. Emang harganya jauh lebih mahal dibanding dengan yang ga resmi, tapi lebih aman. Beberapa cerita kecurangan – kecurangan yang gue denger kalau kita pake agen penyeberangan yang ga resmi adalah nanti ditengah danau kapal motor dimatiin, trus kita bisa dipalak dimintain uang lebih banyak dari agen resmi, baru akhirnya motornya mau dinyalain lagi dan dijalanin untuk ngebawa wisatawan pulang. Tarif agen penyeberangan resmi waktu gue naik kapal penyeberangannya emang lumayan ngerogoh kocek yang agak tebel, 450 ribu untuk 4 orang. Mayaaann, tapi gapapa, kan baru abis dapet duit THR. Hekekekekekek.

Untuk nyebrang danau menuju Kuburan Desa Trunyan, cuma butuh waktu kurang lebih 15 menit. Siapin jaket dan jangan lupa minum obat penahan angin, karena walaupun matahari terang nyinarin kita, anginnya dingin banget nerpa badan. Haha, untung gue lagi ga kecentilan mentang – mentang di Bali sok pake dress atau lengan buntung. Hawa di Kintamani sejuk banget. Kurang lebih 17 derajat celcius dan kadang – kadang bisa turun sampe 12 derajat celcius kalau lagi musim tertentu. Sampe di Kuburan Desa Trunyan, kita langung disambut sama penjaga yang juga bisa jadi gaet untuk ngejelasin segala macem pertanyaan kita. Mulailah kita ngoceh nanya ini itu.

Mitos sejarahnya, dahulu kala ada Raja Solo dari Keraton Surakarta punya 4 anak yang tertarik sama bau harum yang berasal dari Bali. Anak – anaknya dateng ke Bali dan tiba di kaki Gunung Batur. Anak sulungnya akhirnya mendapati seorang dewi cantik jelita yang sedang duduk di bawah Pohon Taru Menyan yang ternyata jadi sumber bau harum itu. Taru berarti pohon, menyan berarti harum. Pada akhirnya mereka berdua menikah, kemudian dijulukin Ratu Sakti Pancering Jagat dan Ratu Ayu Pingit Dalam dasar. Mereka akhirnya menjadi  dewa tertinggi bagi desa Taru Menyan dan sang istri jadi dewi Danau Batur yang dipercaya jadi dewi penunggu Danau Batur. Atas kepemimpinan mereka, rakyat Desa Taru Menyan hidup aman sejahtera tanpa ada gangguan luar. Sang Raja memerintahkan rakyatnya untuk menghilangkan bau harum yang menyebar ke seluruh penjuru itu supaya ga menarik perhatian orang luar, demi mempertahankan keamanan desanya. Raja memerintahkan rakyatnya agar jenazah – jenazah orang yang sudah meninggal ga dikubur melainkan ditimbun di bawah Pohon Taru Menyan. Lama kelamaan bau harum tersebut ga menebar ke seluruh penjuru tapi juga ga menebar bau busuk dari bangkai jenazah yang ditaroh disana. Kemudian Desa Taru Menyan lebih dikenal dengan nama Desa Trunyan.

Pohon Taru Menyan

Desa ini merupakan sebuah desa Bali Aga, Bali Mula dengan kehidupan masyarakat yang unik dan menarik. Bali Aga, berarti orang Bali pegunungan, sedangkan Bali Mula berarti Bali asli. Kebudayaan orang Trunyan mencerminkan satu pola kebudayaan petani yang konservatif.

Secara spesifik, terkait dengan kepercayaan orang Trunyan mengenai penyakit dan kematian, maka cara pemakaman orang Trunyan ada 2 macam. Sebenernya ga semua mayat – mayat warga desa ditaruh di kuburan ini. Desa Trunyan punya tiga jenis kuburan yang terdiri dari kuburan utama, diperuntukkan untuk jenazah orang yang dianggap paling suci/baik dan meninggal secara wajar dengan jazad utuh (istilahnya mepasah). Biasanya orang -orang yang dikubur disini adalah pemuka agama dan pemimpin atau pemuka adat dan lain-lain yang dihormati. Kuburan yang kedua adalah kuburan bagi orang dewasa dan bayi yang meninggal dengan jasad utuh. Nah, jenazah – jenazah ini cuma dibungkus daun janur dan bambu. Sedangkan untuk kuburan yang terakhir adalah kuburan bagi orang-orang yang meninggal secara tidak wajar seperti dikarenakan bunuh diri, bencana alam atau kecelakaan lalu lintas dan sebagainya yang jenazahnya ga lengkap atau cacat. Nah untuk yang terakhir ini tempatnya beda, karena jenazahnya dikubur, ga ditaruh utuh di kuburan.

Untuk keperluan pemakaman, di desa Trunyan terdapat kuburan yaitu:

  • Sema wayah untuk pemakaman jenis mepasah
  • Sema bantas, untuk dengan penguburan.
  • Sema nguda, untuk kedua jenis pemakaman yaitu mepasah maupun penguburan.

Gue cuma mampir ke kuburan yang mepasah. Di depan gapura kita udah disambut sama tulang tengkorak. Masuk lewat gapuranya, kita langsung ketemu sama Pohon Taru Menyan yang sangat legendaris itu. Banyak sesajen dan bekas – bekas sarana upaca adat berserakan seperti janur kering, keranjang, uang koin, dan juga tulang – tulang manusia. Kuburan ini tergolong sempit, dengan hutan yang masih dihuni monyet – monyet di belakangnya. Kebetulan waktu gue kesana, ada mayat yang baru berumur 1 bulan. Bener aja dooonggg, mayatnya bener – bener ga bau sama sekali. Gue nanya lagi kenapa ini ga dibersihin, ternyata untuk ngebersihin kuburan ini perlu diadain upacara gede yang cuma boleh diadain selama lima tahun sekali. Nah, yang udah dbersihin, tulang tengkoraknya dijejerin di atas batu deket yang ngebatasin kuburan dengan hutan.

Sebenernya kalau mau liat desa dan kuburan lainnya, kita bisa dianterin pake boat tanpa ada biaya tambahan. Kalo gue sih karena asal gue dari Bali dan kampung gue juga masih berupa desa, so I bet it  will be the same. Yaaa, kurang lebih lah pasti sama lah. Jadi yang ngendarain boat cuma ngebawa gue keliling Danau aja. Lumayan bisa ngeliat pemandangan bukit – bukit, desa – desa dan Gunung Batur.

Danau Batur sendiri merupakan obyek wisata yang cukup menarik bagi wisatawan. Danau ini letaknya di kaki Gunung Batur dan diyakini merupakan sebuah kaldera purba. Kaldera atau kawah raksasa itu diduga terjadi akibat letusan dahsyat gunung Batur puluhan ribu tahun yang lalu. Kaldera  itu sekarang digenangin air yang menjadi sumber air dari sebagian besar lahan pertanian di Bali. Yes, air dari danau ini mengalir ke hampir seluruh sungai besar di Bali seperti sungai Unda di Bali Selatan, Sungai Suni di Bali barat, dan Sungai Bayumala di Bali Utara. Dari aliran sungai itulah air Danau Batur kemudian dibagi- bagi dengan tata aturan khusus yang disebut subak (sistem pengairan sawah di Bali). Di pinggir danau ini berdiri Pura Batur sebagi tempat pemujaan Betari Danu, yakni manifestasi Tuhan dalam fungsinya sebagai dewi pelindung pertanian

Begitu selesai wisata Trunyan dan muter – muter Danau Batur, kita bisa jalan – jalan ke sekitar Kintamani, dimana terletak batuan – batuan yang merupakan lahar gunung merapi yang udah mengering. Daerah ini baguuuussss banget!!

Nah, sekarang, coba tanya gue tentang ‘tempat buang mayat’ yang tersohor itu. Gue ga akan senyum – senyum sosial lagi kayak dulu – dulu. gue bakal ceritain sampe ke sejarah dan pemandangan alamnya. hihi.

, , , , , , , , ,

27 Comments

Welkom in Malang (Part II)

Pagi itu dingin banget, walau udah selimutan rasanya ga pengen bangun buat ngapa – ngapain. Sarapan aja males, boro – boro buat mandi. Tapi Mas Ibnu udah rapi dan seger muncul di depan hotel. “Yuk Sarapan!” Sinting emang, bulan puasa gini dia ga puasa lagi. Hahaha. masih muka bantal kita sarapan di Lobby yang isinya bule – bule semua kecuali petugas hotel dan kita. Keasikan makan sambil baca koran, sampe duo geng hore kita Genthonk-Jonggi muncul. Kita kesiangan boookk! Baru inget kalo kita janjian jam 8 buat jalan – jalan disekitar Malang sebelum waktunya balik ke kota masing – masing.

Perut gue ada bakat lah ya bule – bule gitu sarapan toast, scramble, ham + cheese :D

Mungkin bule – bule ini pada suka dateng ke Malang karena selain hawanya adem, banyak bangunan ala Belanda, tapi juga ga luput dari budaya asli Indonesia. Waktu awal keluar stasiun, gue ngeliat papan pariwisata yang ngasih tau tempat – tempat pariwisata yang ada di Malang. Saat itu selain Bromo, mata gue tertuju ke foto Candi Singosari dan sedikit ulasannya

Kalian mungkin masih inget pelajaran sejarah tentang Kerajaan Hindu – Budha di Jawa Timur yang bernama Kerajaan Singosari, beberapa mengenal dengan Kerajaan Tumampel dengan rajanya yang terkenal gara – gara cerita Keris Mpu Gandring, yaitu Ken Arok (1222). Di antara sisa-sisa peninggalan Kerajaan Singosari, ada sebuah bangunan sebagai tempat pemujaan raja atau leluhur raja. Salah satunya adalah Candi Singosari ini. Candi Singosari tepatnya terletak di Desa Candirenggo, Kecamatan Singosari. Dari Jalan gede, gue ngeliat mobil Jonggi yang ngebawa kita kesana masuk ke jalan yang ada gapuranya “Jalan Tumampel”. Bhuoosss, gue berasa lagi belajar sejarah secara live!! Asik abis.

Nyampe di Candi Singosari, ada posko penjaga candi. Kita nulis daftar tamu (yang lagi – lagi sisinya dipenuhin sama wisatawan Eropa) dan ngasih retribusi seikhlasnya. Seperti guyonan gue – Mas Ibnu – Ami, setiap ke tempat baru kita mesti muterin tempat itu. “Dua setengah kali, pokoknya setengahnya harus lewatin tengah – tengahnya!” Ngaco emang, gimana coba cara nembus candi?! Atap candi ini bentuknya limas, di kaki candi ada bilik dengan lambang Yoni (lambang kewanitaan). Ada beberapa bilik – bilik di candi itu yang dulunya berisi arca Durga (utara), Ganesa (timur) dan Siwa Guru (selatan). Kecuali arca Guru, arca-arca lain udah ga ada pada tempatnya. Di bilik tengah ini terdapat suatu saluran di bawah lantai bilik. Konon katanya dulu dipake untuk mengalirkan air pembasuh linggayoni ke suatu pancuran (sekarang sih udah ada, tapi bekasnya masih keliatan jelas). Di atas bilik candi dan relung ada hiasan kepala Kala. Dalam pada itu di sisi kiri kanan bangunan penampil yang ada di depan ( arah barat) terdapat relung tempat arca Nandiswara dan Mahakala.

Yang serunya, di depan candi itu ada beberapa arca. Pas gue tanya ke penjaganya “Arca Ken Dedes-nya dimana pak?” katanya, “Ooo kalo itu sih udah di Jakarta mbak” Lah, gue bingung. Mungkin si bapak ngebaca air muka gue, jadi dia lanjutin, “Masuk museum.” Oooo…

Arca Guru di dalam bilik

Anggep aja kita berdua bidadari yang mau pulang ke khayangan

Ga jauh dari Tempat candi Singosari, ada alun – alun yang ada dua arca penjaga bernama Arca Dwarapala. Dwarapala itu merupakan penjaga pintu atau gerbang dalam ajaran Budha dan Siwa pada jaman kerajaan. Dwarapala biasanya digambarin dengan bentuk yang menyeramkan. Arca Dwarapala ini merupakan Dwarapala terbesar di pulau Jawa. Dwarapala biasanya ditempatin sepasang di pintu gerbang masuk. Jaman dulu, tergantung kekayaan dan kemakmuran kerajaannya. Semakin makmur, semakin banyak kerajaan itu punya Dwarapala.

Waktu masih mencukupi untuk kita jalan – jalan. Kata Jonggi, di deket rumah dia ada Candi Badut. Penasaran siih, tapi kalau kita balik ke kota, takutnya malah jadi ga cukup waktu. Pas lewat jalan sekitar situ, ada plang menuju Candi Sumberawan. Berhubung jaraknya cuma beberapa kilometer, jadi kita sekalian kesana mumpung masih ada waktu.

Candi Sumberawan ini ternyata harus ngelewatin jalan setapak sejauh 800 meter. Gue agak ga tega sih sama Genthonk dan Jonggi yang lagi puasa. Beda sama mas Ibnu yang belom apa – apa udah ngacir ke minimarket. Hekekekekek. Di kiri jalan setapak menuju candi ada sawah ijo yang berundak – undak seperti di Bali walo undakannya ga tinggi. Di kanan jalan ada aliran sungai kecil yang airnya bersih dan jernih banget, maka waktu jalan kita ngelewatin beberapa warga yang lagi mandi di sungai itu.

Ami & Mas Ibnu. Akhirnya gue memunculkan muka Mas Ibnu walopun kecil :p

Candi Sumberawan ini cuma berupa stupa, polos tanpa ada ukir – ukiran sama sekali. Lokasi tepatnya ada di Desa Toyomarto, Kecamatan Singosari, cuma 6 kilometer dari Candi Singosari. Berdasarkan informasi, stupa ini punya ukuran panjang 6,25 m, lebar 6,25 m, tinggi 5,23 m, dan dibangun di ketinggian 650 m di atas permukaan laut, di kaki Gunung Arjuna. Di sekitar lingkungan stupa banyak berdiri pohon – pohon besar, dan ada semacam danau tempat warga sekitar berenang – berenang atau mandi.

Sebelum masuk lingkungan Candi, kita ngelewatin hutan kecil dengan pohon tinggi – tinggi

Konon katanya Candi Sumberawan ini dulunya bernama Kasurangganan atau Taman Surga Nimfa, sebuah nama yang terkenal dalam kitab Negarakertagama. Tempat ini dulunya dikunjungin sama Hayam Wuruk pada tahun 1359 masehi, sewaktu ia mengadakan perjalanan keliling. Dari bentuk-bentuk yang tertulis pada bagian batur dan dagoba (stupanya), diperkirakan bahwa bangunan Candi Sumberawan didirikan sekitar abad 14 sampai 15 masehi, ketika jaman kerajaan Majapahit. Beda sama Candi Singosari, Candi yang berbentuk stupa ini gapunya bilik – bilik. Konon dulunya tempat ini dibangun sebagai tempat pemujaan dan tempat penyimpanan senjata.

Penampakan Candi Sumberawan

Lumayan ya, dalam sehari ilmu Sejarah gue nambah. Kalo gue masih SMP, Bu Suryati (guru sejarah SMP gue) bakal sayang banget nih sama gue, huehehehe. Sayangnya waktu udah makin sempit dan gue harus ngejar si Senja Singosari, kereta bisnis yang ngebawa gue balik ke Semarang. Kali ini gue misah, Ami langsung ke Jakarta leyeh – leyeh dalam gerbong eksekutif, Mas Ibnu masih punya waktu sehari lagi tapi mau ngunjungin keluarganya, Genthonk dan Jonggi kembali ke kehidupan sehari – harinya. Terima kasih banyak Genthok, Terima kasih banyak Jonggi. Terima kasih juga buat Ami dan Mas Ibnu yang membuat suasana sendu gue berubah jadi hari – hari penuh tawa.

Seperti kata Genthonk, wisata sejarah emang bukan suatu hal yang menarik buat dikunjungi, apalagi oleh anak – anak muda seperti kita. Tapi sejarah akan membuat kita menjadi lebih baik lagi di kedepannya. Belajar dari kesalahan, dan mencontoh budi pekertinya. Anyway, gue jadi inget motto Bung Karno yang terdoktrin di otak gue oleh Bu Suryati, JAS MERAH, Jangan Sekali – Sekali Melupakan Sejarah. Jos Grandhuooosss!!

, , , , , ,

7 Comments

Welkom in Malang (part I)

“Puhlease deh teteh, Malang itu Jawa Timur kaleee, kalo Semarang Jawa Tengah. Jauuuhhh” kata Genthonk via BBM ngejawab pertanyaan bodoh gue : “Thonk, Malang sama Semarang deket kan? Sini jenguk aku!” itu sekitar 3 bulan yang lalu, waktu gue baru pindah ke Semarang.

Tapi Sore itu…..

Dag dag dag! Suara pintu kamar hotel gue bunyi dengan suara – suara “Teeh, teteehh..” pas gue buka pintu, munculah si makhluk besar nan eksotis itu berhambuk cipika cipiki. Eits, asal kalian tau, walaupun panggilannya “teteh”, gue bukan lagi di Bandung melainkan lagi di Malang. Yes, kota adem yang mengingatkan gue akan situasi Bandung (apalagi dengan sebutan teteh dari Genthonk itu).

Ceritanya begini, kepulangan gue dari Bromo sebenernya gue belom punya tiket balik ke Semarang, begitu juga Ami yang belom punya tiket balik Jakarta. Kebetulan Mas Ibnu masih dalam masa – masa liburan dengan jadwal balik masih 2 hari lagi. Akhirnya gue sama Ami memutuskan untuk stay di Malang sehari lagi. Sehari aja men, karena sayangnya gue udah harus ngantor lagi hari Senin.

Gue nginep di sebuah hotel dengan interior jadoel yang mayoritas dihuni bule – bule di deket stasiun, tepatnya di Jalan Mojopahit. Awalnya gue agak ketir karena interiornya lebih mirip rumah sakit daripada hotel, belom lagi gue bareng 2 orang ajaib yang darahnya dingin bisa gitu – gituan. Gue udah bertekad, kalo si Ami gabisa tidur tar malem gara – gara yang engga – engga, pokoknya gua gedor kamar Mas Ibnu trus gua ajak ke tempat rame! Setelah heboh kangen – kangenan, si Genthonk harus pamit karena mau ngambil makanan buat buka puasa keluarganya. Tinggalah kita bertiga. Namanya juga liburan di kota orang, ga asik kan kalo cuma bobo doang di kamar hotel..

Foto di depan Hotel yang disebut “Gubug Pariwisata”

Akhirnya kita memutuskan jalan kaki ke Toko Oen. Restoran terkenal dari jaman kolonial Belanda di Malang yang letaknya di Jalan Basuki Rahmat. Bisa dibilang Toko Oen ini salah satu ikonnya Kota Malang. Toko Oen berdiri tahun 1930, dan pernah jadi tempat nongkrong peserta Kongres Komite Nasional Indonesia tahun 1947. Dulu awalnya Toko Oen ini cuma toko yang ngejual kue, trus bertansformasi jadi ice cream parlour, trus sekarang jadi restoran. Buat yang doyan kuliner, selain steaknya bisa ngemanjain lidah kalian, suasanya yang jadoel banget itu bener – bener ngerasa seperti lagi di rumah eyang. Kita nanya makanan yang paling enak yang sering dipesen orang apa. Kata waitressnya kita dsuruh cobain steak. Jadi gue pesen Fish Steak, Ami pesen Chicken Steak, Mas Ibnu pesen Oxtounge Steak alias lidah sapi. Konon si oxtongue steak ini paling favorit sejak jaman Belanda. Kita saling nyobain sana – sini. Bumbunya khas, emang kerasa beda sih dari steak lainnya, bule banget rasanya. Ah yaa, mayoritas yang dateng kesana pun bule – bule eropa. Kecuali tiba – tiba ada satu sosok yang gue kenal : Bany! Doi partner liburan waktu ke Kiluan beberapa tempo lalu. Dunia emang sempit atau gue yang mulai eksis? (eaaaa sombong! Haha maap maap).

Gue dan Ami difotoin Mas Ibnu didepan Toko Oen

Interior Toko Oen

Gue dan Bany (yang sebenernya janjian di Bromo pada awalnya, cuma gagal~)

Toko Oen terkenal sama es krimnya. Ga mungkin kita kesana tapi ga nyobain es krim khas yang resepnya diturunin dari jaman Belanda. Akhirnya kita mesen Banana Split karena perut udah mulai kekenyangan gara – gara steak. Pada dasarnya sama aja sih rasanya kayak eskrim lainnya, cuma teksturnya lebih kasar. Hmm, lebih mirip sama es puter aja sih..

Lagu – lagu yang diputer di Toko Oen sangat easy listening sampe kita bertiga malah jadi karokean. Maklum, 2 cewek galau tambah satu dokter sinting, yang ada jadi malu – maluin kan. Daripada makin malu, mending kita cabut dari sana. Saking bingungnya ga ada tujuan, akhirnya kita balik ke hotel sambil nungguin Genthonk nyamper kita lagi.  Belom lama nyampe hotel, si Genthonk udah muncul. Tapi kali ini sama Jonggi. Huaa Jonggi! Gue udah lama ga ketemu dari waktu Dare To Be A Leader Beswan Djarum di Bandung. Gue pikir dia dari Surabaya, hekekekekekek maap lupa.

Genthonk sama Jonggi ngajak kita ke Bakso Bakar Pahlawan Trip di Jalan Ijen. Hahhahaha gue lupa doong kalo Malang itu emang terkenal baksonya. Pantes dijakarta tulisannya selalu “Bakso Malang”. Haha bener juga. Puas makan bakso bakar yang enak itu, Jonggi ngebawa kita semua ke daerah Batu pake mobilnya.

Ada apa di Batu malem – malem? Kota Wisata Batu yang ketinggiannya sekitar 900 – 1800 meter diatas permukaan laut ini punya hawa yang lumayan dingin, katanya bisa menjapai 15 – 19 derajat celcius. Letak Kota Batu kira – kira sekitar 15 km dari Malang. Salah satu tempat yang terkenal yang kita datengin di Batu itu adalah Alun – Alun Kota Batu.

Gue bersama si eksotis Genthonk dan si ganteng Jonggi

Alun – alun Kota Batu ini sangat amat bersih dan sejuk. Nyaman banget tempatnya. Banyak lampion – lampion bentuk binatang dan tumbuhan yang  ngebuat alun – alun ini keliatan terang benderang. Di alun – alun ini ada wahana bianglala yang sayangnya waktu gue kesana ga beroperasi. mungkin karena gue ksana udah agak malem kali yaa.. Kalau kalian pernah ngeliat foto bangunan apel dan strawberry yang besar, ya itu letaknya di alun – alun Kota Batu ini..

Gue tau angle-nya “kurang”, tapi gue udah keburu bete gara2 gapunya tripod. hauufftt

Konsep alun – alun ini lumayan unik sih. Biasanya kan kita taunya alun – alun itu adalah lapangan. Tapi dengan fasilitas – fasilitas wahana bianglala, tempat duduk – duduk, air mancur, arena bermain anak, toilet, ruang informasi, smoking spot, dan lainnya ngebuat alun – alun ini punya atmosfer yang beda.

Puas foto – foto, jalan – jalan dan ketawa – ketawa, akhirnya kita mutusin buat nongkrong minum susu jahe di cafe di sebelah alun – alun. Lumayan, ada live music gitu. Nah yang ada kita karokean lagi…

, , , , , ,

3 Comments

“The Great Conciousness” ketika Tao, Buddhis dan Konghuchu bersatu

Instead of being clueless, gue berusaha nyari temen yg tau jalan disetiap perjalanan gue. Waktu pementasan wayang potehi kemaren gue udah nanya sana sini tentang angkot yg bisa ngebawa gue ke kelenteng Tay Kak Sie di jalan gang lombok. Gue tanya Mas Welly (pembina Beswan Djarum Semarang) dia cm ngasih clue : “angkot nomer 5 ke arah mana hayoo” gue jawab: “arah pasar johar!” dia bales lagi: “sing beneerr??? Hahaha” -_- oke, gue totally clueless, walau gue agak yakin kalo tebakan gue bener ngarah ke daerah johar itu ngelewatin sekitar gang lombok. itu kalo berdasarkan google map.

Anyway, petilasan Laksama Muslim Cheng Ho di postingan Kelenteng Sam Poo Kong gue tempo hari lainnya berada disekitar pecinan Semarang (mirip seperti china town, atau daerah tempat tinggal orang-orang tionghoa) tepatnya ada di Gang Lombok deket kawasan Pasar Johar atau Kali mberok (berok) yang menjadi saksi catatan sejarah Semarang. Tak lain dan tak bukan ya Kelenteng Tay Kak Sie tempat gue nonton wayang potehi kemarin. Di Kali Mberok itu ada replika kapal Cheng Ho seperti yang  dipake untuk menjelajah samudra.

ini dia replika kapal Ceng Ho

seperti yang gue ceritain di postingan sebelumnya kalo gue kesana bareng Dunga dan Arief (Beswan Semarang). Gue clueless, koneksi GPS lagi ngadat, Dunga lali, arief anteng2 aja duduk dibelakang. Intinya, gang lombok ini jauh dari jalan utama dan banyak jalan satu arah untuk nyampe sana. Kita menuju bundaran Bubakan (kawasan kota lama) lalu menuju jalan Kyai Haji Agus Salim – Belok kiri ke Jalan Pekojan – Ketemu aliran kali mberok belok kanan – Gang lombok sampai di Replika Kapal Cheng Ho. Sebrangnya itu ada Kelenteng Tay Kak Sie.

Gue cerita kan kalo gue sempet ngobrol sama bapak2? Beliau baik banget nunjukin gue patung2 dan ceritain macem-macem. Jadi, Kelenteng Tay Kak Sie ini campuran untuk penganut ajaran Tao, Buddhis dan Konfusian atau kong hu chu  (ketiga aliran agama ini dikenal dgn Tridharma). Tridharma disebut Samkau dalam dialek Hokkian, yang arti secara harfiahnya adalah tiga ajaran. Dari hasil berselancar di dunia maya, Tridharma lebih tepat disebut sebagai salah satu bentuk kepercayaan tradisional masyarakat Tionghoa sebagai hasil dari sinkretisme (upaya untuk melakukan penyesuaian atau pencampuran kebudayaan yang memiliki perbedaan kepercayaan. Mengacu pada upaya untuk bergabung dan melakukan sebuah analogi atas beberapa ciri-ciri tradisi, terutama dalam teologi dan mitologi agama) dari ketiga filsafat yang memengaruhi kebudayaan Tionghoa dan sejarah Tiongkok sejak 2500 tahun lalu. Karena agama resmi yang diakui oleh pemerintah Indonesia cuma lima, maka umat Tridharma di Indonesia dikelompokkan dalam lingkup agama Buddha, yang mana hal ini sebenarnya keliru.

Nama Tay Kak Sie tertulis di papan nama besar dipintu masuk Kelenteng, dengan catatan tahun pemerintahan Kaisar Dao Guang (Too Kong dalam bahasa Hokkian) 1821 – 1850 dari Dinasty Qing (Cing dalam bahasa Hokkian). Tay Kak Sie, yang bermakna Kuil Kesadaran Agung. Tay berarti maha atau agung dan kak artinya kesadaran. Sementara sie adalah vihara atau kelenteng. Keberadaan kelenteng ini diharapkan mampu membantu umat mencapai kesadaran tinggi.

Kelenteng ini merupakan klenteng pindahan dari Gang Belakang, dibangun pada tahun 1771. Tempat yang sering disebut sebagai “The Great Conciousness” ini memang kental nafas Buddha, ditunjukkan cuplikan-cuplikan Cerita patung Buddha yang terdapat di luar dan di dalam kelenteng. Di luar istana terdapat patung singa bernama Ciok Say. Bentuk singa ini dipercaya untuk mengusir roh-roh jahat yang mengganggu kesucian kelenteng. Pada mulanya Kelenteng Tay kak Sie ini hanya untuk memuja Dewi Kwan Sie Im Po Sat, Yang Mulia Dewi Welas Asih. Dewi yang sering kita denger di film Sun Go Kong alias kera sakti. Setiap kelenteng memiliki dewa utama yang dianggap sebagai tuan rumah. Dewi Kwan Im menjadi tuan rumah di Kelenteng Tay Kak Sie. Selain itu, masih ada 33 dewa lain yang dipuja mewakili ketiga agama disitu. tapi setelah gue muter2 kelenteng ini, kok rasa2nya gue ga nemu patung Dewi Kwan Im. Well, kata Dunga di Pagoda yang ngarah ke Ungaran itu ada kelenteng yang ada patung Dewi Kwan Im yg gede banget. next destination lah yaa..

Masuk ke Kelenteng Tay Kak Sie ga dipungut biaya kayak di Sam Poo Kong. Kelenteng ini punya 3 ruangan besar, ruang tengah (tempat pemujaan utama Kelenteng Tay Kak Sie), ruang samping kanan (untuk memuja Hok Tek Ceng), ruang samping kiri (untuk memuja Poo Seng tay Tee, Seng Hong Lo Ya, Kong Tek Cun Ong dan Thay Siang Lo Kun). Dibelakang ruang samping kiri ada semacam stadion mini, yg waktu gw intip dipake untuk senam lansia.

Patung Kiang Cu Gee, yang sedang mancing ikan, didepannya ada kolam yang ada ikan hidup kecil2. konon katanya beliau ini sangat sakti, bisa mancing ikan tanpa mata kail karena ga mau nyakitin ikan yang dipancing

Entah kenapa yang gue temuin disana malem itu mayoritas lansia yang keturunan tionghoa. Cuma satu bapak necis pake kemeja kantoran yang masih tergolong muda (walau udah agak tambun) sembahyang disana.

Di sebelah kiri kelenteng ini ada pujasera, tempat jajan makan minum. untuk yang muslim mungkin harus nanya dulu kalo mesen makanan apa makanan itu halal atau engga. Disebelah kanan kelenteng ada warung yang jual kolang kaling. Enak deh, cuma 8rb perak sebotol. Ada tempat beli lumpia paling enak di Semarang, namanya lumpia gang Lombok. Tapi sayangnya tutup jam 5.

Gue kepengen balik lagi ke kelenteng ini sore2, karena banyak bgt spot foto yang keren2, dan semarang itu langitnya bagus sekitar jam 4 jam 5an. Sekalian mau jajan lumpia yang katanya paling enak itu. Hihi

Tampak luar kelenteng Tay Kak Sie

, , , , , , , , , , ,

7 Comments

Wayang Potehi, wayang yang nyaris terbenam..

Beberapa minggu lalu setelah kepindahan gue ke Semarang, ada temen gue yang berprofesi sebagai wartawan bilang kalau dia mau ke Semarang untuk ngeliput Wayang Potehi. Dia minta tolong gue untuk cari info tentang dalang wayang ini ke orang2 Semarang. Dari temen kantor, OB sampe satpam gue tanya ga ada yang tau. Iseng aja gue googling dan nemu di beberapa ulasan artikel dan blog orang kalau ternyata dalang wayang potehi di Semarang cuma sisa satu dan tinggal di Gang Lombok daerah Pecinan( daerah seperti China Town yang mana mayoritas penduduknya merupukan orang – orang keturunan Tionghoa). Dari berbagai referensi yang gue baca, gue jadi tertarik dan penasaran. Sayang karena stuck sama jam kantor gue gabisa ikut temen gue liputan.

Pas banget gue lagi mantengin timeline twitter dan secara random ada info dari @halosemarang kalau hari itu ada pagelaran Wayang Potehi di Kelenteng Tay Kak Sie. Wah? Setau gue Wayang Potehi udah jarang pentas lagi. Hal ini membulatkan tekad gue untuk nonton, krn pas bgt sesi keduanya jam 19.00 – 22.00, jadi gue bisa kesana pulang kantor. Udah ngajak sana sini, ga dpt kepastian sampe akhirnya nekat pergi sendiri. Udah nanya angkot sana sini tapi untung ada Dunga sm Arief (Beswan Semarang) yang mau nemenin di akhir2 waktu. Hihi.

Wayang Potehi ini wayang keturunan Tionghoa. No wonder dalangnya pun org Chinese yg tinggal di daerah pecinan. Karena kultur dan daerah, bisa dibilang wayang potehi ini perpaduan Tionghoa dan Jawa, dalangnya pun pake bahasa campuran Cina-Indonesia-Jawa. Menurut sejarah, katanya wayang ini ditemuin sama napi – napi yang dihukum mati di Cina trus dibawa masuk ke Indonesia sm orang2 Tionghoa.

Kita bertolak ke kelenteng Tay Kak Sie pake mobil Dunga. Kelenten itu letaknya di Gang Lombok. Gue agak kaget sih pas sampe kelenteng, gue pikir akan serame itu, tp ternyata ziiinggggg..krik krik.sepi bgt. Cuma ada para penjaga kelenteng, beberapa orang yang sembahyang dan perkumpulan lansia2 tionghoa yang duduk2 di pelataran kelenteng sm beberapa yang senam di belakang kelenteng. Trus yang nonton wayang siapa? Gue-dunga-arief. Yes, bertiga. Ada sih beberapa org yg dateng, foto, pergi lagi.

Wayang potehi itu wayang yang dibuat dr kain, nanti tangannya dalang dan asisten dalang masuk ke kain itu trus gerak2in wayangnya macem boneka tangan. Gue penasaran liat ‘dapur’ mereka, trus geng musiknya baik bgt memperbolehkan gue untuk foto2 didalem kotak panggungnya.

Dari hasil ngobrol gw sm orang sana, bapak2 itu bilang kalo wayang potehi pernah mencapai puncak popularitasnya taun 1970-an, 1979 mulai kesendat sampe pada akhirnya berenti taun 1984 karena kebudayaan Cina dilarang pada masa itu sampe akhirnya boleh lagi pas tumbangnya rezim orde baru pas Indonesia dipimpin sm Gus Dur, hmm sekitar tahun 1999. Tapi wayang potehi ga populer lagi ketutup pamornya sama barongsai. Jadi cuma dipentasin kalo ada hajatan.

Hajatan kali ini adalah dalam rangka khaul (atau nazzar) atas kesembuhan orang – orang yang sakit setelah kedatangan dewa obat mereka yang disebut Poo Seng Tay Tee. Bapak2 yang gue ajak ngobrol lebih seneng nyebutnya Sam Poo Sin Tay Tee ( baca: sam pu sin te tik). Ibaratnya, wayang ini digelar buat menghibur dewa.

ini patung Dewa Poo Seng Tay Tee

Kali ini pertunjukannya berjudul Hong Kiam Djun Djiu, bercerita tentang kerajaan Taichi yang menaklukan enam kerajaan2 kecil di Tionghoa. Dengan dalang the one and only bapak Bambang Sutrisno atau Lie Chong Gwat yang udah berumur 75 tahun. Pertunjukan dibagi jadi 2 sesi, mulai dan abisnya ONTIME. Mantap! Sayangnya, dari cerita yang gue denger, bapak2 yang katanya akrab disapa engkong ini gapunya penerus. Cucu engkong ga tertarik sama dunia perwayangan..

Engkong Bambang Sutrisno

Jadi menurut gue ini memprihatinkan, walo udah diinfoin via twitter @halosemarang yang followernya banyak bgt, tetep ga bisa menarik massa untuk nonton.  Beruntung gue bareng dunga sm arief, yg setelah gue puas foto2 dan ngobrol2 sm bapak2 disana, belom pada mau pulang. Katanya “kita apresiasi sampe pagelarannya abis”. Dan bener, abis wayangnya pamit, cm kita bertiga yang kesisa buat tepuk tangan. Huhu sedih..

, , , , , , , , , , , , ,

2 Comments

Kelenteng Sam Poo Kong

“Traveling is a brutality. It forces you to trust strangers and to lose sight of all that familiar comfort of home and friends. You are constantly off balance. Nothing is yours except the essential things – air, sleep, dreams, the sea, the sky – all things tending towards the eternal or what we imagine of it.” – Cesare Pavese

And yes, traveling forces u to trust strangers. Indeed! Gue yg notabene pendatang di Semarang bener2 gatau apa2 dan hanya berbekal kamus besar mbah Google, mau ga mau mengakrabkan diri dengan satpam di setiap tempat yang gue datengin. Percayalah dengan satpam, karena satpam dan teman2nya udah menyelamatkan gue dari hobi nyasar gue sebanyak 2 kali. Jadi ceritanya begini…

Seperti yang udah pernah gue bilang dalam postingan sebelum2nya kalau gue berusaha menikmati apa yang hidup kasih ke gue. Pada akhirnya gue pengen menikmati waktu keberadaan gue di Semarang untuk mengunjungi daerah2 wisata-sambil ngebuang waktu weekend gue daripada harus sendirian di kamar kos tanpa adanya tv atau buku baru. Jadilah pada hari sabtu gue jalan2 sendiri ke kelenteng sam poo kong.

Hari jumatnya gue udah googling, yg paling famous selain lawang sewu dkk adalah kelenteng yang ada di Jl. Simongan ini. Untuk bisa kesana, katanya bisa naik angkot jurusan Sampangan dari Simpang Lima. Tapi dari hasil gue tanya2, katanya harus nyambung dua kali pake angkot jurusan Mangkang. Kebetulan gue mau mampir ke Pura dulu karena hari itu bertepatan sm salah satu hari raya keagamaan gue, jadi gue memutuskan untuk naik taxi. 35rb saja dari kosan-pura-nungguin di pura-Sam Poo Kong. Lumayan lah buat harga Semarang.

So, here I am, diKelenteng Sam Poo Kong. Ada gerbang loket di depannya dan gue langsung disapa ramah sama pak satpam : “siang mbak..sendirian aja?” terus nanyain apa taxinya ga disuruh nungguin aja. Mungkin selain dapet retribusi parkir, satpamnya kasian sama gue ntar pulangnya gimana. Lalu untuk tiket masuk kompleksnya gue harus bayar Rp 3000 per orang karena gue turis lokal, untuk wisatawan asing harus bayar Rp 15.000

Setelah tiket gue dibolongin sama pak satpam, Gue masuk dan foto2 bangunan2nya. Keren banget! Gue berasa di Hongkong karena yang pribumi cm gue, tukang yang lagi bangun renovasi, satpam, dan mandor kuli yg nongkrong di satpam. Bangunan di Kelenteng Sam Poo Kong ini lancip2 dan berundak2. Sekilas ngingetin gue sama rumah gadangnya Padang. Puas foto2 di lapangannya, gue balik ke pos satpam trus ngobrol2 sebentar. Kata pak satpamnya, kalau mau masuk ke pelataran  kuil, gue harus bayar Rp 20.000 dulu, kecuali gue bawa Hio (dupa). Dalam hati sedikit nyesel knapa gue ga bawa dupa yg dari Pura. Haha.

Anyway, di kelenteng ini ada jasa foto pake kostum gitu, haha bokap nyokap sama satria pernah nih waktu nganter gue pindahan. Hanya dengan 75ribu kita dapet 2 foto pake baju chongsam.

Di dalem, gue boleh bebas foto2, tapi ga boleh naik ke tempat sembahyang dengan alasan menjaga kekhusukan orang yang sembahyang. Puas muterin daerah sembahyang dan foto2, gue balik lagi ke tempat satpam dan ngobrol sama orang-orang yang disana. Mereka ramah banget. Beberapa agak takjub dengan kesendirian gue dan kenapa gue milih ke sana. Akhirnya setelah lama basa-basi, gue diceritain sedikit tentang sejarah Kelenteng Sam Poo Kong.

Katanya dulu daerah itu adalah laut dan ada desa namanya Simongan. Desa Simongan ini punya pelabuhan yg konon katanya disinggahi sama laksamana Zheng Ho (Sam Po Tay Djien) yg punya misi menjalin persahabatan wilayah ke Asia dan Afrika, sekitar abad ke 15. Laksamana Zheng Ho ini berasal  dari Tiongkok, berlayar dengan armada sebanyak 200 kapal dan awak kapal 2.700. Wew! Kemudian katanya banyak awak kapal yang nikah sama orang pribumi, makanya disini banyak yang keturunan Tionghoa.

Laksamana Zheng Ho ini muslim loh guys, trus katanya bangunan kelenteng ini menghadap kiblat. Tapi walaupun beliau muslim, kayaknya ga ada mushola atau masjid atau apapun yg berbau muslim disana. Katanya dulu Laksamana Zheng Ho nemuin goa batu yang dipake untuk tempat semedi dan sembahyang. Makanya nama panjang kelenteng ini adalah Kelenteng Sam Poo Kong Gedong Batu. Di dalam goa itu juga katanya ada sumber mata air yg ga pernah abis. Sayangnya yg boleh masuk ke dalem situ cuma orang2 yg mau sembahyang. Zheng Ho banyak ngajarin masyarakat tentang bercocok tanam. Sampai akhirnya beliau dijulukin Dewa Bumi yg dihormati dan dimintai berkahnya.

Patung Sam Poo Tay Djien

Setelah puas ngobrol2, gue nanya satpam dan teman2nya tentang angkot apa untuk balik ke simpang lima. Katanya gue harus naik angkot yg bergaris ijo ke karang ayu, trus nyebrang dan naik angkot jurusan simpang lima. Tapi ada bapak2 yang nawarin nganter sampe karang ayu, sekalian dia jg mau balik. Awalnya gw nolak dan agak2 ragu, tapi kata pak satpam gak apa2, mereka udah kenal baik gitu. akhirnya gue memutuskan untuk okelah, lumayan juga panas2 gini ada tebengan. Katanya Karang Ayu deket, tapi entah kenapa kok rasanya ga nyampe – nyampe. Beberapa lama kemudian agak sedikit panik sih kok ga sampe2 trus lewat gang2 perumahan gitu, eh tau2 gue tembus di jalan pahlawan, trus dianterin sampe ke deket kosan. Hihi baik banget. See? Sometimes we need to trust strangers.

, , , , , , , , ,

No Comments

no history, just shot em!

Dalam perjalanan balik dari hunting batik akhirnya gue tumbang juga setelah semaleman ga tidur. pertamanya sih gue nawarin gantian nyetir sm Dunga, mumpung masih di dalem kota jadi biar Dunga yang tidur. tapi Dunga bilang “santai aja Put” yawis, akune turuuu.. kali2 malah ntar malemnya Dunga yang tumbang biar gue seger bisa gantiin.

tidur gue aga kurang nyenyak karena kuping gue masih bisa dengerin Dunga ngombrol sm Budi. mereka nyebut – nyebut Taman Sari. setau gue itu komplek keraton gitu, gue sih tetep ngelanjutin ‘tidur ayam’ gue, bodo amat deh mau dibawa kemana lagi sing penting aku turu sek biar seger hunting fotonya.

haha gue masih belajar bahasa jawa nih. bahaya banget gue roaming gini tinggal di tanah jawa.

Bangun2 gue udah ada di pelataran parkir kompleks Taman Sari Jl. Taman Kraton. Ooo ternyata Taman Sari yang dimaksud itu situs kuno bekas taman rekreasinya raja – raja jaman Sultan Hamengku Buwono I. katanya sih tempat ini dulunya tempat pemandiannya selir – selir dan putri raja. tapi ternyata ini bangunan luaaasss banget dan banyak jalan masuk – masuknya. ada lorong – lorong yang pada akhirnya gue tau ini tempat ga cuma untuk pemandian raja, selir dan putrinya tapi juga tempat meditasi, latian militer pasukan keamanan kerajaan dan benteng pertahanan. setiap masuk itu bangunan sekat pintunya rendah – rendah. kalau kata Budi sih, biar orang senantiasa merunduk- ga sombong. gitu katanya..

Sebenernya bangunan taman sari dibagi – bagi jadi banyak bagian. berhubung kita kesana tanpa panduan gaet, jadi gue gatau pastinya seperti apa dan mohon maaf jadi gabisa gue share ke kalian juga. hehe. karena tujuan gue hunting foto, maka yang gue share adalah foto2nya. hihi.  just enjoy the photos ya guys! ;)

, , , , , , , , , , ,

No Comments

Mendadak Ziarah

GUA MARIA DARI TRITIS (GMT) ADALAH TEMPAT ZIARAH BUKAN TEMPAT REKREASI

itu isi peringatan yang dipajang di dekat jalan masuk gua. gue agak2 merasa bersalah juga sih masuk sini, bukan bersalah karena alasan kepercayaan melainkan gue kesini bukan untuk ziarah, bahkan gue agak2 lupa gimana cerita Bunda Maria dan pensaliban Tuhan Yesus. waktu TK gue sering ikut nonton drama yang biasa di gereja, kalau ga salah gue jg pernah nonton filmnya. tapi berhubung ingatan gue ga bagus yaaa jadi tolong dimaklumi aja yaa..
seperti yang udah gue ceritatin di postingan sebelumnya, Dunga penasaran sm gua ini dan kebetulan kita lewat, jadi boleh lah kita mampir. ada sedikit pembenaran dari pihak gue, Dunga dan Budi terkait peringatan tersebut karena Paskah sm Bunga merupakan orang Katolik. Bunga antusias banget untuk ziarah kesini dan diapun sempet berdoa di dalem goa. Paskah katanya udah pernah trus dia jadi gaet aja. nah kita bertiga ceritanya nemenin mereka berdua ziarah. hehe.

Goa Maria Tritis ini katanya goa yang paling eksotis di Indonesia karena goanya asli, bukan buatan manusia. gue sih ga terlalu paham mengenai sejarahnya gimana, karena menurut tradisi Katolik, ceritanya terkait penampakan Bunda Maria pada orang tertentu. Di Gua Maria Tritis ini ga cuma ada patung Bunda Maria aja, tapi ada pemberhentian prosesi jalan salib. kita ga ngelewatin pemberhentiannya satu – satu karena selaen kecapean, emang tujuan utama kita ya goanya.

ini pemberhentian ke 12. Paskah sempet cerita sih, tapi gue lupa hehe *nyengir*

ini salah satu pemberhentiannya, tiap pemberhentian ada salib dan reliefnya


anyway, ini ada sedikit info buat kalian umat yang mau ziarah ke gua ini, info ini gue dapet hasil browsing dari internet:

Lokasi Gua Maria Tritis : Dsn. Bulu, Ds. Giring, Kec. Paliyan, Kab. Gunung Kidul – Wonosari. Paroki St. Petrus Kanisius –
Jln. Mgr. Sugiyapranata 29, telepon 0274 391063, Wonosari. Setiap Minggu bulan Mei & Oktober ada perayaan ekaristi pkl. 11.30.

Rute:

Dari Yogyakarta – Wonosari; sampai simpang tiga Gading (dekat lapangan terbang landasan rumput) belok kanan menuju Playen – paliyan – Pasar Trowono – Singkil. Rute ini paling umum dilalui para peziarah dan jarak dari Gading – Goa Maria Tritis sekitar 28 km.

Koordinat GPS : S8°4’55.3″ E110°33’24.7″
akses jalan : S8°4’52.9″ E110°33′
8.7″

Gue – Paskah – Budi – Dunga. Bunga lagi berdoa jadi ga ikutan foto

, , , , , , , ,

No Comments

punk, ideologi atau style aja nih?

punk 

2 hari yang lalu gw jln sm temen2 gw ke pameran, berhubung kita anaknya gatau jalan, jadilah kita muter2 dulu. tapi hr itu ada sesuatu yang narik perhatian gw : punk. hari itu lg banyak bgt anak2 punk bersliweran di jalan bandung. anak punk, dengan gaya khas-nya seperti rambut mohawk, sepatu boots, jeans belel, emblem2 khas punk, belt spikey, tattoo, piercing, dll. yang lebih menarik perhatian lg, ada beberapa orang yang keliatan elit, barang2nya yahud dan kayaknya sih mahal. hmmm..
punk itu gaya hidup.
mengaburkan batas idealisme dan kenyataan hidup, dimana punk merupakan sebuah bentuk kekecewaan akan kemerosotan moral pada kaum – kaum petinggi politik. para punkers itu mengekspresikannya dengan hidup anti kemapanan. motto hidup punkers itu equality atau persamaan hak. punk lahir karena adanya gejala perasaan yang gak puas dalam diri masing – masing individu sehingga mereka mengubah gaya hidup mereka menjadi gaya hidup punk.
sebuah kultur.
punk merupakan kultur yang menjunjung tinggi kebebasan yang menuntut rasa simpati, empati, dan tenggang rasa yang tinggi walau mungkin kebebasan yang dimaksud relatif, bisa berbenturan karena beda 'taraf normal' dengan kultur kehidupan yang lain. punk pada kenyataannya merupakan sub- kultur yang lahir di london – Inggris yang lahir sekitar tahun 1970an. didominasi oleh anak – anak kaum buruh yang kecewa atas kemerosotan moral elite politik yang merupakan gerakan perlawanan anak muda yang berkeyakinan “we can do it ourself”.
musik dan fashion.
banyak orang awam yang tau bahwa punk itu merupakan aliran musik tanpa mengetahui ideologi punk seperti yang udah gw jabarin diatas. punk sebagai aliran musik pun ada sejarahnya. sebenernya aliran punk itu merupakan bentuk kekecewaan bagi label – label musik di amerika tahun 1980-an, dimana label – label musik tersebut didominasi oleh band – band rock papan atas yang mapan. lagu – lagu punk lebih 'dark' karena meneriakan protes yang menceritakan rasa kecewa, frustasi, marah, dan depresi. lirik – liriknya menyangkut isu – isu sosial, lingkungan hidup, ideologi, dan politik.

gak seperti aliran musik lainnya, punk lebih ngutamain pelampiasan energi dan curhat ketimbang aspek teknis main musik. Para pencinta punk berprinsip bahwa tidak perlu jago bermain musik, yang penting penampilan oke dan yang namanya unek-unek harus bisa dikeluarin. Dan memang, buktinya, almarhum Sid Vicious dari Sex Pistols gak jago bermain bass. Meski demikian, orang-orang tidak memandangnya dengan remeh dia. Malah justru Sid banyak digandrungi para pencinta punk. Maka ketika mereka pada gilirannya mulai menulis lagu sendiri, musik mereka mempunyai ciri khas sederhana tapi “kencang” atau “ber-power”, biasanya dengan satu riff gitar yang di ulang-ulang. Tapi meski bentuknya masih “primitif”, musik yang mereka ciptakan mampu menggugah semangat pendengar. Sesuai dengan tempat kelahirannya, orang memberi julukan untuk warna musik ini: Garage Rock. Grup-grup yang lahir contohnya The Standells, The Seeds, The Music Machine, The Leaves, dan lain-lain. Dan dari sini lahirlah sound yang selanjutnya berkembang jadi punk rock

Memasuki dekade 70-an, punk mulai menemukan bentuknya seperti yang kita kenal sekarang. Ciri pemberontakannya makin kentara, dan segala rupa aksi panggung yang ugal-ugalan pun mulai muncul. Dari generasi pelopor punk ini ada dua nama yang boleh disebut paling menonjol yaitu MC 5 dan Iggy and The Stooges.
Iggy adalah salah satu dari segelintir pentolan punk yang kiprahnya masih berlanjut sampai dasawarsa 90-an. Dan seiring dengan lahirnya generasi baru punk rock, namanya pun makin diakui sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh dalam musik rock pada umumnya, dan punk pada khususnya

Tahun 1975 lahirlah beberapa grup musik baru seperti Blondie yang ngepop, Talkin Heads yang avant garde, The Voidoids yang berkutat dengan gitar, dan The Dead Boys yang nyeleneh. Dan ada The Ramones. Ramones punya citra seperti tokoh kartun. Empat anak jalanan asal Queens yang tampil gahar dengan jaket kulit dan jeans belel, seperti geng. Gerombolan ini memancang mitos bahwa mereka satu keluarga. Pada tanggal 4 Juli 1976,

Ramones mengadakan konser perdananya di Inggris. Entah itu tanggal keramat atau apa, konser mereka meninggalkan bekas yang dalam diri kaum muda Inggris yang menyaksikannya. Konser itu disaksikan oleh para pentolan grup yang belakangan memotori kebangkitan punk di Inggris, yaitu Sex Pistols, The Damned, dan The Clash.

Sex Pistols dan The Clash memasukkan aspek baru dalam perkembangan punk, yaitu protes sosial dan politik. Kedua grup ini menjadi penyambung lidah kaum muda Inggris yang frustrasi.
Di tahun 1980-an, di saat era punk di Inggris datang dan pergi, di berbagai penjuru dunia mulai muncul berbagai macam band beraliran punk dan belakangan menjadi legenda setempat. Di Irlandia, misalnya, ada grup The Understones. Di Australia ada The Saints. Dan di Selandia Baru ada The Clean.

Di Amerika gelombang terbaru pemusik punk AS bukan berasal dari New York, melainkan dari California. Generasi ini mendapat pengaruh yang sama besar dari The Ramones dan Sex Pistols.

Di selatan LA, tepatnya di Hermosa Beach, sebuah kelompok punk metal baru bernama Black Flag bela-belain nyewa gereja sebagai tempat latihan mereka. Tempat ini selanjutnya menjadi pusat kegiatan pencinta punk setempat. Grup-grup yang lahir di sana The Circle Jerk, Social Distortion, dan Suicidal Tendencies, dan lain-lain. Mereka lebih berhaluan keras. Penampilannya lebih brutal dan liriknya lebih radikal.

Sementara di San Francisco aliran punk lebih berpolitik. Di sana muncul nama-nama macam The Avengers, The Dils, dan yang paling dominan The Dead Kennedys. Grup yang terakhir disebut tadi melancarkan protes keras terhadap berbagai hal, mulai dari kebijaksanaan pemerintah sampai fasisme. Musik mereka berada di perbatasan antara punk yang melodius dan hardcore murni.

New York juga melahirkan grup-grup yang belakangan memperkaya khazanah musiknya dengan unsur lain, seperti Beasty Boys dan Sonic Youth. Dan ada juga The Misfits, yang mengungsi dari New Jersey.

Pada akhir tahun 1980-an benih kebangkitan generasi kedua mulai ditanam di LA. Dulu, awal dasawarsa ini, di San Fernando pernah berdiri sebuah grup band bernama Bad Religion. Bad Religion memiliki personelnya yang rata-rata intelek banget. Saking inteleknya, lagu mereka sering memakai kata-kata yang membuat orang Amerika harus membuka kamus. Bad Religion merupakan band yang memelopori berdirinya generasi baru grup-grup punk California. Sebut saja macam Dag Nasty, Pennywise, NOFX, dan belakangan tentu saja Rancid, Offspring, serta band yang gue gila2in dr SMP : Green Day & Blink 182. WOHOOOO…

Dari segi fashion and style, ciri khas anak punk itu punya rambut mohawk kayak kipas warna warni. pake tattoo, piercing, boots. yang paling unik, jaman sekarang kenapa ya harga barang2 punk itu mahal bener, tapi pastiiiii aja ada yang sanggup beli. uooohh, ktnya punk itu anti kemapanan? harga boots dog martens aja mahal bener brur,spatu2 macem vans ato macbeth juga bikin kantong seret. kaos distro skrg 75 rb sampe 150 rb-an. belt2 gt harganya uoooohhh gw sih gamau ngeluarin duit segitu byk cuma buat belt. hiks. dan masih byk lagi. makin ksini harganya makin mahal. wew, jadi punk jaman sekarang udah ga anti kemapanan lagi dong ya? asesorisnya aja 'laham tengab'!!

 

, , , ,

7 Comments