Guratan Pena Zikra

tergurat agar dapat merekat erat

sebuah senyuman (cermin)

3ankbatak 150x150 sebuah senyuman (cermin)Hari ini adalah hari pertama aku dan kawan-kawanku bertugas, atau lebih tepatnya melakukan kegiatan, atau… apapun istilahnya. Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh dengan medan yang lumayan berat, sampai juga kami akhirnya di desa ini. Desa yang jauh dari hiruk-pikuk perkotaan. Suasana yang masih sangat asri. Sejenak mengingatkan akan kampung nenekku disana yang mungkin belum tentu setahun sekali aku kesana.. bukit dan gunung yang tinggi, aliran sungai yang begitu jernih, hamparan sawah hijau,, wah, betapa indah ciptaan-Mu ya Allah.

Ah, kembali kesini. Hari pertama adalah hari yang menentukan guna lancarnya kegiatan kami kedepannya. Setidaknya begitu pikirku semenjak pertama kali menginjakkan kaki di desa ini. Desa yang masuk kategori terpencil, atau terisolir lebih tepatnya mungkin kukatakan. Betapa tidak, setelah menempuh perjalanan hampir 24 jam dengan mobil, kami masih harus berjalan kaki melewati sungai dan perbukitan untuk mencapai desa ini. Desa disaat masa konflik dulu mungkin menjadi ladang pertempuran pihak yang bertikai, begitu bayanganku melintas saat melihat situasi dan keadaan masyarakat secara sekilas…

Akupun mempersiapkan perlengkapan yang akan kami gunakan untuk hari ini. Oh iya, disini kami menumpang di sebuah rumah berdinding kayu kepunyaan warga desa yang penghuni aslinya entah kemana sekarang, tak perlu bertanya karena merekapun takkan tahu jawabannya. Persiapan yang matang paling tidak akan memudahkan kegiatan kami nantinya. Akupun duduk diatas tumpukan kayu di depan rumah yang telah disulap menjadi tempat duduk. Kuletakkan alat-alat yang akan digunakan di dalam kotak. Alat-alat yang akan digunakan pertama kali kuletakkan di bagian atas. “biar lebih mudah dan gak banyak makan waktu.”begitu sangka ku,hehe…

Sedang asik-asiknya menyusun dan mengecek perlengkapan, aku dikejutkan oleh seorang anak kecil yang setengah berlari dan berhenti di belakang pohon mangga yang berada beberapa meter dari tempatku duduk. Saat mulai jelas kulihat wajah mungilnya, aku melemparkan sebuah senyuman sambil berusaha menyapanya. sebuah senyuman, Seperti senyumku biasanya. Ehh…. Dia malah lari setelah membalas senyumku. Ah, kacau. Apa wajahku seram amat ya, atau senyumku yang kurang manis (*tuingg…..). ntah apa-apa…;).

Dan ternyata saudara-saudara pembaca dimanapun anda berada yang sedang menyaksikan dan membaca tulisan ini (gaya komentator bola, hahaha… ;p), tugas yang kami laksanakan hari ini kurang berjalan sempurna, atau mungkin gagal lebih tepatnya. Sasaran lokasi sangat jauh dari perkiraan sebelumnya. Seharusnya kami mengecek lokasi dulu , namun keterbatasan waktu dan tenaga membuat hal tersebut tidak mungkin dilakukan. Tapi paling tidak, ada hasil yang diperoleh hari ini. Harus lebih semangat dan giat lagi nih….^_^P

Hari ke-2, seperti biasa, saat mentari mulai menampakkan sinarnya aku duduk di tempat biasa, berusaha mengecek lagi dengan teliti perlengkapan yang akan kami gunakan. Mengecek di malam hari secara detail sudah tidak mungkin dilakukan. Maklum saja, seperti kataku di awal tadi. Desa ini lebih cocok disebut terisolir karena jalur transportasi yang susah, dannn…. Tidak ada LISTRIK. Haduh, jadi bertanya-tanya, uang milyaran yang dihabiskan anggota dewan tuk jalan-jalan kira-kira cukup ngak ya tuk bangun PLTMH (pembangkit listrik tenaga mikro hidro), atau yg lebih kecil dari mikro boleh juga lah… yang penting listrik. Hmm… mungkin itu salah satu harapan warga disini juga ya. Atau mungkin, bla..bla..bla….. hobiku berpikir kembali kambuh (???). trap…trup…trap..trup.. (ecek-eceknya tu suara langkah seorang anak lagi lari ^_^V). anak kecil kemarin lagi rupanya, ia setengah berlari ke arahku dan tepat berhenti di tempat kemarin. Sambil sedikit sembunyi-sembunyi dibalik pohon ‘mamplam’ itu ia melihat ke arahku. Hmm….. jangan kayak kemarin lagi, Senyumku harus lebih manis lagi pikirku (hahahahahaha….. ada-ada saja). Akupun tersenyum dan berusaha menyapanya. Daaannnnn…. Ia pun lari seperti kemarin setelah membalas senyumku. Weleh-weleh… semakin meyakinkan bahwa mukaku menjadi sedikit seram kini (lho????).

Beberapa hari kedepannya, skema itu terus berulang. Pagi aku duduk di atas tumpukan kayu itu sambil mempersiapkan alat. Ia datang, aku senyum, dia balas dan dia lari. Dan setiap haripun aku berusaha memperbaiki gaya senyumku (ternyata senyum itu juga punya gaya lho…..;p). namun lagi-lagi saudara- saudara pembaca dimanapun anda berada yang sedang menyaksikan dan membaca tulisan ini…… dia masih tetap lari. Huh… semangat untuk sebuah senyuman..hehehe….:).

Hari-haripun berlalu dengan begitu cepatnya. Tugas kami di desa ini telah usai. Saatnya packing n ‘woe gampong’. Secara tidak resmi kami berpamitan dengan orang-orang desa tempat kami melakukan kegiatan. Ah, tiba-tiba aku jadi teringat anak kecil itu. Kira-kira ketemu lagi ngak ya (paling ngak berusaha tersenyum lagi, dengan mengerahkan semua jurus dan gaya yang ada. Kira-kira dia lari lagi ngak ya…hehe…).

Packing n pamitan selesai, kamipun berjalan menuju jemputan yang sudah menunggu. Masih belum tampak bocah itu. Saat beberapa jauh lagi sampai ke mobil yang sudah stanby, akhirnya bocah itu Nampak juga. Ia berjalan ke arahku, sengaja kupelankan langkahku agar bisa bertemu dengannya. Sekalian pamitan mgkin. (masih penasaran), akupun tersenyum lagi padanya. Dan kali ini, ia membalas senyumku dan…. Tidak lari (yes, sukses!! Hehe…). “eh adek, apa kabarnya?” aku coba menyapa. Namun ia tidak menjawab (haduh..-_-‘) . Ia hanya berkata :

“abang…, abang mirip sekali dengan abang saya”

“dia sudah lama pergi meninggalkan kami”

“ kata ibu, abang pergi ke kota. saya juga melihatnya pergi bersama om-om berpakaian loreng itu”

“setelah tsunami tidak ada lagi kabar”

“waktu abang ke desa kami, saya bilang sama ibu abang sudah pulang”

“tapi ibu bilang itu bukan abang, tapi saya tetap mau ketemu, tapi ngak berani”

“abang….. terima kasih untuk senyumnya selama ini”

“senyum itu juga mengingatkan saya sama abang saya”

“terima kasih abang……”

Dia pun berlalu begitu saja. Dan aku hanya tertegun disitu sebelum dikejutkan oleh teriakan kawanku untuk naik terus ke dalam mobil.

…berharap waktu sedikit bisa berputar ke belakang….

*berdasarkan kisah nyata dengan beberapa perubahan agar tidak tahu dimana persisnya kejadian ini. icon wink sebuah senyuman (cermin)

Disalin kembali (diketik) hari sabtu dini hari, tanggal 10 Juli 2010 (27 Rajab 1431 H).

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

Before you post, please prove you are sentient.

what is 9 + 4?