Guratan Pena Zikra

tergurat agar dapat merekat erat

Archive for June, 2011

Oleh-oleh Isra Mi’raj

“Maha suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah kami berkahi di sekelilingnya. Untuk kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda kekuasaan kami. Sesungguhnya Allah maha mendengar lagi maha mengetahui”. (Q.S. Al-Isra: 1).

Berhubung malam kemarin adalah peringatan Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW, saya berusaha menulis sedikit mengenai hal tersebut, sedikit terlambat tapi mudah-mudahan tidak apa-apa. Tak banyak, lagipula tak ada kepandaian dan pengetahuan yang cukup mengenai hal tersebut. Saya hanyalah seorang awam akan ilmu, fakir mungkin lebih tepatnya dalam hal ilmu agama. Maka jikalau dalam penulisan nantinya ada hal yang kurang berkenan atau menurut ilmu kawanz en temanz itu keliru, tolong disampaikan. Agar supaya bisa saya tahu sedikit ilmu itu.

yang akan disampaikan mungkin bukan secara langsung mengenai isra mi’raj itu, namun bagaimana oleh-oleh yang dibawa ‘sepulang’ dari sana itu apakah sudah kita ambil secara baik atau belum. Ya, oleh- oleh itu adalah shalat.

Sekilas ke lembaran sejarah, Isra Mi'raj (Arab:??????? ????????, al-’Isr?’ wal-Mi‘r??) adalah dua bagian dari perjalanan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dalam waktu satu malam saja. Kejadian ini merupakan salah satu peristiwa penting bagi umat Islam, karena pada peristiwa ini Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam mendapat perintah untuk menunaikan shalat lima waktu sehari semalam.

Isra Mi'raj terjadi pada periode akhir kenabian di Makkah sebelum Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam hijrah ke Madinah. Menurut al-Maududi dan mayoritas ulama, Isra Mi'raj terjadi pada tahun pertama sebelum hijrah, yaitu antara tahun 620-621 M. Menurut al-Allamah al-Manshurfuri, Isra Mi'raj terjadi pada malam 27 Rajab tahun ke-10 kenabian, dan inilah yang populer. Namun demikian, Syaikh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri menolak pendapat tersebut dengan alasan karena Khadijah radhiyallahu anha meninggal pada bulan Ramadan tahun ke-10 kenabian, yaitu 2 bulan setelah bulan Rajab. Dan saat itu belum ada kewajiban salat lima waktu. Al-Mubarakfuri menyebutkan 6 pendapat tentang waktu kejadian Isra Mi'raj. Tetapi tidak ada satupun yang pasti. Dengan demikian, tidak diketahui secara persis kapan tanggal terjadinya Isra Mi'raj.

Peristiwa Isra Mi'raj terbagi dalam 2 peristiwa yang berbeda. Dalam Isra, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam “diberangkatkan” oleh Allah SWT dari Masjidil Haram hingga Masjidil Aqsa. Lalu dalam Mi'raj Nabi Muhammad SAW dinaikkan ke langit sampai ke Sidratul Muntaha yang merupakan tempat tertinggi. Di sini Beliau mendapat perintah langsung dari Allah SWT untuk menunaikan salat lima waktu. (sumber : wikipedia)

Kembali kepada ‘oleh-oleh’ yang dibawa oleh Rasulullah sepulang dari sana. Sebagaimana kita tahu, perintah shalat yang pertama itu adalah sejumlah 50 kali sehari. Namun atas saran dari Nabi Musa, Rasulullah kembali untuk meminta keringanan, sekali permintaan dikurangi 5 kali. Maka menjadi 45 kali sehari. Dan begitu lagi, Rasulullah disarankan meminta keringanan lagi terhadap perintah shalat itu. Dan akhirnya 9 kali Rasulullah bolak-balik hingga tersisa lah 5 kali shalat dalam sehari semalam bagi umatnya. Shalat yang diwajibkan kepada kita untuk dilaksanakan.

Subuh itu Nabi Muhammad SAW pulang dari ziarah terbesar sepanjang masa. luar biasa mengagumkan! Oleh-oleh pun dibawa pulang untuk umatnya. Oleh-oleh itu dijadikan nabi sebagai tiang penegak agamanya, oleh-oleh itu jadi pembeda islam dengan orang kafir, oleh-oleh itu menjadi power bagi pasukan yang habis-habisan menegakkan panji islam.

Masihkah BERAT oleh-oleh itu kita TERIMA dan kita AMALKAN….???

Baca juga : shalat mencegah perbuatan keji

Sedikit tentang Ibu lah…

Sebenarnya pengen ikutan juga menulis tentang keluarga dalam rangka Harganas (Hari Keluarga Nasional). Tapi karena biasanya keadaanku yang ‘speechless’ klo ngomong masalah ini, jadinya macet trus ni.

Namun ingin kucoba sedikit saja yang berkenaan dengan hal itu, judulnya aja ngak tahu apa nie :D. aku kembali teringat beberapa tahun yang lalu, saat tahun pertama kuliah. Bersama beberapa orang yang bergabung dalam sebuah grup nasyid (jangan heran ya klo aku pernah dalam grup nasyid juga.. :D) berlatih membawakan beberapa nasyid. Memang sih awal terbentuknya dalam rangka mengikuti lomba nasyid se-Aceh (Alhamdulillah dapat juara 1, hehe… ). Nah, dalam perkembangannya kami berlatih beberapa lagu lagi. Dan yang sangat membuatku terkenang salah satunya adalah salah satu lagu yang dibawakan oleh grup nasyid Hijjaz, judulnya Belaian Ibu. Wlopun lagu itu belum sempat mentas sekalipun. Sangking semangatnya ama lagu nie, sepanjang jalan klo kebetulan aku bawa motor ke kampus, selalu aja lagu ini aku nyanyiin. Ya… wlopun klo ada yang sempet dengar tu lagu, bisa muntah-muntah sambil terpingkal-pingkal tu kena suaraku yang serak-serak ancor. Wkwkwk…


Back to topic. Nah, dengan lagu ini paling tidak cukup menggambarkan bagaimana seorang ibu itu. At least, sedikitnya lah. Hehe.. moga dengan tulisan ini bisa melahirkan lagi tulisanku yang lain tentang keluarga. icon smile Sedikit tentang Ibu lah...


Berikut lirik lagu Belaian Ibu yang dibawakan oleh Grup nasyid kami, eh, grup nasyid Hijjaz maksudnya.. icon smile Sedikit tentang Ibu lah...

Read More…

Hati-hati berkendara

motor copy 150x150 Hati hati berkendaraHai… ketemu lagi nih setelah beberapa masa raib tak ajaib. Maklum, dalam beberapa hari ini lumayan vakum karena bertugas di luar daerah dan kebetulan di saat yang hampir bersamaan, laptopku mengalami kerusakan fatal dalam kurun waktu yang tak begitu lama setelah beberapa minggu sebelumnya juga begitu. Kenapa alasan ngak bisa menulis gara-gara laptop ya? Yupz, setidaknya bagiku dengan laptop lah membuka lebar peluang bagiku untuk ‘mencuri-curi waktu’. Hehe..

Duh, kok dah bicara laptop ya. Okedeh, cukup sekian dulu. Kali ini aku ingin membahas sedikit tentang kehati-hatian kita dalam mengendarai kendaraan bermotor di jalan raya. Tadinya sih pengen ngebahas tentang penyebab utama timbulnya masalah dalam dunia kendara mengendara (kacau bahasanya neh), tapi karena sesuatu dan lain hal yaudah dibahas mengenai ini dulu deh. Hanya ingin sharing dan saling mengingatkan, kalau dalam berkendara itu kita sebaiknya hati-hati, tidak lalai dengan sesuatu yang tidak perlu dan tak perlu menggebu-gebu begitu terburunya menggeber kendaraan bermotor guna mengejar waktu. Hati-hati, dan penuh pertimbangan mungkin sebuah frase yang cocok untuk diresapi.


Sebelumnya, aku ingin bercerita sedikit pengalamanku semalam. Semalam keadaan Kota Banda Aceh dan sekitarnya sedikit gerimis dan hujan lumayan deras di beberapa lokasi. Hujan yang turun sepertinya adalah hal yang dinanti-nanti hampir semua makhluk karena telah beberapa hari ke belakang kota ini dilanda cuaca panas yang tak terperikan. Jam 9 malam, aku berangkat keluar dari rumah menuju suatu lokasi yang berjarak kurang lebih 15 km. Dibayangi rintik-rintik hujan, rasanya tak menyurutkanku untuk ‘menjemput’ laptop yang telah usai dibedah. Ada-ada saja hal yang terjadi dengan laptopku belakangan ini. Dan yang terakhir yang membuat kesabarannya hilang hingga akhirnya ngambek kayak rendaman cucian bau apek adalah laptopku ini terkena lemparan bom molotol (botol) karena keisengan adikku. Dan dalam sekejap, layarnya blank. Sayup-sayup seperti hendak ditarik nyawanya, perlahan layar monitor akhirnya padam. Duh, kenapa aku bercerita lagi tentang ini ya. Tapi tak apalah, kita lanjutkan lagi ceritanya.


Singkat cerita, akupun beranjak pulang sekitar pukul 22.30 WIB. Keadaan malam masih tak berubah, rintik-rintik hujan masih menghujani lekat-lekat tanah yang telah lama kian pekat. Karena keadaan sudah mulai bergerak larut, aku memacu motorku lumayan kencang namun tak sekencang seperti biasanya. Bila keadaan hujan, sangat jarang motor ini kupacu tinggi laju. Aku mafhum dengan tingkat kelicinan karna gaya gesek aspal dengan ban otomatis semakin berkurang dan pandangan yang sedikit terbatas, resiko bahaya akan menjadi semakin besar.

Read More…

Waktu Takkan Berhenti Walau Sesaat

bigstockphoto business turning back time 1644993 150x150 Waktu Takkan Berhenti Walau SesaatPunya jam kan? Ya, bisa jadi itu jam tangan, jam dinding, jam tugu, jam beker, jam digital or jam segala jenis jam yang lain boleh juga. Yang penting jam. Ada apa dengan jam-jam tu, anehkah? Pernah mungkin sekali atau dua atau beberapa kali waktu saat memperhatikan waktu, melihat detak-detak jarum detik yang terus saja berputar, ia tak pernah bosan. Jarum menit pun akan selalu mengikuti. Seolah saja mereka telah kompak bersekongkol, “jika kau detik telah melalap 60 kali putaran, maka aku hanya akan melangkah sekali”. Dan si jarum detik pun tak akan pernah protes atau berontak, “enak saja kau menit, dasar pemalas. Tidak sadarkah kau kalau aku begitu capeknya setiap hari finish di tempat yang sama, 3600 kali?”.

Tidak, tidak pernah mereka ‘mendakwakan’1 hal itu. Mereka seperti telah tergariskan untuk mengikuti alur yang demikian. Satu sekutunya lagi yang tak ketinggalan, jarum jam. Seakan dia hanya mengamati si detik dan menit berkolaborasi, dan dengan harmonis menutupnya dengan penunjukan jam di setiap angka. Dia yang bertugas siap sedia memberitahu kita. Sekarang sudah jam berapa adanya.


Di suatu waktu aku seakan menghardik si detik, mengapa ia begitu cepat melangkah. Padahal kerjanya saban hari itu-itu saja. Tak bisakah hanya sekali waktu ini kau pelankan langkah sedikit saja. Karena jika kau mau membantuku sedikit saja, aku mungkin akan menjadi juara dalam sebuah balapan super kencang ini. Kecewa aku.

Di waktu lain, aku murka pada si menit. Mengapa sekali ini saja, kau bisa berpura-pura lupa atau tak ingat bahwa si detik sudah usai satu putaran. Berhenti saja kau, tak usah melangkah. Toh yang rugi juga si detik yang kan berputar lagi. Namun itu juga tak kau lakukan. Aku kecewa lagi.

Di waktu yang lainnya lagi, aku berharap kepada si Jam. “Jam, maukah kau berhenti sebentar saja? Aku hendak menjemput seseorang, namun aku juga sedang ada kerja menyusun beberapa jemputan”. “tolong.. tolonglah aku sekali ini saja”. Aku meminta dengan penuh harap, was-was. Mata jam, ya, bisa kulihat mata jam itu mengandung rasa iba yang mendalam terhadapku. Ia melongokan matanya kepadaku, menarik nafas dalam-dalam, dan akhirnya keluar dari lisannya yang halus itu, “Owwh,, tidak bissaaaa….”. huuffft… kecewaku akhirnya merambah sampai ke puncak. Kalau ada puncak di atas ubun-ubun, maka disitulah ia berada.

Kenapa sih mereka, yang hanya bertugas menunjuk waktu, tak mau sekali saja membantuku? Aku tertunduk lesu, di pojok yang kian terasa membisu. Sebel.. icon sad Waktu Takkan Berhenti Walau Sesaat

**

Di satu bagian dinding tepat di sisi pojok dimana aku terpaku, seekor cicak sedang terkekeh tertawa tak tertahankan. “sinting”, ujarnya sambil kembali terkekeh-kekeh. Cicak itu, tertawa melihatku berusaha menghentikan waktu. “Dasar manusia! mana bisa memutar waktu”, celetuknya lagi. Sambil terus menjadi-jadi tawanya, ckckckck…  “Dari tadi meminta waktu berulang, permintaan itu kan membuang lagi waktu lainnya”. ia tersengal, dan sudah kian tak tahan, tertawa lagi dengan terbahak-bahak. wkwkwkwwkwkwk…

——————————

1 berdebat

Berani Bilang Saya Tidak Tahu?

question mark 150x150 Berani Bilang Saya Tidak Tahu?Tenang… tenang dulu nih. Jangan kesal or heran dulu ngebaca judulnya yang seakan-akan saya tu tau semuanya. Ini ngak sepenuhnya gitu kok. So, Apa maksud nie buat judul gituan? Hehe… begini dia maksudnya, :p

Ada kalanya kita tu ditanya mengenai sesuatu hal oleh seseorang. Bisa itu dari adek kita, abang, temanz, kenalanz, atau dari murid kita. Dan biasanya apapun hal yang ditanyakan itu akan kita jawab dengan segenap dan sepenuh hati, bahkan terkadang sampe semangat 45 plus gitu. Satu kalimat yang ditanya, dan dengan mem ba bi bu kita akan menjelaskan apa yang ditanyakan itu. Walau terkadang apa yang kita jawab itu ngak ada hubungannya, hehe…

Pernah mem’praktek’kan hal yang begituan bukan?

Sangat baik rasanya jika apa yang diutarakan itu adalah jawaban yang tepat. Ataupun menjadi solusi yang jitu terhadap suatu permasalahan. Betapa tidak, jawaban kita tu merupakan pengetahuan yang kita peroleh dan kita miliki. Menjawabnya adalah sharing kepada sesama juga, ada yang mengistilahkan juga dengan transfer of knowledge. Dan manfaatnya adalah banyak orang menjadi tahu. Dan untuk masalah ilmu, hal ini adalah BUKAN merupakan suatu kerugian. Kalo harta dibagi bisa jadi habis, tapi klo ilmu insya Allah malah bakalan bertambah.

Suatu applause buat orang-orang yang bisa menjawab permasalahan-permasalahan dan MAU membantu menyelesaikannya. (prok..prok..prok… tepuk tangan, hehe…)

Sekarang, gimana kalo ada yang Tanya trus jawabannya ngawur ngelantur gitu. Ilmu untuk ngejawab or kapasitas yang ada sebenarnya belum cukup memenuhi ‘standar’ kriteria penjawab. “Pokoknya kalo ada yang Tanya, aku bisa jawab semua. Silahkan Tanya apa saja, ntar aku jawab. Hahaha… “

Read More…

Pameran Keramik dalam Masyarakat Aceh (#Part 2)

teko1 150x150 Pameran Keramik dalam Masyarakat Aceh (#Part 2)Menyambung tulisan sebelumnya mengenai kunjungan singkat saya ke Pameran Keramik dalam Masyarakat Aceh, sekarang saya ingin sedikit menulis mengenai sejarah keramik di Aceh. Bahan ini saya himpun dari sumber utama museum Aceh, dilengkapi dengan berbagai sumber lainnya. Semoga bermanfaat dan menambah pengetahuan tentang keramik, terlebih yang suka keramik. Hehe…

Keramik berasal dari bahasa Yunani : keramos, yaitu anak laki-laki Dewi Ariaone dan Dewa Bachus yang dianggap sebagai dewa penjaga barang pecah belah. Keramik terdiri dari jenis stoneware yang terbuat dari tanah liat kasar dan porcelain yang terbuat dari tanah liat putih (kaolin) dengan suhu pembakaran 1250o – 1500o C.

Selain keramik, juga dikenal gerabah yang terbuat dari tanah liat yang berwarna coklat kemerahan. Bersifat porus (berpori), rapuh, dan menyerap air. Suhu pembakaran berkisar antara 350o – 600o C.

Keramik merupakan produk utama perdagangan laut yang banyak beredar di Aceh pada masa lampau. Keramik merupakan salah satu pengaruh budaya dari Cina yang dapat dijumpai. Munculnya pengaruh budaya Cina dalam masyarakat Aceh disebabkan oleh adanya kegiatan perdagangan internasional antara dua pusat perdagangan kuno India di barat dan Cina di timur. Jalur perdagangan ini salah satunya disebut jalur rempah-rempah atau jalur keramik, merupakan jalur perdagangan laut yang panjang tidak terputus dan sangat sibuk. Jalur ini dimulai dari Cina Selatan melalui selat Malaka di Asia Tenggara menuju ke Asia Selatan, Asia Barat, melalui teluk Persia atau laut mediaterania terus ke Eropa.


Keramik yang dibawa oleh pedagang Cina selain menjadi barang persembahan bagi penguasa Aceh juga menjadi alat tukar menukar dalam transaksi perdagangan. Pedagang cina yang berdagang ke Sumatera termasuk Aceh menukar barang-barang perdagangan mereka (sutera dan keramik) dengan rempah-rempah yang merupakan komoditas andalan Sumatera termasuk Aceh. Rempah-rempah dari Aceh menjadi barang perdagangan penting yang berguna sebagai bumbu masakan, campuran racikan obat, dan campuran minuman yang menghangatkan badan.


Keramik yang ditemukan dalam masyarakat Aceh berasal dari wilayah Asia Tenggara seperti Kamboja, Burma, Thailand, dan Annam (sekarang Vietnam). Produk keramik yang berasal dari wilayah Asia Tenggara berupa tempayan, guci-guci besar dan kecil. Masyarakat Aceh menggunakan tempayan sebagai wadah menyimpan air, padi/beras, dan garam. Ciri-ciri keramik Asia Tenggara : glazir tidak rata karena dibuat dengan proses celup, berwarna hitam kecoklatan. Selain dari wilayah Asia Tenggara, dalam masyarakat Aceh juga ditemukan keramik dari Cina dan Eropa. Keramik Cina yang ditemukan berasal dari Dinasti Sung, Ming, dan Cing.

Read More…

Pameran Keramik dalam Masyarakat Aceh (#Part 1)

sejarah 150x150 Pameran Keramik dalam Masyarakat Aceh (#Part 1)Kawanz en temanz yang sedang berada di Banda Aceh dan sekitarnya, dah tau belom ada Pameran Kontemporer Keramik Dalam Masyarakat Aceh? Wah, pasti belum banyak yang tahu nie. Hehe….

Yang belum pergi, buruan tu. Pameran ini berlangsung tanggal 13 – 19 Juni 2011 bertempat di Museum Aceh. Yang ngak tau Museum Aceh tu dimana, letaknya tu dekat pendopo (rumah dinas) Gubernur, kebetulan disampingnya juga ada makam Pahlawan Aceh Sultan Iskandar Muda. Atau kalo masih belum tau juga, itu deket kok kalo dari Masjid Raya Baiturrahman, tinggal jalan kaki aja dah sampe.

Sebelumnya mohon maaf nie karna telat nulesnya, coz acara dah semenjak tanggal 13 eh baru ditules sekarang tanggal 17 Juni. Maklum aja, baru sempet pergi tadi soalnya. Ada waktu luang dikit langsung ke TeKaPe deh. Jarak dari kantor pun kebetulan tidak begitu jauh. Namun ada sedikit hal yang disayangkan, siang itu pengunjungnya hanya aku seorang. Hoho… padahal kan acaranya bagus. Permasalahan utamanya memang ada di publikasi. Pameran tersebut tidak dipublish secara luas. Buktinya saja, saya tahu ada pameran itu karna sebelumnya kebetulan lewat dan melihat spanduk yang terpampang di depan pagar Gedung Museum Aceh. Tapi yang berencana pergi masih ada 2 hari lagi kok. Pameran ini dibuka sekitar jam 09.00 WIB sampai 16.00 WIB, potong jam istirahat siang.

pintu masuk museum 300x225 Pameran Keramik dalam Masyarakat Aceh (#Part 1)

Di dalam gedung pameran, terpampang berbagai macam keramik dari berbagai masa. Ada Gerabah atau nama lainnya matavan (baru tahu, hehe..), keramik Dinasti Sung (960-1280 M), Dinasti Ming (1368-1644 M), Dinasti Cing (1644-1912 M), Keramik dari Eropa, dan ada juga Kendi. Memang koleksinya tidak terlalu banyak sih, namun untuk ukuran ‘pameran tunggal’ gitu udah termasuk mantap juga menurutku.

gedung pameran 300x225 Pameran Keramik dalam Masyarakat Aceh (#Part 1)

gedung pameran

Dan, kalau nanti berkunjung kesana, jangan lupa juga mampir ke gedung utama museumnya. Walaupun sabtu minggu insya Allah buka juga kok. Udah ditanyain langsung ma ibu yang jaga pamerannya. Hehe…

Sekian dulu berita kilat, insya Allah bakalan ada #Part 2 yang bakal bercerita ttg sejarah keramik dalam masyarakat Aceh.

 Pameran Keramik dalam Masyarakat Aceh (#Part 1)

keramik dinasti ming

 Pameran Keramik dalam Masyarakat Aceh (#Part 1)

keramik dinasti cing

 Pameran Keramik dalam Masyarakat Aceh (#Part 1)

keramik eropa

 Pameran Keramik dalam Masyarakat Aceh (#Part 1)

kendi

 Pameran Keramik dalam Masyarakat Aceh (#Part 1)

teko