Guratan Pena Zikra

tergurat agar dapat merekat erat

Archive for August, 2011

Puisi Maaf (Idul Fitri)

Hmm…

Aku tak tahu harus darimana memulainya,

Harusnya yang selalu ada adalah ‘maaf’ untuk kesekian kalinya,

Dan hal itu takkan pernah bosan tuk kuucapkan,

Bagai mereka di tengah gersang yang mengharapkan hujan.

***

Seperti biasa,

Aku menenggelamkan diri dalam lamunan bayang,

Mengayuhkan diri kembali dalam suatu masa,

Instrospeksi terhadap apa saja yang pernah terkenang,

Apa yang sering kudapat?

Selalu saja timbangan yang selalu kurang,

Tak pernah bertambah walau satu saat,

Namun hal itu terus membangkitkanku untuk terus menjadi pejuang.

Dan dengan terus berupaya belajar,

Segala hal yang kurang kujadikan saja pengalaman,

Atau terkadang saat ku tak kuat lagi untuk tegar,

Aku berupaya sadar, aku ini manusia yang punya Tuhan,

Read More…

Zakat Fithrah…

okey, berhubung bulan Ramadhan dah mau abes, kali ini saya ingin mem-posting sesuatu mengenai zakat. seperti tulisan puasa sebelumnya, tulisan ini saya tulis setahun yang lalu dan sudah pernah saya post di fb. rujukannya berdasarkan Fathul Mu’in dan syarahnya (I’anatut Thalibin) semoga bermanfaat… icon smile Zakat Fithrah...

==    ==    ==

Waahhhh, ngak terasa ya puasa berjalan terus. Di bulan puasa kita kan juga diwajibkan membayar zakat. Tapi gimana tu membayar zakat? Siapa-siapa aja sih yang wajib? Ya, selama kita masih berstatus sebagai manusia dan menjalani kehidupan dalam rentang Ramadhan sampe masuknya syawal, kita wajib membayar zakat. Apalagi dah capek-capek puasa, ngak ngeluarin zakat. Coz da dalil(hadits) khabrani yang artinya lebih kurang ‘puasa ramadhan tu menggantung antara langit dan bumi, tidak diangkat dianya kecuali dengan zakat fithrah’.

Kalo kita dah baligh (bagi cowok ni trutama, coz bagi cewek masih tanggungan dari ortu), zakat tu dah wajib kita keluarin ndiri. Jadi bukan ortu yang ngeluarin zakat kita. Jadi selama ni, yang kasih zakat masih ortu kok? Ya seharusnya kita dah wajib bayar sendiri. Tp berhubung mungkin belum ada penghasilan, ya… ortu kebiasaan yang kasih. Tapi klo itu emang dilakuin, harus minta izin si anak dulu nih. Or sekedar pemberitahuan gitu klo zakat si anak dibayarin ma ayahnya. Ngak boleh maen bayarin aja. Coz ngeluarin zakat tu kita harus punya niat keluarin juga. Bisa-bisa zakat buat si anak (yg dah baligh) yang dikeluarin oleh ortunya malah ngak dihitung sebagai zakat ntar, sangat sayang bangetzz sekali kan…

Trus zakat fithrah tu wajib dikeluarkannya dengan qut or makanan pokok yang kita makan, tergantung bisa jadi berbeda tiap daerah. Seperti beras, gandum, sagu, or lainnya… BUKAN dengan uang. Nyan kapalo nyoe (nah loe), klo keluarin pake uang gimana jadinya? Imam yang empat (selain imam Hanafi) tidak membolehkan mengeluarkan zakat dengan uang. Zakat yang dikeluarkan adalah sebanyak 4 mud. Ukuran kita mungkin sekitar 2 are kurang gitu (waduh, are bahasa indonesia raya nya apa ya…?? pokoknya ngerti kan…hehehe.. sekitar 2 bambu gitu kayaknya ; 2,5 kg). jadi kagak boleh bayar zakat dengan uang.

Kecuali, kita ikut Imam Hanafi, beliau membolehkan bayar zakat pake uang. Tapi yang namanya ikut, jangan ikut yang enak-enaknya ja dong… klo mau ikut terhadap sesuatu hukum, harus ikut sepenuhnya dalam artian hukum tersebut tidak terkait dengan yang lainnya lagi. Gini, takaran Imam Hanafi itu beda dengan Imam yang lain seperti Imam Syafii. Zakat yang wajib dikeluarkan menurut Imam Hanafi adalah bukan 4 mud, lebih dari itu (wah, penulis miss dikit ni berpa pastinya, coba tanya lgi deh ma teungku/ustadz…). Hampir 2 kali lebih dari yang ditakarkan oleh Imam yg lain. Klo ukuran kita 2 are lebih (lagi-lagi pake are, gpp ya..).

So, ngak da alasan bayar pake uang kan..?? klo emang dah kebelet malas kali beli beras or beras di pasar dah abes kali ya.. and mau bayar pake uang, ya ikut ketentuannya Imam Hanafi. Tapi kadarnya lebih gede. Bukan dengan takaran uang harga 4 mud beras, tapi lebih dari itu. Jangan mau enaknya ja atuh kang, mau ikut Imam Hanafi tapi pake harga takaran beras Imam Syafii…hana bisa nyann tidak bissa..). malah bisa-bisa ke Imam Syafii ngak masuk, ke Imam Hanafi juga ngak.. kacau beliau jadinya khan…

Okey, moga bermanfaat. Moga zakat kita diterima nantinya.

Sekian dulu, menerima berbagai macam tambahan and masukan yang membangun..:)

11 Ramadhan 1431 H / 22 Agustus 2010 M. 18:33.

Penglihatan bukan suatu Batasan (#part 2)

Di tulisan sebelumnya saya telah menulis mengenai #part1 nya. Kini saya ingin sedikit melanjutkan mengenai kisah lain yang pernah saya temui, kisah mengenai keterbatasan penglihatan seseorang. Mudah-mudahan dapat bermanfaat nantinya.

Sebenarnya telah banyak kita lihat orang-orang yang tidak menyerah dengan keterbatasan yang mereka miliki. Apakah itu keterbatasan karna tidak lengkap/berfungsinya panca indera atau karna keadaan yang membuat mereka ‘berjuang’ lebih keras. Kita bisa melihatnya di berbagai tulisan yang sudah pernah ada, ataupun media visual seperti di tv. Saya sendiri juga pernah melihatnya di salah satu acara tv (Kick Andy Show) yang menceritakan bagaimana perjuangan orang tuna netra. Ada yang menjual kerupuk untuk menyambung hidupnya, membuka jasa layanan pijit, dll. Luar biasa, subhanallah.

Nah, selain di media yang tidak secara langsung kita temui itu (cetak maupun elektronik), ternyata sebenarnya ada juga yang kita jumpai di keseharian kita. Namun kita sering tidak sadar dengan keberadaan mereka, bisa jadi karna sudah menganggapnya biasa, ataupun karna terlalu banyak dari mereka yang memilih jalan ‘meminta-minta’ untuk kelangsungan hidupnya.

Read More…

Penglihatan bukan suatu Batasan (#part 1)

Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh adalah sebuah bangunan masjid bersejarah di Kota Banda Aceh. Tak hanya itu, disana juga lahir cerita-cerita unik dan menarik sehingga pengalaman dan pembelajaran pun dapat dipetik. Salah satunya adalah sebuah hal yang tak sengaja teramati olehku. Ya, wlo sebenarnya hal ini mungkin sekilas dianggap biasa-biasa saja.

**

Di bulan Ramadhan ini, ada ibadah khusus yang tidak terdapat pada bulan-bulan lainnya, salah satunya adalah ibadah shalat tarawih. Ibadah tarawih tersebut ada yang mengerjakan 8 rakaat, 20 rakaat, bahkan terkhusus di Madinah, ada yang 36 rakaat. Dan biasanya lagi (bukan biasanya, emang syaratnya gitu kok, hehe…) shalat tarawih yang dikerjakan sesudah shalat Isya itu akan dilanjutkan dengan shalat witir minimal 3 rakaat.

Di seputaran Banda Aceh sendiri, mayoritas masjidnya melaksanakan shalat tarawih sejumlah 20 rakaat. Ada yang langsung shalat 20 rakaat kemudian witir, ada juga yang melaksanakan witir setelah 8 rakaat kemudian bagi yang melaksanakan 20 rakaat melanjutkannya setelah ‘witir 8’ selesai. Seperti di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Setelah shalat Isya berjamaah, ada ceramah yang disampaikan oleh seorang da’i/penceramah (ya iyalah penceramah, masak pelawak, icon biggrin Penglihatan bukan suatu Batasan (#part 1) ) selama 10-15 menit. Kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan shalat tarawih sejumlah 8 rakaat. Nah setelah 8 rakaat ini, bakalan ada jeda sejenak. Jamaah yang akan mengerjakan tarawih 20 biasanya keluar sejenak untuk menikmati udara segar (istilahnya aja, hehe..) atau ada juga yang tetap berada di dalam masjid sambil membaca Alquran atau berzikir. Sementara jamaah tarawih 8 melanjutkan dengan shalat witir.

Seusai witir, jamaah tarawih 8 pulang (atau ada kegiatan lain apalah gitu masing-masingnya terserahlah..) dan jamaah 20 tadi kembali membentuk shaf guna melanjutkan tarawihnya. Aku sendiri memilih shalat tarawih 20 rakaat. Walaupun tidak setiap malam aku shalatnya di Masjid Baiturrahman, tapi dalam setahun selama Ramadhan insya Allah ada lah beberapa kali shalat disana. icon smile Penglihatan bukan suatu Batasan (#part 1)

Read More…

Belajar dari Jembatan Semut

semut3 150x150 Belajar dari Jembatan SemutBanyak sekali sebenarnya hal-hal yang terjadi di sekeliling kita yang bisa diambil sebagai ‘ibrah atau pelajaran. Apakah itu berupa kejadian alam, kegiatan makhluk ciptaan Allah selain kita manusia, dll. Hal-hal yang terjadi itu bahkan terkadang menjadi pengingat tersendiri bagi diri kita tuk introspeksi, mengoreksi diri sendiri yang penuh keterbatasan akan kemampuan.

Kali ini saya akan mengetengahkan sebuah kejadian, bukan kejadian sebenarnya karna tak terlalu istimewa sih, terlebih sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Kita sebut saja sebuah hal :). Beberapa malam yang lalu saat hendak ke masjid untuk menunaikan ibadah shalat Isya beserta tarawih seperti biasanya, ada sesuatu hal yang menarik perhatian ketika saya membuka pintu pagar rumah. Pintu pagar rumah saya seperti pagar kebanyakan, model sorong gitu. Dan ada semacam bagian pintu satu lagi untuk buka tutup yang ukurannya biasanya lebih kecil.

Saya melihat semut yang sudah mulai bergerombol di antara batasan pertemuan kedua ujung pintu itu. Seperti biasanya juga, semut pohon yang berwarna merah itu menggunakan pagar rumah sebagai jalur transportasi dalam mobilisasi makanan ke sarangnya. Malam itu kebetulan jarak antar kedua pintu itu agak berjauhan, tidak berdempet seperti biasanya. Nah, jaraknya itu klo untuk ukuran semut, maka tidak akan bisa dilewati.

Saya mendekatkan lagi pandangan saya untuk melihat lebih jelas lagi ke tempat penyeberangan semut tadi. Ternyata ada sekitar 2 atau 3 semut yang menjadikan tubuhnya sebagai jembatan bagi yang lain. Kaki bagian depannya meraih bagian pintu pagar yang di depannya sementara kaki belakang tetap di posisi ia berdiri, di bagian pagar yang lainnya. Dengan posisi begitu, teman-temannya yang lain dengan mudahnya dapat melalui ‘jembatan buatan’ itu. Hal ini berlangsung cukup lama sebelum akhirnya aku membuka pintu dan mendekatkan jarak antar pagar agar bisa dilalui saja oleh mereka, tanpa jembatan tubuh temannya.

Read More…

Puasa kita…

lagi suntuk2 menumpuk ngerjain tugas, iseng2 buka file, eh nemu lagi tulisan ini. tulisan ni saya tulis setahun yang lalu dan dah pernah di poskan di notes fb. dan sepertinya ngak da salahnya klo diposting lagi di blog ini, wlo dah agak telat sih sikit. semoga bermanfaat nantinya. icon smile Puasa kita...

=======           ========                         =====

Kawan-kawan gimana kabarnya hari ni? Mudah-mudahan baek2 aja ya.. hmm… puasanya gimana? Ada puasa kan, hayoo…kan dah gede (khusus buat cewek ada peng’khususan’ ya). Ngak puasa net-net lagi, woe rumoh buka kanet. Hehe…

Kita bahas mengenai puasa dikit yuk, ya.. wlo dah agak telat. Tp moga ja dapat berguna ntar bagi masing-masing kita. Siap? Yuuuuukz…..:)

??? apanya yang mau dibahas ni? Wah, saya juga bingung mau nules apa. So?

……. loading …….

……. tuiiiiinnnggg…..

Kita mulai dari akhir surat Albaqarah ayat 183 ya, yang ujung ayatnya lebih kurang ‘mudah-mudahan kamu semua menjadi orang yang bertaqwa’…. wah, sebenarnya bukan maksud saya mau membedah atau menafsirkan ayat ini. Ilmu saya masih sangat jauh sekali bangetz gituu….

Tapi yuks kita lihat keadaan puasa kita hari ni. Seperti di tulisan sebelumnya mengenai orang yang dah shalat pontang-panting kok maksiat nya masih lancar-lancar aja? (baca : shalat mencegah perbuatan kejiPadahal shalat tu kan mencegah perbuatan keji dan mungkar? (???). sekarang kita lihat dari segi puasa, orang yang rajin bangets (pake ‘s’ coz sangking banyaknya) puasa kok malah ngak da perubahan apa-apa? Hm… berarti da yang salah rumus puasanya nih ( rumus? Dah cem hitungan aja, halah2…). mana nih rumusnya yang salah?

Read More…

Puisi ‘ur’ Ramadhan..

Bulan Ramadhan anugerah dari Yang Maha Ghafur.

Syawal di depan mulai membuatnya menghitung mundur.

Bilangan shaf-shaf di masjid mulai hilang tak terukur.

Kemanakah manusia yang dulu memenuhinya bahkan berhambur.?


Apakah amal yang ada mungkin sudah begitu full,

Sehingga kambing hitam dijatuhkan pada kata uzur,

Sekalian saja alasan-alasan itu dikumpul,

Biar jelas dan tak menjadi kabur.

Selesai sahur langsung tidur,

Shubuh di depan tak bisa ditegur,

Sampai waktu berbuka baru sudah tak kendur,

Semua menu dilahap tak terukur.

Read More…