Guratan Pena Zikra

tergurat agar dapat merekat erat

Mengejar Borobudur (catatan perjalanan Jogja&Solo #part2)

Semalam sebelum aku kembali ke Jogja (dari Solo), aku mencoba-coba Googling kira-kira aku bisa kemana saja. Hitung-hitung memanfaatkan sisa waktu dari perjalanan ini. Aku mencari tempat-tempat menarik yang kira-kira mudah dijangkau. Semula pilihanku jatuh untuk singgah di Candi Prambanan karna jaraknya yang dekat dengan jalan Jogja – Solo. Rencananya aku akan meminta pak supir travel untuk singgah sejenak, hitung-hitung tambah ongkos dikit tak apa lah. Namun niat ini tak jadi karna melihat situasi mobil travel yang penuh dan terlihat beberapa penumpangnya sedikit buru-buru, termasuk salah seorang fresh graduate yang akan mengikuti job fair di kampus UGM.

Pilihan kedua adalah Candi Borobudur, namun kembali kuurungkan lagi karena jarak tempuhnya sekitar 2 jam dari Solo. Ditambah lagi jalur yang kudapatkan dari internet agak sedikit rumit dan kuyakin aku bisa tersesat nantinya. Hoho… dan kesimpulannya adalah kembali saja ke Jogja dulu, menikmati apa adanya.

Hari sudah menjelang siang saat sampai di Jogja. Sambil nemenin si Babe (temanku di Jogja ; baca part sebelumnya) yang asik maen game, suntuk juga akunya. “Masak udah jauh-jauh kesini tapi ngak kemana-mana lagi”, pikirku. Akupun mulai berpikir kemana tempat yang harus kujelajahi lagi. Setelah memilah-milah, tak ada satupun yang cocok dengan keinginanku sepertinya. Sampai akhirnya creeeenggg… aku kembali teringat ke Candi Borobudur. Saat aku googling di Solo malam sebelumnya, rasanya Borobudur tak jauh dari Jogja, aku harus kesana. Akupun bertanya ke Babe, namun ia juga kurang tahu. Yang ia tahu, jalan ke sana ada masuk-masuk ke dalam lagi gitu, susah ngingat jalannya. Akupun langsung nembak nanya, “Sudah pernah kesana?” dia menjawab belum. “pas kali”, dalam hatiku. Akupun mengajaknya untuk ikut, itung-itung dia belum pernah kesana sekaligus da kawan yang temenin, klo tersesat ntar paling ngak kan enggak sendiri. Hihihi….


Kami pun akhirnya buru-buru nyiapin diri (nyiapin diri? Emang upacara di siapin..? :D) tuk berangkat. Langkah pertama adalah nyari di internet gimana caranya bisa sampai ke Borobudur. Dapat peta umum gitu tapi masih takut-takut ngak klo pake motor. Sampe akhirnya nemu satu blog yang ngejelasin gimana klo mau ke Borobudur dari Jogja nya. Perjalanan bisa ditempuh dengan naek angkot trus nyambung pake bus di terminal Jombor Jogja. Setiap penjelasan dari isi blog itu kami harus ingat betul, kebetulan ongkosnya pun da juga disebutin disitu. Cocokz bangetz :D. Jam satu siang keluar dari kosannya babe en cari makan siang dulu. Perut aman, tancap gas deh.


Jam udah mau merapat ke pukul dua kurang lima belas, kami masih aja di tepi jalan ngintip celingak celinguk nungguin angkot yang lewat sampe akhirnya sebuah angkot mendarat (lho kok mendarat?), upz berhenti di depan kami maksudnya. Langsung deh naik wlopun dah agak berdesakan, namanya juga angkot. Tak berapa lama kemudian kami sampai juga di terminal Jombor Jogja. Sesuai petunjuk blog tadi, kami mencari posisi bus yang bakal kami tumpangi. Sekitar 10 menit nunggu akhirnya ada juga bus menuju ke Borobudur yang datang. Tapi kami kurang beruntung, bus udah keduluan penuh, sesuai seperti yang dijelaskan di blog. Bahkan penumpangnya sampe berdiri di pintu masuknya, tak jauh beda klo kita naek Kopaja di Jakarta atau bus Drobur or Damri saat kami pulang sekolah tsanawiyah dulu di Banda Aceh. Klo maksa desak-desak lagi emang kayaknya muat sih kami bedua, tapi kami memutuskan untuk menunggu bus lainnya saja.


Keputusan menunggu bus lainnya ternyata bukan keputusan yang agak tepat. Lama kami menunggu namun busnya belum nongol juga. Sambil-sambil nunggu kami ngobrol-ngobrol dengan salah seorang bapak yang lagi nongkrong di terminal. Rupanya si bapak ini mantan supir bus jurusan terminal borobudur juga. Cocokz ni, klop, jadi bisa sharing-sharing informasi dari si bapak. Dan benar saja, kami mendapatkan beberapa informasi berharga dari si bapak yang tidak kami dapatkan di blog. Diantara informasi yang berharga itu adalah :


- bus dari terminal jogja ke terminal borobudur hanya ada sampe jam 3.

- bus dari terminal borobudur balik ke jogja Cuma ada sampe jam 17.30.

- candi borobudur tutup jam 17.00

- klo ngak ada lagi bus dari borobudur nantinya, transportasi satu-satunya adalah ojek. Dan biasanya tukang ojek bakal matok harga gila-gilaan. 100 ribu men… fiuh, itung 2 orang jadi 200 ribu juga tuh -_-‘

- pilihan terakhir jika ngak bisa balik dari borobudur – jogja adalah menginap disana. Penginapan bisa diperoleh dengan harga mulai dari 50 rb.

Wah, nice inpo pak. Walopun si bapak ini kadang-kadang masih aja suka bicara bahasa jawa sama kami. Padahal kami kan udah bilang pak, kami ni dari Aceh. Lagi-lagi prediket wajahku sebagai muka Aceh tulen ini runtuh seketika :D.

Mendengar info berharga dari si bapak, terancam juga ni jadinya kepergian kami ke Borobudur klo gini. Belum lagi jam udah ngingatin waktu dah pukul setengah tiga lewat sepuluh, berarti 20 menit lagi dari deadline keberadaan bus cuy. Kami pun berdiskusi sebentar dan memutuskan tuk pulang lagi ke kosan dan pergi dengan motor saja. Tersesat dikit ntar ngak apa2, yang penting sampe Borobudur (semangat bangetz gitu ya.. :D). Tapi sebelum kami mengucapkan kata ‘deal’ dengan kesepakatan kami tadi, tiba-tiba saja bus ke Borobudur muncul. Saling berpandangan seolah-olah mengatakan ‘ayok’ kami maen loncat masuk aja ke bus reot yang udah penuh sesak itu. “klo ntar ngak ada bus balik, kita nginap disana saja”, sepakat kami.


Bus mini yang udah reot itupun melaju dengan beraninya. Supirnya kayaknya mantan pembalap F1 nih. Kencang amat jalannya, saking kencangnya polisi tidur pun diembatnya. Ngak ada melambatnya sedikitpun. Akhirnya kami penumpang ini (termasuk seorang bulek) terombang ambing di dalam bus yang udah ‘mati sok’ ini. Klo udah tikungan siap-siap aja deh pegangan klo ngak mau terantuk sana-sini. Wuiih, sadis banget ni bus ya.

dlm bus p 300x225 Mengejar Borobudur (catatan perjalanan Jogja&Solo #part2)

suasana dalam bus saat dah mulai sedikit 'longgar'

Namun dari dalam bus, aku sempat melihat pemandangan yang cukup menarik. Di sisi kanan kami berjejer tumpukan material pasir dan beberapa rumah yang terendam. Di sisi kirinya masih tersisa bekas aliran yang menggerus sisi-sisi sungai. Dari sini dapat kupastikan bahwa jalur ini adalah salah satu jalur banjir lahar dingin pasca meletusnya Gunung Merapi beberapa saat yang lalu. Material yang tertimbun begitu banyak dan terlihat pula alat backhoe yang memasukkan pasir ke dalam truk untuk dipindahkan ke tempat lain. Kesimpulan lainnya yang dapat kuambil setelah melihat pemandangan ini adalah, tentunya jalan yang kami lalui ini sempat terputus saat banjir terjadi melihat dahsyatnya bekasan yang ditinggalkan. Hmm.. tiba-tiba saja aku menjadi teringat tentang materi yang kudapatkan saat pelatihan di Solo. icon smile Mengejar Borobudur (catatan perjalanan Jogja&Solo #part2)

Setelah ‘meuhayak-hayak’ (terombang-ambing) di dalam bus yang harus kami bayar dengan harga 12 ribu per orang itu, sampai juga kami dengan selamat di terminal Borobudur dengan jarak tempuh 1 jam lebih sekitar 15 menit gitu. Turun dari bus, langsung deh kita disambut ama tukang ojek, tukang delman, tukang sate, eh enggak ding, mana ada tukang sate. Ojek dan delman berebut menawarkan jasa untuk mengantarkan kita ke lokasi Candi Borobudur yang berjarak sekitar 1 km lagi dari terminal. Kami memutuskan untuk jalan saja wlopun belum tahu dimana persisnya letak candi. Salah seorang tukang delman terus saja menawari kami, “10 ribu aja” katanya. Tapi karna udah terlanjur mau jalan, yaudah deh jalan kaki aja, maaf ya pak. Kami pun ketemu dengan seorang bulek yang satu bus tadi. Kebetulan bulek tadi tu juga memutuskan jalan kaki. Jadilah kami bertiga walking on the road dengan tak seorangpun yang pernah ke Candi Borobudur sebelumnya. Dari perbincangan dengan si bulek, kami tahu bahwa dia berasal dari Perancis. Rupanya dia tu seorang backpacker juga. Wah, seru nih. Jadilah kami mengorek informasi lebih dalam tentang backpacker si bulek. Berangkat ke Indonesia untuk pertama kalinya melalui Medan, ia melanjutkan perjalanan ke Padang dan Jakarta. Perjalanan itu ditempuh dengan bus. Wah, gila juga ni bulek, wlopun pada akhirnya dia ngaku juga klo capek naek bus gitu. Dari jakarta, dia ngelanjutin perjalanan ke Jogja dengan kereta api sampai akhirnya bertemu kami dalam perjalanan ke Candi Borobudur ini. Selanjutnya, tujuannya mau ke Bali sih katanya. Emanglah klo udah jiwa backpacker gitu…


Sekitar 1 km kami berjalan, akhirnya sampe juga di komplek Candi Borobudur. Sebelum masuk, beli tiket dulu ding. Untuk turis lokal cem kami ini, harganya 23 rebu. Klo untuk anak-anak sekolah yang datangnya rame-rame gitu kayaknya ada harga khusus deh, tapi aku lupa berapa pastinya. Karna kebetulan saat kami pergi tu emang lagi ada beberapa rombongan siswa sekolah yang mungkin berlibur ke borobudur. Klo untuk turis mancanegara? Beda lagi ding, $15 alias lima belas dolar. Wuih, klo dirupiahkan jadi sekitar 150 rebu juga tuh. Info ini aku dapatin dari si bulek tadi yang harus beli tiket di loket khusus bulek. “no problem, sekaligus membantu perekonomian warga setempat” katanya.


Wuuuaaaaa… akhirnya kesampean juga kami ke Candi Borobudur ini. Aku mau buru-buru naek, tapi upz.. rupanya udah ada peraturan baru. Semua tamu yang mau naik ke Candi Borobudur harus memakai semacam sarung yang bermotif batik gitu. Ih, seru juga ya klo gini, hehe… tenang aja, make sarung yang disediain itu gratis kok alias ngak dipungut biaya apapun. Bahkan klo mau, kita juga bisa didampingi ama guide yang siap memandu kita selama di candi nantinya. Kami memilih untuk tidak didampingi, ngitung-ngitung bisa lebih bebas moto2 agak narsis gitu dikit (ckckcckk.. kambuh juga ni penyakit lamanya :D).

Di Candi Borobudur, aku bertemu dengan rombongan siswa SMA Modal Bangsa, SMA ku dulu juga. Kebetulan mereka sedang ada study tour gitu. Setelah dari kampus UGM, mereka bakalan ke Bandung dan singgah di Candi Borrobudur ini terlebih dahulu. Kebetulannya lagi, salah seorang dari rombongan siswa-siswi SMA Modal Bangsa itu adalah adikku. Hihihi… wah, ketemu adik kok malah disini ya. Foto bareng dulu ah.. :D. (eh, jangan heran ya klo dia ngak mirip denganku, namanya aja kami beda jenis kelamin :p). Si Babe yang dulu satu SMA juga denganku aja hampir ngak percaya klo aku ketemu adikku disini. :))

with sister p 206x300 Mengejar Borobudur (catatan perjalanan Jogja&Solo #part2)

my sister and me

Setelah puas berkeliling dan foto-foto selama sejam, kami pun harus buru-buru cabut. Maklum aja, wejangan dari si bapak yang ketemu di terminal Jombor Jogja tadi menjadi acuan kami. Jangan sampe ngak ada bus lagi ntar. Jam 17.00 kami mulai keluar dari komplek Candi yang udah mulai tutup itu. Masalah shalat, alhamdulillah aku udah jama’ waktu di dhuhur tadi. Inilah kelebihannya musafir ding, diberi keringanan jama’ dan qasar asal perjalanan yang ditempuh tu bukan untuk maksiat. Bagi kalian yang sering atau pernah menjadi musafir, aku sarankan untuk mempraktekkan kemudahan jama’ dan qasar ini. Selain karena emang fasilitas ini udah disediain buat musafir, itung-itung juga sambilan praktek (ngamalin) ilmu shalat jama’/qasar. icon smile Mengejar Borobudur (catatan perjalanan Jogja&Solo #part2)

bareng bule gabung p 300x209 Mengejar Borobudur (catatan perjalanan Jogja&Solo #part2)

numpang foto ama turis (kami kan turis juga, turis lokal :p )

Dengan sedikit terburu-buru mengejar waktu (waktu kok dikejar :D), akhirnya kami sampai di terminal Borobudur, kembali dengan jalan kaki. Alhamdulillah, pas kali ada bus yang baru masuk. Langsung naek deh. Tak sampai setengah jam kemudian, bus pun melaju. Kali ini busnya tak ‘separah’ bus saat kami berangkat tadi. Kondisi bus lebih bagus dan melajunya agak nyaman dikit. Beberapa saat bus melaju, aku masih sempat melihat Candi Mendut yang berada persis di samping jalan tak begitu jauh juga dari Candi Borobudur.

mendut p 300x240 Mengejar Borobudur (catatan perjalanan Jogja&Solo #part2)

candi mendut

Di dalam bus, saat matahari mulai padam tenggelam, terlihat juga olehku Gunung Merapi yang sempat meletus beberapa waktu yang lalu itu wlopun kabut tebal masih sayup-sayup menutupinya. Bus terus saja melaju. Ah, akhirnya perjalanan ke Borobudur ini terkejar juga. icon smile Mengejar Borobudur (catatan perjalanan Jogja&Solo #part2)

continued to #part3

terkait : Teman Baru dari Pekan Baru (catatan perjalanan Jogja&Solo #part1)

You can leave a response, or trackback from your own site.

4 Responses to “Mengejar Borobudur (catatan perjalanan Jogja&Solo #part2)”

  1. ndee says:

    man jadda wa jadda,, he he he he.. man purpose, God dispose.. and finally? God in your side.. ;)

  2. suprayogi says:

    huaaa……… pengen ke sana lagi. kayana gak pernah bosan ngunjungi jigja dan sekitarnya, hawa ramah dan eksotisnya dapet. apalagi borobudur, i was ther when i was in 2nd grade of senior high school. Nah.. aku suka banget blognnya, karena curhatannya lengkap sambil ngasih tips juga…

Leave a Reply

Before you post, please prove you are sentient.

What color is a typical spring leaf?