Guratan Pena Zikra

tergurat agar dapat merekat erat

Archive for August 15th, 2011

Puisi ‘ur’ Ramadhan..

Bulan Ramadhan anugerah dari Yang Maha Ghafur.

Syawal di depan mulai membuatnya menghitung mundur.

Bilangan shaf-shaf di masjid mulai hilang tak terukur.

Kemanakah manusia yang dulu memenuhinya bahkan berhambur.?


Apakah amal yang ada mungkin sudah begitu full,

Sehingga kambing hitam dijatuhkan pada kata uzur,

Sekalian saja alasan-alasan itu dikumpul,

Biar jelas dan tak menjadi kabur.

Selesai sahur langsung tidur,

Shubuh di depan tak bisa ditegur,

Sampai waktu berbuka baru sudah tak kendur,

Semua menu dilahap tak terukur.

Read More…

Malam Minggu di Malioboro (catatan perjalanan Jogja&Solo #part3)

Setelah berhasil ‘berwisata’ ke Candi Borobudur, kami (aku dan si Babe) pun pulang kembali ke Jogja dengan menggunakan bus dari terminal borobudur ke terminal Jombor. Ongkosnya sama kayak pergi, yaitu 12 ribu per orang. Bus kali ini lebih ‘fit’ dari bus saat kami berangkat ke borobudur, namun tetap saja merasa kurang fresh, karena ada penumpang yang membawa burung dan ayam di dalam bus, hohoho… jangan sampe eek ya,,,,

Beberapa saat sebelum sampai ke terminal Jombor, di tengah-tengah capek yang belum kelar, aku mengajukan sebuah ide untuk menyambung perjalanan ke Malioboro. Memang sih malam pertama sampe ke Jogja aku sudah bertandang kesana, tapi malam itu rasanya ingin balik kesana, sekalian nyari beberapa oleh-oleh. Dengan berat nafas dan sedikit berat langkah (^^V) akhirnya si Babe mau juga diajak kesana, berangkaaaattt….. Nah, masalahnya lagi adalah cara mencapai kesana dengan angkutan umum, belum tau gimana. Jadinya tanya ama pak supir busnya deh.

Dari informasi singkat pak supir, kami disarankan naek trans Jogja aja dari terminal Jombor. Okey, thanks Pak. Langsung aja deh kami masuk ke shelter trans Jogja (hamper sama juga dengan bus Trans Jakarta a.k.a busway) dengan membeli karcis 4000/orang. Ternyata kami ngak sendiri ding, ada beberapa rombongan yang satu bus dari borobudur tadi yang juga mau ke Malioboro. Klop, kenalan dulu deh, hehe… hitung2 dapet kawan sesama ‘turis’ :).

Ternyata nunggu di shelter disini ngak sama kayak di shelter busway Jakarta. Kita harus nunggu dulu hingga ‘penumpangnya ada’, baru bus yang dah mulai mangkal jalan dan bersedia badan tubuhnya dimasuki manusia-manusia yang dah ngak da kerjaan ngelayap malam-malam gitu. Hehe.. lumayan lama juga nunggunya sih sebelum kami bisa masuk ke bus 2A yang rutenya melewati Malioboro. Bus yang lumayan penuh itu pun mulai menggoyang putarkan bannya meninggalkan terminal. Sebelum berhenti di salah satu shelter, seperti busway jakarta juga, akan ada pemberitahuan bahwa sebentar lagi akan sampai di shelter blablabla, bagi penumpang yang akan turun harap mengecek lagi barang-barangnya jangan sampai ada yang tertinggal. Bedanya, jika di Jakarta suara pemberitahuan itu muncul dari speaker yang udah terekam duluan hingga bisa diputar ulang sesuka hati, disini suara pemberitahuan itu langsung dari suara si mbak yang ngejaga pintu keluar-masuk bus. Glek, aku sempat berpikir sekaligus salut ama si mbaknya, seharian gitu sanggup teriak-teriak kata-kata yang lumayan panjang yang terkadangpun tak ada penumpang yang ambil perduli dan waktu udah kelewatan shelter baru deh protes-protes ndiri ngak tahu setengah diri. Salut deh ama si mbaknya. Inilah hidup bung, penuh perjuangan. Dan jika itu layak diperjuangkan, kenapa kamu masih duduk-duduk saja mengomel-ngomel atau berkeluh kesah ngak jelas. Inilah hidup bung, jika menurutmu itu patut diperjuangkan, maka berjuanglah untuk menggapainya.

Read More…