Guratan Pena Zikra

tergurat agar dapat merekat erat

Puisi ‘ur’ Ramadhan..

Bulan Ramadhan anugerah dari Yang Maha Ghafur.

Syawal di depan mulai membuatnya menghitung mundur.

Bilangan shaf-shaf di masjid mulai hilang tak terukur.

Kemanakah manusia yang dulu memenuhinya bahkan berhambur.?


Apakah amal yang ada mungkin sudah begitu full,

Sehingga kambing hitam dijatuhkan pada kata uzur,

Sekalian saja alasan-alasan itu dikumpul,

Biar jelas dan tak menjadi kabur.

Selesai sahur langsung tidur,

Shubuh di depan tak bisa ditegur,

Sampai waktu berbuka baru sudah tak kendur,

Semua menu dilahap tak terukur.


Alquran hanya terdiam di pojok lama terpekur,

Debunya mulai kian menyaingi tingginya bak ukur,

Tak pernah disentuh karna begitu sibuknya tidur,

Sangking sibuknya hingga waktu tak bisa diajak akur.

Hanya sms yang bisa membangunkan tidur,

Segera balas karna takut bakalan ada yang ‘gugur’,

Apalagi salah karna takut jujur, (?)

Cem bubuuurrr….

Sedekah, atau amalan lain tak pernah ditabur,

Alasan menunggu dulu bonus mengguyur,

Apakah sudah hilang rasa syukur,

Sehingga tak memikirkan apa yang dibawa nantinya di dalam kubur.

***

Akhir tahun yang lalu,

Berdoa dengan papanya meminta dipanjangkan umur,

Agar bertemu Ramadhan di satu berikutnya masa waktu,

Kini sedang dan masih bertemu akur,

Mari sedikit saja kita bertafakkur.

icon smile Puisi ‘ur’ Ramadhan..

dua 300x225 Puisi ‘ur’ Ramadhan..

You can leave a response, or trackback from your own site.

8 Responses to “Puisi ‘ur’ Ramadhan..”

  1. ismi laila wisudana says:

    haha… ur ur ur ur,, dah macam pantun jaman siti nurbaya dan jaman sutan takdir ali syahbana, hahah… but nice post :D

    • ahmadzikra says:

      hhahaha..kami kan emang angkatannya Balai Pustaka -_-‘

      eh, judul ini bukan sekedar ‘ur’ karena akhiran lho. klo kita baca tu kan jadinya :
      puisi your ramadhan = puisi ramadhanmu, apakah kayak puisi ini or ngak.. :)

      • ismi laila wisudana says:

        iya mi ngrti, eh bang gmn cara bikin reply bersmbng gini??

        • ahmadzikra says:

          tergantung theme sih. hampir semua theme ada ‘reply’ komen tersendiri. waktu mau kita balas komen tertentu, klik di ‘reply’ di bagian bawah komen.

          theme yg ngak da ‘reply’ secara lgsung biasanya bentuknya ter-code semacam @(nama). dan ber link. jd memang bukan di tulis a keongnya..

  2. ndee says:

    udah jarang saya dapetin puisi yang punya rima yang sama,, jadi abang adalah salah satu mahluk yang langka,, hihihi

  3. arnissilvia says:

    menohok sekali bang.. sebuah puisi untuk introspeksi :D

Leave a Reply

Before you post, please prove you are sentient.

What is 8 multiplied by 8?