Guratan Pena Zikra

tergurat agar dapat merekat erat

Puisi Maaf (Idul Fitri)

Hmm…

Aku tak tahu harus darimana memulainya,

Harusnya yang selalu ada adalah ‘maaf’ untuk kesekian kalinya,

Dan hal itu takkan pernah bosan tuk kuucapkan,

Bagai mereka di tengah gersang yang mengharapkan hujan.

***

Seperti biasa,

Aku menenggelamkan diri dalam lamunan bayang,

Mengayuhkan diri kembali dalam suatu masa,

Instrospeksi terhadap apa saja yang pernah terkenang,

Apa yang sering kudapat?

Selalu saja timbangan yang selalu kurang,

Tak pernah bertambah walau satu saat,

Namun hal itu terus membangkitkanku untuk terus menjadi pejuang.

Dan dengan terus berupaya belajar,

Segala hal yang kurang kujadikan saja pengalaman,

Atau terkadang saat ku tak kuat lagi untuk tegar,

Aku berupaya sadar, aku ini manusia yang punya Tuhan,


Ada kalanya kucoba membalikkan arah pandangan,

Mungkin ada dudukan yang menyebabkan tak seimbang,

Sehingga aku menjadi tahu di saat kemudian,

Di sisi mana yang harus kuat aku berpegang,

**

Namun kali ini,

Kurasa ada yang lain dalam satu titik masa,

Kenapa ada hal yang kurang sudah kudapat alasannya,

Dan sudah kumasukkan dalam catatan pustaka,

Bahwa aku tak boleh sekali-kali mengulanginya.

Ya, walaupun alasanku adalah kenapa aku begitu lugu,

Yang tak paham akan segala laku,

Bahkan dalam kala masa di waktu itu,

Aku seakan terus saja larut dalam skenario ambigu.

Sengaja?

Tak harus kukata apa,

Skenario itu belum pernah kudapat sebelumnya,

Bahkan jika boleh aku berujar kata,

Aku tak pernah terlibat ke dalamnya walau sekejap saja.

**

Aku lalai melihat bayang,

Introspeksi terhadap timbangan.

Dalam gelap, siapa tau orang berkubang,

Cemberut saat terik menerjang,

Atau tangis yang turun di kala hujan.

Dan karena aku tidak dalam lamunan bayang

Agar tampak jelas apa yang pernah terkenang,

Aku tak bisa melihat dalam gelap, terik, maupun hujan,

Dan berawal dari situlah timbul kesalahan.

***

Maaf,

Dan kata itu rasanya akan terus kuucapkan.

Walau ‘Tak apa’ sudah kudapat dari lisan,

Tapi bekas kesalahan tetap saja kurasakan.

Disaat orang lain bersalah,

Maafku sudah muncul duluan.

Karna ku juga terbiasa lelah, kalah, hingga menyebabkan salah,

Hingga walaupun maaf yang lain itu belum melewati lisan,

Aku sudah menyimpan banyak maaf dalam hati dan otak pikiran.

= = = =

taqabbalahhuminna wa minkum. mohon maaf lahir dan batin. selamat hari Raya Idul Fitri 1432 H.

icon smile Puisi Maaf (Idul Fitri)

You can leave a response, or trackback from your own site.

6 Responses to “Puisi Maaf (Idul Fitri)”

  1. arnis.silvia says:

    Aku lalai melihat bayang,
    Introspeksi terhadap timbangan.
    Dalam gelap, siapa tau orang berkubang,
    Cemberut saat terik menerjang,
    Atau tangis yang turun di kala hujan.

    Paling suka bait yang itu..

    For every mistake that I made, I’m sorry too :D

  2. Ditta.w.Utami says:

    hihihi… sama kayak mba arnis ^^

    bait yg itu keren banggedds b^^d

    maFin Ditta juga mas :)

  3. tristyantoprabowo says:

    mohon maaf lahir batin juga ya……. sajaknya oke bgt….. penyair Aceh memang oke punya :)

Leave a Reply

Before you post, please prove you are sentient.

What is 7 * 9?