Guratan Pena Zikra

tergurat agar dapat merekat erat

Rumoh Aceh, Kearifan Lokal yang Perlu Dipertahankan

Lain lubuk lain pula ikannya. Beda daerah beda pula keunikan yang tersimpan di dalamnya. Keberagaman serta keunikan yang ada mencakup banyak aspek. Salah satunya adalah bangunan rumah khas daerah. Aceh sendiri juga mempunyai rumah adat khas yang disebut dengan ‘Rumoh Aceh’.

 Rumoh Aceh, Kearifan Lokal yang Perlu Dipertahankan

Rumoh Aceh

Rumoh Aceh sendiri mempunyai beberapa bagian :


1. Seuramou-keu (serambi depan) , yakni ruangan yang berfungsi untuk menerima tamu laki-laki, dan terletak di bagian depan rumah. Ruangan ini juga sekaligus menjadi tempat tidur dan tempat makan tamu laki-laki.

2. Seuramou-likoot (serambi belakang), fungsi utama ruangan ini adalah untuk menerima tamu perempuan. Letaknya di bagian belakang rumah. Seperti serambi depan, serambi ini juga bisa sekaligus menjadi tempat tidur dan ruang makan tamu perempuan.

3. Rumoh-Inong (rumah induk), letak ruangan ini di antara serambi depan dan serambi belakang. Posisinya lebih tinggi dibanding kedua serambi tersebut. Rumah induk ini terbagi menjadi dua kamar. Keduanya dipisahkan gang atau disebut juga rambat yang menghubungkan serambi depan dan serambi belakang.

4. Rumoh-dapu (dapur), biasanya letak dapur berdekatan atau tersambung dengan serambi belakang. Lantai dapur sedikit lebih rendah dibanding lantai serambi belakang.

5. Seulasa (teras), teras rumah terletak di bagian paling depan. Teras menempel dengan serambi depan.

6. Kroong-padee (lumbung padi), berada terpisah dari bangunan utama, tapi masih berada di pekarangan rumah. Letaknya bisa di belakang, samping, atau bahkan di depan rumah.

7. Keupaleh (gerbang), sebenarnya ini tidak termasuk ciri umum karena yang menggunakan gerbang pada umumnya rumah orang kaya atau tokoh masyarakat. Gerbang itu terbuat dari kayu dan di atasnya dipayungi bilik.

8. Tameeh (tiang), kekuatan tiang merupakan tumpuan utama rumah tradisional ini. Tiang berbentuk kayu bulat dengan diameter 20-35 cm setinggi 150-170 cm itu bisa berjumlah 16, 20, 24, atau 28 batang. Keberadaan tiang-tiang ini memudahkan proses pemindahan rumah tanpa harus membongkarnya.

Nah, yang menarik perhatian saya disini adalah ‘Rumoh Aceh’ yang bentuknya itu berupa rumah panggung. Salah satu alasan atau manfaat dari rumah berbentuk panggung ini sebenarnya adalah untuk mengantisipasi saat terjadinya banjir. ya, tentu saja di luar fungsi lainnya seperti agar terhindar dari binatang buas semacam harimau. Untuk sekedar pengetahuan, Aceh merupakan daerah yang mempunyai cukup banyak sungai, apakah itu besar maupun kecil. Di zaman kesultanan dulu bahkan sungai ini dijadikan alat transportasi, maka rumah-rumah yang dibangun pun secara sendirinya berdekatan dengan sungai.

Sesuai prinsip sungai itu sendiri, adakala airnya banyak dan sedikit, atau dalam bahasa hidrotekniknya adalah debitnya itu berbeda-beda. Adakalanya debit menjadi sangat besar karena pengaruh hujan yang terjadi intensitasnya tinggi sehingga menyebabkan terjadinya banjir. Kejadian alam semacam ini sebenarnya sudah merupakan kerutinan. Oleh karena itu, masyarakat Aceh zaman dahulu membangun ‘Rumoh Aceh’. Rumoh Aceh ini tersendiri menjadi aman terhadap banjir, jadi barang-barang yang ada di dalamnya bisa selamat saat banjir terjadi (selain banjir bandang juga tentunya icon smile Rumoh Aceh, Kearifan Lokal yang Perlu Dipertahankan ).

Pada saat sekarang Rumoh Aceh ternyata merupakan konstruksi yang tahan gempa juga. Dan belajar dari kejadian tsunami yang menimpa Pesisir Aceh tanggal 26 Desember 2004, konstruksi jenis ini cukup bekerja, apalagi dengan sedikit inovasi tambahan. Salah satu bentuknya adalah membangun rumah beton yang berbentuk Rumah panggung. Rumah-rumah seperti ini dapat kita jumpai di sekitar kawasan Ulee Lheue Kota Banda Aceh.

 rmh ulee lheue 300x205 Rumoh Aceh, Kearifan Lokal yang Perlu Dipertahankan

Rumah semi-beton Berbentuk Panggung

Konstruksi panggung seperti ini, apabila suatu saat terjadi bencana tsunami (mudah-mudahan tidak terjadi lagi) yang ketinggian airnya tidak begitu tinggi, dapat terus mengalir diantara sela-sela tiang rumah. Ketiadaan hambatan terhadap air yang mengalir, menjadikan gaya yang bekerja terhadapa rumah menjadi kecil dan kemungkinan rumah untuk selamat menjadi semakin besar.


Namun ada hal yang sedikit disayangkan apabila pada kenyataannya bagian tiang bawah rumah itu malah dijadikan bagian ruangan dari rumah juga, alasannya sih ‘mubazir’. Kenyataannya, dengan begitu akan mengakibatkan hambatan yang terjadi menjadi semakin besar dan dapat berefek buruk terhadap bangunan.

 rmh ulee lheue32 300x230 Rumoh Aceh, Kearifan Lokal yang Perlu Dipertahankan

Bagian Bawah Rumah 'panggung' yang Digunakan Untuk Ruangan

Hal menarik lainnya adalah dibangunnya sebuah Museum Tsunami yang berkonsepkan Rumoh Aceh. Museum dengan arsitektur modern ini masih mempertahankan konsep ‘rumah panggung’ Aceh.

 Rumoh Aceh, Kearifan Lokal yang Perlu Dipertahankan

Museum Tsunami Aceh

Bangunan seperti ini yang merupakan kearifan lokal dari masayarakat Aceh hendaknya dapat dipertahankan, minimal sih konsepnya saja. Bila pun harus membangun dengan konsep modern dan mewah, hal-hal yang dianggap kecil yang bermanfaat dapat kita terapkan. Budaya-budaya yang menjadi kearifan lokal itu bukanlah hal yang ketinggalan zaman. Namun sebuah budaya yang harus kita apresiasi dan terus kita kembangkan.

You can leave a response, or trackback from your own site.

14 Responses to “Rumoh Aceh, Kearifan Lokal yang Perlu Dipertahankan”

  1. arnis.silvia says:

    Mantap kali bang.. Jadi kangen aceh, hiks.

  2. gemakusumaputri says:

    aceh aceh aceh, kenapa sih yaa jauh diujung sana
    jadi susah kalo mau kesananya :D

    • ahmadzikra says:

      hai gema….
      wah, ngak jauh kok sebenarnya. tinggal beli tiket pesawat, cuma sekitar 3 jam kok dari jakarta. mari2 kesini… :)

  3. tristyantoprabowo says:

    rumah adat Aceh kayak gitu ya… baru tahu hoho……kalo daerah Sumatera selalu rumah panggung ya? ternyata arena sering kena banjir aku kira untuk menghindari harimau Sumatera hehe…. mau tahu kayak gimana rumah adat Kudus? baca di sini ya hehe…

    • ahmadzikra says:

      hampir semua sih mas. fungsi rumah panggung untuk menghindari binatang buas semacam harimau juga sih. namun di tulisan zik di atas, membahas salah satu fungsi lainnya mengenai terhindar dari banjir dan aplikasinya sekarang ini.
      :)

  4. Ika rezvani says:

    Luar biasa…..Rumoh aceh…. memang sebuah hasil kebudayaan yang luar biasa…. tapi masih banyak kearifan lokal yang bisa kita teliti dari rumah aceh….. seperti bentuk pintunya yang sedikit lebih rendah dimana setiap tamu yang masuk ke rumah aceh harus sedikit merendahkan badannya biar ga kejdot hehhehehhehe, yang bermakna setiap tamu yang datang harus menghormati sang empunya rumah….dan masih banyak lagi :)

    • ahmadzikra says:

      wah, banyak ya. wlopun pintunya kecil sehingga kita harus merendah saat mmasukinya, ternyata ruang tamu di dalamnya itu luas. artinya kita disambut dengan baik sebagai tamu..
      :)

  5. Alfonsus D. Johannes says:

    wah.. museum nya keren…

    aku dari teknik sipil seneng juga liat konsep2 kearifan arsitektur lokal gini…

    kalo boleh tau, Rumoh Aceh itu umumnya dr kayu atau dr bambu ya..?

    konsep tata ruangnya juga simple :)

    • ahmadzikra says:

      wah, dari teknik sipil ya? kebetulan zikra juga dari teknik sipil spesialisasi bidang hidro.
      klo rumoh Aceh asli, strukturnya dari kayu. dan hampir sama juga dengan konsep rumah adat lainnya, ikatan antar ‘kolom’ dan ‘baloknya’ tidak menggunakan pengikat seperti paku. hanya tali dan pasak.
      :)

      • Alfonsus D. Johannes says:

        wah.. kebetulan banget sama2 teknik sipil..

        aku kmaren ambil manajemen tapi.. ehehhe…

        oo dri kayuu…

        wah keren juga tuh klasik banget pake tali n pasak aja.. hehe..

        smoga tetep banyak rumoh acehnya, bagus juga Museum Tsunami mengadaptasi filosofi Rumoh Aceh :)

  6. ahmadzikra says:

    terima kasih Bang Ketikanjari atas masukannya. :)
    iya bang, apalagi dulu masih lumayan banyak tu rumah aceh asli. klo sekarang kan hanya tinggal beberapa saja…

Leave a Reply

Before you post, please prove you are sentient.

What is 6 multiplied by 4?