Guratan Pena Zikra

tergurat agar dapat merekat erat

Archive for August, 2012

Lhok Mata Ie, Alternatif Wisata Hiking, Snorkeling, dan Memancing

Bila anda seorang pekerja, refreshing itu menjadi suatu hal yang penting. Namun keseringan yang terjadi adalah ketiadaan waktu yang cukup untuk melakukan kegiatan yang sifatnya refreshing. Refreshing dapat menyegarkan kembali pola pikir kita yang selama hampir seminggu penuh bergulat dengan tugas masing-masing. Refreshing dapat berupa sekedar melakukan hobi atau melakukan sebuah perjalanan/traveling untuk mencari suasana baru.

Jika terbatas waktu, perjalanan yang dilakukan tak harus jauh. Banyak kawasan yang bisa menjadi alternatif untuk sekedar mengusir penat. Bagi masyarakat Banda Aceh dan Aceh Besar serta sekitarnya, Lhok Mata Ie bisa menjadi pilihan yang bagus.

Lhok Mata Ie berada di kawasan Ujung Pancu, daerah paling barat Pulau Sumatera dan secara teoritis masuk dalam kawasan Kabupaten Aceh Besar. Aksesnya sendiri termasuk mudah, berjarak lebih kurang 13 km dari pusat kota Banda Aceh, kawasan ini bisa ditempuh dengan mobil, sepeda motor, bahkan sepeda. Untuk mencapai pantai Lhok Mata Ie ini kita harus melanjutkan dengan mendaki menyeberangi bukit.

Untuk perjalanan ini, saya bersama teman-teman menggunakan sepeda. Bersepeda dari pusat kota Banda Aceh, kemudian menuju ke arah Ulee Lheu. Di persimpangan Ulee Lheu di depan masjid Baiturrahim, belok ke kiri menuju arah Peukan Bada. Setelah melalui restoran Banda Seafood, berbelok ke kanan melewati jembatan Kuala Cangkoi. Dari sini rutenya lurus hingga memasuki kawasan Desa Lambadeuk dan Lampageu. Hampir sepanjang jalan yag dilalui berada di dekat pantai.

Read More…

Mengejar Borobudur

Tugas pelatihan dua hariku di Solo sudah berakhir, saatnya kembali pulang ke Aceh. Tiket pesawat yang sebelumnya sudah dipesan tidak berangkat dari bandara Adi Sumarmo Solo, melainkan berangkat dari Bandara Adi Sutjipto Yogyakarta. Hal ini karna jadwal penerbangan dari Solo bila dikalkulasikan, aku diharuskan menginap dulu di Bandara Soekarno Hatta Jakarta nantinya. Tidak ada penerbangan lanjutan yang jadwalnya pas menuju ke Banda Aceh. Jadi, aku akan menuju Jogja terlebih dahulu.

Malam sebelum kembali ke Jogja, aku mencari referensi di Google tempat mana yang bisa kukunjungi untuk mengisi kekosongan esok hari. sisa waktu dari perjalananku ini harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Aku mencari tempat-tempat menarik yang mudah dijangkau. Semula pilihanku jatuh untuk singgah di Candi Prambanan karna jaraknya yang dekat dengan jalan Solo – Jogja. Rencanapun disusun, Plan A akan meminta pak supir travel nantinya untuk singgah sejenak, hitung-hitung kalau diminta penambahan ongkos dikit tak apa lah. Bila itu tidak bisa terlaksana maka akan ada Plan B yaitu beralih ke Candi Borobudur.

Keesokan pagi harinya plan A tersebut batal karna melihat situasi mobil travel yang penuh dan terlihat beberapa penumpangnya sedikit buru-buru, termasuk salah satu yang duduk disampingku, seorang fresh graduate yang akan mengikuti job fair di kampus UGM. Beralih ke plan B, dari Solo menuju ke Candi Borobudur bisa ditempuh dalam waktu 2 jam. Namun masalahnya adalah aku sudah berada di dalam mobil yang menuju ke Jojga, hadeuu… penyusunan rencana yang salah menurutku. Namun, niat perjalanan itu belumlah sirna, biarlah dulu mobil ini melaju membawaku ke Jogja, rencana-rencana lainnya terus berputar-putar di sepanjang perjalanan Solo – Jogja. Toh perjalanan itu juga harus punya rencana matang, walaupun seringkali nantinya kita mengamalkan azas ‘insidentil’ dan harus bergerak sesuai pengalaman ketika aplikasi yang terjadi tidak sesuai benar dengan rencana yang kita buat.

Read More…

Bike to Zero Kilometer of Indonesia

Siapa bilang Sabang cuma menawarkan keindahan pemandangan bawah laut doank? Wisata sepeda ternyata asik juga lho, ngak percaya? simak aja dah ni liputannya…

1 back 150x150 Bike to Zero Kilometer of IndonesiaPulau Weh atau lebih banyak orang mengenalnya dengan Sabang adalah salah satu pulau yang berada di ujung paling barat Indonesia. Pulau ini dikelilingi oleh Selat Malaka di Utara, Samudera Hindia di Selatan, Selat Malaka di Timur dan Samudera Hindia di Barat. Akses ke pulau ini bisa dilalui dengan transportasi laut dari Pelabuhan Ulee Lheu Banda Aceh. Untuk akses udara sendiri, Bandara Maimun Saleh yang berada di Sabang hanya diperuntukkan untuk kepentingan militer. Jadi ya, mau ngak mau kalau ke sabang musti naik kapal.

Bagi anda yang berada di luar Aceh, aksesnya bisa melalui pesawat udara ke Bandara Sultan Iskandar Muda (Garuda Indonesia, Lion Air, Sriwijaya Air, Batavia Air, Air Asia, Fire Fly). Tiba di bandara, bisa dilanjutkan dengan naik taksi ke pelabuhan Ulee Lheu Banda Aceh, ongkosnya biasanya 100 ribu dengan waktu tempuh sekitar 45 menit. Kalau mau lebih hemat, bisa menggunakan jasa damri yang ongkosnya 15 ribu menuju ke pusat kota (dekat Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh), kemudian dilanjutkan dengan naik labi-labi (sudako/angkot) ke Ulee Lheu dengan biaya Rp 3.000 per orang. Tapi harus diingat, damri yang tersedia di bandara cuma satu..! kalau mau lebih hemat lagi, ada baiknya meminta saudara atau kenalan anda yang berada di Banda Aceh untuk menjemput, hehehe…

Read More…