Guratan Pena Zikra

tergurat agar dapat merekat erat

Bike to Zero Kilometer of Indonesia

Siapa bilang Sabang cuma menawarkan keindahan pemandangan bawah laut doank? Wisata sepeda ternyata asik juga lho, ngak percaya? simak aja dah ni liputannya…

1 back 150x150 Bike to Zero Kilometer of IndonesiaPulau Weh atau lebih banyak orang mengenalnya dengan Sabang adalah salah satu pulau yang berada di ujung paling barat Indonesia. Pulau ini dikelilingi oleh Selat Malaka di Utara, Samudera Hindia di Selatan, Selat Malaka di Timur dan Samudera Hindia di Barat. Akses ke pulau ini bisa dilalui dengan transportasi laut dari Pelabuhan Ulee Lheu Banda Aceh. Untuk akses udara sendiri, Bandara Maimun Saleh yang berada di Sabang hanya diperuntukkan untuk kepentingan militer. Jadi ya, mau ngak mau kalau ke sabang musti naik kapal.

Bagi anda yang berada di luar Aceh, aksesnya bisa melalui pesawat udara ke Bandara Sultan Iskandar Muda (Garuda Indonesia, Lion Air, Sriwijaya Air, Batavia Air, Air Asia, Fire Fly). Tiba di bandara, bisa dilanjutkan dengan naik taksi ke pelabuhan Ulee Lheu Banda Aceh, ongkosnya biasanya 100 ribu dengan waktu tempuh sekitar 45 menit. Kalau mau lebih hemat, bisa menggunakan jasa damri yang ongkosnya 15 ribu menuju ke pusat kota (dekat Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh), kemudian dilanjutkan dengan naik labi-labi (sudako/angkot) ke Ulee Lheu dengan biaya Rp 3.000 per orang. Tapi harus diingat, damri yang tersedia di bandara cuma satu..! kalau mau lebih hemat lagi, ada baiknya meminta saudara atau kenalan anda yang berada di Banda Aceh untuk menjemput, hehehe…

Ada 2 jenis kapal yang bisa ditumpangi, kapal cepat dan kapal fery. Masyarakat sekitar lebih familiar dengan sebutan kapal cepat dan kapal lambat. Untuk kapal cepat yang menempuh waktu 45 menit menuju Balohan Sabang, terdapat 2 armada yang melayani yaitu Kapal Pulo Rondo dan Express Bahari. Tarif untuk kapal Pulo Rondo yang biasanya berlayar pukul 9.30 WIB dari Ulee Lheu ke Balohan adalah : Ekonomi Dewasa Rp 60.000, Bisnis Dewasa Rp 75.000, dan VIP Dewasa Rp 85.000. sedangkan Kapal Express Bahari yang berlayar pukul 16.00 WIB tarifnya Ekonomi Dewasa Rp 55.000, Eksekutif Dewasa Rp 65.000, dan VIP Dewasa Rp 85.000.

3 tiket masuk 300x225 Bike to Zero Kilometer of Indonesia

tiket kapal fery ke sabang

Bagi anda yang membawa kendaraan pribadi, tidak ada pilihan lain kecuali naik kapal lambat (kapal ferry KMP BRR). Kapal ini berlayar sekali dalam sehari kecuali untuk hari sabtu dan minggu (2 kali). Khusus untuk hari-hari libur biasanya pelayaran bisa bertambah hingga 3 kali sehari. (ngak kebayang tu kan, berapa banyak orang yang ke sabang, 1 trip aja bisa mengangkut 300 orang). Waktu tempuh kapal lambat ini ke Pelabuhan Balohan Sabang adalah 2 jam. Untuk dewasa, harga tiketnya Rp. 17.000,- dan akan dikenakan biaya tambahan bila kita membawa kendaraan. Untuk mobil Rp 155.000, Motor Roda Tiga  Rp 73.000, Sepeda Motor Rp 21.000, dan Sepeda Rp 8.500.

**

Perjalanan kami kali ini sedikit berbeda, Pengunjung yang datang ke sabang biasanya membawa motor atau mobil sebagai alat transportasi. Ada juga yang memilih menggunakan jasa kendaraan bermotor dengan menyewa ketika berada di Sabang. Nah, kali ini kami berangkat ke Sabang dengan menggunakan sepeda. Bersama teman-teman dari Atjeh Bicycle Community dan Smiling, kami berencana bersepeda menuju nol kilometer Indonesia.

Kamis 17 Mei 2012 yang bertepatan dengan hari libur nasional kami manfaatkan untuk merealisasikan rencana bike to 0 km ini. Untuk pekerja (kantoran atau lapangan), waktu libur seperti ini sungguh sayang untuk dilewatkan. Kan ngak mungkin donk ya melakukan perjalanan di hari kerja. (jadi ingat kata-katanya mbak Trinity Traveler, waktu terbaik dalam hidup untuk melakukan perjalanan/traveling itu ya waktu jadi mahasiswa. Kalau udah kerja, ada uang ngak ada waktu. Hehe..). awalnya kami lebih memilih berangkat pagi dari Banda Aceh, namun karna cuaca pada hari itu gelombangnya sedikit besar jadi pelayaran hanya dilakukan sekali. Mau ngak mau kami akhirnya berangkat pukul 12.15 WIB. Sebagai info, walaupun trip kapal di hari libur atau sabtu minggu itu 2 kali sehari, kalau cuacanya kurang kondusif trip kapal akan dikurangi atau bahkan bisa tidak ada sama sekali. Hal itu demi keselamatan penumpang juga. Salah satu contohnya adalah ketika kami berangkat ini, trip yang harusnya 2 kali dikurangi menjadi sekali dengan waktu berangkat yang disesuaikan dengan kondisi cuaca.

Sampai di pelabuhan, hampir saja kami ketinggalan kapal. Jadwal yang seharusnya pukul 14.00 WIB dimajukan menjadi 12.30 WIB. Pintu masuk kendaraan ke kapal sudah ditutup, hanya beberapa penumpang yang tak membawa kendaraan yang dibolehkan masuk. Jadi, apakah ceritanya akan berakhir disini? icon biggrin Bike to Zero Kilometer of Indonesia

Alhamdulillah ternyata kami masih diizinkan masuk. Ya karna kami membawa kendaraan sepeda yang bisa diangkat ke deck atas. Kalau di bawah pada penuh semua. Coba liat ni :

4 vert 199x300 Bike to Zero Kilometer of Indonesia

kapal biasanya penuh, apalagi saat libur

untuk merasakan sensasi berbeda, coba menggunakan kapal sore (baik itu dari arah Ulee Lheu atau Balohan). dikawasan sepertiga jarak mendekati dari Balohan, biasanya kita akan disambut dengan rombongan lumba-lumba yang melintas. saya pribadi telah 3 kali ke Sabang dan ketiga perjalanan tersebut berhasil melihat rombongan lumba-lumba yang melompat kesana kemari mengiringi kapal. jika jeli kita juga bisa melihat ikan terbang di sepanjang pelayaran menuju Sabang.

lumba lumba 300x200 Bike to Zero Kilometer of Indonesia

rombongan lumba-lumba yang berhasil dijepret

Sampai di pelabuhan Balohan Sabang, kami shalat dan istirahat sebentar. Tidak susah menemukan mushalla/tempat shalat disini, tapi kalau air untuk wudhu tidak ada, terdapat masjid yang tak jauh dari pelabuhan kok :). Perjalanan sesungguhnya kamipun dimulai dari sini. Kami harus melewati 2,4 km tanjakan yang bisa mencapai kemiringan 30 derjat. Wah-wah… kalo udah gini, ngos-ngosanpun tak terhindari. Kayuh-kayuh bergembira… bergembira kita semua… hahay…

6 tanjakan 1 300x225 Bike to Zero Kilometer of Indonesia

tanjakan setelah keluar dari pelabuhan

6 tanjakan 2 300x225 Bike to Zero Kilometer of Indonesia

tanjakan setelah keluar dari pelabuhan

6 tanjakan 3 300x225 Bike to Zero Kilometer of Indonesia

tanjakan setelah keluar dari pelabuhan

7 tanjakan 4 1023x563 Bike to Zero Kilometer of Indonesia

pelabuhan ada dibawah sana, dan puncak tanjakannya ada disini

Perjalanan yang berjarak sekitar 11 km menuju kota Sabang ini pun tak terasa begitu lelah karena pemandangan indah yang ada di sepanjang jalan. berhenti dan foto-foto menjadi kegiatan yang tak terhindarkan. Walaupun ini bukanlah perjalanan pertama ke sabang, namun tetap saja pemandangannya tak membosankan. Selalu ada keindahan lain disana :). Roda sepeda terus berputar, sejenak kami singgah di jalan perdagangan yang terkenal dengan kulinernya untuk santap siang. masih sedikit toko yang buka di siang hari. namanya juga SaBang= santai banget, aktivitas masyarakat disini mulai ramai seputaran jam 5 sore, hahaha…kalau  nongkrong malam hari disini kita juga bisa menikmati sate gurita lho. perut terisi, gowes berlanjut hingga kami mendapatkan sunset di kawasan Sabang Hill ini.

10 kuliner 300x225 Bike to Zero Kilometer of Indonesia

makan mie di jalan perdagangan

11 sunset 300x225 Bike to Zero Kilometer of Indonesia

sunset di Sabang Hill

Penginapan di Sabang tidaklah susah, dari harga 40-an ribu sampe ratusan ribu juga ada, tergantung budget masing-masing. Dari di kota sabangnya sampe ke kawasan pantai seperti Sumur Tiga dan Iboih pun ada. Bahkan ada beberapa penginapan yang bisa dibooking secara online. Jadi ngak perlu susah dan khawatir terlantar disana… untuk perjalanan kali ini kami menginap di rumah salah seorang teman yang berada di kawasan Ie Meulee, jadi biaya penginapan udah zero alias gratis, makin semangat jadinya ini kalo dah dengar ‘zero’ gitu. Ckckck.. itulah salah satu gunanya banyak teman, selalu saja ada hal positif dari silaturrahim :).

Malam pertama di sabang dalam perjalanan kali ini lebih banyak kami habiskan di warung kopi. Dasar udah kebiasaan nongkrong di Banda Aceh, di sabang pun demikian. Kami menghabiskan waktu makan malam di café ACI RASA yang berada di kawasan jalan Malahayati, tepat di depan gudang pelabuhan lama. hal yang menarik di café ini adalah adanya ‘bioskop kecil’ (menggunakan infokus) yang diputar disana. Hahay.. yang penting ngak mati gaya. Oiya, di café ini juga ada wifi gratis lho… jadi jangan khawatir klo terputus hubungan dari dunia luar, mau tetap eksis-eksisan masih bisa teteup..

Jumat 18 Mei 2012. Berhubung hari jumat (bagi umat muslim ada pelaksanaan shalat jumat di hari ini), jadi waktu yang ada cukup terbatas. Paginya kami menghabiskan waktu bersepeda ke arah Anoi Itam. Jalan di Sabang pada umumnya berkarakteristik naik turun, termasuk menuju ke Anoi Itam ini. Menuju kesana, kami melalui pemandangan pantai Sumur Tiga, perbukitan, hingga akhirnya sampai ke benteng peninggalan Jepang. Wuiih… dari sini kita bahkan bisa melihat dengan jelas Gunung Seulawah yang berada di Aceh Besar, di seberang pulau sana. Ngak kebayang ya, klo zaman perang dulu tu bagaimana berperannya benteng ini. Berada di benteng ini bisa memantau kalau ada yang tiba-tiba menyerang lewat laut. Kondisi benteng Jepang di Anoi Itam ini masih cukup baik, walaupun banyak tangan-tangan jahil yang ‘meninggalkan jejak’ dengan coretan-coretannya. Sebenarnya banyak benteng yang berada di Sabang, maka ngak heran kalo Sabang juga dijuluki juga sebagai Kota Seribu Benteng. Benteng-benteng yang dibangun antara tahun 1942 dan 1945  itu dulunya saling terhubung dengan terowongan. Sekarang terowongan-terowongan tersebut sudah ditutup karna alasan keamanan. Sebagai info, katanya tu benteng-benteng peninggalan Jepang ini sering dikunjungi sama hantu-hantu Jepang lho. Ih, sereeeemmmm…..

12 benteng 3 300x225 Bike to Zero Kilometer of Indonesia

dari atas benteng kita bisa melihat Gunung Seulawah

12 horz 300x200 Bike to Zero Kilometer of Indonesia

benteng jepang dan meriamnya

12 horz 2 300x200 Bike to Zero Kilometer of Indonesia

pemandangan dari atas dan bawah benteng Jepang di Anoi Itam

Hari mulai beranjak siang, kayuhan sepeda pun kembali mengarah ke rumah tempat kami menginap, siap-siap untuk shalat Jumat. Kami shalat Jumat di Masjid Raya Sabang, dan setelahnya bersiap-siap menuju ke arah nol kilometer. Wah, perjalanan segera dilaksanakan ya? Belum, kali ini kami survey. Bukankah dalam perjalanan, survey itu penting?

Kegiatan yang berhubungan dengan laut, apakah itu melaut bagi nelayan, memancing, bahkan mandi di laut pun tidak boleh dilakukan pada hari jumat. Ini sudah menjadi ketentuan adat di kawasan Aceh termasuk Sabang ini. Hal ini perlu diketahui bagi anda yang ingin melakukan perjalanan ke Sabang jika memilih hari jumat sebagai waktu destinasi. Namun tidak usah terlalu khawatir juga, pembatasan kegiatan di pantai/laut ini berlaku sampe waktu pelaksanaan shalat jumat saja, setelahnya menjadi seperti biasa kembali. Maka setelah pelaksanaan shalat jumat dan makan siang, kami menuju ke tugu nol kilometer yang berada 29 km dari kota sabang. Perjalanan ini dilakukan dengan mobil sambil melakukan survey lintasan yang akan dilalui esok harinya. Wuidiiihh… ngeri juga ni liat rutenya. Sepanjang jalan menuju kilometer nol naik turun dan berkelok-kelok. ^_^

Bike to zero kilometer

Perjalanan 29 km yang bakalan ditempuh menuju nol kilometer tentunya harus dipersiapkan dengan matang, mulai dari persiapan sepeda sampai bekal untuk kesana. Hal yang utama adalah air minum. Sedikit kios yang ada di sepanjang jalan menuju kesana. Bagi anda yang melakukan perjalanan dengan kendaraan bermotor pun, sebaiknya juga mengikuti tips ini, jangan sungkan-sungkan untuk membeli minuman atau makanan ringan dalam jumlah banyak. Bisa jadi tidak ada tempat membeli lagi nantinya :).

Cek ulang sepeda, ready. Kelengkapan : ban dalam, pompa kecil, kunci, safety tools, minuman, snack, lampu (siap-siap klo pulang malam), camera (ini ngak boleh lupa :D) dan jangan gengsi untuk menggunakan sunblock, karna cuaca bisa lumayan panas saat siangnya. Okesip.

Malam sebelum misi bike to zero kilometer ini dilakukan, 3 personel membatalkan keikutsertaan dan harus kembali ke Banda Aceh karna alasan pekerjaan. Namun hal itu tidak mengurangi semangat kami berempat yang tersisa, apalagi misi ini menghadirkan warna tersendiri karna 3 atlet sepeda junior binaan pemkot Sabang akan ikut bersama kami. Janjian bertemu di depan Masjid Raya Sabang, kami pun memulai misi pada pukul 7.30 WIB. So, here we are..

13 mulai 300x225 Bike to Zero Kilometer of Indonesia

kami berempat bersama 3 atlet junior binaan sabang memulai perjalanan

Keluar dari kawasan kota Sabang yang berkelok-kelok dan turunan, kami langsung disambut dengan tanjakan pertama yang cukup terjal. Kebetulan disamping tanjakan tersebut berada sebuah kios yang sedang cukup ramai orang. Kami pun mendadak jadi point of view dengan sorak-sorakan dari orang yang berada di kios. Ada yang memberi semangat ada juga yang bernada sinis, “paling mereka Cuma sanggup beberapa tanjakan, kemudian pasti langsung balik”. Waaaa…. Ada gunanya juga perkataan sinis itu, jadi makin semangat malah gowesnya. Nafas ngos-ngosan, jantung mulai dag dig dug, tanjakan pertama itu selesai. Tapi masih ada 22 km lagi ding. Hihihi…

14 horz 300x200 Bike to Zero Kilometer of Indonesia

tanjakan di awal misi, di kawasan Krueng Raya Sabang

Karena bike to zero kilometer ini bukan lomba ya, jadi perjalanan dilakukan dengan prinsip santai dan berhenti untuk sekedar narsis di tempat-tempat yang pemandangannya mantap. Hampir di sepanjang perjalanan pemandangannya bikin puas mata memandang, tapi kan ngak mungkin berhenti di semua tempat, malah bisa ngak sampai ntar tu misinya. Keringat mulai bercucuran melalui rute yang lebih didominasi tanjakan diiringi matahari yang kian meninggi, namun sedikit terbantu dengan kondisi pepohonan yang masih cukup asri.

14 tanjakan 3 300x225 Bike to Zero Kilometer of Indonesia

pemandangan setelah selesai tanjakan pertama

Dua jam setengah mengayuh kami sampai di kawasan belokan tajam yang terkenal dengan kawasan monyetnya. Ada kejadian menarik disini saat beberapa diantara kami yang berada di rombongan belakang (termasuk saya) dihadang oleh gerombolan preman-preman setempat alias para monyet. Sepertinya mereka sudah cukup ahli dan tentunya berpengalaman dalam proses penghadangan ini. Keluar dari dahan-dahan pohon yang berada di kiri jalan, mereka berdiri di tengah jalan menghalangi kami. Pinter juga para monyet ini pikirku, betapa tidak, mereka men-“sweeping” kami ketika di tanjakan dan dekan belokan tajam. Jadi tidak ada kesempatan kami untuk ngebut disini (apalagi ini pake sepeda kan). Hahaha…

Jika anda sedang berjalan kaki, jangan sekali-kali lari ketika didekati monyet karna anda akan terus dikejar oleh kelompok monyet (ya kalau tidak lari akan dikejar juga kan, serba salah, ckckck..). kecuali anda memang sedang mempersiapkan diri untuk latihan sprint, ini bisa jadi media yang sangat membantu. Bahkan bila anda membawa motor, monyet-monyet ini bisa saja melompat ke arah anda. Tips yang ingin saya bagikan untuk menghadapi situasi ini adalah : pertama, bila di dalam rombongan anda terdapat cewek, sangat disarankan yang berada di depan atau yang berhadapan dengan monyet adalah cowok. Memang sedikit aneh, namun sepertinya monyet-monyet itu sangat pandai dalam melihat perbedaan jenis kelamin -_-‘. Kedua, usahakan bersikap tenang dan bila anda seorang cowok, santai aja bung. Ketiga, dan tips ini sangat jitu yang pernah saya praktekkan, pegang saja semacam tongkat di tangan anda. Bila tidak ada, ambil saja ranting kayu yang biasanya terdapat di hampir sepanjang jalan. ranting ini bukan untuk memukul monyet, tapi cukup anda pegang saja ketika melewati rombongan sweeping monyet. Monyet tidak akan menyerang karena bisa jadi mereka pikir anda mempunyai senjata (tongkat/ranting) untuk memukul mereka atau bisa jadi mereka akan berpikir kalau anda adalah Si Buta dari Gua Hantu, yang notabene sangat bersahabat dengan monyet. Hahahahaha….

Di tikungan ini pemandangannya cukup bagus, kami memutuskan untuk berhenti disini sambil istirahat walaupun dekat dengan pos gerombolan monyet tadi. Persediaan air mulai menipis, masih belum menjumpai kios untuk beli minuman, tapi yang penting baterai dan memori camera ngak habis buat aksi foto-fotonya #eh.

15 tikungan monyet 1 300x225 Bike to Zero Kilometer of Indonesia

belokan di kawasan monyet

15 tikungan monyet 2 300x225 Bike to Zero Kilometer of Indonesia

belokan di kawasan monyet

15 tikungan monyet 4 300x225 Bike to Zero Kilometer of Indonesia

pemandanga di belokan kawasan monyet

15 tikungan monyet 3 225x300 Bike to Zero Kilometer of Indonesia

ini dia salah satu monyet yang sempat menghadang kami

Putaran roda terus melaju, menyusuri jalanan naik turun yang mulai diadaptasi oleh tubuh. Sekitar pukul 11 siang kami sampai di kawasan Gapang. Jika anda kehabisan bekal dalam perjalanan, Gapang merupakan pemberhentian yang terbaik dibandingkan sekitarnya untuk membeli makanan dan minuman. Disini terdapat kios dan warung nasi jika anda hendak makan siang. Selain itu di Gapang ini juga terdapat satu-satunya masjid di sepanjang jalan hingga menuju nol kilometer nantinya.

16 gapura 300x225 Bike to Zero Kilometer of Indonesia

Gapura Selamat Datang Gapang

Gapang merupakan salah satu destinasi wisata pantai di Sabang. Ketika melewati gapura “Selamat Datang ke Gapang” ini saya teringat perjalanan saya kemari sebelumnya. Jika anda masuk melewati gapura ini akan melihat banyak resort atau penginapan yang berjejer semacam komplek perumahan. Disini memang menjadi pusat penginapan bagi para traveler/backpacker dari harga yang murah hingga mahal dengan kapasitas yang cukup mewah. Beberapa resort disini dijadikan sebagai tempat penyewaan atau pelatihan bagi mereka yang ingin menyelam melihat keindahan bawah laut Sabang.  Kebanyakan pengelola penyewaan alat menyelam ini adalah bule-bule yang sudah menetap di Sabang. Agenda-agenda yang berhubungan dengan laut pun sering dilakukan disini, seperti Sabang International Regatta di tahun 2011, dimana kapal layar dari beberapa Negara berlayar dari Phuket Thailand hingga ke Sabang ini. Tips dari saya sih ya, klo liburan ke Sabang, rajin-rajin liat agenda apa yang bakalan dilaksanakan. Melalui twitter,  bisa dilihat/ditanyakan ke @iloveaceh atau @SabangTraveler.

17 gapang 1 300x216 Bike to Zero Kilometer of Indonesia

pantai Gapang

17 gapang 2 225x300 Bike to Zero Kilometer of Indonesia

main ayunan di gapang

Gapang bisa juga dijadikan sebagai tempat santai sambil menikmati keindahan pantai dan pasir putihnya. Sambil duduk di bawah jejeran Pohon Gapang (asal mula nama gapang karena banyak pohon gapang disini), anda bisa menikmati semilir angin sepoi-sepoi yang akan membuat anda betah. Kami pernah menghabiskan waktu disini makan rujak ramai-ramai (wlopun ngak ada hubungan ya, hihi..) sambil naik ayunan yang bergelantungan di pohon, dan tidak bisa menahan godaan pasir putih disana. Serasa masih anak-anak saja.. icon biggrin Bike to Zero Kilometer of Indonesia

Beranjak dari Gapang, perjalananpun dilanjutkan lagi. Roda-roda sepeda terus beputar, ban hitam mulai dikikis aspal yang terus disinari matahari, hamper mencapai puncaknya kini. Kayuhan demi kayuhan akhirnya mengantarkan kami ke kawasan Iboih, sejenak kami istirahat di persimpangan masuk ke pantai Teupin Layeu atau pantai Iboih.

18 masuk iboih 300x225 Bike to Zero Kilometer of Indonesia

persimpangan menuju iboih

Ah, pantai Iboih, tiba-tiba kembali berputar memori saat pertama kali berkunjung kemari.

Menginap di salah satu rumah yang persis berada di tepi pantai, sangat indah di waktu malam ketika menghadap ke arah pantai. Tetangga kami saat itu adalah seorang wanita muda bersuamikan bule. Pernah ‘sok-sokan’ bicara bahasa inggris sama tu bule, tapi malah respon jawab si bule tu pake bahasa Aceh, fasih lagi tu. ckckckck… jadi jangan pernah malu untuk bisa berbahasa daerah sendiri, apalagi Indonesia juga kaya dengan beragam bahasa yang dimilikinya. Sikap tidak bangga dan jarang atau bahkan malu menggunakan bahasa daerah bisa berbahaya juga lho, bisa jadi bahasa itu perlahan terkikis seiring waktu, tidak menutup kemungkinan bahkan bisa punah. Nah, sayang banget kan itu. Dan si bule ini tiba-tiba menyadarkan kami mengenai bahasa daerah ini, tak perlu malu.

Air di pantai Iboih ini sangat jernih, ikan-ikan yang melenggak-lenggok kesana kemari dapat kita lihat ketika berdiri di atas dermaga pantai Iboih. Hal ini yang menjadi salah satu alasan ketika di sebuah pagi setelah menikmati sunrise, saya langsung nyebur melompat ke laut dari dermaga iboih ini. Padahal saat ini saya belum bisa berenang dan ketinggian air mencapai 2 meter. Hahayy… ngak kebayang deh saat itu, yang penting nyebur aja deh :D.

20 sunset 300x195 Bike to Zero Kilometer of Indonesia

sunrise di Iboih

20 ikan 300x200 Bike to Zero Kilometer of Indonesia

ikan bisa tampak ketika kita berdiri di atas dermaga

Iboih ini terkenal dengan kegiatan snorkelingnya. Di seberang sana juga terdapat Pulau Rubiah yang menawarkan pesona alam bawah lautnya. Pulau Rubiah sendiri mempunyai arti historis yang tak kalah penting. Di tahun 1960-an pulau ini dijadikan tempat karantina jamaah haji Indonesia yang akan berangkat ke Mekkah. Sisa-sisa bangunannya sendiri masih bisa dilihat sampai sekarang.

19 horz 300x159 Bike to Zero Kilometer of Indonesia

sisa-sisa bangunan asrama haji

Bersama teman-teman, saya pernah menghabiskan 2 hari hanya untuk snorkeling di kawasan sekitar pulau rubiah ini. Alat snorkeling berupa kacamata+snorkel, pelampung, dan fin (kaki bebek) bisa disewa dengan harga 40 ribu (jika mau sewa per item saja dikenakan harga 15 ribu per itemnya). Sementara sewa boat menyeberang ke pulau rubiah seharga Rp. 150.000. bisa juga menikmati keindahan bawah laut dengan menyewakan boat kaca, harganya tu Rp 300.000 keliling penuh dan Rp. 200.000 bila setengah keliling. Spot untuk snorkeling biasanya di seberang pulau rubiah, disini kita bahkan bisa berenang bersama ikan, melihat bintang laut, dan terumbu karang. Namun sayangnya banyak terumbu karang yang mulai mati, katanya sih Karena pengaruh suhu yang kian panas, kasian ya. Spot lainnya adalah yang berada di dekat pantai iboih, orang-orang disini lebih familiar dengan sebutan karang batik. Awalnya penasaran juga kenapa bisa demikian, tapi setelah melihat langsung, penampakan dari atasnya memang menyerupai pola batik. Terumbu karang disini cenderung tinggi dan jika kita menyelam ke bawahnya, bagai berada di sebuah kota terumbu karang gitu. Beruntungnya lagi saat itu kami ditemani oleh bang Mudin yang ternyata kenal dengan teman saya. Bang Mudin sampai mengajari kami tips kalau ingin menyelam (ternyata beliau udah punya sertifikat ahli menyelam lho). Oiya, sekarang bang Mudin udah buka usaha nyewain alat snorkeling dan boat juga, kalau sewaktu-waktu ke Iboih nantinya bisa menghubungi beliau di 081269517160. Dari beliau juga kami berkenalan dengan Pak Jafar yang biasanya mengurusi sertifikat nol kilometer. Nah, klo udah ke tugu nol kilometer tapi belum punya sertifikatnya, bisa menghubungi Pak Jafar ini di 08126900127. Hal lain yang rugi untuk dilewatkan jika berada di iboih ini adalah menikmati ketenangan malamnya, itu yang pernah kami lakukan ketika nongkrong di dermaga Iboih sambil menikmati cahaya bulan serta angin laut yang meliuk sepoi-sepoi. Mulai romantis euy…. Hehe…

21 boat kaca 300x200 Bike to Zero Kilometer of Indonesia

pemandangan jika kita menyewa boat kaca

21 batik 1 300x225 Bike to Zero Kilometer of Indonesia

karang 'batik'

21 batik 2 300x225 Bike to Zero Kilometer of Indonesia

karang 'batik'

21 batik 3 300x225 Bike to Zero Kilometer of Indonesia

karang 'batik'

21 rubiah 2 300x225 Bike to Zero Kilometer of Indonesia

karang dan ikan di sekitar pulau rubiah

21 rubiah 1 300x225 Bike to Zero Kilometer of Indonesia

karang dan ikan di sekitar pulau rubiah

21 rubiah 3 300x225 Bike to Zero Kilometer of Indonesia

ada bintang laut juga

21 rubiah 4 225x300 Bike to Zero Kilometer of Indonesia

beruntung bisa foto dengan makhluk laut ini, entah apa namanya

Melihat di plank jalan “8 Km” menuju ke tugu nol kilometer membuyarkan lamunan ingatanku tentang pantai iboih ini. Misi kembali dilanjutkan. Tantangan menuju nol kilometer kini kian bertambah karna jalan yang harus dilalui mulai dari persimpangan pantai iboih relatif sempit dari biasanya ditambah dengan tanjakan dan turunan yang cukup curam. Wuih.. seringkali kami berpapasan dengan rombongan kendaran bermotor yang banyak menyemangati kami, kebanyakan kata-kata yang keluar adalah “cemunguudhz eaaa qaqaa…”, eh kok dah jadi alay bin lebay gini ya. Tapi bener lho, hampir semua pengendara memberikan semangat kepada kami. Mungkin karna juga melihat atlet junior Sabang yang menyertai kami tu umurnya masih sangat muda. Seorang kelas 3 SMP dan 2 lagi baru kelas 1 SMP. Bahkan seorang yang kelas 1 SMP tadi tu cewek.

22 1 tanjakan 225x300 Bike to Zero Kilometer of Indonesia

tanjakan ke 0 kilometer

Tanjakan yang cukup terjal membuat beberapa diantara kami mau tidak mau untuk mendorong sepeda. Tidak apa-apa tapi kan mendorong sepeda sah-sah saja kok (pembenaran :D). tanjakan dan turunan ini mengingatkanku akan arti hidup. Hidup ini kenyataannya setelah ada tanjakan selalu ada turunan. Klo kata Einstein tu “Life is like riding a bicycle. To keep your balance you must keep moving”. Yang harus kita lakukan adalah terus berusaha dan tidak menyerah terhadap sesuatu yang melanda.

Dalam hidup terkadang ujian begitu berat melanda, apakah kita akan berhenti disitu dan menyerah? Banyak orang yang tahu kalau mendaki itu berat, namun sedikit yang menyadari kalau pemandangan dari puncak itu sungguh saat indah.

Ketika mengayuh mendaki, sepeda akan berjalan sesuai kayuhan kita, perlahan kita mengayuhnya maka perlahan pula sepeda berjalan. Semakin cepat kita mengayuh, kecepatan juga akan bertambah namun kita memerlukan energy yang ekstra. Dan bukankah untuk mendapatkan sesuatu lebih kita seharusnya berusaha lebih besar lagi dari seperti biasanya?

Ketika turunan, energy yang kita gunakan memang sedikit, kecepatan kita akan semakin kencang. Namun perlu kita sadari, kita perlu mengontrol kecepatan kita dengan rem. Jangan sampai terlalu tergoda dengan kecepatan turunan tadi, salah-salah malah bisa celaka, jatuh ke jurang misalnya. Seperti itulah bisa dilihat perumpamaan hidup.

Sepeda terus dikayuh hingga akhirnya dari jauh terlihat sebuah gapura yang menandakan bahwa kami segera sampai di tugu nol kilometer, waktu menunjukkan pukul 12 siang. Memasuki komplek tugu nol kilometer ini pengunjung harus membayar Rp 5.000,- untuk sepeda motor dan Rp.10.000,- untuk mobil. Kebetulan saat kami memasukinya kami tidak diambil kutipan, mungkin karna menggunakan sepeda kali ya.

22 gapura 0km 300x225 Bike to Zero Kilometer of Indonesia

pintu masuk tugu nol kilometer

Dan betapa rasanya begitu melegakan ketika sampai di tugu nol kilometer ini. Lebih kurang 29 km sudah ditempuh, walaupun jaraknya tidak begitu jauh, namun tanjakan, turunan dan belokan memberikan sebuah arti lain. We’ve finished our mission, bike to zero kilometer of Indonesia. Luasnya Indonesia dengan berbagai macam suku, budaya, bahasa, kekayaan alam termasuk bawah lautnya, dari Sabang sampai Meurauke dimulai dari sini, 0 km.

22 0km 1 225x300 Bike to Zero Kilometer of Indonesia

Tugu Nol Kilometer

22 0km 11 300x168 Bike to Zero Kilometer of Indonesia

Tugu Nol Kilometer

22 0km 2 300x168 Bike to Zero Kilometer of Indonesia

istirahat sambil memulihkan tenaga

22 0km 3 300x225 Bike to Zero Kilometer of Indonesia

info koordinat

22 0km 4 300x225 Bike to Zero Kilometer of Indonesia

mission completed :)

Walaupun misi bike to zero kilometer telah tercapai, namun perjalanan belum usai. Kami masih harus kembali gowes kembali ke penginapan, melewati tanjakan dan turunan yang telah dilalui sebelumnya. Dan dalam hidup, selama nafas masih berembus, perjalanan itu tak pernah berhenti kawan.. Semangaaaaaattttttt….. icon smile Bike to Zero Kilometer of Indonesia

23 pulang 1 300x225 Bike to Zero Kilometer of Indonesia

sunset ketika kembali ke kota sabang

23 pulang 3 300x225 Bike to Zero Kilometer of Indonesia

nothing impossible

You can leave a response, or trackback from your own site.

24 Responses to “Bike to Zero Kilometer of Indonesia”

  1. johantectona says:

    GILAaaaaa.. panjangnya berbanding lurus ama bagusnya tulisannya sodara sodaraaaa…

    “Life is like riding a bicycle. To keep your balance you must keep moving”

    jempolan..

    nothing impossible.. Raja Ampat? :D

    • ahmadzikra says:

      tenkyu mas jo………….
      bener kan, nothing impossible, Raja Ampat? mudah-mudahan stelah ke titik nol ini bisa berkunjung ke bagian timur Indonesia itu. kita pergi kesana bareng mas? *sambil gandeng tangan mas jo #eh :D

  2. Ditta.w.Utami says:

    Huooooowwwww kereeeeeennnn ^^
    ternyata di sana ada tikungan 180 derajat juga ya… hehe ^^
    hopefully suatu saat nanti bisa menginjakkan kaki di sana :D

    • ahmadzikra says:

      terima kasih ditta…. iya nih, ada 3 tkungan yang sambung menyambung disitu. dan entah kenapa para monyet menjadikan daerah itu sebagai poskonya. seperti tulisan di atas, skalian bisa men-sweeping bisa bisa ngedapatin makanan dari pengunjung mungkin ya, hehe…

      mari-mari ditta… ntar kalau perlu guide atau info lanjutan hubungi kami aja.. :)

  3. Andrey says:

    Keren tulisannya dan pemandangan sepanjang perjalan juga keren tuch… Go green….

  4. Bayu Aji Wibowo says:

    aduh ada potoku di situ.. :D jadi malu2 kucing.. :p
    keren nih penceritaannya.. jangan lupa misi berikutnya biketrekking Seulawah & Pulo Aceh ditulis di blog ini juga yah.. :D

    • ahmadzikra says:

      hahay… kan satu tim sekaligus ‘ketua rombongan’, masak sih kami ngak masukin fotonya abang. hehehe…
      sip, insya Allah ntar bakalan ditulis juga di blog kok. ini yang bakalan terbit berikutnya tentang perjalanan ke Lhok Mata Ie. stay tune disini ya… :)

  5. johantectona says:

    haha ku aminin aja deh pergi Raja Ampatnya bareng”.. tapi ga gandengan tangan juga kali hahaha *palingan cuman salaman dan bilang selamat hahahahahaaaa

    • ahmadzikra says:

      hahahaha…. *salaman ama mas jo.
      tapi kalau memang jadi ke Raja Ampat, bakalan komplit banget tuh klo udah ke nol kilometer.
      hmm… kalau kira-kira kesana pake sepeda mungkin ngak yaa…. :D

  6. Andri Munazir says:

    mantap tulisan dan ceritanya bg, sukses slalu ya , smoga ntar jadi penulis terkenal, yang dapat menerbitkan buku2 :hehe

  7. suprayogi says:

    Khatam banget sih kamu Zikra… lengkap… seruuuuuuuuuuu…foto2 kamu sukses bikin aku mupeng

    • ahmadzikra says:

      hahahaha… khatam yang mananya ini mas yogi? :D
      iya kan mudah-mudahan foto ini bisa buat semuanya bakalan berkunjung kemari, mari-mari…..
      :)

  8. anafitria says:

    bang, jujur, kalo tulisan yang satu ini ana ga mau baca sama sekali, liat judulnya aja udah bikin iri.. secara kami anak banda aceh, tapi belom pernah sekalipun ke sabang… daripada bikin sedih garuk2 tanah pengen ke sabang, mending tunda dulu lah baca yang satu ini, ntar kalo udah fix jadwal maen2 ke sana baru deh cari2 referensi disini… :D

    • ahmadzikra says:

      jeh, ngak bisa dijadikan alasan tu. malah harusnya dibaca dulu berulangkali agar semangat ke sabangnya jadi tambah besar. bisa jadi sugesti motivasi juga tu.
      lets get the move?
      :)

      *sebagai info, perjalanan abang ke sabang pertama kali cuma tidak lebih dari 5 jam! pergi siang pulang sore. ckckck…

  9. dianratnasari says:

    Saya harus bilang WAW buat ini
    KEREN GILAAAAAAAA
    1. ke nol km
    2. dengan bersepeda
    3. SABANG
    4. Monyet genit dibelokan tajam, AKU UDAH PANIK HISTERIS KALI YA
    5. TULISAN nd foto2nya HUAAAAAA PENGEN KESANA…
    keren keren kereb BANG

  10. Putu agnia says:

    Ba-gus-bang-get!
    Tulisannya bagus, gambar2nya bagus, perjalannya asik.

    Huaaaaaa mau banget ke sabang..
    Seumur2 baru sekali nginjekin kaki di sumatera, itu jg di bagian pantatnya (lampung) hehe. Pengen ke ujung kepalanya deh,, :p

    “kalau mau lebih hemat lagi, ada baiknya meminta saudara atau kenalan anda yang berada di Banda Aceh untuk menjemput, hehehe…” oke sip, *ngajak salaman, kenalan* nanti jangan lupa jemput saya yaa hahaha :D

    • ahmadzikra says:

      wahh… perlu segera ke bagian kepala sumatera tu. utk tiket pesawat, klo mau murah bisa pantau2 promo A*r As*a tujuan medan, trus naek bus ke aceh. atau transit di kuala lumpur baru ke aceh. dari KL ke aceh tiketnya bisa 50 ribu lho.. :)

      *jabat tangan* :D

Leave a Reply

Before you post, please prove you are sentient.

what is 9 + 7?