Guratan Pena Zikra

tergurat agar dapat merekat erat

Mengejar Borobudur

Tugas pelatihan dua hariku di Solo sudah berakhir, saatnya kembali pulang ke Aceh. Tiket pesawat yang sebelumnya sudah dipesan tidak berangkat dari bandara Adi Sumarmo Solo, melainkan berangkat dari Bandara Adi Sutjipto Yogyakarta. Hal ini karna jadwal penerbangan dari Solo bila dikalkulasikan, aku diharuskan menginap dulu di Bandara Soekarno Hatta Jakarta nantinya. Tidak ada penerbangan lanjutan yang jadwalnya pas menuju ke Banda Aceh. Jadi, aku akan menuju Jogja terlebih dahulu.

Malam sebelum kembali ke Jogja, aku mencari referensi di Google tempat mana yang bisa kukunjungi untuk mengisi kekosongan esok hari. sisa waktu dari perjalananku ini harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Aku mencari tempat-tempat menarik yang mudah dijangkau. Semula pilihanku jatuh untuk singgah di Candi Prambanan karna jaraknya yang dekat dengan jalan Solo – Jogja. Rencanapun disusun, Plan A akan meminta pak supir travel nantinya untuk singgah sejenak, hitung-hitung kalau diminta penambahan ongkos dikit tak apa lah. Bila itu tidak bisa terlaksana maka akan ada Plan B yaitu beralih ke Candi Borobudur.

Keesokan pagi harinya plan A tersebut batal karna melihat situasi mobil travel yang penuh dan terlihat beberapa penumpangnya sedikit buru-buru, termasuk salah satu yang duduk disampingku, seorang fresh graduate yang akan mengikuti job fair di kampus UGM. Beralih ke plan B, dari Solo menuju ke Candi Borobudur bisa ditempuh dalam waktu 2 jam. Namun masalahnya adalah aku sudah berada di dalam mobil yang menuju ke Jojga, hadeuu… penyusunan rencana yang salah menurutku. Namun, niat perjalanan itu belumlah sirna, biarlah dulu mobil ini melaju membawaku ke Jogja, rencana-rencana lainnya terus berputar-putar di sepanjang perjalanan Solo – Jogja. Toh perjalanan itu juga harus punya rencana matang, walaupun seringkali nantinya kita mengamalkan azas ‘insidentil’ dan harus bergerak sesuai pengalaman ketika aplikasi yang terjadi tidak sesuai benar dengan rencana yang kita buat.

Hari sudah menjelang siang saat sampai di Jogja. Aku menumpang di tempat tinggal seorang kawan semasa SMA ku dulu, Ryan namanya. Namun sejak dulu kami lebih familiar memanggilnya dengan Babe (baca : babe, bukan beb :D). Duduk melepas lelah sambil melihat kawanku ini main game, suntuk juga rasanya. Sudah sampai di Jogja ngak keliling kemana-mana? Hohoho… tidak bisa dibiarkan ini, #lho. Creeeenggg… aku kembali teringat ke plan B sebelumnya yang sempat gagal, Candi Borobudur…! Langsung kulemparkan ide ini sambil mengajak Babe ikutan ke Candi Borobudur, kebetulan sih dia belum pernah juga kesana walaupun dah lama tinggal di Jogja, hehe… itung-itung jika tersesat ntar paling ngak kan enggak sendiri. Hihihi…. *keluar tanduk*.

Karna waktu yang udah beranjak siang, kami pun segera menyusun rencana untuk berangkat ke Candi Borobudur. Langkah pertama adalah nyari di internet gimana caranya bisa sampai ke Borobudur dari Jogja. Dapat peta umum gimana caranya kesana tapi masih takut-takut ngak klo pake motor si Babe. Akhirnya nemu juga di salah satu blog petunjuk gimana caranya menuju kesana (menggunakan bus). Penjelasannya cukup lengkap dan laporan perjalanannya itu belum begitu lama berselang dengan waktu sekarang, jadi kalaupun ada perbedaan bakalan cenderung kecil. Perjalanan menuju Borobudur bisa ditempuh dengan menggunakan bus dari terminal Jombor Jogja, untuk menuju ke terminal Jombor kita bisa naik angkot atau ojek. Dari terminal Jombor kita akan menaiki bus tujuan terminal Borobudur, setelahnya bisa menggunakan jasa ojek atau andong menuju ke komplek candi yang tak jauh berada dari terminal Borobudur. Penjelasan di dalam blog tersebut juga menyebutkan berapa estimasi ongkos yang akan kita keluarkan, cocokz bangetz :D.

Berbagi itu memang berguna banget ya, seperti berbagi perjalanan yang kita tulis di dalam blog. Perjalanan yang kita tulis bukan saja menjadi ajang eksis atau pamer (bagi niatnya yang suka pamer #eh), tapi juga bisa menjadi rujukan bagi orang-orang yang kebetulan belum pernah mengunjungi tempat yang kita ceritakan. Secara tidak langsung pula tulisan kita itu bisa mempengaruhi tingkat kunjungan ke salah satu tempat. Coba bayangin aja kalau ada 2 tempat yang ingin dikunjungi. Tempat pertama tidak ada info bagaimana mencapainya sedangkan tempat kedua terdapat info bagaimana akses menuju kesana dan gambaran keadaan tempat yang bakalan dikunjungi. Tentunya kebanyakan orang akan memilih tempat kedua, biarpun pada kenyataannya tempat pertama lebih bagus. Selain tidak mau mengambil resiko tersesat, ‘rekomendasi’ dari sebuah tulisan akan lebih meyakinkan calon pengunjung untuk menuju ke suatu tempat, seperti yang kami alami sekarang ini :). Persiapan dadakan beres, camera tetap ngak boleh lupa. Jam satu siang kami keluar dari kosannya Babe, cari makan siang dulu, perut aman baru tancap gas deh.

Dalam melakukan perjalanan selalu saja ada hal yang harus kita antisipasi. Sebagian keadaan memang mengharuskan kita untuk menunggu. Waktu menunjukkan pukul dua kurang lima belas, kami masih berada di tepi jalan celingak celinguk nungguin angkot yang lewat untuk menuju ke terminal Jombor Jogja. Sampe akhirnya sebuah angkot berhenti di depan kami, perasaan gelisah perlahan sirna seiring deru angkot yang sesekali mengeluarkan batuknya, seakan memberi tahu kami kalau dia sudah lama menguasai jalur ini. Tak berapa lama kemudian kami sampai juga di terminal Jombor Jogja, langsung deh menuju tempat bus yang akan menuju Borobudur, antrian sudah terlihat disana. Dan memang sepertinya pengunjung kesana tak pernah sepi. Sekitar 10 menit nunggu akhirnya ada juga bus menuju ke Borobudur yang datang. Tapi kami kurang beruntung, bus keburu penuh. Karna penuhnya, bahkan penumpangnya sampe berdiri di pintu, tak jauh beda klo kita naik Kopaja di Jakarta atau bus Drobur/Damri di Banda Aceh semasa jayanya dulu. Klo maksa desak-desak lagi emang kayaknya muat sih kami bedua, tapi kami memutuskan untuk menunggu bus lainnya saja.

Menunda sesuatu adakalanya memberikan efek positif, namun kebanyakan menjadi merugikan. Keputusan menunggu bus lainnya ternyata bukan keputusan yang bijak. Lama sudah kami menunggu namun busnya belum nongol juga. Sambil menunggu kami ngobrol dengan salah seorang bapak yang lagi nongkrong di terminal. Rupanya si bapak ini mantan supir bus jurusan terminal borobudur juga, karna pertimbangan usia jadi sekarang udah pensiun. Cocok ni, bisa sharing-sharing informasi dong dari si Bapak. Dari obralan tersebut, kami mendapatkan beberapa informasi berharga dari si bapak yang tidak kami dapatkan ketika membaca di catatan perjalanan blog yang kami jadikan referansi. Informasi berharga bagi kami itu adalah :

1. trayek bus dari terminal Jombor Jogja ke terminal Borobudur hanya ada sampe pukul 3 siang.

2. bus dari terminal Borobudur balik ke terminal Jombor Jogja Cuma ada sampe jam 17.30 sore.

3. candi Borobudur ditutup untuk pengunjung jam 17.00 WIB!!

4. kalau udah telat balik dari sana dan ngak ada lagi bus dari Borobudur nantinya, transportasi satu-satunya adalah ojek. Dan biasanya tukang ojek bakal matok harga gila-gilaan. 100 ribu men… fiuh, itung 2 orang jadi 200 ribu juga tuh -_-‘

5. pilihan terakhir jika ngak bisa balik dari Borobudur ke Jogja adalah menginap disana. Penginapan bisa diperoleh dengan harga mulai dari 50 ribu.

Wah, nice info pak. Info berguna dari si Bapak membuat kami merasa lebih lega karna menjadi lebih tahu dalam hal menuju kesana, namun sekaligus juga membuat kami was-was gelisah gundah  gulana (:D) karena jam udah menunjukkan pukul 14. 40 WIB. Artinya 20 menit lagi dari deadline keberadaan bus menuju ke Borobudur. Kami segera berdiskusi untuk mengantisipasi jika tidak ada lagi bus yang menuju kesana. Diskusi sementara merencanakan untuk balik lagi ke kosan dan pergi dengan motor saja. Jika pun nantinya tersesat dikit ngak apa-apa, yang penting sampe Borobudur !! semangat bener ini, kali ini harus berhasil walaupun harus mengejar waktu.  *keluar api tanda betapa semangatnya*. icon biggrin Mengejar Borobudur

Tapi sebelum kami mengucapkan kata ‘deal’ dari rencana kami tadi untuk kembali ke kosan, tiba-tiba saja bus jurusan Borobudur muncul. Sesaat kami saling berpandangan seolah-olah mengatakan ‘ayook, serbuuu…. bus reot yang sudah penuh sesak itu pun berhasil juga kami masuki.. “klo nantinya gak ada lagi bus balik, kita nginap disana saja”, kesepakatan singkat kami diiringi raungan bus yang kutebak umurnya lebih tua dariku.

Walaupun busnya udah reot gitu, namun lajunya sungguh berbeda. Mungkin juga karna supirnya mantan pembalap F1 nih, jadi kencang amat jalannya. Karna kencangnya melaju, bahkan beberapa polisi tidur yang berada di jalan, dilewati tetap dengan kecepatan penuh, ngak ada melambatnya sedikitpun. kami selaku penumpang ini (termasuk seorang bule) terombang-ambing di dalam bus yang udah ‘mati suspensi’ ini. Klo udah tikungan siap-siap aja deh pegangan klo ngak mau terantuk sana-sini. Wuiih, sadis banget ini bus ya. Saran saya kalau anda kesana menggunakan bus ini, carilah pegangan yang kuat walaupun anda duduk (apalagi berdiri). Kondisi di dalam bus bisa jadi di luar prediksi seperti penumpang yang membawa sayur, ayam, dagangan, dan semacamnya. Jangan sampai anda muntah nantinya, waspadalah… hehe…

1 dlm bus 300x225 Mengejar Borobudur

suasana di dalam bus menuju ke Borobudur, penuh sesak

Dari dalam bus yang melaju kencang ini, kami sempat melihat pemandangan yang cukup menarik. Di sisi kanan kami berjejer tumpukan pasir yang sebagian besarnya sudah menimbun beberapa rumah. Di sisi kirinya masih tersisa bekas aliran berbentuk sungai yang sisi-sisinya telah tergerus hebat. Memoriku berputar, mengingat dan berasumsi bahwa jalur ini adalah salah satu jalur banjir lahar dingin pasca meletusnya Gunung Merapi tahun 2011.

Ongkos yang dikeluarkan menggunakan jasa bus ini adalah Rp. 12.000,-. Kernetnya mengutip ongkos ketika kita berada di dalam bus, persis seperti kita menaiki Kopaja di Jakarta. Dalam perjalanan, bus juga memasuki terminal Muntilan, namun pemberhentiannya tidak begitu lama. Ketika sudah mulai dekat dengan Borobudur, kita juga dapat melihat candi Mendut yang berada di sisi kanan jalan.

2 mendut 300x240 Mengejar Borobudur

candi mendut yang dilewati sebelum sampai di Borobudur

Melewati suasana di dalam bus selama 1 jam lebih 15 menit, kami sampai di terminal Borobudur. Turun dari bus, langsung deh kami disambut sama tukang ojek, tukang andong, tukang sate, eh enggak kok, mana ada tukang sate icon biggrin Mengejar Borobudur yang berlomba-lomba menawarkan jasa untuk mengantarkan pengunjung sampai ke lokasi Candi Borobudur. Walaupun mengejar waktu karena sudah telat berangkat dari Jogja, kami memutuskan untuk jalan kaki menuju lokasi candi. Jaraknya ngak terlalu jauh sih ya, sekitar 500 meter gitu. Salah seorang tukang andong terus saja menawari kami, “10 ribu aja mas, katanya. Tapi karna sudah memutuskan jalan kaki sambil menggerakkan badan yang telah sejam lebih berada di dalam bus, lagi-lagi kami menolak jasa beliau, maaf ya pak. Berjalan ke arah candi, kami bertemu dengan seorang bule yang satu bus tadi, si bule juga memutuskan jalan kaki. Jadilah kami bertiga berjalan bersama dan ternyata tak seorangpun dari kami yang pernah ke Candi Borobudur sebelumnya.

3 jalan ke candi 225x300 Mengejar Borobudur

jalan dari terminal Borobudur menuju ke komplek candi

Perbincangan pun tak terhindarkan, setelah saling kenal, kami tahu bahwa dia berasal dari Perancis dan seorang backpacker. Wah, seru nih, harus dikorek informasi lebih dalam tentang backpackernya si bulek. Berangkat ke Indonesia untuk pertama kalinya melalui Medan, ia melanjutkan perjalanan ke Padang dan Jakarta dengan bus. Wah, gila juga ni bulek, walaupun pada akhirnya dia mengungkapkan, capek juga kalau cara naik bus sepanjang itu. Dari jakarta, dia ngelanjutin perjalanan ke Jogja dengan kereta api sampai akhirnya bertemu kami dalam perjalanan ke Candi Borobudur ini. Selanjutnya, tujuannya mau ke Bali sih katanya.

Percakapan dengan si bule backpacker ini seolah juga menyindir kami. Si doi yang notabene berasal dari Perancis mau berkunjung dan berkeliling Indonesia. Harapan dari perjalanan jauh yang ditempuhnya sudah tentu terbayar dengan keindahan alam dan budaya Indonesia yang tersebar dari Sabang sampai Meurauke. Sedangkan kita sendiri? Mungkin masih ada yang belum pernah pun berkunjung ke tempat-tempat terdekat yang memiliki nilai wisata atau historisnya. Melakukan perjalanan itu penting, kita jadi tahu bahwa ada banyak hal lain di luar sana. Terdapat beragam manusia dan sifat yang belum pernah kita jumpai. Perjalanan-perjalanan yang ada dapat menyadarkan kita betapa Indonesia ini kaya akan sumber daya alamnya dan tidak seharusnyalah masyarakat Indonesia menjadi miskin karena kekayaan alamnya. Adakalanya kita terlalu nyaman dengan apa yang sudah kita peroleh. Sebentar keluar dari zona yang (dianggap) aman dan melihat dunia luar itu terkadang sangat perlu dilakukan, tentunya juga dengan pertimbangan dan rencana yang matang.

Tak terasa sudah sekitar 500 meter  kami berjalan, akhirnya sampe juga di komplek Candi Borobudur. Oiya, jika anda juga memilih berjalan kaki seperti kami, penampakan candi dari jalan yang kita lalui tertutup pohon-pohon besar di sekitarnya. Bila anda ragu sudah sampai ke komplek candi ataukah belum (bisa ditandai dengan pagar komplek candi), ada baiknya menanyakan ke orang-orang sekitar. Sebelum masuk, harus beli tiket dulu. Untuk turis lokal seperti aku dan Babe ini, harganya Rp. 23.000,-. Sedangkan untuk turis mancanegara seperti si bule tadi berbeda, harganya $15 atau jika dirupiahkan sekitar Rp 150.000,- (kalau asumsi 1 dolar itu Rp 10.000). Info harga tiket untuk turis mancanegara ini aku dapatkan langsung dari si bule yang membeli tiket di loket khusus. “no problem, sekaligus membantu perekonomian warga setempat”, ujarnya gampang.

4 welcome boro 300x224 Mengejar Borobudur

pintu masuk beli tiket

Waaaaa… akhirnya sampai juga kami di Candi Borobudur ini. Setelah satu jam setengah sebelumnya belum jelas lagi nasib terkatung-katung menunggu bus di terminal Jombor Jogja, kini sudah berada di komplek candi dan tampaklah Candi Borobudur yang megah dan sempat menjadi 7 keajaiban dunia itu. Kami hendak buru-buru menaiki candi, namun ternyata mulai ada peraturan baru bagi pengunjung. Semua pengunjung yang hendak naik ke Candi Borobudur harus memakai semacam kain sarung yang bermotifkan batik. Seru juga ya klo gini, hehe…. Sarung yang kita pakai telah disediakan oleh pengurus candi dan tidak dipungut biaya apapun. Bahkan kalau mau, kita juga bisa didampingi sama guide yang siap memandu memberi penjelasan selama di candi nantinya. Kami memilih untuk tidak didampingi, biar bisa lebih bebas bergerak dan jepret foto-foto mendekati narsis (ckckcckk.. kambuh juga ni penyakit lamanya :D).

4 masuk candi 300x213 Mengejar Borobudur

Borobudur adalah warisan dunia

4 informasi arca 300x225 Mengejar Borobudur

informasi arca

Candi Borobudur merupakan candi berbentuk stupa yang didirikan oleh para penganut agama Buddha Mahayana sekitar tahun 800-an Masehi pada masa pemerintahan Syailendra. Monumen ini terdiri atas enam teras berbentuk bujur sangkar yang diatasnya terdapat tiga pelataran melingkar, pada dindingnya dihiasi dengan 2.672 panel relief dan aslinya terdapat 504 arca Buddha. Stupa utama terbesar teletak di tengah sekaligus memahkotai bangunan ini, dikelilingi oleh tiga barisan melingkar 72 stupa berlubang yang didalamnya terdapat arca buddha tengah duduk bersila dalam posisi teratai sempurna dengan mudra (sikap tangan) Dharmachakra mudra (memutar roda dharma). Wah, ngak kebayang bagaimana proses pembangunan candi megah ini dulunya. Sudah tentu, belum ada teknologi modern seperti sekarang dalam proses membangunnya. Sebut saja crane atau alat berat lainnya untuk mengangkat batu-batu besar, pake apa ya dulunya itu? Dan ternyata bentuk candi ini simetris bila dilihat dari atas. Hal ini menambah ketakjubanku terhadap candi ini.

5 candi simetrissvg Mengejar Borobudur

candi berbentuk simetris

5 xborobudur 300x192 Mengejar Borobudur

candi borobudur

Kondisi candi masih sangat bagus. Saat kami berkunjung kesana (Juli 2011), candi baru dibersihkan dari debu gunung Merapi yang meletus. Jika tidak tertutup kabut, dari atas candi ini kita bisa melihat dengan jelas betapa gagahnya Merapi berdiri di ujung sana. Salah satu hal yang cukup disayangkan adalah hilangnya beberapa bagian dari candi ini. Banyak patung atau arca yang sudah tak berkepala. Menurut info yang beredar, sebagiannya rusak terkikis zaman, sebagiannya lagi terkikis nafsu manusia yang menjarahnya.

6 relief dan arca candi 1 300x225 Mengejar Borobudur

relief dan arca di candi

6 relief dan arca candi 2 216x300 Mengejar Borobudur

relief candi

6 di atas candi 1 300x225 Mengejar Borobudur

berfose di atas candi

6 di atas candi 2 300x225 Mengejar Borobudur

jangan bilang mirip! :D

6 foto bareng bule gabung 300x209 Mengejar Borobudur

foto bareng bule, hihi...

6 with sister 206x300 Mengejar Borobudur

kebetulan saat aku kesana, ketemu rombongan SMA adikku yang sedang melakukan study tour. numpang foto deh... :)

6 budur 201x300 Mengejar Borobudur

puas terkapar... :D

6 y child 225x300 Mengejar Borobudur

ini lucu deh. kami bertemu seorang anak yang manggil-manggil ayahnya karena tubuhnya ketutup kain. akhirnya lepas jugaa.. :)

Setelah puas berkeliling dan foto-foto selama lebih kurang satu jam, kami pun harus buru-buru kembali. Kami teringat informasi dari Bapak yang kami temui di terminal Jombor sebelumnya bahwa bus dari Terminal Borobudur menuju Jogja hanya ada sampai pukul 17.30 WIB. kalau ketinggalan bus, bisa menginap disini kami ntar. Pukul 17.00 WIB kami mulai keluar dari komplek Candi yang sudah terlihat mulai tutup itu. Keluar dari candi kita akan diarahkan melewati pasar yang menjual berbagai macam oleh-oleh menarik dari pakaian sampai pernak pernik khas Borobudur. Pengarahan agar kita keluar melewati pasar ini menurutku sebagai salah satu cara membantu pedagang untuk meningkatkan daya beli pengunjung. Jadi ingat kata-kata si bule waktu di awal tadi, “membantu perekonomian masyarakat sekitar”. Jika anda ingin membeli, jangan ragu-ragu untuk menawar karna harga yang ditawarkan di awalnya bisa cukup tinggi.

7 keluar 1 300x225 Mengejar Borobudur

pintu keluar

7 keluar 2 300x225 Mengejar Borobudur

pasar rakyat yang kita lewati saat keluar

7 keluar 4 300x225 Mengejar Borobudur

pedagang ada di sepanjang jalan

Tiba di terminal Borobudur, tidak lama berselang bus pun datang. Keadaan sore seperti yang kami alami biasanya bus akan menunggu penumpang dulu baru kemudian berangkat. Tak sampai setengah jam kemudian, bus pun melaju. Kali ini busnya tak separah bus saat kami berangkat tadi. Kondisi bus lebih bagus dan melajunya lebih nyaman. Matahari mulai sayup-sayup tenggelam di ufuk barat mengabarkan hari akan segera berganti malam. Waktu akan terus berputar, tak pernah menunggu orang yang lalai dan menyia-nyiakannya.

Ah, perjalanan ke Borobudur ini terkejar juga. icon smile Mengejar Borobudur

You can leave a response, or trackback from your own site.

12 Responses to “Mengejar Borobudur”

  1. Andrey says:

    Banyak sekali wisata nusantara ini yang belum aku kunjungi…

  2. johantectona says:

    pertama, itu serius adik kamu? :D
    kedua.. itu bukan anak kamu kan yang manggil” bapaknya? :p
    ketiga.. ketiga artikelmu panjang” banget… tapi ya gtu panjangnya terbayar ketika sudah sampai paragaraf terakhir.. hehe keyeennn ommm :)

    • ahmadzikra says:

      ehemm.. ehemm…. *benerin mic mau pidato* :D
      pertama-tama saya ucapkan bahwa itu benar adik ya. ya, tentu dia lebih cantik dari saya. tapi kan saya lebih ganteng dari dia (yaiyalah secara beda jenis kelamin) :D.
      kedua yang ingin saya sampaikan adalah si anak lucu banget, dan berhubung saya belum menikah, jadi dipastikan si anak adalah anak bapaknya.
      ketiga, ketiga tulisan ini kebetulan dibuat dlm wktu mendesak. masukan sangat diharapkan. semoga bermanfaat.
      :)

      • johantectona says:

        hahaha asyiklah.. sarannya nanti klo terpilih ke raja ampat, tolong yang ga bisa ikut lomba ini di ajak, ya minim sampaikan salam ku untuk bumi papua hahahaha :D

  3. anafitria says:

    dan saya pun kecipratan oleh2nya… kalo jalan2 lagi jangan lupa oleh2 lagi ya bg, wkwkkw
    oya, tulisan2 ab benar2 kayak travel blog lah, mantap.. lengkap.. patut berguru ni.. hehehe
    smoga jadi ke raja ampat ya bang,, aamiiiiin :)

  4. ahmadzikra says:

    bapaknya ada kok disitu. tapi si adek ‘terperangkap’ di dalam sarungnya :)

Leave a Reply to ahmadzikra

Before you post, please prove you are sentient.

What is 8 times 4?