Guratan Pena Zikra

tergurat agar dapat merekat erat

Luar Negeri Men

Sejak kecil, hampir semua dari kita pernah membayangkan atau bercita-cita untuk pergi keluar negeri. Bahkan kebanyakan tidak tahu negeri luar mana yang akan disinggahi. Bahkan menjadi lebih parah lagi, ‘luar negeri’ dianggap sebagi sebuah tempat yang keren. Tingkat kegantengan dan kekerenan akan bertambah beberapa tingkat ketika sampai di luar negeri. Ah, imajinasi. Hahaha…

Luar negeri, entah tertanam dalam benak sejak kecil ataukah karena gencarnya pemberitaan media, menjadi suatu hal yang begitu ‘waaaaaahhhh’ (bilangnya panjang bener semacam komentator bola Amerika Latin). Para pemangku kebijakan negeri sering masuk koran atau tipi, katanya studi banding luar negeri. Negeri kita harus banyak belajar dari orang-orang yang ada di luar negeri itu. Sarana-prasarana luar negeri lebih keren, semuanya terurus dan tertata dengan rapi. Dan bla…bla..bla… *matiin tipi.

Jangan mengelak, diantara kamu, kamu, dan kamu (nunjukin satu-satu) pasti pernah juga ingin ke luar negeri, dengan berbagai alasan dan tujuan. Aku juga kok (ngacungin jari ke muka). Nah, ini ceritaku pertama kali ke luar negeri. Aku memang dalam rangka studi banding, tapi pake duit sendiri.

Aku tinggal di Banda Aceh. Berdasarkan peta, negara-negara terdekat dari sini  adalah negara-negara Asia Tenggara yang berada di Utara Indonesia (jangan pusing mana Utara mana Tenggara, dulu belajar Geografi kan? :D). Jadi kuputuskan bahwa Malaysia akan menjadi ‘negeri luar’ pertama yang kukunjungi.

Berbekal tiket promo salah satu maskapai penerbangan, terbanglah kami (ceritanya disini, aku pergi bersama kawan) ke ibukota negara tetangga, Kuala Lumpur. Aku masih berpikiran bahwa negeri luar itu sangat berbeda jauh dengan tempatku tinggal sekarang, lebih baik, lebih maju, lebih canggih, dan segala kelebihan lainnya. Udik banget ya? Iya sih, memang begitu adanya. *sembunyi di pojokan

Mendarat di Kuala Lumpur, rasa penasaranku dengan negeri luar mulai pelan terobati. Kotanya bersih, transportasi tertata dengan rapi. Kemana-mana tinggal naik rapidKL atau monorail, tujuan dan tarifnya jelas. Maka berkelilinglah kami ini dengan mudahnya, termasuk ke landmark Gedung Petronas. Wah, malam hari di depan gedung ini para pengunjung disuguhi tontonan permainan air mancur simfonik. Air mancur dengan warna-warni meluncur membentuk pola, diiringi musik yang mampu menghipnotis para pengunjung. Diantara ketakjubanku, ternyata baru kusadari bahwa kebanyakan pengunjung disini adalah orang Indonesia. Sedang apakah mereka gerangan? Samakah tujuannya denganku?

.

air mancur 300x200 Luar Negeri Men

Air mancur simfoni di depan gedung Petronas

Cukup puas menikmati negeri luar pertamaku, kami menyeberang ke ngeri luar selanjutnya, Singapura. Negara kecil yang diapit oleh Indonesia dan Malaysia ini termasuk negara yang kuat ekonomi dan pembangunannya. Dari Kuala Lumpur kami bergerak ke Cilegon. Ups salah, maksudnya ke Singapura via Kota Johor dengan bus. Awalnya sih kupikir busnya keren gitu, tingkat dua, serba otomatis gitu, trus bisa berubah menjadi robot sewaktu-waktu kalau ada musuh yang menyerang, layaknya Optimus Prime di Transformer gitu. Tapi aku salah, ternyata masih bagusan bus Banda Aceh – Medan. Walaupun cukup nyaman sih.. icon smile Luar Negeri Men

Sampai di perbatasan Singapura, kami melewati pemeriksaan imigrasi. Aku yang udik ini, ditambah tampang yang begitu polosnya (:D) nyangkut di pemeriksaan, mbak penjaga dengan galaknya teriak ke petugas lain kalau aku ini pertama kali masuk ke negaranya, jadi harus diperiksa gitu, waduh. Emang tampangku mirip teroris ya? Asalku kan Indonesia, negara tetangga si mbak yang galak itu juga. Aku berlalu mengikuti petugas sambil melihat para pelancong lainnya dari negara Cina yang berteriak ribut entah apa, tiba-tiba saja semua bahasa tidak kumengerti ketika itu. ‘luar negeri’ tiba-tiba menjadi seram bagiku.

Aku diperiksa, seumur-umur tinggal di Indonesia aku belum pernah diperiksa. Ke kantor polisi pun karena keperluan pengurusan SIM dan bayar pajak kendaraan, huaaa… mengikuti petugas, aku melewati empat pintu pemeriksaan yang masing-masingnya memiliki kode akses yang bahkan petugas yang membawaku tidak tahu sandinya. Disini aku membayangkan seperti di film-film holywood saat para penjahat digiring melewati lorong-lorong untuk dijebloskan ke penjara (pikiranku mulai lebay :D). Sampai di ruang pemeriksaan, melirik kiri kanan, banyak WNI ternyata disana. Aku menunggu antrian panggilan.

Sampai giliran, aku diinterogasi, oleh 3 petugas sekalian *_*. Melihat pasportku, mereka berkomunikasi dengan bahasa melayu. Aku menjawabnya dengan bahasa inggris patah-patah, entah mereka tahu apa yang kuucapkan ketika itu. Hampir 1 jam aku diinterogasi sebelum akhirnya melewati pintu-pintu pemeriksaan empat lapis bersandi misterius itu. Hufftt.. kata orang, semua pendatang baru dan yang dicurigai mirip teroris diperiksa ketat ketika memasuki Singapura. Entahlah, yang jelas aku sudah melewati itu.

Lolos di pemeriksaan imigrasi aku melanjutkan mengelilingi kota Singapura. Aktivitas kota ini berjalan cepat, orang-orang bergerak cepat, naik lift kita harus berdiri di sisi kiri jika berjalan lambat, memberikan ruang bagi yang bergerak cepat untuk mendahului. Kemana-mana memakai MRT, lebih cepat dengan yang dimiliki Kuala Lumpur. Gedung-gedung menjulang tinggi, akses mudah. Satu hal yang sama dengan di Kuala Lumpur sebelumnya, disini juga banyak dijumpai orang Indonesia yang lalu-lalang, dengan berbagai macam aktivitas mereka. Termasuk juga di tempat perbelanjaan dan oleh-oleh murah yang ada di Singapura, banyak orang Indonesia yang berbelanja disini. Berbelanja banyak barang, seolah-olah mereka mengirimkan sinyal bahwa “jangan remehkan aku, aku sanggup membeli semua barang yang ada disini”. Aku mengernyitkan dahi, menatap recehan dolar singapura di tangan. *nyari pojokan.. :D. Tapi bukan, bukan karena recehan di tanganku ini, aku tetap berprinsip lebih baik berbelanja di dalam negeri, belanja di luar hanya sekedar beberapa oleh-oleh khas kecil saja. Berbelanja di dalam negeri kita bisa ikut membantu roda ekonomi negeri sendiri. Jangan kata tidak berpengaruh, jika sendiri memang iya, namun jika satu juta orang Indonesia saja berprinsip demikian, besar juga pengaruhnya kan.. icon smile Luar Negeri Men

singapura 300x200 Luar Negeri Men

avatar garden di singapura

Meranti tree1 225x300 Luar Negeri Men

pohon di kawasan hutan Leuser

Kita sering bangga membeli produk luar, namun faktanya produk-produk dalam negeri tidaklah kalah kelas. Sepatu, sendal, tas, cokelat, kopi, atau produk keren lainnya di luar negeri, sebagian besar bahan bakunya berasal dari Indonesia. Bahkan ada merek dalam negeri yang dikira merek luar karena dijualnya di luar negeri. Nah, harusnya kita bangga memakai dan membeli produk-produk yang ada di dalam negeri. Kalau ada yang lebih bagus, kenapa harus yang lebih jauh. icon biggrin Luar Negeri Men

IMG 6244 vert2 211x300 Luar Negeri Men

skypark singapura yang berbentuk perahu dan perahu di atas rumah di Lampulo, Aceh

Keesokan harinya aku kembali ke Indonesia, menyeberang ke Batam untuk selanjutnya pulang ke Aceh. Kapal ferry dari pelabuhan menjauh meninggalkan Singapura. Aku menuju ke buritan kapal, memandangi Negeri Singapura yang tampak mengecil, studi banding singkatku berakhir.

Teringat kembali gambaran sebelumnya tentang negeri luar yang heboh itu. Mereka memang negara yang lebih maju. Sedangkan negeriku? Tidak, tidak kawan. Jangan cepat sekali terprovokasi dengan media-media yang ada. Media yang seringkalinya memakai model ‘orang luar negeri’ untuk promosi berbagai produk. Seolah-olah pesan yang disampaikan adalah mereka ‘orang luar negeri’ saja memakai produk itu, kenapa kita tidak?

Masing-masing kita seharusnya memiliki kebanggaan tersendiri. Mengapa? Karena kita memilikinya. Seringkali kita dengan tiada sadarnya terlalu membangggakan apa yang dilihat di luar, bahkan sampai menghujat apa yang ada pada diri kita, apa yang dimiliki negeri ini.

Di negeri ini kita memiliki hal-hal yang kadang tidak bisa dibandingkan dengan apa yang dimiliki oleh sebuah pembangunan, buatan manusia. Air mancur simfoni di Kuala Lumpur sangat bagus, tapi di Indonesia juga punya tempat-tempat semacam kolam air terjun yang masih sangat alami. Suara kumbang pohon dan burung-burung yang bersahutan tak kalah dengan musik simfoni yang ada disana. Singapura punya avatar garden yang nyatanya disusun dari pohon artificial . indonesia punya pohon sungguhan, kunjungi saja hutan Leuser di Sumatera atau hutan-hutan lainnya seperti di Kalimantan. Itu pohon asli, bahkan bisa lebih tinggi menjulang dari avatar gardennya Singapura. Skypark Singapura terkenal yang berbentuk perahu di atas gedung itu, di Indonesia juga punya lho versi alaminya, nih lihat perahu di atas rumah di Lampulo, Banda Aceh :).

Apa yang dimiliki orang lain adalah milik orang lain, apa yang ada pada kita adalah milik kita. Terlalu membanggakan milik orang lain tak seharusnya dilakukan. Bangga dengan apa yang kita punya? Sudah sepantasnya. Namun bangga saja tidaklah cukup. Apa yang kita lakukan untuk tetap menjaga kebanggaan itu? Silahkan studi banding ke negeri luar, belajar banyak apa yang sudah di perbuat oleh para tetangga. Tapi jangan mengurangi rasa kebanggaanmu akan negeri

this is indonesia 300x225 Luar Negeri Men

This is Indonesia

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

Before you post, please prove you are sentient.

what is 8 in addition to 6?