Guratan Pena Zikra

tergurat agar dapat merekat erat

Category : berita

Tingkatkan Kualitas Jaringan Irigasi Dukung Hari Air Dunia 2012

Hari Air Dunia yang diperingati setiap tanggal 22 Maret di tahun 2012 ini mengambil tema “Water and Food Security” atau Ketahanan Air dan Pangan. Ketahanan Air dan Pangan erat kaitannya dengan keberlanjutan dan kualitas sistem irigasi. Hal tersebut dominan untuk mencapai peningkatan produksi dengan target surplus 10 juta ton beras pada tahun 2014 dan memerlukan peningkatan produksi padi minimal 7% per tahun melalui kegiatan operasi, pemeliharaan dan rehabilitasi.

Demikian dikatakan oleh Plt. Direktur Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum (PU) Mochamad Amron dalam temu wartawan mengenai Pelaksanaan Hari Air Dunia 2012 di Jakarta (21/3).

Berdasarkan data BPS tahun 2010, Indonesia memiliki total areal sawah seluas 9,45 juta ha. Sebagian besar diantaranya 76% merupakan sawah beririgasi yang memberikan sumbangan terhadap 85% produksi padi nasional di tahun 2009 dan 2010. Sisanya adalah sawah rawa pasang surut 5%, sawah rawa lebak 2%, Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) 1% dan areal sawah lainnya seperti sawah tadah hujan, sawah irigasi desa dan lading 16%.

Read More…

Borong Buku di Pameran “Pesta Buku Aceh 2011”

Melihat spanduk-spanduk di pingir jalan bertuliskan Pesta Buku Aceh 2011 dengan tema “Membudayakan minat baca masyarakat Aceh” membuatku terhenti sejenak. Pameran buku? Wah ini ni yang ditunggu-tunggu. Pesta Buku yang bertempat di Gedung Chik Di Tiro (Gedung Sosial), Banda Aceh ini berlangsung tanggal 29 Oktober – 3 November 2011. Dibuka pukul 09.00 WIB – 22.00 WIB, acara ini menghadirkan peserta dari Penerbit Nasional & Lokal, Toko Buku serta Distributor Buku, Produsen alat tulis dan komputer, Perpustakaan Daerah, Lembaga pendidikan + Komunitas Buku.

Wah, seru ni. Dah lama juga (untuk ukuranku) ngak belanja buku. Langsung tancap gas deh hari pertama pameran. Coz hari-hari ke depannya dalam perhitunganku bakalan ngak sempat ngunjunginya lagi. Maklum, kena tugas lapangan di luar kota (sok sibuk, haha..:D). Sore Sabtu hari pertama itupun aku menggeber motor menuju kesana. Setelah membayar ‘uang parkir’ 2.000 rupiah dan memarkirkan motor di lingkungan gedung, akupun langsung masuk ke ruangan tempat pesta buku digelar. Glek, rupanya banyak juga orang yang datang ya. Hari pertama gini? Waaa… salut deh, berarti bisa dilihat klo budaya membaca disini dah meningkat tu.

Read More…

Gerhana Bulan Dini Hari tadi Gimana ya?

gerhana bulan image 150x150 Gerhana Bulan Dini Hari tadi Gimana ya?Wah, jarang-jarang nie bakalan terjadi gerhana bulan yang waktunya cukup lama. dan hal itu akan terjadi dan dapat kita saksikan pada kamis (16 Juni 2011) dini hari. Menurut para ahli perkiraan waktu terjadinya itu sekitar pukul 01.00 sampai 06.00 WIB. Dan semenjak senin malam (13 Juni 2011) aku sudah cukup optimis dapat melihat salah satu fenomena alam tersebut. Betapa tidak, langit malam kota Banda Aceh begitu cerahnya. Bulan yang hampir purnama seakan menjadi pemandangan utama langit kota. Hehe.. klo cuacanya bagus gini insya Allah bakalan bisa lihat gerhana ni kamis dini hari ntar. icon smile Gerhana Bulan Dini Hari tadi Gimana ya?

But, mulai Rabu siang mendung mulai menyelimuti kota Banda Aceh. Mendung yang terus membumbung seakan juga ikut menyelubung harapan untuk dapat menyaksikan gerhana nanti malamnya. Dan, hujan pun turun disertai angin kencang yang menyapu apa saja yang dilewati. Aku berharap angin kencang itu tak ikut juga menyapu harapannku melihat gerhana. Karena sudah beberapa kali gerhana ke belakang aku tak bisa melihatnya. Alasannya? Ya, karna saat terjadi gerhana itu langit juga dalam keadaan mendung, membuat hijab yang kuat antara mata dan sang bulan.

Teringat saat pertama kali aku melihat gerhana adalah saat aku duduk si tingkat 2 sekolah MTsN. Saat itu sedang ‘mengaji’ di Meunasah (Mushalla) desa. Dan gerhana pun terjadi. Di Meunasah dikumandangkan azan, menandakan ada sesuatu hal yang terjadi. Dan masyarakat pun paham ketika keluar rumah, gerhana sedang terjadi dan saat terjadi gerhana, selaku orang islam disunnahkan untuk shalah kushufain. Maka datanglah orang-orang desa ke meunasah untuk melakukan shalat kushufain. Sebuah pemandangan yang mulai langka terjadi akhir-akhir ini. Setelah salat dilanjutkan juga dengan semacam khutbah singkat. Dan udah tau kan, klo shalat ini berbeda dengan shalat biasanya? Iya, satu rakaatnya itu dua kali ruku’.

Dan malam kamis pun, saat pulang kantor dalam keadaan hujan sepertinya harapan tuk melihat gerhana semakin besar karna hujan pelan-pelan mulai reda dan langitpun mulai cerah kembali. Namun apa daya, sampai di rumah jam udah menunjukkan sekitar pukul 9 malam. Badan udah lelah, dan… Zzzzzz….. hoho..

Tiba2 terbangun jam 1 malam, wah kebetulan nie bakalan bisa liat. Eh, masih mendung rupanya. Apa mendungnya local aja ya. Hehe… tidur lagi deh. Jam 3 kebangun lagi, liat dari luar masih gelap. Lanjot lagi tu tidornya. Haha.. parah. Dan akhirnya, gerhana yang ada Cuma kebawa mimpi aja, ngeliat proses terjadinya gerhana, bintang-bintang di sekitarnya was-was seperti pajurit menyaksikan komandannya bertempur satu lawan satu. Hoho…

Dan, saat bangun lagi. Gerhana udah mulai pergi, pertarungan sudah usai. Aduh, gagal nie ngeliatnya. Tapi tidak apa-apa, yang penting dan liat dalam mimpi dulu. Moga lain kali diberikan umur panjang dan kesempatan tuk ngeliatnya. Hehe…

Kawanz en temanz, semalam ada yang ngeliat tak? Gimana tu ceritanya? icon smile Gerhana Bulan Dini Hari tadi Gimana ya?

Beruang vs Manusia ?

beruang madu 150x150 Beruang vs Manusia ?Miris, itulah perasaan pertama saat kemarin aku melihat berita di koran harian Serambi Indonesia. “Seekor Beruang Madu Mati Dibunuh Warga”, begitulah judulnya (bisa dibaca langsung di http://aceh.tribunnews.com/news/view/56978/seekor-beruang-madu-mati-dibunuh-warga ). pertanyaan-pertanyaanpun mulai bermunculan. Kenapa harus dibunuh? Kenapa beruang itu muncul disitu? Siapa yang harusnya bertanggung jawab?

Di tempat lain di belahan bumi ini, binatang-binatang seperti itu mulai dilindungi karena terancam hilang dari peradaban. Apakah di tempat kita binatang-binatang seperti ini masih terlalu banyak sehingga dengan mudahnya dibunuh begitu saja?

Hmm… mari kita coba melihat/menganalisa permasalahan yang ada. Menurut berita tersebut, masyarakat pada awalnya hanya berniat menghalau beruang agar tidak mengganggu warga. Hal itu wajar-wajar saja karena beberapa minggu sebelumnya juga terjadi di kawasan Montasik, Aceh Besar, seekor beruang menyerang beberapa warga hingga harus dilarikan ke rumah sakit. Tidak salah kiranya jika masyarakat berusaha agar kejadian serupa tidak terulang. Caranya? Bermaksud menghalau/mengusir beruang tersebut.

Masyarakat beranggapan, beruang sudah mulai masuk ke pemukiman warga hingga mengakibatkan keresahan. Kejadian-kejadian seperti itu belum pernah terjadi sebelumnya di lingkungan mereka. Dan hal itu harus ditanggulangi sedini mungkin.

Nah, sekarang coba kita lihat dari segi perspektif sang beruang. Kita coba interview saja sang beruang. “Pak Beruang kok sampai berada di permukiman warga? Ngapain anda disini?”

Read More…