Guratan Pena Zikra

tergurat agar dapat merekat erat

Category : Inspirasi

Syair Imam Syafi’i tentang Merantau

salah satu syair Imam Syafi’i ini selalu saja dapat menjadi motivasi diri di berbagai suasana. moga bermanfaat juga bagi teman-teman yang lain.

***

Al-Imam asy-Syafi’i berkata dalam syairnya:

ما في المُقامِ لذي عقلٍ وذي أدبٍ
مِنْ رَاحَة ٍ فَدعِ الأَوْطَانَ واغْتَرِب
“Berdiam diri, stagnan, dan menetap di tempat mukim, sejatinya bukanlah peristirahatan bagi mereka pemilik akal dan adab, maka berkelanalah, tinggalkan negerimu (demi menuntut ilmu dan kemuliaan)

سافرْ تجد عوضاً عمَّن تفارقهُ
وانْصَبْ فَإنَّ لَذِيذَ الْعَيْشِ فِي النَّصَبِ
Safarlah, engkau akan menemukan pengganti orang-orang yang engkau tinggalkan. Berpeluhlah engkau dalam usaha dan upaya, karena lezatnya kehidupan baru terasa setelah engkau merasakan payah dan peluh dalam bekerja dan berusaha.

إني رأيتُ وقوفَ الماء يفسدهُ
إِنْ سَاحَ طَابَ وَإنْ لَمْ يَجْرِ لَمْ يَطِبِ
Sungguh aku melihat, air yang tergenang dalam diamnya, justru akan tercemar lalu membusuk. Jika saja air tersebut mengalir, tentu ia akan terasa lezat menyegarkan. Tidak demikian jika ia tidak bergerak mengalir.

والأسدُ لولا فراقُ الأرض ما افترست والسَّهمُ لولا فراقُ القوسِ لم يصب
Sekawanan singa, andai tidak meninggalkan sarangnya, niscaya kebuasannya tidak lagi terasah, ia pun akan mati karena lapar. Anak panah, andai tidak melesat meninggalkan busurnya, maka jangan pernah bermimpi akan mengenai sasaran.

والشمس لو وقفت في الفلكِ دائمة
لَمَلَّهَا النَّاسُ مِنْ عُجْمٍ وَمِنَ عَرَبِ
Sang surya, andai selalu terpaku di ufuk, niscaya ia akan dicela oleh segenap ras manusia, dari ras arabia, tidak terkecuali selain mereka.

والترب كالترب ملقى في أماكنه
والعودُ في أرضه نوعاً من الحطب
Dan bijih emas yang masih terkubur di bebatuan, hanyalah sebongkah batu tak berharga, yang terbengkalai di tempat asalnya. Demikian halnya dengan gaharu di belantara hutan, hanya sebatang kayu, sama seperti kayu biasa lainnya.

إن تغرَّب هذا عزَّ مطلبهُ
وإنْ تَغَرَّبَ ذَاكَ عَزَّ كالذَّهَب
Andai saja gaharu tersebut keluar dari belantara hutan, ia adalah parfum yang bernilai tinggi. Dan andaikata bijih itu keluar dari tempatnya, ia akan menjadi emas yang berharga.

***

ini ada videonya juga dari youtube, tapi dapat yang terjemahannya versi bahasa melayu malaysia : “Berkelanalah”

Imam Syafie – Berkelanalah

 

Selagi [masih] Bisa

Lama tidak menulis di blog, jadi gagap juga untuk memulai. Tapi klo ngak sedikit dipaksa ngak bakalan terangkum dalam rangkaian kalimat-kalimat kan.. icon smile Selagi [masih] Bisa

sebelumnya saya mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa 1433 H bagi yang menjalankan. Semoga amalan kita diterima dan menjadi orang-orang yang bertaqwa.

Jika menilik sedikit ke belakang, dalam rentang satu atau dua minggu sebelum puasa, banyak dari kita yang memanfaatkan waktu (liburan atau bukan) untuk kegiatan yang cenderung ke santai-santai. Ada yang ke pantai, air terjun, tempat pemandian, atau tempat wisata lainnya.

Salah satu tempat yang dipadati pengunjung di kawasan sekitar Banda Aceh dan Aceh Besar adalah Pantai Lampuuk. Hari sabtu minggu kawasan tersebut begitu padat, jauh lebih ramai dari sebelumnya. Selain memanfaatkan waktu libur (padahal bukan masa liburan), kebanyakan pengunjung beralasan lebih kepada “nanti tidak bisa lagi”. Maksudnya? Iya, sebentar lagi kan dah masuk bulan puasa, jadi takutnya ngak sempat lagi mandi ke pantai.

Read More…

Seberapa Boroskah Air Kita? (Peringatan hari Air Dunia)

hari air edt 150x150 Seberapa Boroskah Air Kita? (Peringatan hari Air Dunia)Masih dalam suasana peringatan Hari Air Sedunia. Air merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi makhluk hidup. Lebih dari 2/3 permukaan Bumi tempat kita tinggal ini ditutupi oleh air. Selain untuk minum dan pemakaian sehari-hari, air juga bisa digunakan sebagai media transportasi. Apakah itu di sungai, danau (air tawar) maupun laut (air asin).

Walaupun air menutupi lebih dari 2/3 belahan bumi, namun di beberapa tempat air sulit untuk dijumpai. Seperti di bagian Afrika Timur, kekeringan yang melanda bahkan menyebabkan kematian. Di beberapa tempat lainnya terkadang air malah berlebih. Curah hujan yang tinggi menyebabkan banjir menggenangi daratan.

Di Indonesia sendiri, dulunya praktis kita tak pernah mendengar yang namanya kekeringan. Keberadaan kita di daerah tropis dan curah hujan yang cukup merata seakan mengaburkan kata ‘kekeringan’ di negeri ini. Di peta zona potensi bencana, hampir tak ada wilayah yang masuk kategori kekeringan. Semua mempunyai sumber air yang mencukupi bahkan berlebih. Namun seiiring perubahan zaman, dimana pertumbuhan penduduk yang semakin bertambah pesat dan banyaknya pembukaan lahan hutan yang tak diimbangi dengan penanaman kembali menyebabkan keseimbangan siklus air terganggu. Di musim kemarau kita mengalami kekeringan dan menghadapi banjir di saat musim penghujan. Dari beberapa pulau besar di Indonesia, mungkin hanya pulau Kalimantan yang ‘belum’ mengalami kekeringan. Di pulau-pulau lainnya kasus kekeringan mulai muncul.

Keadaan sekarang

Read More…

Apakah Hanya Karena Gerimis Kita Mengemis ?

Suasana berbeda terjadi di kawasan Aceh menjelang Lebaran Idul Adha. Seperti tulisanku sebelumnya (Meugang, Tradisi Makan Sie dan Berbagi), 2 hari menjelang Idul Adha, sudah ada tradisi meugang terlebih dahulu. Para penjual daging pun mulai membuka lapak dadakan di beberapa tempat strategis. Sambil berharap daging yang dijajakan cepat laku terjual. Wlopun di saat meugang Idul Adha sendiri para penjual lebih sedikit dibandingkan saat meugang Puasa dan meugang Idul Fitri.

Hari itu Sabtu, 5 November 2011 yang berarti esoknya bakalan lebaran Idul Adha 1432 H. Sudah dua hari terakhir hujan terus membasahi kawasan Banda Aceh dan sekitarnya. Mendung yang masih saja kelam bagai mengabarkan hujan akan terus turun dalam beberapa waktu ke depan. Malam selepas Shalat Isya di saat takbir menggema hampir di seluruh Meunasah (mushalla) dan masjid, aku hendak memacu motor menuju kantor tempatku bekerja. Bukannya kelewatan rajin sih, namun ada tugas yang harus segera diselesaikan. Terkadang pandangan orang-orangpun berbeda. Kenapa harus tetap bekerja padahal malam itu adalah malam lebaran. Apakah hanya sekedar mengejar materi? Atau kepentingan-kepentingan lainnya? Pendapat itu tak dapat juga disalahkan sebenarnya. Namun ada hal-hal yang harus kita lakukan dan membutuhkan sedikit pengorbanan di bagian lainnya. Ini bukan tentang materi Bung, tapi tanggung jawab terhadap apa yang telah dibebankan kepada kita. Akupun tak membicarakan khusus diriku, namun kita semua secara global.

Read More…

Panglima Uteun, Penjaga Hutan yang Kian Tergerus Zaman….

Indonesia adalah salah satu negara yang mempunyai hutan yang luas. Hutan tersebut selain sebagai tempat hidup jutaan spesies flora dan fauna, juga membantu menjaga lapizan ozon yang terus saja menjadi semakin menipis. Terang saja, dengan lapisan ozon yang semakin menipis itu menjadikan bumi ini semakin panas. Es di kutub akan semakin mencair dan bisa jadi lho, sepertiga dari dunia ini bakal tenggelam.

Nah, dengan pertambahan penduduk yang semakin besar sementara luas daratan akan semakin mengecil, bisa-bisa kita bakalan hidup di atas air ntar. Dah semacam film waterworld gitu ya. Hoho…

Penebangan hutan yang begitu meraja dan meratulela (haha… istilahnya ngeri ya) membuat hutan yang ada menjadi semakin sempit, flora dan fauna yang ada pun kian terjepit. Sehingga bukanlah suatu keheranan jika pada saat sekarang ini muncul konflik antara manusia dengan binatang. Apakah itu kasus manusia vs harimau, manusia vs gajah, manusia vs beruang (saya juga pernah menulis ini disini) or bisa jadi manusia vs manusia itu sendiri kali ya.. -_-‘

Read More…

Perjuangan itu tak Pernah Berakhir…

halfman 450x400 150x150 Perjuangan itu tak Pernah Berakhir...Juang, sebuah kata dasar yang sering ditambah imbuhan sehingga menjadi berjuang, pejuang, atau perjuangan. Kata yang lumayan sering diucapkan oleh beberapa orang dalam kalimat-kalimatnya, “Berjuanglah sejauh kamu bisa”, atau “Aku tidak akan menyerah, karna aku seorang pejuang”, or “Perjuangan itu membutuhkan pengorbanan”.

Sebenarnya, sejak kapan sebenarnya kita selaku manusia ini berjuang atau melakukan sebuah ‘perjuangan’? insya Allah penulis berusaha untuk menggambarkan beberapa hal sejauh yang bisa.

Disadari atau tidak, kita sudah berjuang sejak sebelum kita lahir menatap (atau meratap) dunia ini. Ketika jutaan sperma yang ditumpahkan bersama-sama menuju ke satu tujuan, saling lomba untuk bisa yang pertama menggapai ovum (sel telur) karna tidak ada istilah kesempatan kedua disini, dan salah satu akhirnya yang memenangkan perjuangan itu. Sperma akhirnya menjadi nuthfah hingga membentuk dan lahirlah seorang bayi. Bayi itu diberikan sebuah nama, NAMAMU tertulis disana.

Seiring berjalannya waktu, sang bayi terus tumbuh dan tumbuh. Ia berjuang dari semula tidak bisa untuk kemudian menelungkup, merangkak, berdiri, hingga bisa berlari. Tentunya perjuangan yang ada tidaklah mudah dan penuh resiko. Untuk bisa menelungkup, sang bayi terkadang kejepit tangannya, atau tertulungkup hanya kepala saja hingga teriak-teriak tak berbahasa memanggil ibunya. Saat belajar berdiri tak jarang kaki yang belum kuat itu kembali terjatuh. Terkadang jatuhnya pun semacam terkapar di lantai atau kejedot tembok hingga menimbulkan bekas benjolan sebagai tanda ‘kegigihan’ perjuangannya. Belajar berjalan/berlari pun tak kalah gigih. Saat baru-baru bisa berjalanpun hanya ada kata lurus ke depan, belum bisa belok. Jadinya apa aja yang ada di depan pun ditabrak mengingat rem pun belom bisa difungsikan. Om-om, tante-tante,kakek nenek, atau mainan yang ada di depan maen tabrak aja jadinya. Namun coba kita lihat dari hasil perjuangan kita itu, kita berhasil, wlo dengan berbagai macam resiko yang timbul.

Menginjak usia sekolah, SD, SMP, maupun SMA, untuk memasuki sekolah pun kita harus menjalani tes masuk. Tentu kita harus berjuang untuk bisa mendapatkan satu kursi di tangan. Kita mempersiapkan diri dengan belajar ataupun hal-hal lain yang dianggap perlu. Ketika sudah lulus, apakah perjuangan kita usai? Tidak. Kita harus terus belajar agar bisa mendapatkan nilai yang cukup memuaskan, atau paling keras takarannya, jangan sampe di-DO. Belajar di tingkat SMA juga penting untuk bekal memasuki bangku kuliah.

Read More…

Penglihatan bukan suatu Batasan (#part 2)

Di tulisan sebelumnya saya telah menulis mengenai #part1 nya. Kini saya ingin sedikit melanjutkan mengenai kisah lain yang pernah saya temui, kisah mengenai keterbatasan penglihatan seseorang. Mudah-mudahan dapat bermanfaat nantinya.

Sebenarnya telah banyak kita lihat orang-orang yang tidak menyerah dengan keterbatasan yang mereka miliki. Apakah itu keterbatasan karna tidak lengkap/berfungsinya panca indera atau karna keadaan yang membuat mereka ‘berjuang’ lebih keras. Kita bisa melihatnya di berbagai tulisan yang sudah pernah ada, ataupun media visual seperti di tv. Saya sendiri juga pernah melihatnya di salah satu acara tv (Kick Andy Show) yang menceritakan bagaimana perjuangan orang tuna netra. Ada yang menjual kerupuk untuk menyambung hidupnya, membuka jasa layanan pijit, dll. Luar biasa, subhanallah.

Nah, selain di media yang tidak secara langsung kita temui itu (cetak maupun elektronik), ternyata sebenarnya ada juga yang kita jumpai di keseharian kita. Namun kita sering tidak sadar dengan keberadaan mereka, bisa jadi karna sudah menganggapnya biasa, ataupun karna terlalu banyak dari mereka yang memilih jalan ‘meminta-minta’ untuk kelangsungan hidupnya.

Read More…