Guratan Pena Zikra

tergurat agar dapat merekat erat

Category : Inspirasi

Penglihatan bukan suatu Batasan (#part 1)

Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh adalah sebuah bangunan masjid bersejarah di Kota Banda Aceh. Tak hanya itu, disana juga lahir cerita-cerita unik dan menarik sehingga pengalaman dan pembelajaran pun dapat dipetik. Salah satunya adalah sebuah hal yang tak sengaja teramati olehku. Ya, wlo sebenarnya hal ini mungkin sekilas dianggap biasa-biasa saja.

**

Di bulan Ramadhan ini, ada ibadah khusus yang tidak terdapat pada bulan-bulan lainnya, salah satunya adalah ibadah shalat tarawih. Ibadah tarawih tersebut ada yang mengerjakan 8 rakaat, 20 rakaat, bahkan terkhusus di Madinah, ada yang 36 rakaat. Dan biasanya lagi (bukan biasanya, emang syaratnya gitu kok, hehe…) shalat tarawih yang dikerjakan sesudah shalat Isya itu akan dilanjutkan dengan shalat witir minimal 3 rakaat.

Di seputaran Banda Aceh sendiri, mayoritas masjidnya melaksanakan shalat tarawih sejumlah 20 rakaat. Ada yang langsung shalat 20 rakaat kemudian witir, ada juga yang melaksanakan witir setelah 8 rakaat kemudian bagi yang melaksanakan 20 rakaat melanjutkannya setelah ‘witir 8’ selesai. Seperti di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Setelah shalat Isya berjamaah, ada ceramah yang disampaikan oleh seorang da’i/penceramah (ya iyalah penceramah, masak pelawak, icon biggrin Penglihatan bukan suatu Batasan (#part 1) ) selama 10-15 menit. Kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan shalat tarawih sejumlah 8 rakaat. Nah setelah 8 rakaat ini, bakalan ada jeda sejenak. Jamaah yang akan mengerjakan tarawih 20 biasanya keluar sejenak untuk menikmati udara segar (istilahnya aja, hehe..) atau ada juga yang tetap berada di dalam masjid sambil membaca Alquran atau berzikir. Sementara jamaah tarawih 8 melanjutkan dengan shalat witir.

Seusai witir, jamaah tarawih 8 pulang (atau ada kegiatan lain apalah gitu masing-masingnya terserahlah..) dan jamaah 20 tadi kembali membentuk shaf guna melanjutkan tarawihnya. Aku sendiri memilih shalat tarawih 20 rakaat. Walaupun tidak setiap malam aku shalatnya di Masjid Baiturrahman, tapi dalam setahun selama Ramadhan insya Allah ada lah beberapa kali shalat disana. icon smile Penglihatan bukan suatu Batasan (#part 1)

Read More…

Belajar dari Jembatan Semut

semut3 150x150 Belajar dari Jembatan SemutBanyak sekali sebenarnya hal-hal yang terjadi di sekeliling kita yang bisa diambil sebagai ‘ibrah atau pelajaran. Apakah itu berupa kejadian alam, kegiatan makhluk ciptaan Allah selain kita manusia, dll. Hal-hal yang terjadi itu bahkan terkadang menjadi pengingat tersendiri bagi diri kita tuk introspeksi, mengoreksi diri sendiri yang penuh keterbatasan akan kemampuan.

Kali ini saya akan mengetengahkan sebuah kejadian, bukan kejadian sebenarnya karna tak terlalu istimewa sih, terlebih sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Kita sebut saja sebuah hal :). Beberapa malam yang lalu saat hendak ke masjid untuk menunaikan ibadah shalat Isya beserta tarawih seperti biasanya, ada sesuatu hal yang menarik perhatian ketika saya membuka pintu pagar rumah. Pintu pagar rumah saya seperti pagar kebanyakan, model sorong gitu. Dan ada semacam bagian pintu satu lagi untuk buka tutup yang ukurannya biasanya lebih kecil.

Saya melihat semut yang sudah mulai bergerombol di antara batasan pertemuan kedua ujung pintu itu. Seperti biasanya juga, semut pohon yang berwarna merah itu menggunakan pagar rumah sebagai jalur transportasi dalam mobilisasi makanan ke sarangnya. Malam itu kebetulan jarak antar kedua pintu itu agak berjauhan, tidak berdempet seperti biasanya. Nah, jaraknya itu klo untuk ukuran semut, maka tidak akan bisa dilewati.

Saya mendekatkan lagi pandangan saya untuk melihat lebih jelas lagi ke tempat penyeberangan semut tadi. Ternyata ada sekitar 2 atau 3 semut yang menjadikan tubuhnya sebagai jembatan bagi yang lain. Kaki bagian depannya meraih bagian pintu pagar yang di depannya sementara kaki belakang tetap di posisi ia berdiri, di bagian pagar yang lainnya. Dengan posisi begitu, teman-temannya yang lain dengan mudahnya dapat melalui ‘jembatan buatan’ itu. Hal ini berlangsung cukup lama sebelum akhirnya aku membuka pintu dan mendekatkan jarak antar pagar agar bisa dilalui saja oleh mereka, tanpa jembatan tubuh temannya.

Read More…

Malam Minggu di Malioboro (catatan perjalanan Jogja&Solo #part3)

Setelah berhasil ‘berwisata’ ke Candi Borobudur, kami (aku dan si Babe) pun pulang kembali ke Jogja dengan menggunakan bus dari terminal borobudur ke terminal Jombor. Ongkosnya sama kayak pergi, yaitu 12 ribu per orang. Bus kali ini lebih ‘fit’ dari bus saat kami berangkat ke borobudur, namun tetap saja merasa kurang fresh, karena ada penumpang yang membawa burung dan ayam di dalam bus, hohoho… jangan sampe eek ya,,,,

Beberapa saat sebelum sampai ke terminal Jombor, di tengah-tengah capek yang belum kelar, aku mengajukan sebuah ide untuk menyambung perjalanan ke Malioboro. Memang sih malam pertama sampe ke Jogja aku sudah bertandang kesana, tapi malam itu rasanya ingin balik kesana, sekalian nyari beberapa oleh-oleh. Dengan berat nafas dan sedikit berat langkah (^^V) akhirnya si Babe mau juga diajak kesana, berangkaaaattt….. Nah, masalahnya lagi adalah cara mencapai kesana dengan angkutan umum, belum tau gimana. Jadinya tanya ama pak supir busnya deh.

Dari informasi singkat pak supir, kami disarankan naek trans Jogja aja dari terminal Jombor. Okey, thanks Pak. Langsung aja deh kami masuk ke shelter trans Jogja (hamper sama juga dengan bus Trans Jakarta a.k.a busway) dengan membeli karcis 4000/orang. Ternyata kami ngak sendiri ding, ada beberapa rombongan yang satu bus dari borobudur tadi yang juga mau ke Malioboro. Klop, kenalan dulu deh, hehe… hitung2 dapet kawan sesama ‘turis’ :).

Ternyata nunggu di shelter disini ngak sama kayak di shelter busway Jakarta. Kita harus nunggu dulu hingga ‘penumpangnya ada’, baru bus yang dah mulai mangkal jalan dan bersedia badan tubuhnya dimasuki manusia-manusia yang dah ngak da kerjaan ngelayap malam-malam gitu. Hehe.. lumayan lama juga nunggunya sih sebelum kami bisa masuk ke bus 2A yang rutenya melewati Malioboro. Bus yang lumayan penuh itu pun mulai menggoyang putarkan bannya meninggalkan terminal. Sebelum berhenti di salah satu shelter, seperti busway jakarta juga, akan ada pemberitahuan bahwa sebentar lagi akan sampai di shelter blablabla, bagi penumpang yang akan turun harap mengecek lagi barang-barangnya jangan sampai ada yang tertinggal. Bedanya, jika di Jakarta suara pemberitahuan itu muncul dari speaker yang udah terekam duluan hingga bisa diputar ulang sesuka hati, disini suara pemberitahuan itu langsung dari suara si mbak yang ngejaga pintu keluar-masuk bus. Glek, aku sempat berpikir sekaligus salut ama si mbaknya, seharian gitu sanggup teriak-teriak kata-kata yang lumayan panjang yang terkadangpun tak ada penumpang yang ambil perduli dan waktu udah kelewatan shelter baru deh protes-protes ndiri ngak tahu setengah diri. Salut deh ama si mbaknya. Inilah hidup bung, penuh perjuangan. Dan jika itu layak diperjuangkan, kenapa kamu masih duduk-duduk saja mengomel-ngomel atau berkeluh kesah ngak jelas. Inilah hidup bung, jika menurutmu itu patut diperjuangkan, maka berjuanglah untuk menggapainya.

Read More…

Mengejar Borobudur (catatan perjalanan Jogja&Solo #part2)

Semalam sebelum aku kembali ke Jogja (dari Solo), aku mencoba-coba Googling kira-kira aku bisa kemana saja. Hitung-hitung memanfaatkan sisa waktu dari perjalanan ini. Aku mencari tempat-tempat menarik yang kira-kira mudah dijangkau. Semula pilihanku jatuh untuk singgah di Candi Prambanan karna jaraknya yang dekat dengan jalan Jogja – Solo. Rencananya aku akan meminta pak supir travel untuk singgah sejenak, hitung-hitung tambah ongkos dikit tak apa lah. Namun niat ini tak jadi karna melihat situasi mobil travel yang penuh dan terlihat beberapa penumpangnya sedikit buru-buru, termasuk salah seorang fresh graduate yang akan mengikuti job fair di kampus UGM.

Pilihan kedua adalah Candi Borobudur, namun kembali kuurungkan lagi karena jarak tempuhnya sekitar 2 jam dari Solo. Ditambah lagi jalur yang kudapatkan dari internet agak sedikit rumit dan kuyakin aku bisa tersesat nantinya. Hoho… dan kesimpulannya adalah kembali saja ke Jogja dulu, menikmati apa adanya.

Hari sudah menjelang siang saat sampai di Jogja. Sambil nemenin si Babe (temanku di Jogja ; baca part sebelumnya) yang asik maen game, suntuk juga akunya. “Masak udah jauh-jauh kesini tapi ngak kemana-mana lagi”, pikirku. Akupun mulai berpikir kemana tempat yang harus kujelajahi lagi. Setelah memilah-milah, tak ada satupun yang cocok dengan keinginanku sepertinya. Sampai akhirnya creeeenggg… aku kembali teringat ke Candi Borobudur. Saat aku googling di Solo malam sebelumnya, rasanya Borobudur tak jauh dari Jogja, aku harus kesana. Akupun bertanya ke Babe, namun ia juga kurang tahu. Yang ia tahu, jalan ke sana ada masuk-masuk ke dalam lagi gitu, susah ngingat jalannya. Akupun langsung nembak nanya, “Sudah pernah kesana?” dia menjawab belum. “pas kali”, dalam hatiku. Akupun mengajaknya untuk ikut, itung-itung dia belum pernah kesana sekaligus da kawan yang temenin, klo tersesat ntar paling ngak kan enggak sendiri. Hihihi….


Kami pun akhirnya buru-buru nyiapin diri (nyiapin diri? Emang upacara di siapin..? :D) tuk berangkat. Langkah pertama adalah nyari di internet gimana caranya bisa sampai ke Borobudur. Dapat peta umum gitu tapi masih takut-takut ngak klo pake motor. Sampe akhirnya nemu satu blog yang ngejelasin gimana klo mau ke Borobudur dari Jogja nya. Perjalanan bisa ditempuh dengan naek angkot trus nyambung pake bus di terminal Jombor Jogja. Setiap penjelasan dari isi blog itu kami harus ingat betul, kebetulan ongkosnya pun da juga disebutin disitu. Cocokz bangetz :D. Jam satu siang keluar dari kosannya babe en cari makan siang dulu. Perut aman, tancap gas deh.

Read More…

Teman Baru dari Pekan Baru (catatan perjalanan Jogja&Solo #part1)

Rabu, 20 Juli 2011 yang lalu aku mendapat tugas dari kantor untuk mengikuti salah satu pelatihan mengenai banjir, kekeringan, dan tanah longsor di Kota Solo. Walau agak telat, kali ini aku akan menceritakan sedikit pengalaman selama perjalananku kesana. Cerita pengalaman perjalanan ini mungkin akan berjumlah 4 atau 5 part. So, jangan bosan-bosan pelototin ni tulisan ya. Hehe… semoga bermanfaat. icon smile Teman Baru dari Pekan Baru (catatan perjalanan Jogja&Solo #part1)

Karena pemberitahuan yang mendesak, persiapan keberangkatan pun agak sedikit mendesak. Tiket baru dipesan 2 hari sebelum keberangkatan. Tanda-tanda ‘keanehan’ mulai muncul ketika pemesanan tiket. Yupz, pesawat Banda Aceh – Solo (transit Jakarta) jadwalnya tu berangkat pagi dan bakalan sampai di Kota Solo nya sore atau malam hari. Sedangkan pelatihan hari pertama dimulai siang hari. Dengan berbagai pertimbangan akhirnya aku memutuskan untuk ‘terbang’ mendarat di Kota Yogyakarta, bukan langsung ke Solo nya. Toh Solo dan Jogja ngak jauh-jauh amat, plus lagi dengan pertimbangan di Jogja aku punya kenalan sedangkan di Solo belum. icon smile Teman Baru dari Pekan Baru (catatan perjalanan Jogja&Solo #part1)

sunrise sim p 300x225 Teman Baru dari Pekan Baru (catatan perjalanan Jogja&Solo #part1)

fajar menyambut pagi di bandara

Rabu pagi setelah subuh, ‘perjalanan dinas’ pertamaku ke luar Aceh pun dimulai. Suasana fajar yang indah pagi itu mengiringi setiap derap langkah menuju ke pesawat. Pesawat take off, melewati puncak Seulawah, memecah suasana pagi yang mulai terkena biasan sang mentari. Cuaca memang kelihatan cerah, namun nyatanya tak seperti kelihatan. Mungkin karena pengaruh angin yang memang sedang kencang-kencangnya, beberapa kali kapten mengingatkan penumpang untuk mengeratkan sabuk pengaman. Empat puluh lima menit kemudian pesawat pun landing untuk transit di Medan. Beberapa penumpang sempat berteriak karena pesawat ber les merah ini mendarat dengan agak kasar, dan selama beberapa kali naek pesawat, rasanya ini pendaratan yang paling tak mulus.

Saat berangkat lagi dari Medan menuju Jakarta, cuaca yang tidak mulus kembali ngebuat kita terkadang deg-degan setengah ngak jelas. Bahkan beberapa kali pesawat seperti kehilangan tekanan udara. Rasanya seperti kita jatuh dari ketinggian gitu. Dan itu bisa berlangsung cukup lama. Huft… ngeri juga rasanya ni penerbangan, kalah roller coaster jadinya.

Read More…

KAMI MOSA AWARD (Malam Puncak Rangkaian Acara Bakti KAMI MOSA)

185524 2079726684195 1575878826 2010444 8291055 n1 150x150 KAMI MOSA AWARD (Malam Puncak Rangkaian Acara Bakti KAMI MOSA)Sore itu, Selasa 26 Juli 2011, suasana Kota Banda Aceh mendung berawan, bahkan ada di beberapa titik di kota ini hujan mulai genit merintikkan tanda-tanda keberadaannya. Angin yang terasa sedikit kencang sejak beberapa hari ke belakang di seputaran Banda Aceh pun tak mau kalah. Kali ini kehadirannya secara jelas terlihat dengan liukan pohon-pohon yang berayun kesana kemari, sesekali menerbangkan daun-daun yang sudah tak sanggup bergantung di dahan induknya.

Di satu sudut pusat kota Banda Aceh, di sebuah gedung unik yang dinamakan Anjong Mon Mata, papan-papan bunga ucapan berderet menghiasi pintu masuk ke dalamnya. Beberapa orang mulai bergerombol berdatangan memasuki halaman gedung yang bersebelahan dengan pendopo Gubernur Aceh itu. Menandakan sore itu akan ada sebuah acara yang bakal berlangsung. Dan benar saja, sore itu bakalan ada acara MOSA AWARD. Salah satu acara puncak dalam rangkaian acara Bakti KAMIMOSA (Keluarga Alumni Modal Bangsa) tahun 2011.


Alumni Modal Bangsa yang berasal dari berbagai angkatan mulai berdatangan memasuki halaman gedung Anjong Mon Mata. Acara sendiri memang di-set oleh panitia berlangsung sejak sore (pukul 18.00) karena bakalan ada coffe break bareng dulu. After coffe break bareng baru deh kemudian azan berkumandang yang menandakan masuknya waktu shalat untuk kawasan Kota Banda Aceh dan sekitarnya (lho, ini kok udah cem pembawa berita jadinya ya, hehe…). pertama kali melangkahkan kaki ke dalam mushalla yang berada tidak jauh dari gedung utama Anjong Mon Mata, suasana Modal Bangsa (selanjutnya disingkat menjadi Mosa) mulai kental terasa. Suasana mushalla yang tak begitu luas dan ada kain ‘hijab’ yang membatasi cowok dan cewek tak jauh berbeda dengan mushalla Mosa. Memori di otak tiba-tiba secara otomatis berputar mengingatkan akan masa-masa di mosa dulu. Saat azan berkumandang semua siswa bersiap menuju mushalla. Ada yang sudah memang berada di mushalla duluan sambil membaca Alquran, ada yang baru siap olahraga sehingga buru-buru mandi, ada yang menghilang atau pura-pura tertidur dengan alasan-alasan seluas bak cuci yang tinggal dikeluarkan saja satu persatu jika ada yang tanya, ada yang sabar (shalat barak -_-‘), dan bermacam lainnya. Yang jelas suasana menjelang magrib di kampus mosa begitu sibuknya, hanya berada satu tingkat di bawah kesibukan saat pagi antri buat mandi,, :D.


Shalat magrib usai, para alumni dan guru yang datang terus saja bertambah banyak, dan segera menuju ke ruang utama Anjong Mon Mata untuk makan malam bersama. Jarak ruang utama yang tidak begitu jauh dari mushalla terasa bagaikan sedikit lebih jauh karena selama perjalanan kesana, para alumni mulai bersalaman bersama para guru dan teman-teman atau adik/abang/kakak angkatan yang mereka kenal dulu atau pura-pura kenal saja lah. Hehe… sesekali para guru mulai bertanya nama siswanya dulu karena lupa. Ya, maklum saja karna sudah lama mereka tak bertemu ditambah lagi tampang-tampang alumni Mosa kebanyakan memang berubah mulai sejak keluar dari Mosa. Ada yang udah brewokan, jenggotan, kumisan, kacamata-an, gondrongan (:D), dan yang paling banyak persentasenya adalah : alumni Mosa hampir semuanya tambah ‘Sehat’ aja. Hehehe….


Memasuki ruangan Anjong Mon Mata, langsung deh disambut (disambut..? emangnya jatoh… -_-‘) ama adek-adek yang lagi ngejagain meja. Wah, ngak da kerjaan ni adek-adek, masak meja dijagain? “bukan begitu Bang, ini meja registrasi. Jadi semua tamu-tamu yang hadir mengisi buku tamu ini. Sekaligus membantu pendataan gitu..” celutuk seorang cewek yang jagain. Oo… gitu ya, bener banget tu. Makanya, klo ada lagi kayak gini besok-besok, temen-temen jangan pada lupa atau kura-kura dalam abu (pura-pura maksudnya icon smile KAMI MOSA AWARD (Malam Puncak Rangkaian Acara Bakti KAMI MOSA) ) ngak tau buat ngisi tu buku tamu ya. Biar enak ntar kita memetakan keadaan alumni kita. Okey,,? ^^V.

Read More…

Oleh-oleh Isra Mi’raj

“Maha suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah kami berkahi di sekelilingnya. Untuk kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda kekuasaan kami. Sesungguhnya Allah maha mendengar lagi maha mengetahui”. (Q.S. Al-Isra: 1).

Berhubung malam kemarin adalah peringatan Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW, saya berusaha menulis sedikit mengenai hal tersebut, sedikit terlambat tapi mudah-mudahan tidak apa-apa. Tak banyak, lagipula tak ada kepandaian dan pengetahuan yang cukup mengenai hal tersebut. Saya hanyalah seorang awam akan ilmu, fakir mungkin lebih tepatnya dalam hal ilmu agama. Maka jikalau dalam penulisan nantinya ada hal yang kurang berkenan atau menurut ilmu kawanz en temanz itu keliru, tolong disampaikan. Agar supaya bisa saya tahu sedikit ilmu itu.

yang akan disampaikan mungkin bukan secara langsung mengenai isra mi’raj itu, namun bagaimana oleh-oleh yang dibawa ‘sepulang’ dari sana itu apakah sudah kita ambil secara baik atau belum. Ya, oleh- oleh itu adalah shalat.

Sekilas ke lembaran sejarah, Isra Mi'raj (Arab:??????? ????????, al-’Isr?’ wal-Mi‘r??) adalah dua bagian dari perjalanan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dalam waktu satu malam saja. Kejadian ini merupakan salah satu peristiwa penting bagi umat Islam, karena pada peristiwa ini Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam mendapat perintah untuk menunaikan shalat lima waktu sehari semalam.

Isra Mi'raj terjadi pada periode akhir kenabian di Makkah sebelum Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam hijrah ke Madinah. Menurut al-Maududi dan mayoritas ulama, Isra Mi'raj terjadi pada tahun pertama sebelum hijrah, yaitu antara tahun 620-621 M. Menurut al-Allamah al-Manshurfuri, Isra Mi'raj terjadi pada malam 27 Rajab tahun ke-10 kenabian, dan inilah yang populer. Namun demikian, Syaikh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri menolak pendapat tersebut dengan alasan karena Khadijah radhiyallahu anha meninggal pada bulan Ramadan tahun ke-10 kenabian, yaitu 2 bulan setelah bulan Rajab. Dan saat itu belum ada kewajiban salat lima waktu. Al-Mubarakfuri menyebutkan 6 pendapat tentang waktu kejadian Isra Mi'raj. Tetapi tidak ada satupun yang pasti. Dengan demikian, tidak diketahui secara persis kapan tanggal terjadinya Isra Mi'raj.

Peristiwa Isra Mi'raj terbagi dalam 2 peristiwa yang berbeda. Dalam Isra, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam “diberangkatkan” oleh Allah SWT dari Masjidil Haram hingga Masjidil Aqsa. Lalu dalam Mi'raj Nabi Muhammad SAW dinaikkan ke langit sampai ke Sidratul Muntaha yang merupakan tempat tertinggi. Di sini Beliau mendapat perintah langsung dari Allah SWT untuk menunaikan salat lima waktu. (sumber : wikipedia)

Kembali kepada ‘oleh-oleh’ yang dibawa oleh Rasulullah sepulang dari sana. Sebagaimana kita tahu, perintah shalat yang pertama itu adalah sejumlah 50 kali sehari. Namun atas saran dari Nabi Musa, Rasulullah kembali untuk meminta keringanan, sekali permintaan dikurangi 5 kali. Maka menjadi 45 kali sehari. Dan begitu lagi, Rasulullah disarankan meminta keringanan lagi terhadap perintah shalat itu. Dan akhirnya 9 kali Rasulullah bolak-balik hingga tersisa lah 5 kali shalat dalam sehari semalam bagi umatnya. Shalat yang diwajibkan kepada kita untuk dilaksanakan.

Subuh itu Nabi Muhammad SAW pulang dari ziarah terbesar sepanjang masa. luar biasa mengagumkan! Oleh-oleh pun dibawa pulang untuk umatnya. Oleh-oleh itu dijadikan nabi sebagai tiang penegak agamanya, oleh-oleh itu jadi pembeda islam dengan orang kafir, oleh-oleh itu menjadi power bagi pasukan yang habis-habisan menegakkan panji islam.

Masihkah BERAT oleh-oleh itu kita TERIMA dan kita AMALKAN….???

Baca juga : shalat mencegah perbuatan keji