Guratan Pena Zikra

tergurat agar dapat merekat erat

Category : serba-serbi

Malam Minggu di Malioboro (catatan perjalanan Jogja&Solo #part3)

Setelah berhasil ‘berwisata’ ke Candi Borobudur, kami (aku dan si Babe) pun pulang kembali ke Jogja dengan menggunakan bus dari terminal borobudur ke terminal Jombor. Ongkosnya sama kayak pergi, yaitu 12 ribu per orang. Bus kali ini lebih ‘fit’ dari bus saat kami berangkat ke borobudur, namun tetap saja merasa kurang fresh, karena ada penumpang yang membawa burung dan ayam di dalam bus, hohoho… jangan sampe eek ya,,,,

Beberapa saat sebelum sampai ke terminal Jombor, di tengah-tengah capek yang belum kelar, aku mengajukan sebuah ide untuk menyambung perjalanan ke Malioboro. Memang sih malam pertama sampe ke Jogja aku sudah bertandang kesana, tapi malam itu rasanya ingin balik kesana, sekalian nyari beberapa oleh-oleh. Dengan berat nafas dan sedikit berat langkah (^^V) akhirnya si Babe mau juga diajak kesana, berangkaaaattt….. Nah, masalahnya lagi adalah cara mencapai kesana dengan angkutan umum, belum tau gimana. Jadinya tanya ama pak supir busnya deh.

Dari informasi singkat pak supir, kami disarankan naek trans Jogja aja dari terminal Jombor. Okey, thanks Pak. Langsung aja deh kami masuk ke shelter trans Jogja (hamper sama juga dengan bus Trans Jakarta a.k.a busway) dengan membeli karcis 4000/orang. Ternyata kami ngak sendiri ding, ada beberapa rombongan yang satu bus dari borobudur tadi yang juga mau ke Malioboro. Klop, kenalan dulu deh, hehe… hitung2 dapet kawan sesama ‘turis’ :).

Ternyata nunggu di shelter disini ngak sama kayak di shelter busway Jakarta. Kita harus nunggu dulu hingga ‘penumpangnya ada’, baru bus yang dah mulai mangkal jalan dan bersedia badan tubuhnya dimasuki manusia-manusia yang dah ngak da kerjaan ngelayap malam-malam gitu. Hehe.. lumayan lama juga nunggunya sih sebelum kami bisa masuk ke bus 2A yang rutenya melewati Malioboro. Bus yang lumayan penuh itu pun mulai menggoyang putarkan bannya meninggalkan terminal. Sebelum berhenti di salah satu shelter, seperti busway jakarta juga, akan ada pemberitahuan bahwa sebentar lagi akan sampai di shelter blablabla, bagi penumpang yang akan turun harap mengecek lagi barang-barangnya jangan sampai ada yang tertinggal. Bedanya, jika di Jakarta suara pemberitahuan itu muncul dari speaker yang udah terekam duluan hingga bisa diputar ulang sesuka hati, disini suara pemberitahuan itu langsung dari suara si mbak yang ngejaga pintu keluar-masuk bus. Glek, aku sempat berpikir sekaligus salut ama si mbaknya, seharian gitu sanggup teriak-teriak kata-kata yang lumayan panjang yang terkadangpun tak ada penumpang yang ambil perduli dan waktu udah kelewatan shelter baru deh protes-protes ndiri ngak tahu setengah diri. Salut deh ama si mbaknya. Inilah hidup bung, penuh perjuangan. Dan jika itu layak diperjuangkan, kenapa kamu masih duduk-duduk saja mengomel-ngomel atau berkeluh kesah ngak jelas. Inilah hidup bung, jika menurutmu itu patut diperjuangkan, maka berjuanglah untuk menggapainya.

Read More…

Mengejar Borobudur (catatan perjalanan Jogja&Solo #part2)

Semalam sebelum aku kembali ke Jogja (dari Solo), aku mencoba-coba Googling kira-kira aku bisa kemana saja. Hitung-hitung memanfaatkan sisa waktu dari perjalanan ini. Aku mencari tempat-tempat menarik yang kira-kira mudah dijangkau. Semula pilihanku jatuh untuk singgah di Candi Prambanan karna jaraknya yang dekat dengan jalan Jogja – Solo. Rencananya aku akan meminta pak supir travel untuk singgah sejenak, hitung-hitung tambah ongkos dikit tak apa lah. Namun niat ini tak jadi karna melihat situasi mobil travel yang penuh dan terlihat beberapa penumpangnya sedikit buru-buru, termasuk salah seorang fresh graduate yang akan mengikuti job fair di kampus UGM.

Pilihan kedua adalah Candi Borobudur, namun kembali kuurungkan lagi karena jarak tempuhnya sekitar 2 jam dari Solo. Ditambah lagi jalur yang kudapatkan dari internet agak sedikit rumit dan kuyakin aku bisa tersesat nantinya. Hoho… dan kesimpulannya adalah kembali saja ke Jogja dulu, menikmati apa adanya.

Hari sudah menjelang siang saat sampai di Jogja. Sambil nemenin si Babe (temanku di Jogja ; baca part sebelumnya) yang asik maen game, suntuk juga akunya. “Masak udah jauh-jauh kesini tapi ngak kemana-mana lagi”, pikirku. Akupun mulai berpikir kemana tempat yang harus kujelajahi lagi. Setelah memilah-milah, tak ada satupun yang cocok dengan keinginanku sepertinya. Sampai akhirnya creeeenggg… aku kembali teringat ke Candi Borobudur. Saat aku googling di Solo malam sebelumnya, rasanya Borobudur tak jauh dari Jogja, aku harus kesana. Akupun bertanya ke Babe, namun ia juga kurang tahu. Yang ia tahu, jalan ke sana ada masuk-masuk ke dalam lagi gitu, susah ngingat jalannya. Akupun langsung nembak nanya, “Sudah pernah kesana?” dia menjawab belum. “pas kali”, dalam hatiku. Akupun mengajaknya untuk ikut, itung-itung dia belum pernah kesana sekaligus da kawan yang temenin, klo tersesat ntar paling ngak kan enggak sendiri. Hihihi….


Kami pun akhirnya buru-buru nyiapin diri (nyiapin diri? Emang upacara di siapin..? :D) tuk berangkat. Langkah pertama adalah nyari di internet gimana caranya bisa sampai ke Borobudur. Dapat peta umum gitu tapi masih takut-takut ngak klo pake motor. Sampe akhirnya nemu satu blog yang ngejelasin gimana klo mau ke Borobudur dari Jogja nya. Perjalanan bisa ditempuh dengan naek angkot trus nyambung pake bus di terminal Jombor Jogja. Setiap penjelasan dari isi blog itu kami harus ingat betul, kebetulan ongkosnya pun da juga disebutin disitu. Cocokz bangetz :D. Jam satu siang keluar dari kosannya babe en cari makan siang dulu. Perut aman, tancap gas deh.

Read More…

Teman Baru dari Pekan Baru (catatan perjalanan Jogja&Solo #part1)

Rabu, 20 Juli 2011 yang lalu aku mendapat tugas dari kantor untuk mengikuti salah satu pelatihan mengenai banjir, kekeringan, dan tanah longsor di Kota Solo. Walau agak telat, kali ini aku akan menceritakan sedikit pengalaman selama perjalananku kesana. Cerita pengalaman perjalanan ini mungkin akan berjumlah 4 atau 5 part. So, jangan bosan-bosan pelototin ni tulisan ya. Hehe… semoga bermanfaat. icon smile Teman Baru dari Pekan Baru (catatan perjalanan Jogja&Solo #part1)

Karena pemberitahuan yang mendesak, persiapan keberangkatan pun agak sedikit mendesak. Tiket baru dipesan 2 hari sebelum keberangkatan. Tanda-tanda ‘keanehan’ mulai muncul ketika pemesanan tiket. Yupz, pesawat Banda Aceh – Solo (transit Jakarta) jadwalnya tu berangkat pagi dan bakalan sampai di Kota Solo nya sore atau malam hari. Sedangkan pelatihan hari pertama dimulai siang hari. Dengan berbagai pertimbangan akhirnya aku memutuskan untuk ‘terbang’ mendarat di Kota Yogyakarta, bukan langsung ke Solo nya. Toh Solo dan Jogja ngak jauh-jauh amat, plus lagi dengan pertimbangan di Jogja aku punya kenalan sedangkan di Solo belum. icon smile Teman Baru dari Pekan Baru (catatan perjalanan Jogja&Solo #part1)

sunrise sim p 300x225 Teman Baru dari Pekan Baru (catatan perjalanan Jogja&Solo #part1)

fajar menyambut pagi di bandara

Rabu pagi setelah subuh, ‘perjalanan dinas’ pertamaku ke luar Aceh pun dimulai. Suasana fajar yang indah pagi itu mengiringi setiap derap langkah menuju ke pesawat. Pesawat take off, melewati puncak Seulawah, memecah suasana pagi yang mulai terkena biasan sang mentari. Cuaca memang kelihatan cerah, namun nyatanya tak seperti kelihatan. Mungkin karena pengaruh angin yang memang sedang kencang-kencangnya, beberapa kali kapten mengingatkan penumpang untuk mengeratkan sabuk pengaman. Empat puluh lima menit kemudian pesawat pun landing untuk transit di Medan. Beberapa penumpang sempat berteriak karena pesawat ber les merah ini mendarat dengan agak kasar, dan selama beberapa kali naek pesawat, rasanya ini pendaratan yang paling tak mulus.

Saat berangkat lagi dari Medan menuju Jakarta, cuaca yang tidak mulus kembali ngebuat kita terkadang deg-degan setengah ngak jelas. Bahkan beberapa kali pesawat seperti kehilangan tekanan udara. Rasanya seperti kita jatuh dari ketinggian gitu. Dan itu bisa berlangsung cukup lama. Huft… ngeri juga rasanya ni penerbangan, kalah roller coaster jadinya.

Read More…

KAMI MOSA AWARD (Malam Puncak Rangkaian Acara Bakti KAMI MOSA)

185524 2079726684195 1575878826 2010444 8291055 n1 150x150 KAMI MOSA AWARD (Malam Puncak Rangkaian Acara Bakti KAMI MOSA)Sore itu, Selasa 26 Juli 2011, suasana Kota Banda Aceh mendung berawan, bahkan ada di beberapa titik di kota ini hujan mulai genit merintikkan tanda-tanda keberadaannya. Angin yang terasa sedikit kencang sejak beberapa hari ke belakang di seputaran Banda Aceh pun tak mau kalah. Kali ini kehadirannya secara jelas terlihat dengan liukan pohon-pohon yang berayun kesana kemari, sesekali menerbangkan daun-daun yang sudah tak sanggup bergantung di dahan induknya.

Di satu sudut pusat kota Banda Aceh, di sebuah gedung unik yang dinamakan Anjong Mon Mata, papan-papan bunga ucapan berderet menghiasi pintu masuk ke dalamnya. Beberapa orang mulai bergerombol berdatangan memasuki halaman gedung yang bersebelahan dengan pendopo Gubernur Aceh itu. Menandakan sore itu akan ada sebuah acara yang bakal berlangsung. Dan benar saja, sore itu bakalan ada acara MOSA AWARD. Salah satu acara puncak dalam rangkaian acara Bakti KAMIMOSA (Keluarga Alumni Modal Bangsa) tahun 2011.


Alumni Modal Bangsa yang berasal dari berbagai angkatan mulai berdatangan memasuki halaman gedung Anjong Mon Mata. Acara sendiri memang di-set oleh panitia berlangsung sejak sore (pukul 18.00) karena bakalan ada coffe break bareng dulu. After coffe break bareng baru deh kemudian azan berkumandang yang menandakan masuknya waktu shalat untuk kawasan Kota Banda Aceh dan sekitarnya (lho, ini kok udah cem pembawa berita jadinya ya, hehe…). pertama kali melangkahkan kaki ke dalam mushalla yang berada tidak jauh dari gedung utama Anjong Mon Mata, suasana Modal Bangsa (selanjutnya disingkat menjadi Mosa) mulai kental terasa. Suasana mushalla yang tak begitu luas dan ada kain ‘hijab’ yang membatasi cowok dan cewek tak jauh berbeda dengan mushalla Mosa. Memori di otak tiba-tiba secara otomatis berputar mengingatkan akan masa-masa di mosa dulu. Saat azan berkumandang semua siswa bersiap menuju mushalla. Ada yang sudah memang berada di mushalla duluan sambil membaca Alquran, ada yang baru siap olahraga sehingga buru-buru mandi, ada yang menghilang atau pura-pura tertidur dengan alasan-alasan seluas bak cuci yang tinggal dikeluarkan saja satu persatu jika ada yang tanya, ada yang sabar (shalat barak -_-‘), dan bermacam lainnya. Yang jelas suasana menjelang magrib di kampus mosa begitu sibuknya, hanya berada satu tingkat di bawah kesibukan saat pagi antri buat mandi,, :D.


Shalat magrib usai, para alumni dan guru yang datang terus saja bertambah banyak, dan segera menuju ke ruang utama Anjong Mon Mata untuk makan malam bersama. Jarak ruang utama yang tidak begitu jauh dari mushalla terasa bagaikan sedikit lebih jauh karena selama perjalanan kesana, para alumni mulai bersalaman bersama para guru dan teman-teman atau adik/abang/kakak angkatan yang mereka kenal dulu atau pura-pura kenal saja lah. Hehe… sesekali para guru mulai bertanya nama siswanya dulu karena lupa. Ya, maklum saja karna sudah lama mereka tak bertemu ditambah lagi tampang-tampang alumni Mosa kebanyakan memang berubah mulai sejak keluar dari Mosa. Ada yang udah brewokan, jenggotan, kumisan, kacamata-an, gondrongan (:D), dan yang paling banyak persentasenya adalah : alumni Mosa hampir semuanya tambah ‘Sehat’ aja. Hehehe….


Memasuki ruangan Anjong Mon Mata, langsung deh disambut (disambut..? emangnya jatoh… -_-‘) ama adek-adek yang lagi ngejagain meja. Wah, ngak da kerjaan ni adek-adek, masak meja dijagain? “bukan begitu Bang, ini meja registrasi. Jadi semua tamu-tamu yang hadir mengisi buku tamu ini. Sekaligus membantu pendataan gitu..” celutuk seorang cewek yang jagain. Oo… gitu ya, bener banget tu. Makanya, klo ada lagi kayak gini besok-besok, temen-temen jangan pada lupa atau kura-kura dalam abu (pura-pura maksudnya icon smile KAMI MOSA AWARD (Malam Puncak Rangkaian Acara Bakti KAMI MOSA) ) ngak tau buat ngisi tu buku tamu ya. Biar enak ntar kita memetakan keadaan alumni kita. Okey,,? ^^V.

Read More…

Pemilihan Ketua KAMI MOSA (edited version)

Senin (25/7) sore akhirnya sempet juga aku mengikuti salah satu rangkaian acara kegiatan Keluarga Alumi Modal Bangsa (KAMI MOSA). Acaranya sudah berlangsung semenjak hari sabtu (23/7) yang lalu sih sebenarnya, tapi berhubung aku sedang bertugas di luar kota, So kagak bisa ikutan.

Nah, kegiatan Senin sore itu adalah pemilihan ketua alumni SMAN Modal Bangsa. Acara yang berlangsung kali ini memang agak sedikit berbeda dengan yang lain. Liat saja, jika tahun-tahun sebelumnya (setidaknya 2 kali pemilihan sebelumnya yang pernah kuikuti)pemilihan dilakukan di aula dan dalam keadaan agak sedikit resmi yang diawali dengan pembahasan AD/ART organisasi, kegiatan yang berlangsung kemarin jauh dari biasanya. Kegiatan dilakukan di salah satu Warung Kopi, duduk lesehan rame-rame dan dalam kondisi tak resmi gitu, benar-benar seperti kondisi kekeluargaan :). Walaupun agak molor, akhirnya pemilihan pun berlangsung.


Bang Khalid membuka ‘rapat’ sederhana itu dengan memberi gambaran umum singkat terlebih dahulu. Ya, paling tidak dengan gambaran itu adik-adik yang baru berstatus sebagai alumni menjadi tahu juga bagaimana suasana alumninya. Tak berapa lama kemudian, didampingi ketua panitia acara, Rais Al Abqary, prosesi pemilihanpun dimulai.

Awal pemilihan disepakati bahwa hanya angkatan 8 sampai 12 (dari 15 angkatan alumni yang telah ada) yang boleh dicalonkan menjadi ketua, dan setiap angkatan (minimal 5 orang) boleh mengajukan satu calon. Dan bermunculanlah beberapa nama calon yang diusung dari beberapa angkatan, termasuk namaku saat itu,hoho… Di tengah proses penjaringan balon ketua, timbul usulan lainnya agar kuantitas angkatan yang boleh dicalonkan menjadi ketua ditambah. Melalui argumen dan diskusi singkat, akhirnya disepakati bahwa yang boleh dicalonkan menjadi ketua adalah angkatan 6 sampai 12 (bertambah kuota 2 angkatan dari sebelumnya).

Okey, deal…! balon pun dijaring kembali dengan pukat harimau, upz… ngak segitunya juga kali, hehe… lima orang yang beruntung akhirnya terpilih menjadi balon ketua KAMIMOSA mendatang. Kesepakatannya adalah, dari lima orang ini akan dipilih satu orang ketua. Sedangkan posisi lainnya akan dirembukkan sendiri oleh ketua dan 4 orang lainnya yang terpilih nantinya. Berdasarkan syarat pemilihan yang telah disetujui dan disepakati serta telah diketik dan dimasukkan ke dalam AD/ART KAMI MOSA (haduee.. bahasanya dah mulai ngelantur lagi neh..:D), sebelum dilakukan pemilihan ketua ditanya kesediaannya terlebih dahulu untuk bersedia memimpin Alumni Modal Bangsa nantinya. Nah, di tahapan ini, dari 5 calon hanya 2 orang yang besedia dipilih sebagai ketua. Pemilihan pun berlangsung dengan calon yang ada : Hijrah Saputra Yunus (angkatan 6) dan Indra Kurniawan (angkatan 9).

Read More…

Belajar Lancar Menulis Yukzz…

Kawanz en temanz semua… (ni klo dalam kaedah bahasa indonesia dah kena timpuk ma guru, ancor banget bahasanya ; tapi ngak apa-apa :p ).

Kali ini saya ingin sedikit men-share sebuah pengalaman yang saya dapatkan dulu ketika pernah mengikuti pelatihan singkat menulis (amat singkat malah karena saya malah lari dari pelatihan karena kesibukan lainnya, hoho..). bagi saya pengalaman ini cukup membantu disaat dulu saya sama sekali tidak bisa mengembangkan ide-ide atau paragraf di saat menulis. Ya, walaupun sekarang belum pande juga sih, paragraf-paragraf yang dikembangkan malah jadi ngelantur kemana-mana, kayak sekarang nih..ckckckck…

Bagi kawanz en temanz semua pernah ngak, atau sering kali ya.. menghadapi persoalan dimana ngak tau mau nules apa. Atau ada bahan yang mau ditulis tapi hanya terfokus kesitu saja, to the point gitu langsung, ngak ada bumbu-bumbunya. Atau ngak terbiasa nules karna ngak ada ide, dan lebih parahnya terkadang ide yang datang itu banyak amat, belum selesai satu ide dah datang ide-ide lainnya. Dan hasilnya adalah : tidak ada satupun tulisan yang selesai.

Berdasarkan sebuah pengalaman yang saya rasakan cukup bermanfaat, mari kita coba melatih diri dengan metode yang satu ini. Coba kita menuliskan sesuatu itu secara deskriptif. Dengan kata lain, kita mencoba untuk mendeskripsikan (menggambarkan) sesuatu itu agar orang lain itu mengerti tanpa harus melihat apa yang kita maksudnya. Misalkan ni ya, saya ni orang yang ngak tau durian tu gimana (haha.. mudah-mudahan ngak segitunya ya). Nah tugas dari kawan-kawan adalah mendeskripsikan durian itu kepada saya dengan bahasa kawan-kawan sendiri sehingga saya bisa memahami dan tahu bagaimana sebenarnya ‘durian’ itu.


Kawanz en temanz bisa saja menjelaskan misalnya :durian itu adalah buah yang kulitnya berduri. Bukan seperti sirsak, tapi lebih mirip duri buah nangka. Bedanya adalah duri buah durian ini lebih kuat dan tajam. Buahnya biasanya juga seukuran buah nangka. Atau, buahnya itu lebih kurang seukuran bola kaki namun bentuknya agak sedikit lonjong. Permukaannya berlekuk dan berduri seolah ingin memamerkan isi di dalamnya. Jika di belah, harum isinya menyerbak merobek indera penciuman, bla..bla…

Terserah deh mau ngejelasin bagaimana lagi. Yang jelas dengan penjelasan itu, orang yang mendengarnya bisa paham dan membayangkannya.

Dalam kondisi lebih luas, bisa dicoba dengan menjelaskan hal-hal lainnya yang bukan saja benda. Misalnya menjelaskan suasana kamar kita, rumah kita, desa kita, suasana kota kita, suasana indah pantai yang pernah kita kunjungi, pemandangan siluet indah, senja, pelangi, atau apapun yang pernah kita lihat. Bisa juga mencoba menjelaskan tokoh-tokoh yang cukup dikenal atau yang akan kita kenalkan. Bisa itu presiden, menteri, gubernur, kepala desa, tukang jahit, tukang sepatu, penjual ikan, de el el deh…

Nah, yukz kita coba berlatih. Coba jelaskan sesuatu hal kepada saya..:). I’m listening, upz.. reading maksudnya okey,,,

Hehe…

Pemilihan Ketua Alumni Modal Bangsa

Pemilihan Ketua Alumni Modal Bangsa

Salam beswan,

Wah, rasanya dah lama banget ni dah ngak nge-posting. Maklum aja (lho kok maklum), semua ide-ide yang mau ditulis tu Cuma bisa ‘tertulis’ dan bercerita sendiri di dalam kepala. Ngak sempet nyantol ke laptop. Hoho… parah juga ni saya.

Nah, biar ngak kelamaan ‘hibernasi’ kevakumannya, hari ni nules dulu dikit aja neh, hehe…

**

Kemarin sore akhirnya sempet juga aku mengikuti salah satu rangkaian acara kegiatan alumni saat SMA dulu. Acaranya sudah berlangsung semenjak hari sabtu (23/7) yang lalu sih sebenarnya, tapi berhubung aku sedang bertugas di luar kota, So kagak bisa ikutan. (dan mudah2an catatan perjalanan itu bisa lahir jadi tulisan,,:) )

Nah, kegiatan kemarin itu adalah pemilihan ketua alumni SMA kami. Kami menyebutnya Keluarga Alumni Modal Bangsa (KAMI MOSA). Nama Modal Bangsa disini tak lain karna nama SMA kami adalah SMA N 2 Modal Bangsa. Acara yang berlangsung kali ini memang agak sedikit berbeda dengan yang lain. Liat saja, jika tahun-tahun sebelumnya (setidaknya 2 kali pemilihan sebelumnya yang pernah kuikuti) pemilihan dilakukan di aula dan dalam keadaan agak sedikit resmi dan diawali dengan pembahasan AD/ART organisasi, kegiatan yang berlangsung kemarin jauh dari biasanya. Kegiatan dilakukan di salah satu Warung Kopi, duduk lesehan rame-rame dan dalam kondisi tak resmi gitu, benar-benar seperti kondisi kekeluargaan :). Walaupun agak molor, akhirnya pemilihan pun berlangsung.

Read More…