Guratan Pena Zikra

tergurat agar dapat merekat erat

Posts Tagged ‘bertindak sekarang’

Waktu Takkan Berhenti Walau Sesaat

bigstockphoto business turning back time 1644993 150x150 Waktu Takkan Berhenti Walau SesaatPunya jam kan? Ya, bisa jadi itu jam tangan, jam dinding, jam tugu, jam beker, jam digital or jam segala jenis jam yang lain boleh juga. Yang penting jam. Ada apa dengan jam-jam tu, anehkah? Pernah mungkin sekali atau dua atau beberapa kali waktu saat memperhatikan waktu, melihat detak-detak jarum detik yang terus saja berputar, ia tak pernah bosan. Jarum menit pun akan selalu mengikuti. Seolah saja mereka telah kompak bersekongkol, “jika kau detik telah melalap 60 kali putaran, maka aku hanya akan melangkah sekali”. Dan si jarum detik pun tak akan pernah protes atau berontak, “enak saja kau menit, dasar pemalas. Tidak sadarkah kau kalau aku begitu capeknya setiap hari finish di tempat yang sama, 3600 kali?”.

Tidak, tidak pernah mereka ‘mendakwakan’1 hal itu. Mereka seperti telah tergariskan untuk mengikuti alur yang demikian. Satu sekutunya lagi yang tak ketinggalan, jarum jam. Seakan dia hanya mengamati si detik dan menit berkolaborasi, dan dengan harmonis menutupnya dengan penunjukan jam di setiap angka. Dia yang bertugas siap sedia memberitahu kita. Sekarang sudah jam berapa adanya.


Di suatu waktu aku seakan menghardik si detik, mengapa ia begitu cepat melangkah. Padahal kerjanya saban hari itu-itu saja. Tak bisakah hanya sekali waktu ini kau pelankan langkah sedikit saja. Karena jika kau mau membantuku sedikit saja, aku mungkin akan menjadi juara dalam sebuah balapan super kencang ini. Kecewa aku.

Di waktu lain, aku murka pada si menit. Mengapa sekali ini saja, kau bisa berpura-pura lupa atau tak ingat bahwa si detik sudah usai satu putaran. Berhenti saja kau, tak usah melangkah. Toh yang rugi juga si detik yang kan berputar lagi. Namun itu juga tak kau lakukan. Aku kecewa lagi.

Di waktu yang lainnya lagi, aku berharap kepada si Jam. “Jam, maukah kau berhenti sebentar saja? Aku hendak menjemput seseorang, namun aku juga sedang ada kerja menyusun beberapa jemputan”. “tolong.. tolonglah aku sekali ini saja”. Aku meminta dengan penuh harap, was-was. Mata jam, ya, bisa kulihat mata jam itu mengandung rasa iba yang mendalam terhadapku. Ia melongokan matanya kepadaku, menarik nafas dalam-dalam, dan akhirnya keluar dari lisannya yang halus itu, “Owwh,, tidak bissaaaa….”. huuffft… kecewaku akhirnya merambah sampai ke puncak. Kalau ada puncak di atas ubun-ubun, maka disitulah ia berada.

Kenapa sih mereka, yang hanya bertugas menunjuk waktu, tak mau sekali saja membantuku? Aku tertunduk lesu, di pojok yang kian terasa membisu. Sebel.. icon sad Waktu Takkan Berhenti Walau Sesaat

**

Di satu bagian dinding tepat di sisi pojok dimana aku terpaku, seekor cicak sedang terkekeh tertawa tak tertahankan. “sinting”, ujarnya sambil kembali terkekeh-kekeh. Cicak itu, tertawa melihatku berusaha menghentikan waktu. “Dasar manusia! mana bisa memutar waktu”, celetuknya lagi. Sambil terus menjadi-jadi tawanya, ckckckck…  “Dari tadi meminta waktu berulang, permintaan itu kan membuang lagi waktu lainnya”. ia tersengal, dan sudah kian tak tahan, tertawa lagi dengan terbahak-bahak. wkwkwkwwkwkwk…

——————————

1 berdebat

Argumentasi or Opini ?

shutterstock 51327124 150x150 Argumentasi or Opini ?Pernah dengar kata-kata argumentasi atau opini sebelumnya kan? Yupz, semasa sekolah setingkat SMP dan SMA di pelajaran Bahasa Indonesia kita sering menjumpainya. Bahkan sampai kuliahpun masih ada (tak terkecuali selain jurusan tsb). Adakalanya kita diminta oleh guru untuk membuat sebuah paragraph argumentasi/opini, atau secara tidak langsung kita sudah mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari saat berdebat dengan kawan, berdiskusi, bertengkar dengan adik/kakak, menulis surat kepada seseorang, de el el deh… namun kali ini saya bukannya ingin membahas hal tersebut. Saya hanya ingin melihat dari arah sisi yang berbeda tentang penggunaannya belakangan ini.

Secara sekilas, argumentasi dan opini bermakna sama. Ke-idem-an keduanya adalah sama-sama menyatakan sebuah pendapat. Namun bagi saya, kedua hal tersebut berbeda, bahkan adakalanya menjadi sangat berbeda.

Hmm… sebelum masuk lebih jauh, saya mencoba membuat beberapa kalimat terlebih dahulu untuk membedakan keduanya.

  1. Menurut Saya, hari ini akan turun hujan.
  2. Melihat cuaca yang semakin mendung, Saya kira hujan akan turun sebentar lagi.

Kalimat pertama, menurut saya adalah sebuah opini. Sebuah opini adalah pendapat yang dikemukakan oleh seseorang. Terserah saja hal apa yang ingin disampaikan tersebut, bisa saja mengenai hal apapun dan kabar tersebut bisa benar atau salah. Dalam beberapa keadaan mungkin, bisa disamakan dengan prediksi. – Saya tidak mempunyai dasar kuat untuk menyatakan hari ini akan hujan, itu hanya semata-mata ‘kata’ saya. Sah-sah saja saya mengeluarkan opini seperti demikian-.


Kalimat kedua, menurut saya adalah sebuah kalimat kecil yang mengandung argumentasi. Kenapa? Karena dalam pendapat yang dikemukakan itu telah mengandung fakta yang memperkuat statement. Faktanya adalah keadaan cuaca yang semakin mendung. Walaupun adakalanya hujan tidak jadi turun, namun ‘opini’ kita bahwa hujan akan turun itu berdasarkan fakta yang konkrit. Dalam bahasa lain yang dimaksudkan argumentasi disini adalah opini berdasarkan fakta.

Read More…

MARI MENULIS SATU TULISAN SATU HARI

menulis2 150x150 MARI MENULIS SATU TULISAN SATU HARIbagi sebagian orang, menulis adalah hal yang tidak menarik dan membosankan. tapi menulis ternyata sangat bermanfaat. selain tulisan kita dapat dibaca dan bermanfaat bagi yang lain (tulisan yang positif tentunya), menulis juga bisa menjadi terapi tersendiri bagi kita.

kebanyakan dari kita lebih 'hoby' berbicara. ada masalah sedikit saja kita sudah membicarakan hal-hal yang menyangkut dengannya, walaupun apa yang kita bicarakan itu pada kenyataannya adalah hanya omong kosong biasa. nyatanya, kita terus saja berbicara, dimanapun, kapanpun itu (yang dimaksud disini adalah bicara yang mengarah ke tidak baik, atau bahasa lainnya : gosip). coba saja sekali waktu kita muhasabah diri, dalam sehari apa saja yang sudah kita bicarakan. bermanfaatkah?

alangkah baiknya hal atau suatu permasalahan yang kita hadapi atau kita dapati, kita tulis saja daripada kita membicarakannya tanpa dasar dan tidak ada penyelesaian yang jelas. toh sambil menulis, kita bisa meluapkan semua argumen-argumen kita. sambil menulis, kita juga bisa meninjau ulang setiap kata yang keluar. kita bisa belajar untuk berpikir jernih dan mempertanggungjawabkan apa yang telah kita lakukan.

beranjak dari situ, secara pribadi saya ingin menulis (apa saja yang kiranya bermanfaat). saya mencanangkan satu hari minimal harus menulis satu tulisan. namun untuk sementara (dalam tahun ini, seminggu sekali dulu. dan akan terus ditingkatkan). harapannya tulisan yang ada dapat bermanfaat dan menjadi forum sharing bersama. selain itu, untuk mewujudkan agar kita bisa lebih banyak bertindak daripada hanya sebuah wacana. agak berat memang, menulis satu hari satu tulisan, namun tak usah terlalu dipikirkan juga, yang penting mempunyai target dan terus menulis. hal itu bukanlah suatu hal yang mustahil, hehe…

Read More…