Guratan Pena Zikra

tergurat agar dapat merekat erat

Posts Tagged ‘hidup’

Gempa, Isu dan Teknologi >> Waspadalah

don t panic button 150x150 Gempa, Isu dan Teknologi >> WaspadalahOkey, dalam beberapa hari ini Aceh kembali diguncang. Bukan, kali ini bukan diguncang karna gempa yang kerap terjadi. Ya maklum saja, keadaan kita memang berada di pertemuan lempeng Samudera Hindia-Australia. Namun kali ini Aceh diguncang isu mengenai gempa kuat yang akan melanda. Isu yang berkembang dan terus beranak pinak melalui sms dan BBM itu akhirnya mampu juga mempengaruhi warga di beberapa kawasan sekitar pesisir pantai. Riuh, resah, risau, galau, dan apalah istilah sekawannya, akhirnya menghinggapi warga. Mengungsi pun menjadi alternatif, walaupun sebagian besar beranggapan : ‘Cuma sekedar untuk jaga-jaga’.

Saya sendiri tidak mendapatkan peredaran sms ataupun BBM itu. Namun efek yang ditimbulkan tidak dapat menutupi bilik-bilik pembatas sehingga termasyhurlah isu itu beredar. Beberapa rekan di kantor tiba-tiba saja sibuk ditelpon untuk kembali ke rumah, “akan ada gempa besar”, kata orang rumah. Bapak-bapak yang sedang bekerja di tempat kerja masing-masing pun mulai sibuk karna telponnya terus saja berdering. “pulang Pak, kita mau ngungsi”. Mahasiswa yang sedang mendengarkan kuliah dosennya pun mulai riuh oleh sms/telepon dari para ortunya. Sampai ikan di laut pun mungkin menjadi heran, jaring yang akan menangkap mereka kenapa tiba-tiba segera diangkat, dan boat nelayan segera berlalu ke arah darat. Sampai segitunya ya :D.

Read More…

Some[one] Like You di Gempa Sumatera 11.04.2012

Aku baru memarkirkan motor di halaman kantor. Sudah agak telat rasanya aku kembali dari istirahat siang. Maklum saja, motor harus masuk bengkel dan cukup banyak memerlukan perbaikan. Saat baru memasuki ruangan tiba-tiba saja semua pada lari keluar. Wah, ada apa ini (belum merasakan gempa -_-‘)? Dan spontan saja seluruh penghuni kantor berhamburan keluar. Kepanikan mulai terasa ketika gempa semakin kuat dan berlangsung lama, (Alhamdulillah dalam hatiku, coba gempanya tadi wkt motor sedang diperbaiki, gimana mau jalan klo ban motor lagi dicopot..). gedung-gedung, pohon, bahkan kendaraan yang diparkir kian bergoyang semakin kencang. “nyoe ka lage gempa tsunami baroe” (gempanya sudah seperti gempa tahun 2004 kmrn) ujar beberapa orang. Namun menurut estimasiku saat itu mgkn kurang, karna saat gempa thn 2004 dulu untuk berdiri saja kita bakalan jatuh. Sedangkan skrang paling tidak masih bisa berdiri dan berjalan.

Dalam sekejap setelah gempa, kondisi kantor pun mulai kosong. Hampir semuanya kembali ke rumah karena teringat keluarga masing-masing. Terlebih ada beberapa keluarga yang memang tinggalnya di dekat garis pantai. Listrik pun akhirnya padam. Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa.

Aku yang tidak kembali ke rumah (karena mempertimbangkan kondisi rumah yg menurutku masih aman) stanby di kantor. Jalanan mulai dipenuhi pengendara yang mulai panic. Untuk telponan masih belum bisa, mungkin karna jaringan crowded kali ya. Bayang-bayang seperti kondisi tsunami 2004 mulai menerjang (aduh bahasanya ini..). berhubung sudah Ashar, jangan lupa shalat dulu ya…. icon smile Some[one] Like You di Gempa Sumatera 11.04.2012. akhirnya dapat telpon dari teman di padang mengabarkan klo gempanya tu 8,5 SR dan berpusat di Simeulue. Hoho..

Read More…

Apakah Hanya Karena Gerimis Kita Mengemis ?

Suasana berbeda terjadi di kawasan Aceh menjelang Lebaran Idul Adha. Seperti tulisanku sebelumnya (Meugang, Tradisi Makan Sie dan Berbagi), 2 hari menjelang Idul Adha, sudah ada tradisi meugang terlebih dahulu. Para penjual daging pun mulai membuka lapak dadakan di beberapa tempat strategis. Sambil berharap daging yang dijajakan cepat laku terjual. Wlopun di saat meugang Idul Adha sendiri para penjual lebih sedikit dibandingkan saat meugang Puasa dan meugang Idul Fitri.

Hari itu Sabtu, 5 November 2011 yang berarti esoknya bakalan lebaran Idul Adha 1432 H. Sudah dua hari terakhir hujan terus membasahi kawasan Banda Aceh dan sekitarnya. Mendung yang masih saja kelam bagai mengabarkan hujan akan terus turun dalam beberapa waktu ke depan. Malam selepas Shalat Isya di saat takbir menggema hampir di seluruh Meunasah (mushalla) dan masjid, aku hendak memacu motor menuju kantor tempatku bekerja. Bukannya kelewatan rajin sih, namun ada tugas yang harus segera diselesaikan. Terkadang pandangan orang-orangpun berbeda. Kenapa harus tetap bekerja padahal malam itu adalah malam lebaran. Apakah hanya sekedar mengejar materi? Atau kepentingan-kepentingan lainnya? Pendapat itu tak dapat juga disalahkan sebenarnya. Namun ada hal-hal yang harus kita lakukan dan membutuhkan sedikit pengorbanan di bagian lainnya. Ini bukan tentang materi Bung, tapi tanggung jawab terhadap apa yang telah dibebankan kepada kita. Akupun tak membicarakan khusus diriku, namun kita semua secara global.

Read More…

Siapa Bilang Pelangi Tak Datang di Malam Hari ? (versi karangan bebas)

Seperti yang pernah saya janjikan di tulisan sebelumnya, yaitu Siapa Bilang Pelangi Tak datang di malam hari ? (versi nyata), kali ini saya berusaha dengan sungguh-sungguh dan tak perlu malu (nah lho…) untuk mem-posting yang versi lainnya. Kali ini adalah versi karangan bebas lepas meracau nan parau. Hohoho….

Okey, kita mulai saja ya.. upz, tunggu,, tunggu dulu. Saya belum siap dan belum tahu harus memulainya dari mana. Versi ini kan harus bebas kebas gitu. Hmm…. (*pikir berat harus mulai dari mana). Zzzzzzz…..

Deg, tulisan ini kok masih jalan 2 paragraf ya. Hehehe… okey, first of ol, kawan-kawan yang belum baca tulisan versi nyatanya ada baik dan bagus serta patutnya membaca dulu. Itong-itung biar nyambung ntar cerita linknya ada di paragraf pertama tu. Nah, begini kelanjutan cerita versi bebasnya.. :

** ** **

Di suatu malam (ya iyalah malam, kan judulnya gitu), cerah bulan dikelilingi bebintang. Teriak jangkrik dan binatang malam kian girang terdengar. Teringat akan ucap seorang sahabat (silahkan diganti aja masing-masing, sahabat, kawan, sodara, istri/suami, calon istri/suami, TTM, preman, satpam, dll.. menurut selera masing2 aja icon biggrin Siapa Bilang Pelangi Tak Datang di Malam Hari ?  (versi karangan bebas) ) bahwa tak mungkin melihat pelangi di malam hari. Pelangi tu hanya mau nongol ketika siang hari. Layaknya tak mungkin melihat gemerlap bintang di siang hari. Nah lho, nothing impossible kan ya, selama Allah menghendaki. Maka dari itu sodara-sodara, aku kata : hal itu mungkin.

Si kawan malah ngotot tak mungkin. “mungkin”, kataku. “tak mungkin..!!” katanya. “mungkin” kataku lagi. Maka terlibatlah perdebatan diantara kami selama semalam suntuk. Selesailah cerita ini disini… Zzzzzz.. Zzz… Zzz….

Eh, eh,, ngak lah. Masak cepet kali tu cerita berakhhir gitu aja tanpa ending yang jelas. Hehehehe…

“kalau itu mungkin, coba kau buktikan padaku. Aku ingin melihatnya malam ini juga”, pintanya galak. Bak dayang sumbi yang minta dibangunkan ribuan candi dalam semalam.

Read More…

Belajar dari Jembatan Semut

semut3 150x150 Belajar dari Jembatan SemutBanyak sekali sebenarnya hal-hal yang terjadi di sekeliling kita yang bisa diambil sebagai ‘ibrah atau pelajaran. Apakah itu berupa kejadian alam, kegiatan makhluk ciptaan Allah selain kita manusia, dll. Hal-hal yang terjadi itu bahkan terkadang menjadi pengingat tersendiri bagi diri kita tuk introspeksi, mengoreksi diri sendiri yang penuh keterbatasan akan kemampuan.

Kali ini saya akan mengetengahkan sebuah kejadian, bukan kejadian sebenarnya karna tak terlalu istimewa sih, terlebih sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Kita sebut saja sebuah hal :). Beberapa malam yang lalu saat hendak ke masjid untuk menunaikan ibadah shalat Isya beserta tarawih seperti biasanya, ada sesuatu hal yang menarik perhatian ketika saya membuka pintu pagar rumah. Pintu pagar rumah saya seperti pagar kebanyakan, model sorong gitu. Dan ada semacam bagian pintu satu lagi untuk buka tutup yang ukurannya biasanya lebih kecil.

Saya melihat semut yang sudah mulai bergerombol di antara batasan pertemuan kedua ujung pintu itu. Seperti biasanya juga, semut pohon yang berwarna merah itu menggunakan pagar rumah sebagai jalur transportasi dalam mobilisasi makanan ke sarangnya. Malam itu kebetulan jarak antar kedua pintu itu agak berjauhan, tidak berdempet seperti biasanya. Nah, jaraknya itu klo untuk ukuran semut, maka tidak akan bisa dilewati.

Saya mendekatkan lagi pandangan saya untuk melihat lebih jelas lagi ke tempat penyeberangan semut tadi. Ternyata ada sekitar 2 atau 3 semut yang menjadikan tubuhnya sebagai jembatan bagi yang lain. Kaki bagian depannya meraih bagian pintu pagar yang di depannya sementara kaki belakang tetap di posisi ia berdiri, di bagian pagar yang lainnya. Dengan posisi begitu, teman-temannya yang lain dengan mudahnya dapat melalui ‘jembatan buatan’ itu. Hal ini berlangsung cukup lama sebelum akhirnya aku membuka pintu dan mendekatkan jarak antar pagar agar bisa dilalui saja oleh mereka, tanpa jembatan tubuh temannya.

Read More…

Hati-hati berkendara

motor copy 150x150 Hati hati berkendaraHai… ketemu lagi nih setelah beberapa masa raib tak ajaib. Maklum, dalam beberapa hari ini lumayan vakum karena bertugas di luar daerah dan kebetulan di saat yang hampir bersamaan, laptopku mengalami kerusakan fatal dalam kurun waktu yang tak begitu lama setelah beberapa minggu sebelumnya juga begitu. Kenapa alasan ngak bisa menulis gara-gara laptop ya? Yupz, setidaknya bagiku dengan laptop lah membuka lebar peluang bagiku untuk ‘mencuri-curi waktu’. Hehe..

Duh, kok dah bicara laptop ya. Okedeh, cukup sekian dulu. Kali ini aku ingin membahas sedikit tentang kehati-hatian kita dalam mengendarai kendaraan bermotor di jalan raya. Tadinya sih pengen ngebahas tentang penyebab utama timbulnya masalah dalam dunia kendara mengendara (kacau bahasanya neh), tapi karena sesuatu dan lain hal yaudah dibahas mengenai ini dulu deh. Hanya ingin sharing dan saling mengingatkan, kalau dalam berkendara itu kita sebaiknya hati-hati, tidak lalai dengan sesuatu yang tidak perlu dan tak perlu menggebu-gebu begitu terburunya menggeber kendaraan bermotor guna mengejar waktu. Hati-hati, dan penuh pertimbangan mungkin sebuah frase yang cocok untuk diresapi.


Sebelumnya, aku ingin bercerita sedikit pengalamanku semalam. Semalam keadaan Kota Banda Aceh dan sekitarnya sedikit gerimis dan hujan lumayan deras di beberapa lokasi. Hujan yang turun sepertinya adalah hal yang dinanti-nanti hampir semua makhluk karena telah beberapa hari ke belakang kota ini dilanda cuaca panas yang tak terperikan. Jam 9 malam, aku berangkat keluar dari rumah menuju suatu lokasi yang berjarak kurang lebih 15 km. Dibayangi rintik-rintik hujan, rasanya tak menyurutkanku untuk ‘menjemput’ laptop yang telah usai dibedah. Ada-ada saja hal yang terjadi dengan laptopku belakangan ini. Dan yang terakhir yang membuat kesabarannya hilang hingga akhirnya ngambek kayak rendaman cucian bau apek adalah laptopku ini terkena lemparan bom molotol (botol) karena keisengan adikku. Dan dalam sekejap, layarnya blank. Sayup-sayup seperti hendak ditarik nyawanya, perlahan layar monitor akhirnya padam. Duh, kenapa aku bercerita lagi tentang ini ya. Tapi tak apalah, kita lanjutkan lagi ceritanya.


Singkat cerita, akupun beranjak pulang sekitar pukul 22.30 WIB. Keadaan malam masih tak berubah, rintik-rintik hujan masih menghujani lekat-lekat tanah yang telah lama kian pekat. Karena keadaan sudah mulai bergerak larut, aku memacu motorku lumayan kencang namun tak sekencang seperti biasanya. Bila keadaan hujan, sangat jarang motor ini kupacu tinggi laju. Aku mafhum dengan tingkat kelicinan karna gaya gesek aspal dengan ban otomatis semakin berkurang dan pandangan yang sedikit terbatas, resiko bahaya akan menjadi semakin besar.

Read More…

Waktu Takkan Berhenti Walau Sesaat

bigstockphoto business turning back time 1644993 150x150 Waktu Takkan Berhenti Walau SesaatPunya jam kan? Ya, bisa jadi itu jam tangan, jam dinding, jam tugu, jam beker, jam digital or jam segala jenis jam yang lain boleh juga. Yang penting jam. Ada apa dengan jam-jam tu, anehkah? Pernah mungkin sekali atau dua atau beberapa kali waktu saat memperhatikan waktu, melihat detak-detak jarum detik yang terus saja berputar, ia tak pernah bosan. Jarum menit pun akan selalu mengikuti. Seolah saja mereka telah kompak bersekongkol, “jika kau detik telah melalap 60 kali putaran, maka aku hanya akan melangkah sekali”. Dan si jarum detik pun tak akan pernah protes atau berontak, “enak saja kau menit, dasar pemalas. Tidak sadarkah kau kalau aku begitu capeknya setiap hari finish di tempat yang sama, 3600 kali?”.

Tidak, tidak pernah mereka ‘mendakwakan’1 hal itu. Mereka seperti telah tergariskan untuk mengikuti alur yang demikian. Satu sekutunya lagi yang tak ketinggalan, jarum jam. Seakan dia hanya mengamati si detik dan menit berkolaborasi, dan dengan harmonis menutupnya dengan penunjukan jam di setiap angka. Dia yang bertugas siap sedia memberitahu kita. Sekarang sudah jam berapa adanya.


Di suatu waktu aku seakan menghardik si detik, mengapa ia begitu cepat melangkah. Padahal kerjanya saban hari itu-itu saja. Tak bisakah hanya sekali waktu ini kau pelankan langkah sedikit saja. Karena jika kau mau membantuku sedikit saja, aku mungkin akan menjadi juara dalam sebuah balapan super kencang ini. Kecewa aku.

Di waktu lain, aku murka pada si menit. Mengapa sekali ini saja, kau bisa berpura-pura lupa atau tak ingat bahwa si detik sudah usai satu putaran. Berhenti saja kau, tak usah melangkah. Toh yang rugi juga si detik yang kan berputar lagi. Namun itu juga tak kau lakukan. Aku kecewa lagi.

Di waktu yang lainnya lagi, aku berharap kepada si Jam. “Jam, maukah kau berhenti sebentar saja? Aku hendak menjemput seseorang, namun aku juga sedang ada kerja menyusun beberapa jemputan”. “tolong.. tolonglah aku sekali ini saja”. Aku meminta dengan penuh harap, was-was. Mata jam, ya, bisa kulihat mata jam itu mengandung rasa iba yang mendalam terhadapku. Ia melongokan matanya kepadaku, menarik nafas dalam-dalam, dan akhirnya keluar dari lisannya yang halus itu, “Owwh,, tidak bissaaaa….”. huuffft… kecewaku akhirnya merambah sampai ke puncak. Kalau ada puncak di atas ubun-ubun, maka disitulah ia berada.

Kenapa sih mereka, yang hanya bertugas menunjuk waktu, tak mau sekali saja membantuku? Aku tertunduk lesu, di pojok yang kian terasa membisu. Sebel.. icon sad Waktu Takkan Berhenti Walau Sesaat

**

Di satu bagian dinding tepat di sisi pojok dimana aku terpaku, seekor cicak sedang terkekeh tertawa tak tertahankan. “sinting”, ujarnya sambil kembali terkekeh-kekeh. Cicak itu, tertawa melihatku berusaha menghentikan waktu. “Dasar manusia! mana bisa memutar waktu”, celetuknya lagi. Sambil terus menjadi-jadi tawanya, ckckckck…  “Dari tadi meminta waktu berulang, permintaan itu kan membuang lagi waktu lainnya”. ia tersengal, dan sudah kian tak tahan, tertawa lagi dengan terbahak-bahak. wkwkwkwwkwkwk…

——————————

1 berdebat