Guratan Pena Zikra

tergurat agar dapat merekat erat

Posts Tagged ‘Ramadhan’

Selagi [masih] Bisa

Lama tidak menulis di blog, jadi gagap juga untuk memulai. Tapi klo ngak sedikit dipaksa ngak bakalan terangkum dalam rangkaian kalimat-kalimat kan.. icon smile Selagi [masih] Bisa

sebelumnya saya mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa 1433 H bagi yang menjalankan. Semoga amalan kita diterima dan menjadi orang-orang yang bertaqwa.

Jika menilik sedikit ke belakang, dalam rentang satu atau dua minggu sebelum puasa, banyak dari kita yang memanfaatkan waktu (liburan atau bukan) untuk kegiatan yang cenderung ke santai-santai. Ada yang ke pantai, air terjun, tempat pemandian, atau tempat wisata lainnya.

Salah satu tempat yang dipadati pengunjung di kawasan sekitar Banda Aceh dan Aceh Besar adalah Pantai Lampuuk. Hari sabtu minggu kawasan tersebut begitu padat, jauh lebih ramai dari sebelumnya. Selain memanfaatkan waktu libur (padahal bukan masa liburan), kebanyakan pengunjung beralasan lebih kepada “nanti tidak bisa lagi”. Maksudnya? Iya, sebentar lagi kan dah masuk bulan puasa, jadi takutnya ngak sempat lagi mandi ke pantai.

Read More…

Puisi Maaf (Idul Fitri)

Hmm…

Aku tak tahu harus darimana memulainya,

Harusnya yang selalu ada adalah ‘maaf’ untuk kesekian kalinya,

Dan hal itu takkan pernah bosan tuk kuucapkan,

Bagai mereka di tengah gersang yang mengharapkan hujan.

***

Seperti biasa,

Aku menenggelamkan diri dalam lamunan bayang,

Mengayuhkan diri kembali dalam suatu masa,

Instrospeksi terhadap apa saja yang pernah terkenang,

Apa yang sering kudapat?

Selalu saja timbangan yang selalu kurang,

Tak pernah bertambah walau satu saat,

Namun hal itu terus membangkitkanku untuk terus menjadi pejuang.

Dan dengan terus berupaya belajar,

Segala hal yang kurang kujadikan saja pengalaman,

Atau terkadang saat ku tak kuat lagi untuk tegar,

Aku berupaya sadar, aku ini manusia yang punya Tuhan,

Read More…

Penglihatan bukan suatu Batasan (#part 2)

Di tulisan sebelumnya saya telah menulis mengenai #part1 nya. Kini saya ingin sedikit melanjutkan mengenai kisah lain yang pernah saya temui, kisah mengenai keterbatasan penglihatan seseorang. Mudah-mudahan dapat bermanfaat nantinya.

Sebenarnya telah banyak kita lihat orang-orang yang tidak menyerah dengan keterbatasan yang mereka miliki. Apakah itu keterbatasan karna tidak lengkap/berfungsinya panca indera atau karna keadaan yang membuat mereka ‘berjuang’ lebih keras. Kita bisa melihatnya di berbagai tulisan yang sudah pernah ada, ataupun media visual seperti di tv. Saya sendiri juga pernah melihatnya di salah satu acara tv (Kick Andy Show) yang menceritakan bagaimana perjuangan orang tuna netra. Ada yang menjual kerupuk untuk menyambung hidupnya, membuka jasa layanan pijit, dll. Luar biasa, subhanallah.

Nah, selain di media yang tidak secara langsung kita temui itu (cetak maupun elektronik), ternyata sebenarnya ada juga yang kita jumpai di keseharian kita. Namun kita sering tidak sadar dengan keberadaan mereka, bisa jadi karna sudah menganggapnya biasa, ataupun karna terlalu banyak dari mereka yang memilih jalan ‘meminta-minta’ untuk kelangsungan hidupnya.

Read More…

Penglihatan bukan suatu Batasan (#part 1)

Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh adalah sebuah bangunan masjid bersejarah di Kota Banda Aceh. Tak hanya itu, disana juga lahir cerita-cerita unik dan menarik sehingga pengalaman dan pembelajaran pun dapat dipetik. Salah satunya adalah sebuah hal yang tak sengaja teramati olehku. Ya, wlo sebenarnya hal ini mungkin sekilas dianggap biasa-biasa saja.

**

Di bulan Ramadhan ini, ada ibadah khusus yang tidak terdapat pada bulan-bulan lainnya, salah satunya adalah ibadah shalat tarawih. Ibadah tarawih tersebut ada yang mengerjakan 8 rakaat, 20 rakaat, bahkan terkhusus di Madinah, ada yang 36 rakaat. Dan biasanya lagi (bukan biasanya, emang syaratnya gitu kok, hehe…) shalat tarawih yang dikerjakan sesudah shalat Isya itu akan dilanjutkan dengan shalat witir minimal 3 rakaat.

Di seputaran Banda Aceh sendiri, mayoritas masjidnya melaksanakan shalat tarawih sejumlah 20 rakaat. Ada yang langsung shalat 20 rakaat kemudian witir, ada juga yang melaksanakan witir setelah 8 rakaat kemudian bagi yang melaksanakan 20 rakaat melanjutkannya setelah ‘witir 8’ selesai. Seperti di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Setelah shalat Isya berjamaah, ada ceramah yang disampaikan oleh seorang da’i/penceramah (ya iyalah penceramah, masak pelawak, icon biggrin Penglihatan bukan suatu Batasan (#part 1) ) selama 10-15 menit. Kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan shalat tarawih sejumlah 8 rakaat. Nah setelah 8 rakaat ini, bakalan ada jeda sejenak. Jamaah yang akan mengerjakan tarawih 20 biasanya keluar sejenak untuk menikmati udara segar (istilahnya aja, hehe..) atau ada juga yang tetap berada di dalam masjid sambil membaca Alquran atau berzikir. Sementara jamaah tarawih 8 melanjutkan dengan shalat witir.

Seusai witir, jamaah tarawih 8 pulang (atau ada kegiatan lain apalah gitu masing-masingnya terserahlah..) dan jamaah 20 tadi kembali membentuk shaf guna melanjutkan tarawihnya. Aku sendiri memilih shalat tarawih 20 rakaat. Walaupun tidak setiap malam aku shalatnya di Masjid Baiturrahman, tapi dalam setahun selama Ramadhan insya Allah ada lah beberapa kali shalat disana. icon smile Penglihatan bukan suatu Batasan (#part 1)

Read More…

Puasa kita…

lagi suntuk2 menumpuk ngerjain tugas, iseng2 buka file, eh nemu lagi tulisan ini. tulisan ni saya tulis setahun yang lalu dan dah pernah di poskan di notes fb. dan sepertinya ngak da salahnya klo diposting lagi di blog ini, wlo dah agak telat sih sikit. semoga bermanfaat nantinya. icon smile Puasa kita...

=======           ========                         =====

Kawan-kawan gimana kabarnya hari ni? Mudah-mudahan baek2 aja ya.. hmm… puasanya gimana? Ada puasa kan, hayoo…kan dah gede (khusus buat cewek ada peng’khususan’ ya). Ngak puasa net-net lagi, woe rumoh buka kanet. Hehe…

Kita bahas mengenai puasa dikit yuk, ya.. wlo dah agak telat. Tp moga ja dapat berguna ntar bagi masing-masing kita. Siap? Yuuuuukz…..:)

??? apanya yang mau dibahas ni? Wah, saya juga bingung mau nules apa. So?

……. loading …….

……. tuiiiiinnnggg…..

Kita mulai dari akhir surat Albaqarah ayat 183 ya, yang ujung ayatnya lebih kurang ‘mudah-mudahan kamu semua menjadi orang yang bertaqwa’…. wah, sebenarnya bukan maksud saya mau membedah atau menafsirkan ayat ini. Ilmu saya masih sangat jauh sekali bangetz gituu….

Tapi yuks kita lihat keadaan puasa kita hari ni. Seperti di tulisan sebelumnya mengenai orang yang dah shalat pontang-panting kok maksiat nya masih lancar-lancar aja? (baca : shalat mencegah perbuatan kejiPadahal shalat tu kan mencegah perbuatan keji dan mungkar? (???). sekarang kita lihat dari segi puasa, orang yang rajin bangets (pake ‘s’ coz sangking banyaknya) puasa kok malah ngak da perubahan apa-apa? Hm… berarti da yang salah rumus puasanya nih ( rumus? Dah cem hitungan aja, halah2…). mana nih rumusnya yang salah?

Read More…

Puisi ‘ur’ Ramadhan..

Bulan Ramadhan anugerah dari Yang Maha Ghafur.

Syawal di depan mulai membuatnya menghitung mundur.

Bilangan shaf-shaf di masjid mulai hilang tak terukur.

Kemanakah manusia yang dulu memenuhinya bahkan berhambur.?


Apakah amal yang ada mungkin sudah begitu full,

Sehingga kambing hitam dijatuhkan pada kata uzur,

Sekalian saja alasan-alasan itu dikumpul,

Biar jelas dan tak menjadi kabur.

Selesai sahur langsung tidur,

Shubuh di depan tak bisa ditegur,

Sampai waktu berbuka baru sudah tak kendur,

Semua menu dilahap tak terukur.

Read More…

Penyebab Kerasnya Hati

Salam beswan,

Sebelumnya saya mau mengucapkan selamat melaksanakan ibadah puasa Ramadhan 1432 H bagi yang menjalankannya. Mohon maaf akhir-akhir ini rada jarang aktif nules. Alasan klasik, disibukkan dengan hal-hal keseharian. Hehe…

Kali ini singkat aja ya, bantu membagi sedikit ilmu yang diperoleh. Mohon maaf nantinya bila ada kesalahan dan kekurangsempurnaan.

Hari pertama ramadhan kemaren, kebetulan langsung masuk kantor. Ngak da istilah libur or menghitamkan kambing (eh, mengambinghitamkan maksudnya) bulan puasa. Nah kebetulan selama puasa, ada ceramah Ramadhan di tiap selesai shalat Dhuhur berjamaah. Kebetulan amat sih, ceramah hari pertama itu seru banget mengingat muballighnya yang kocak abiz plus materinya ngena banget gitu.

Inti dari ceramah itu adalah terkadang hati kita itu sudah menjadi sangat keras. Saking kerasnya sampe ngak ngeh lagi dengan urusan-urusan lain yang bersinggungan dengan kita. Tidak berasa risih ketika orang lain kesusahan, tidak tergerak hati untuk bisa saling membantu, selalu membantah jika dinasehati, merasa diri bisa melakukan semua hal sendiri, dll. Pokoknya hatinya dah keras gitu deh, tapi bukan dalam artian keras kayak batu. Hehe….

Nah, sebernarnya kok bisa sampe gitu sih? Ada beberapa sebab di keseharian kita yang menyebabkan kerasnya hati. Diantara beberapa sebab itu, ada 3 hal yang disampaikan. Tapi kali ini saya menyampaikan 2 hal saja ( bukan disengaja ding, tapi satu lagi tu saya lupa -_-‘). Yuks dilihat diantara sebab yang menyebabkan kerasnya hati :


1. suka makan berlebihan

Sebenarnya yang namanya berlebihan itu emang ngak baek. Dalam hal ini jangan berlebihan dalam urusan makan memakan. Kuluu wasyrabu wa tusyrifu (makan dan minumlah tapi jangan berlebihan). Jangan semua jenis makanan maen lahap aja. Selama puasa, setelah seharian puasa, jangan sampe dendamnya dibalaskan setelah berbuka puasa. Semua menu komplit, dari bebek goreng sampe ayam penyet, dari sate padang sampe sate matang (sate khas salah satu daerah di aceh), semuanya diembatnya. Akibatnya perut dah cem ular abes nelan mangsa, sampe ngak sanggup gerak lagi.

Read More…