Guratan Pena Zikra

tergurat agar dapat merekat erat

Posts Tagged ‘semangat’

Puisi Maaf (Idul Fitri)

Hmm…

Aku tak tahu harus darimana memulainya,

Harusnya yang selalu ada adalah ‘maaf’ untuk kesekian kalinya,

Dan hal itu takkan pernah bosan tuk kuucapkan,

Bagai mereka di tengah gersang yang mengharapkan hujan.

***

Seperti biasa,

Aku menenggelamkan diri dalam lamunan bayang,

Mengayuhkan diri kembali dalam suatu masa,

Instrospeksi terhadap apa saja yang pernah terkenang,

Apa yang sering kudapat?

Selalu saja timbangan yang selalu kurang,

Tak pernah bertambah walau satu saat,

Namun hal itu terus membangkitkanku untuk terus menjadi pejuang.

Dan dengan terus berupaya belajar,

Segala hal yang kurang kujadikan saja pengalaman,

Atau terkadang saat ku tak kuat lagi untuk tegar,

Aku berupaya sadar, aku ini manusia yang punya Tuhan,

Read More…

Penglihatan bukan suatu Batasan (#part 2)

Di tulisan sebelumnya saya telah menulis mengenai #part1 nya. Kini saya ingin sedikit melanjutkan mengenai kisah lain yang pernah saya temui, kisah mengenai keterbatasan penglihatan seseorang. Mudah-mudahan dapat bermanfaat nantinya.

Sebenarnya telah banyak kita lihat orang-orang yang tidak menyerah dengan keterbatasan yang mereka miliki. Apakah itu keterbatasan karna tidak lengkap/berfungsinya panca indera atau karna keadaan yang membuat mereka ‘berjuang’ lebih keras. Kita bisa melihatnya di berbagai tulisan yang sudah pernah ada, ataupun media visual seperti di tv. Saya sendiri juga pernah melihatnya di salah satu acara tv (Kick Andy Show) yang menceritakan bagaimana perjuangan orang tuna netra. Ada yang menjual kerupuk untuk menyambung hidupnya, membuka jasa layanan pijit, dll. Luar biasa, subhanallah.

Nah, selain di media yang tidak secara langsung kita temui itu (cetak maupun elektronik), ternyata sebenarnya ada juga yang kita jumpai di keseharian kita. Namun kita sering tidak sadar dengan keberadaan mereka, bisa jadi karna sudah menganggapnya biasa, ataupun karna terlalu banyak dari mereka yang memilih jalan ‘meminta-minta’ untuk kelangsungan hidupnya.

Read More…

Penglihatan bukan suatu Batasan (#part 1)

Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh adalah sebuah bangunan masjid bersejarah di Kota Banda Aceh. Tak hanya itu, disana juga lahir cerita-cerita unik dan menarik sehingga pengalaman dan pembelajaran pun dapat dipetik. Salah satunya adalah sebuah hal yang tak sengaja teramati olehku. Ya, wlo sebenarnya hal ini mungkin sekilas dianggap biasa-biasa saja.

**

Di bulan Ramadhan ini, ada ibadah khusus yang tidak terdapat pada bulan-bulan lainnya, salah satunya adalah ibadah shalat tarawih. Ibadah tarawih tersebut ada yang mengerjakan 8 rakaat, 20 rakaat, bahkan terkhusus di Madinah, ada yang 36 rakaat. Dan biasanya lagi (bukan biasanya, emang syaratnya gitu kok, hehe…) shalat tarawih yang dikerjakan sesudah shalat Isya itu akan dilanjutkan dengan shalat witir minimal 3 rakaat.

Di seputaran Banda Aceh sendiri, mayoritas masjidnya melaksanakan shalat tarawih sejumlah 20 rakaat. Ada yang langsung shalat 20 rakaat kemudian witir, ada juga yang melaksanakan witir setelah 8 rakaat kemudian bagi yang melaksanakan 20 rakaat melanjutkannya setelah ‘witir 8’ selesai. Seperti di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Setelah shalat Isya berjamaah, ada ceramah yang disampaikan oleh seorang da’i/penceramah (ya iyalah penceramah, masak pelawak, icon biggrin Penglihatan bukan suatu Batasan (#part 1) ) selama 10-15 menit. Kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan shalat tarawih sejumlah 8 rakaat. Nah setelah 8 rakaat ini, bakalan ada jeda sejenak. Jamaah yang akan mengerjakan tarawih 20 biasanya keluar sejenak untuk menikmati udara segar (istilahnya aja, hehe..) atau ada juga yang tetap berada di dalam masjid sambil membaca Alquran atau berzikir. Sementara jamaah tarawih 8 melanjutkan dengan shalat witir.

Seusai witir, jamaah tarawih 8 pulang (atau ada kegiatan lain apalah gitu masing-masingnya terserahlah..) dan jamaah 20 tadi kembali membentuk shaf guna melanjutkan tarawihnya. Aku sendiri memilih shalat tarawih 20 rakaat. Walaupun tidak setiap malam aku shalatnya di Masjid Baiturrahman, tapi dalam setahun selama Ramadhan insya Allah ada lah beberapa kali shalat disana. icon smile Penglihatan bukan suatu Batasan (#part 1)

Read More…

Belajar dari Jembatan Semut

semut3 150x150 Belajar dari Jembatan SemutBanyak sekali sebenarnya hal-hal yang terjadi di sekeliling kita yang bisa diambil sebagai ‘ibrah atau pelajaran. Apakah itu berupa kejadian alam, kegiatan makhluk ciptaan Allah selain kita manusia, dll. Hal-hal yang terjadi itu bahkan terkadang menjadi pengingat tersendiri bagi diri kita tuk introspeksi, mengoreksi diri sendiri yang penuh keterbatasan akan kemampuan.

Kali ini saya akan mengetengahkan sebuah kejadian, bukan kejadian sebenarnya karna tak terlalu istimewa sih, terlebih sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Kita sebut saja sebuah hal :). Beberapa malam yang lalu saat hendak ke masjid untuk menunaikan ibadah shalat Isya beserta tarawih seperti biasanya, ada sesuatu hal yang menarik perhatian ketika saya membuka pintu pagar rumah. Pintu pagar rumah saya seperti pagar kebanyakan, model sorong gitu. Dan ada semacam bagian pintu satu lagi untuk buka tutup yang ukurannya biasanya lebih kecil.

Saya melihat semut yang sudah mulai bergerombol di antara batasan pertemuan kedua ujung pintu itu. Seperti biasanya juga, semut pohon yang berwarna merah itu menggunakan pagar rumah sebagai jalur transportasi dalam mobilisasi makanan ke sarangnya. Malam itu kebetulan jarak antar kedua pintu itu agak berjauhan, tidak berdempet seperti biasanya. Nah, jaraknya itu klo untuk ukuran semut, maka tidak akan bisa dilewati.

Saya mendekatkan lagi pandangan saya untuk melihat lebih jelas lagi ke tempat penyeberangan semut tadi. Ternyata ada sekitar 2 atau 3 semut yang menjadikan tubuhnya sebagai jembatan bagi yang lain. Kaki bagian depannya meraih bagian pintu pagar yang di depannya sementara kaki belakang tetap di posisi ia berdiri, di bagian pagar yang lainnya. Dengan posisi begitu, teman-temannya yang lain dengan mudahnya dapat melalui ‘jembatan buatan’ itu. Hal ini berlangsung cukup lama sebelum akhirnya aku membuka pintu dan mendekatkan jarak antar pagar agar bisa dilalui saja oleh mereka, tanpa jembatan tubuh temannya.

Read More…

Belajar Lancar Menulis Yukzz…

Kawanz en temanz semua… (ni klo dalam kaedah bahasa indonesia dah kena timpuk ma guru, ancor banget bahasanya ; tapi ngak apa-apa :p ).

Kali ini saya ingin sedikit men-share sebuah pengalaman yang saya dapatkan dulu ketika pernah mengikuti pelatihan singkat menulis (amat singkat malah karena saya malah lari dari pelatihan karena kesibukan lainnya, hoho..). bagi saya pengalaman ini cukup membantu disaat dulu saya sama sekali tidak bisa mengembangkan ide-ide atau paragraf di saat menulis. Ya, walaupun sekarang belum pande juga sih, paragraf-paragraf yang dikembangkan malah jadi ngelantur kemana-mana, kayak sekarang nih..ckckckck…

Bagi kawanz en temanz semua pernah ngak, atau sering kali ya.. menghadapi persoalan dimana ngak tau mau nules apa. Atau ada bahan yang mau ditulis tapi hanya terfokus kesitu saja, to the point gitu langsung, ngak ada bumbu-bumbunya. Atau ngak terbiasa nules karna ngak ada ide, dan lebih parahnya terkadang ide yang datang itu banyak amat, belum selesai satu ide dah datang ide-ide lainnya. Dan hasilnya adalah : tidak ada satupun tulisan yang selesai.

Berdasarkan sebuah pengalaman yang saya rasakan cukup bermanfaat, mari kita coba melatih diri dengan metode yang satu ini. Coba kita menuliskan sesuatu itu secara deskriptif. Dengan kata lain, kita mencoba untuk mendeskripsikan (menggambarkan) sesuatu itu agar orang lain itu mengerti tanpa harus melihat apa yang kita maksudnya. Misalkan ni ya, saya ni orang yang ngak tau durian tu gimana (haha.. mudah-mudahan ngak segitunya ya). Nah tugas dari kawan-kawan adalah mendeskripsikan durian itu kepada saya dengan bahasa kawan-kawan sendiri sehingga saya bisa memahami dan tahu bagaimana sebenarnya ‘durian’ itu.


Kawanz en temanz bisa saja menjelaskan misalnya :durian itu adalah buah yang kulitnya berduri. Bukan seperti sirsak, tapi lebih mirip duri buah nangka. Bedanya adalah duri buah durian ini lebih kuat dan tajam. Buahnya biasanya juga seukuran buah nangka. Atau, buahnya itu lebih kurang seukuran bola kaki namun bentuknya agak sedikit lonjong. Permukaannya berlekuk dan berduri seolah ingin memamerkan isi di dalamnya. Jika di belah, harum isinya menyerbak merobek indera penciuman, bla..bla…

Terserah deh mau ngejelasin bagaimana lagi. Yang jelas dengan penjelasan itu, orang yang mendengarnya bisa paham dan membayangkannya.

Dalam kondisi lebih luas, bisa dicoba dengan menjelaskan hal-hal lainnya yang bukan saja benda. Misalnya menjelaskan suasana kamar kita, rumah kita, desa kita, suasana kota kita, suasana indah pantai yang pernah kita kunjungi, pemandangan siluet indah, senja, pelangi, atau apapun yang pernah kita lihat. Bisa juga mencoba menjelaskan tokoh-tokoh yang cukup dikenal atau yang akan kita kenalkan. Bisa itu presiden, menteri, gubernur, kepala desa, tukang jahit, tukang sepatu, penjual ikan, de el el deh…

Nah, yukz kita coba berlatih. Coba jelaskan sesuatu hal kepada saya..:). I’m listening, upz.. reading maksudnya okey,,,

Hehe…

Sedikit tentang Ibu lah…

Sebenarnya pengen ikutan juga menulis tentang keluarga dalam rangka Harganas (Hari Keluarga Nasional). Tapi karena biasanya keadaanku yang ‘speechless’ klo ngomong masalah ini, jadinya macet trus ni.

Namun ingin kucoba sedikit saja yang berkenaan dengan hal itu, judulnya aja ngak tahu apa nie :D. aku kembali teringat beberapa tahun yang lalu, saat tahun pertama kuliah. Bersama beberapa orang yang bergabung dalam sebuah grup nasyid (jangan heran ya klo aku pernah dalam grup nasyid juga.. :D) berlatih membawakan beberapa nasyid. Memang sih awal terbentuknya dalam rangka mengikuti lomba nasyid se-Aceh (Alhamdulillah dapat juara 1, hehe… ). Nah, dalam perkembangannya kami berlatih beberapa lagu lagi. Dan yang sangat membuatku terkenang salah satunya adalah salah satu lagu yang dibawakan oleh grup nasyid Hijjaz, judulnya Belaian Ibu. Wlopun lagu itu belum sempat mentas sekalipun. Sangking semangatnya ama lagu nie, sepanjang jalan klo kebetulan aku bawa motor ke kampus, selalu aja lagu ini aku nyanyiin. Ya… wlopun klo ada yang sempet dengar tu lagu, bisa muntah-muntah sambil terpingkal-pingkal tu kena suaraku yang serak-serak ancor. Wkwkwk…


Back to topic. Nah, dengan lagu ini paling tidak cukup menggambarkan bagaimana seorang ibu itu. At least, sedikitnya lah. Hehe.. moga dengan tulisan ini bisa melahirkan lagi tulisanku yang lain tentang keluarga. icon smile Sedikit tentang Ibu lah...


Berikut lirik lagu Belaian Ibu yang dibawakan oleh Grup nasyid kami, eh, grup nasyid Hijjaz maksudnya.. icon smile Sedikit tentang Ibu lah...

Read More…

Gerhana Bulan Dini Hari tadi Gimana ya?

gerhana bulan image 150x150 Gerhana Bulan Dini Hari tadi Gimana ya?Wah, jarang-jarang nie bakalan terjadi gerhana bulan yang waktunya cukup lama. dan hal itu akan terjadi dan dapat kita saksikan pada kamis (16 Juni 2011) dini hari. Menurut para ahli perkiraan waktu terjadinya itu sekitar pukul 01.00 sampai 06.00 WIB. Dan semenjak senin malam (13 Juni 2011) aku sudah cukup optimis dapat melihat salah satu fenomena alam tersebut. Betapa tidak, langit malam kota Banda Aceh begitu cerahnya. Bulan yang hampir purnama seakan menjadi pemandangan utama langit kota. Hehe.. klo cuacanya bagus gini insya Allah bakalan bisa lihat gerhana ni kamis dini hari ntar. icon smile Gerhana Bulan Dini Hari tadi Gimana ya?

But, mulai Rabu siang mendung mulai menyelimuti kota Banda Aceh. Mendung yang terus membumbung seakan juga ikut menyelubung harapan untuk dapat menyaksikan gerhana nanti malamnya. Dan, hujan pun turun disertai angin kencang yang menyapu apa saja yang dilewati. Aku berharap angin kencang itu tak ikut juga menyapu harapannku melihat gerhana. Karena sudah beberapa kali gerhana ke belakang aku tak bisa melihatnya. Alasannya? Ya, karna saat terjadi gerhana itu langit juga dalam keadaan mendung, membuat hijab yang kuat antara mata dan sang bulan.

Teringat saat pertama kali aku melihat gerhana adalah saat aku duduk si tingkat 2 sekolah MTsN. Saat itu sedang ‘mengaji’ di Meunasah (Mushalla) desa. Dan gerhana pun terjadi. Di Meunasah dikumandangkan azan, menandakan ada sesuatu hal yang terjadi. Dan masyarakat pun paham ketika keluar rumah, gerhana sedang terjadi dan saat terjadi gerhana, selaku orang islam disunnahkan untuk shalah kushufain. Maka datanglah orang-orang desa ke meunasah untuk melakukan shalat kushufain. Sebuah pemandangan yang mulai langka terjadi akhir-akhir ini. Setelah salat dilanjutkan juga dengan semacam khutbah singkat. Dan udah tau kan, klo shalat ini berbeda dengan shalat biasanya? Iya, satu rakaatnya itu dua kali ruku’.

Dan malam kamis pun, saat pulang kantor dalam keadaan hujan sepertinya harapan tuk melihat gerhana semakin besar karna hujan pelan-pelan mulai reda dan langitpun mulai cerah kembali. Namun apa daya, sampai di rumah jam udah menunjukkan sekitar pukul 9 malam. Badan udah lelah, dan… Zzzzzz….. hoho..

Tiba2 terbangun jam 1 malam, wah kebetulan nie bakalan bisa liat. Eh, masih mendung rupanya. Apa mendungnya local aja ya. Hehe… tidur lagi deh. Jam 3 kebangun lagi, liat dari luar masih gelap. Lanjot lagi tu tidornya. Haha.. parah. Dan akhirnya, gerhana yang ada Cuma kebawa mimpi aja, ngeliat proses terjadinya gerhana, bintang-bintang di sekitarnya was-was seperti pajurit menyaksikan komandannya bertempur satu lawan satu. Hoho…

Dan, saat bangun lagi. Gerhana udah mulai pergi, pertarungan sudah usai. Aduh, gagal nie ngeliatnya. Tapi tidak apa-apa, yang penting dan liat dalam mimpi dulu. Moga lain kali diberikan umur panjang dan kesempatan tuk ngeliatnya. Hehe…

Kawanz en temanz, semalam ada yang ngeliat tak? Gimana tu ceritanya? icon smile Gerhana Bulan Dini Hari tadi Gimana ya?