Guratan Pena Zikra

tergurat agar dapat merekat erat

Posts Tagged ‘senyuman’

Siapa Bilang Pelangi Tak datang di Malam Hari? (versi nyata)

16153 1180339034114 1397327118 30460800 994338 n 150x150 Siapa Bilang Pelangi Tak datang di Malam Hari? (versi nyata)Temanz en kawanz, Tau yang namanya pelangi kan? Hehe… ya tau donk. Masak ngak tahu, dari kecil kita juga udah ada tu lagunya. Masih hapal ngak? Itu loh, yang liriknya

Pelangi-pelangi, alangkah indahmu,

Merah kuning hijau di langit yang biru

Pelukismu agung siapa gerangan

Pelangi-pelangi, ciptaan Tuhan..


Nah, udah ingat lagi kan? Tapi di tulisan kali ini bukan mau ngebahas itu lagu kok.. (halah..). sebagaimana kita ketahui, kita maklumi bersama dan telah bersama-sama kita maklumi, yang namanya pelangi itu kan munculnya waktu siang hari. Apakah itu disaat pagi, siang, ataupun sore. Dan kebanyakan pelangi itu muncul setelah atau menjelang hujan reda. Tentunya kalo masih ada mataharinya :p. Ada juga terkadang ‘pelangi’ muncul saat adanya kejadian ‘halo matahari’. Secara ilmu pengetahuan, pelangi itu muncul karena apa ya? Nie dikutip dari wiki aja deh :

Cahaya matahari adalah cahaya polikromatik (terdiri dari banyak warna). Warna putih cahaya matahari sebenarnya adalah gabungan dari berbagai cahaya dengan panjang gelombang yang berbeda-beda. Mata manusia sanggup mencerap paling tidak tujuh warna yang dikandung cahaya matahari, yang akan terlihat pada pelangi: merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu.

Panjang gelombang cahaya ini membentuk pita garis-garis paralel, tiap warna bernuansa dengan warna di sebelahnya. Pita ini disebutspektrum. Di dalam spektrum, garis merah selalu berada pada salah satu sisi dan biru serta ungu di sisi lain, dan ini ditentukan oleh perbedaan panjang gelombang.

Pelangi tidak lain adalah busur spektrum besar yang terjadi karena pembiasan cahaya matahari oleh butir-butir air. Ketika cahaya matahari melewati butiran air, ia membias seperti ketika melalui prisma kaca. Jadi di dalam tetesan air, kita sudah mendapatkan warna yang berbeda memanjang dari satu sisi ke sisi tetesan air lainnya. Beberapa dari cahaya berwarna ini kemudian dipantulkan dari sisi yang jauh pada tetesan air, kembali dan keluar lagi dari tetesan air.

Cahaya keluar kembali dari tetesan air ke arah yang berbeda, tergantung pada warnanya. Warna-warna pada pelangi ini tersusun dengan merah di paling atas dan ungu di paling bawah pelangi.

Pelangi hanya dapat dilihat saat hujan bersamaan dengan matahari bersinar, tapi dari sisi yang berlawanan dengan si pengamat. Posisi si pengamat harus berada di antara matahari dan tetesan air dengan matahari dibekalang orang tersebut. Matahari, mata si pengamat dan pusat busur pelangi harus berada dalam satu garis lurus.


Read More…

sebuah senyuman (cermin)

3ankbatak 150x150 sebuah senyuman (cermin)Hari ini adalah hari pertama aku dan kawan-kawanku bertugas, atau lebih tepatnya melakukan kegiatan, atau… apapun istilahnya. Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh dengan medan yang lumayan berat, sampai juga kami akhirnya di desa ini. Desa yang jauh dari hiruk-pikuk perkotaan. Suasana yang masih sangat asri. Sejenak mengingatkan akan kampung nenekku disana yang mungkin belum tentu setahun sekali aku kesana.. bukit dan gunung yang tinggi, aliran sungai yang begitu jernih, hamparan sawah hijau,, wah, betapa indah ciptaan-Mu ya Allah.

Ah, kembali kesini. Hari pertama adalah hari yang menentukan guna lancarnya kegiatan kami kedepannya. Setidaknya begitu pikirku semenjak pertama kali menginjakkan kaki di desa ini. Desa yang masuk kategori terpencil, atau terisolir lebih tepatnya mungkin kukatakan. Betapa tidak, setelah menempuh perjalanan hampir 24 jam dengan mobil, kami masih harus berjalan kaki melewati sungai dan perbukitan untuk mencapai desa ini. Desa disaat masa konflik dulu mungkin menjadi ladang pertempuran pihak yang bertikai, begitu bayanganku melintas saat melihat situasi dan keadaan masyarakat secara sekilas…

Akupun mempersiapkan perlengkapan yang akan kami gunakan untuk hari ini. Oh iya, disini kami menumpang di sebuah rumah berdinding kayu kepunyaan warga desa yang penghuni aslinya entah kemana sekarang, tak perlu bertanya karena merekapun takkan tahu jawabannya. Persiapan yang matang paling tidak akan memudahkan kegiatan kami nantinya. Akupun duduk diatas tumpukan kayu di depan rumah yang telah disulap menjadi tempat duduk. Kuletakkan alat-alat yang akan digunakan di dalam kotak. Alat-alat yang akan digunakan pertama kali kuletakkan di bagian atas. “biar lebih mudah dan gak banyak makan waktu.”begitu sangka ku,hehe…

Sedang asik-asiknya menyusun dan mengecek perlengkapan, aku dikejutkan oleh seorang anak kecil yang setengah berlari dan berhenti di belakang pohon mangga yang berada beberapa meter dari tempatku duduk. Saat mulai jelas kulihat wajah mungilnya, aku melemparkan sebuah senyuman sambil berusaha menyapanya. sebuah senyuman, Seperti senyumku biasanya. Ehh…. Dia malah lari setelah membalas senyumku. Ah, kacau. Apa wajahku seram amat ya, atau senyumku yang kurang manis (*tuingg…..). ntah apa-apa…;).

Dan ternyata saudara-saudara pembaca dimanapun anda berada yang sedang menyaksikan dan membaca tulisan ini (gaya komentator bola, hahaha… ;p), tugas yang kami laksanakan hari ini kurang berjalan sempurna, atau mungkin gagal lebih tepatnya. Sasaran lokasi sangat jauh dari perkiraan sebelumnya. Seharusnya kami mengecek lokasi dulu , namun keterbatasan waktu dan tenaga membuat hal tersebut tidak mungkin dilakukan. Tapi paling tidak, ada hasil yang diperoleh hari ini. Harus lebih semangat dan giat lagi nih….^_^P

Read More…