Guratan Pena Zikra

tergurat agar dapat merekat erat

Posts Tagged ‘waktu’

Selagi [masih] Bisa

Lama tidak menulis di blog, jadi gagap juga untuk memulai. Tapi klo ngak sedikit dipaksa ngak bakalan terangkum dalam rangkaian kalimat-kalimat kan.. icon smile Selagi [masih] Bisa

sebelumnya saya mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa 1433 H bagi yang menjalankan. Semoga amalan kita diterima dan menjadi orang-orang yang bertaqwa.

Jika menilik sedikit ke belakang, dalam rentang satu atau dua minggu sebelum puasa, banyak dari kita yang memanfaatkan waktu (liburan atau bukan) untuk kegiatan yang cenderung ke santai-santai. Ada yang ke pantai, air terjun, tempat pemandian, atau tempat wisata lainnya.

Salah satu tempat yang dipadati pengunjung di kawasan sekitar Banda Aceh dan Aceh Besar adalah Pantai Lampuuk. Hari sabtu minggu kawasan tersebut begitu padat, jauh lebih ramai dari sebelumnya. Selain memanfaatkan waktu libur (padahal bukan masa liburan), kebanyakan pengunjung beralasan lebih kepada “nanti tidak bisa lagi”. Maksudnya? Iya, sebentar lagi kan dah masuk bulan puasa, jadi takutnya ngak sempat lagi mandi ke pantai.

Read More…

Waktu Takkan Berhenti Walau Sesaat

bigstockphoto business turning back time 1644993 150x150 Waktu Takkan Berhenti Walau SesaatPunya jam kan? Ya, bisa jadi itu jam tangan, jam dinding, jam tugu, jam beker, jam digital or jam segala jenis jam yang lain boleh juga. Yang penting jam. Ada apa dengan jam-jam tu, anehkah? Pernah mungkin sekali atau dua atau beberapa kali waktu saat memperhatikan waktu, melihat detak-detak jarum detik yang terus saja berputar, ia tak pernah bosan. Jarum menit pun akan selalu mengikuti. Seolah saja mereka telah kompak bersekongkol, “jika kau detik telah melalap 60 kali putaran, maka aku hanya akan melangkah sekali”. Dan si jarum detik pun tak akan pernah protes atau berontak, “enak saja kau menit, dasar pemalas. Tidak sadarkah kau kalau aku begitu capeknya setiap hari finish di tempat yang sama, 3600 kali?”.

Tidak, tidak pernah mereka ‘mendakwakan’1 hal itu. Mereka seperti telah tergariskan untuk mengikuti alur yang demikian. Satu sekutunya lagi yang tak ketinggalan, jarum jam. Seakan dia hanya mengamati si detik dan menit berkolaborasi, dan dengan harmonis menutupnya dengan penunjukan jam di setiap angka. Dia yang bertugas siap sedia memberitahu kita. Sekarang sudah jam berapa adanya.


Di suatu waktu aku seakan menghardik si detik, mengapa ia begitu cepat melangkah. Padahal kerjanya saban hari itu-itu saja. Tak bisakah hanya sekali waktu ini kau pelankan langkah sedikit saja. Karena jika kau mau membantuku sedikit saja, aku mungkin akan menjadi juara dalam sebuah balapan super kencang ini. Kecewa aku.

Di waktu lain, aku murka pada si menit. Mengapa sekali ini saja, kau bisa berpura-pura lupa atau tak ingat bahwa si detik sudah usai satu putaran. Berhenti saja kau, tak usah melangkah. Toh yang rugi juga si detik yang kan berputar lagi. Namun itu juga tak kau lakukan. Aku kecewa lagi.

Di waktu yang lainnya lagi, aku berharap kepada si Jam. “Jam, maukah kau berhenti sebentar saja? Aku hendak menjemput seseorang, namun aku juga sedang ada kerja menyusun beberapa jemputan”. “tolong.. tolonglah aku sekali ini saja”. Aku meminta dengan penuh harap, was-was. Mata jam, ya, bisa kulihat mata jam itu mengandung rasa iba yang mendalam terhadapku. Ia melongokan matanya kepadaku, menarik nafas dalam-dalam, dan akhirnya keluar dari lisannya yang halus itu, “Owwh,, tidak bissaaaa….”. huuffft… kecewaku akhirnya merambah sampai ke puncak. Kalau ada puncak di atas ubun-ubun, maka disitulah ia berada.

Kenapa sih mereka, yang hanya bertugas menunjuk waktu, tak mau sekali saja membantuku? Aku tertunduk lesu, di pojok yang kian terasa membisu. Sebel.. icon sad Waktu Takkan Berhenti Walau Sesaat

**

Di satu bagian dinding tepat di sisi pojok dimana aku terpaku, seekor cicak sedang terkekeh tertawa tak tertahankan. “sinting”, ujarnya sambil kembali terkekeh-kekeh. Cicak itu, tertawa melihatku berusaha menghentikan waktu. “Dasar manusia! mana bisa memutar waktu”, celetuknya lagi. Sambil terus menjadi-jadi tawanya, ckckckck…  “Dari tadi meminta waktu berulang, permintaan itu kan membuang lagi waktu lainnya”. ia tersengal, dan sudah kian tak tahan, tertawa lagi dengan terbahak-bahak. wkwkwkwwkwkwk…

——————————

1 berdebat

menangkap bayang…

solusi1gif 255x300 menangkap bayang...Tak tik tak tik…

Suara setiap detik jam dinding yang sudah berumur puluhan tahun itu terus saja terdengar. Jam 10 malam beranjak ke 11, sekali berkedip sudah sampai di angka 12. Terus saja berlalu dan kini hampir saja tiba ia di angka 1, hanya beberapa saat lg mungkin…

Namun mata ini masih saja menatap ke sebuah layar. Pandangan yang kosong, karena sejatinya pikiran ini sedang bekerja luar biasa liar. Meliuk-liuk tak karuan, berusaha menembus batas-batas pemikiran yang selama ini tersimpan. Mencoba mencium aroma yang tak pernah singgah sebelumnya, mencoba mendengar walau tak pernah bersuara sebelumnya, Menangkap kata demi kata yang tak pernah berwujud sebelumnya. Kuhimpun, hingga menjadi satu mereka.

Namun kenyataan mereka terlalu liar rupanya. Ingin kubujuk, tapi ku tak pandai dalam bidang advokasi, assesment ku tak lengkap, komunikasiku buruk. Jadi coba kupancing saja mereka yang masih bergentayangan itu. Umpan ‘winamp’ yang mulai berdengung, beberapa ‘tangkapan’ hadiah yang kudapat, dan gambar-gambar yang menghiasi layar ini ternyata cukup efektif. Perlahan namun pasti, satu persatu dari mereka dapat kutangkap.

Kukurung saja di layar monitor ini. Agar tak lari lagi pikirku.

Sekali-kali aku memang harus menunggu begitu lama. Umpan yang ada tak dimakannya. Dan waktu pun terus saja berjalan…

Kuarahkan pandangan ke jam dinding yang berdetak itu. Ia terus saja berjalan. Tak perduli ‘tangkapanku’ sedikit atau banyak, tak menghiraukan keadaanku yang sudah begitu sekarat, tak ada urusan denganku mungkin ia akan berkata. Tak tik tak tik… irama yang selalu sama.

Waktu sudah seperempat malam. Aku harus lebih kreatiif… mungkin sedikit ‘refreshing jiwa’ bisa membantu.

Read More…