Bahr al Ummah

Je suis fier d' etre Indonesien

Hey there! Thanks for dropping by Theme Preview! Take a look around
and grab the RSS feed to stay updated. See you around!

Refleksi Pagi dari Lantai Enam

Pagi menjelang. Sehabis shubuh yang terbuat dari tidur hanya dua jam. Bukan hanya. Ternyata itu lebih dari cukup bagiku untuk sekedar mengobati rasa rinduku pada mereka. Mereka penghuni mimpi yang selalu tidak pernah to the point mengabarkan sesuatu yang akan terjadi sepulangku dari sana. Selalu begitu. Berteka – teki layaknya para pemandu kuis di televisi,

Gradasi langit yang didominasi warna biru yang dibawahnya sudah dipenuhi dengan kendaraan orang-orang yang giat mencari uangnya yang hilang. Aku duduk di sini. Di sofa yang mengarah ke televisi yang tak ku tonton. Masih sendiri  menikmati keajaiban pagi di kota ini.

Sementara itu khayalku mengawang entah kemana. Kepada dirimu, dirinya atau kepada diriku sendiri yang telah lama meninggalkan raga ini.

Akhirnya khayalku mendarat pada kerinduan. Ya. Aku rindu. Aku rindu ketika kaki ini masih semangat melangkah ke sebuah surau dekat rumah, mendahului pemanggil dengan pengeras suara yang didominasi para orang tua itu.

Aku rindu berlama-lama duduk bersila setelah mi’raj wajib yang disusul dengan sunnah dua rakaat. Lama. Hanya sendiri. Sampai lampu surau itu kembali kepada kematian yang dihantarkan oleh sang Amir.

Aku juga rindu menjadi penyendiri. Menyendiri untuk menangis. Menangisi segala keburukan yang telah dilakukan. Distimulasi oleh buku orang-orang ‘alim atau terjemahan indah firman-Nya.

Oh, langit. Aku rindu dirinya. Maksudku diriku yang sudah jauh itu. Yang ketika dekat menjadi utuh. Seperti sedia kala. Yang masih akrab dengan kebaikan. Yang hatinya masih bisa membedakan mana baik  mana buruk. Yang hatinya penuh dengan mengingatnya.

Tolong sampaikan pada-Nya. Aku rindu juga malu. Rindu kepada diriku. Malu karena betapa banyak detik, menit, jam, hari, minggu, bulan bahkan tahun dalam waktuku kini tanpa mengingat-Nya. Maukah kau menyampaikannya untukku, Semesta?

Aku sadar. Dia mencintaiku tanpa alasan bahkan balasan. Karena sejatinya balasan dariku itu untuk kembali pada diriku sendiri.

Kau tau aku kan, Semesta? Sudah 21 tahun 4 bulan 8 hari 2 jam dan 22 menit lebih beberapa detik kita bersama. Kita sudah bersama. Aku milik-Nya. Kau pun juga. Tapi kau lebih perkasa. Karena aku hanyalah miniatur alam-mu.

Semesta. Jauh di sudut sana pada dirimu aku yakin juga ingin ada diriku yang dulu. Tolong bekerjasama-lah dengan waktu untuk mengembalikan semuanya. Diri itu. Hati itu. Mata itu. Suara itu. Kaki itu. Tangan itu. Semua.

Harapan selepas diri itu kembali adalah adanya perbaikan. Perbaikan mulai dari dalam diri. Perbaikan atas semua kerusakan akibat ulah diri yang kosong ini. Atas nama semua kerinduan diri ini. Selamat pagi untuk dirimu yang diriku berada di dalamnya, Semesta.

Kamar 633, Lantai 6, Palmerah, DKI Jakarta,Indonesia, 17 Mei 2013, Pukul 6.26 a.m.

 

Cerita Indah Namun Tetap Abadi

Pernahkah kalian mengalami apa yang aku alami saat ini? Jangan sok tau. Aku belum menceritakan apa-apa.

Baiklah. Supaya kalian tidak terus terjerumus ke dalam jurang ke-sok-tau-an, maka aku akan ceritakan sesuatu. Dan ini gratis.

Maaf. Aku menggunakan kata “tau”. Bukan “tahu”. Karena takut salah persepsi. Sebab yang aku tau, tahu itu dari Sumedang.

Kita balik lagi ya ke inti cerita? Oke. Aku anggap kalian semua sudah mengangguk.

Aku pernah suka dengan seorang perempuan ketika kelas 4 SD. Aneh memang. Tapi itu terjadi.

Sejak saat itu aku terus mencari tau (bukan tahu) segala sesuatu tentangnya.

Singkat cerita, aku diijinkan oleh semesta yang bekerjasama dengan waktu, berkenalan dengan dia. Kelas 2 SMA. Lewat sebuah media sosial. Namanya Mxit.

Tidak kurang selama 7 tahun menanti akhirnya aku bisa menunjukan kepadanya bahwa ada seseorang diluar sana yang sangat mendambakan dirinya. Dan itu aku.

Selang dua hari berhubungan. Bukan intim. Itu Dosa. Lewat Mxit tadi, aku memutuskan untuk pergi menemuinya.

Diawali dengan rasa penuh curiga darinya (mungkin), akhirnya aku diperbolehkan main ke rumahnya.

Aku yakin hari-hari setelah itu adalah alam mimpi yang dibawakan semesta kedalam realita. Tak pernah terbayangkan. Indah sekali. Terlebih ketika sampai pada tanggal 16 Februari 2008. Mungkin itu mimpi tingkat ke-empat yang bertransformasi kedalam realita.

Semuanya indah. Apapun itu akan tetap aku anggap indah. Sampai pada saatnya aku harus terbangun dari mimpi panjang itu. 31 April 2010. Kita berpisah. Alhamdulillaah baik-baik. Tak usah kujelaskan apa penyebabnya. Supaya kalian kepo.

Aku sekarang tidak sendiri lagi. Dia juga begitu. Tapi kita tetap berhubungan. Dan ingat. Tidak intim.

Dengan keadaanku dan dia yang saat ini telah berbeda, kalian pikir aku akan melupakan itu semua begitu saja? Sekali lagi jangan sok tau. Aku tidak akan pernah lupa dengan semua yang telah terjadi. Karena bagiku, CINTA adalah Cerita Indah Namun Tetap Abadi. Kisah kita boleh berakhir, namun Cerita Indah kita akan terus abadi.

eeeeewww

Jambore FoPMI Part 2

Lalala yeyeye. Terdengar sayup-sayup teriakan penonton acara musik pagi. Ternyata itu cuma ilusi. Jeng jeng jeng. Akhirnya tibalah kita di hari yang ditunggu-tunggu. Pergi ke lokasi diving. Lalala yeyeye. Terdengar lagi. Tapi dari dalam hati. Jeggeeer. Udah ah. Oke. Kita berangkat kira-kira jam 7 pagi dari ramsis. Ada yang naik angkot. Ada juga yang naik angkutan mobil yang biasa dipake sama TNI. Waktu itu kita berangkat menuju pelabuhan. Lama perjalanan kira-kira 30 menit.

4

Setelah sampai di pelabuhan, kita me-list semua alat yang kita bawa. Tujuannya adalah supaya kita tahu apa aja yang peralatan yang kita bawa dan pada akhirnya kita menghindari adanya kehilangan alat yang kita bawa. Maklum, peralatan diving kan tergolong ga murah. Terlebih kalo alat yang kita bawa adalah alat pinjaman atau sewaan.

Setelah semua alat selesai di-list, kita bawain tuh alat-alatnya ke kapal. Disitu kita gotong-royong lah buat ngangkuti semuanya. Ga Cuma peralatan yang kita bawa, tapi peralatan lain yang bakal kita pake di sana kaya tabung, kompresor dan sebagainya. Setelah semuanya peralatan terangkut, barulah kita semua naik ke kapal. Perjalanan dari pelabuhan ke pulau kapoposang kira-kira memakan waktu sekitar 3-4 jam. Selama perjalanan gw memutuskna untuk naik di bagian atas kapal sama beberapa temen yang lain. Di situ kita nyanyi-nyanyi bareng. Tujuannya buat ngakrabin diri dengan peserta jambore yang lain dan juga salah satu obat pencegah mabok laut juga.

5

Kita sampe pulau Kapoposang kira-kira sore. Hari itu kita ga langsung diving. Kita bersih-bersih tempat yang akan kita pake buat tidur dulu. Ada yang tidur di cottage, ada juga yang tidur di ruangan terbuka semacam rumah joglo gitu. Kalo gw sih tidurnya di rumah joglo aja. Soalnya klo di cottage mah khusus buat anak-anak cewek aja.

Pas malemnya, acara dibuka dengan sambutan dr ketua FoPMI, Budi Baonk dari Unyil UGM. Setelah itu juga ada semacam ramah-tamah gitu yang dipandu orang dari BKKPN (Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional) Kupang. Nah, gw juga bingung kenapa jauh amat dari Kupang. Padahal acara kita kan ada di perairan Sulawesi. Tapi itu kebetulan aja si bapaknya lagi ada tugas di pulau Kapoposang. Soalnya Kapoposang juga termasuk daerah konservasi. Jadi harus ada ijin sana-sini dulu lah kalo mau ngadain acara di sini.

Setelah acara “resmi” tadi, masuklah ke acara bebas untuk malem itu. Sebagian dari kita ada yang main kartu, ada yang nyanyi-nyanyi, ada yang sibuk nge-­charge kamera sama hape, ada juga yang udah siap-siap mau tidur. Kalo gw termasuk orang yang ikut nyanyi-nyanyi. Di situ soalnya sambil ngakrabin diri aja sama yang lain. Jarang-jarang kan ketemu sama orang-orang hampir dari berbagai daerah di Indonesia dan punya hobi yang sama. Diving.

Keesokan harinya, tibalah kita di waktu yang di nanti. Waktunya diving. Tapi ga ada back sound lalala yeyeye-nya. Apasih. Di situ kita dibagi ke dalam 3 trip. Soalnya kita keterbatasan kapal untuk mengangkut peserta buat diving. Kebetulan gw masuk ke kelompok ke dua. Jadi gw masih bisa maen-maen dulu tuh keliling pulaunya. Sembari nunggu kelompok pertama selesai, gw dan temen-temen yang lain diajak sama panitia untuk minum kelapa. Nah, kelapanya itu harus dipetik dulu tapi dari pohonnya. Untung aja salah satu dari kita ada yang jago banget manjatnya. Dayat namanya. Dia anak FDC IPB. Setelah puas minum dan makan kelapa, akhirnya tiba giliran kelompok gw. Yess!!

Kalo gak salah satu kelompok itu ada 9 orang. Itu udah sama leader-nya. Yang jadi leader di kelompok gw adalah si Anca dari MSDC Unhas. Maklum, dia kan udah ngerti banget perairan di sini. Waktu itu gw dapet buddy si Awel dari Universitas Bangka Belitung. Kebetulan dia bawa kamera underwater, jadi gw bisa foto-foto di bawah.

61

Bawah laut kapoposang lumayan bagus. Bentuknya kaya wall langsung menjorok ke dalem gitu. Paling dalem waktu itu gw turun sampe kedalaman 35 meter. Mantep lah. Kayanya ini yang paling dalem deh dari yang sebelumnya gw diving. Maklum licence gw masih Basic Diver. Padahal untuk sekelas basic kaya gw, maksimal ya paling 20 meter doang. Tapi, mau gimana lagi. Mumpung ga ada senior gw. Hehehe. Hari itu gw dapet 3 kali diving. Untuk diving yang ke-2 dan ke-3 tentunya harus lebih dangkal dan lebih sebentar waktunya. Itu memang sesuai prosedur yang ada.

Pokoknya alam bawah laut di kapoposang keren lah bagi gw mah. Salah satu yang gw ga lupa adalah si ikan buntel yang sangat ramah. Ketika dia mau dipoto sama temen gw, dia ga lari lho. Malah nyamperin kameranya. Tapi untuk yang dive ke tiga gw sama sekali ga nikmatin. Soalnya itu udah keburu sore dan arus dibawah itu cukup kenceng. Alhasil gw diving mungkin kurang dari 10 menit.

7

Setelah selesai diving hari pertama, malemnya kita ada pesta makan malem. Yang istimewa di sini adalah, kita makan rame-rame dengan beralaskan daun pisang. Walaupun makanannya standar, tapi suasana kebersamaannya ini yang buat semuanya jadi spesial. Seru banget dah pokoknya. Yang ga kalah serunya adalah, ketika kita semua udah nyerah kekenyangan, tersisa dua orang yang masih terus makan. Aldi (bukan gw) dari Unyil UGM dan lagi-lagi Dayat dari FDC IPB. Kita semua kaya nyorakin gitu. Ada yang nyorakin aldi, ada juga si dayat. Lucunya, mereka malah nambah semangat dan terkesan kaya menganggap bahwa ini adalah lomba makan. Akhirnya yang keluar sebagai pemenang adalah si Aldi. Karena dayatt akhirnya nyerah kekenyangan. Nama Aldi emang dilahirkan sebagai pemenang. Hohoho.

89

Esok harinya, ternyata ada berita buruk. Sang “Kapten” kapal ngabarin bahwa keadaan di laut kurang aman. Gelombangnya relatif tinggi. Singkat kata, rencana untuk diving sekali lagi di pulau Samalona dirasa ga mungkin. Akhirnya ada briefing dadakan dari salah satu instruktur dari Unhas. Akhirnya tercipta keputusan bahwa rencana untuk diving di Pulau Samalona batal. Keputusan itu diambil atas dasar keselamatan bagi semua peserta. Untuk kepulangannya pun kita naik kapal dari pelabuhan sebelah selatan pulau Kapoposang, karena di bagian utara ketika itu gelombang dan arusnya cukup besar.

Agak nyesel sih ngedenger berita itu. Tapi mau gimana lagi. Keselamatan kita itu lebih penting dari apapun. Akhirnya kita lakukan seperti apa yang kita lakukan sebelum berangkat, me-list alat kembali. Apakah sudah lengkap semua atau belum. Setelah semuanya dicek, barulah kita semua mengangkut barang-barang ke kapal. Untuk kali ini gw ga duduk di bagian atas kapal. Gw lebih memilih di bagian dalam. Untuk mencegah terjadinya mabok laut, gw memutuskan untuk tidur aja dan berharap ketika bangun, gw udah berada di Raja Ampat. Jeggeeerr. Harapan gw belum terwujud. Pas gw bangun ternyata cuma ada di atas kapal yang hampir sampai ke pelabuhan kemarin tempat kita berangkat sebelum ke pulau Kapoposang.

Setelah nurunin barang, kita kembali naik angkot menuju ke ramsis lagi. Pas malem terakhir acara ditutup dengan penutupan dari panitia. Di malam itu ada yang main-main kembali keliling kota Makassar, ada juga yang tetep stay di ramsis karena mungkin udah kecapean.

Karena gw gagal dive di Samalona, berarti gw cuma dapet 3 kali dive. Dan jumlah dive log gw sampe saat ini baru 14 kali. Semoga di lain waktu masih ada kesempatan untuk terus menambah log penyelaman gw dan tentunya di tempat-tempat yang indah lain di Indonesia. Gw kasih tau ya sama kalian. Rugi loh jadi orang Indonesia yang notabene negara kepulauan ini kalo ga bisa diving. Makanya, kalo punya kesempatan, ikut aja sertifikasi diving di mana aja yang sesuai dengan budget kalian. Kalo udah gitu, tinggal eksplore sendiri deh sama kalian keindahan bawah laut negeri tercinta ini. Terakhir, tetep jaga kelestarian lingkungan laut kita ya. Don’t take anything except picture, don’t leave anything except bubbles. Salam Diver!!

Jambore FoPMI Part 1

3

Hal yang paling pertama disiapin kalo mau ekspedisi atau ngadain acara penyelaman adalah nyiapin semua alat yang dibutuhin. Biasanya ya standar, kaya scuba set, skin dive dan alat-alat pendukung yang lain kaya kamera underwater, senter dan sebagainya. Kalo itu udah disiapin, barulah kita nyiapin hal lain yang ga kalah pentingnya. Bahkan kalo itu ga ada, kita ga bisa berangkat. Duit yang cukup. Nah, waktu pertama kali gw tau ada acara ni, langsung lah ya gw bilang sama bokap buat ijin ikut acara ini. Sekalian minta duitnya juga. Maklum, gw termasuk salah satu anggota di klub selam gw (UKSA-387 Undip) yang jarang ikut acara ke luar. Alesannya macem-macem. Mulai dari bentrok sama kuliah dan juga bentrok sama isi dompet. Ya namanya juga alesan.

Ada yang lupa deng, sebelum lu nyiapin segala macem yang dibutuhin tadi, lu juga harus bener-bener mastiin terdaftar di acara yang lu mau ikutin. Ga lucu kan kalo lu udah nyiapin semuanya ternyata lu ga terdaftar di acara yang lu mau ikutin. Sa’ong. Sama aje boong.

Udah kan kaya gitu. Akhirnya gw dan lima temen gw sesama anak Uksa daftar lah ke panitia jamborenya. Kebetulan yang jadi panitia di jambore kali ini adalah temen-temen di Universitas Hassanuddin, Makassar. Mereka tergabung dalam dua klub selam yaitu MSDC (Marine Science Diving Club) dan FDC (Fisheries Diving Club).

1

Semua persiapan udah beres nih. Tibalah kita di hari pemberangkatan. Pertama kita berangkat dari semarang naik bis selama kira-kira 7 jam sampe salah satu terminal di Surabaya (lupa namanya). Abis itu kita naik mobil angkutan ke Bandara Djuanda, Surabaya (Untung ga lupa juga). Nah, karena waktu itu kita nyampe shubuh, sedangkan pesawat kita berangkat sekitar jam setengah 9, ngegembel-lah kita di bandara sampe busuk. Setengah busuk lah biar ga kelaitan lebay. Setelah sampe di jam pemberangkatan, akhirnya kita berangkat tuh naik pesawat kira-kira satu setengah jam. Kalo ga salah kita berangkat jam 8.30 WIB, dan nyampe jam 11.00 WITA. Nyampe lah kita di Bandara Internasional Hassanuddin, Makassar. Widiiih. Akhirnya gw menginjakkan kaki di pulau selain Pulau Jawa. Pertama kali cuy. Sesaat gw jadi lupa padahal Bali juga beda pulau sama Jawa.

Nah, sampe bandara kita disambut sama temen-temen FoPMI yang udah sampe duluan di Makassar. Cuma ga disambut pake tarian selamat dateng aja sih. Ya iyalah. O iyah. Mungkin belom gw jelasin ya FoPMI itu apa. Yak Salah (padahal ga ada yang jawab). Oke. FoPMI itu singkatan dari Forum Penyelam Mahasiswa Indonesia. Jadi kita ini gabungan dari berbagai Klub Selam di berbagai Universitas di Indonesia yang memiliki satu tujuan yaitu melestarikan laut beserta isinya yang ada di perairan Indonesia. Makanya kita ini secara organisasi berada di bawah LANAL TNI AL. Telaah sendiri deh yah apa hubungannya. Balik lagi ke cerita gw. Nah, setelah itu kita berangkat lah dari bandara menuju tempat kita ngumpul sementara yaitu asrama mahasiswa Universitas Hassanuddin, Makassar. Mereka lebih sering menyebutnya ‘Ramsis”.

2

Di Ramsis ini kita kumpul sementara untuk ngadain acara pembukaan, kemudian seminar dan juga briefing untuk teknis penyelaman yang akan kita lakukan di tempat utama yaitu di Pulau Kapoposang dan Pulau Samalona. Selama di sini kita sempet muter-muter kampus Unhas. Main-main ke kantinnya, makan sop konro, dan tidak ketinggalan menikmati keindahan penghuni kampusnya (apa hayooo?). Pas sore menjelang malem juga kita sempet main ke pantai Losari. Di sana kita nyobain beberapa makanan khas Makassar seperti pisang eppe, cotto makassar, dan paling spesial adalah konro bakar. Selain itu, kita juga sempet mampir ke pusat oleh-oleh khas Makassar. Yang paling terkenal di sini adalah toko Nusantara. Banyak banget deh oleh2 yang bisa dibeli, dari gantungan kunci, kain, kaos, replika kapal Phinisi, makanan, sampai minyak tawon khas Makassar. Pokoknya komplit deh. Setelah puas main-main di sekitar Pantai Losari, akhirnya kita balik lagi ke ramsis. Beruntung banget gw bareng mobil salah satu senior FDC, Bang Bob, gw dan beberapa temen yang lain masih bisa jalan-jalan dulu sebelum balik ke Ramsis. Di mobil itu ada gw dan Mena (UKSA-387 Undip), Lola dari Unyil UGM, trio Fanny, Kiki, dan Erby dari Mapala UI, dan Divo dari Biologi UI. Kita ber-tujuh diajak keliling kota Makassar tuh sama Bang Bob. Ke Trans Studio Makassar, terus lewat kumpulan Bar dan Diskotik yang banyak cewe-cewe “baik” nya, sampe ke tempat yang jalanannya banyak bencong pula (iiyyyyuuuuuuuuhh). Satu lagi yang ga lupa, kita diajak makan salah satu makanan khas Makassar lagi, yaitu Mie Titie. Nah, yang paling spesial dari makan Mie Titie ini adalah dibayarin sama Bang Bob (teuteup asiik). Setelah puas dan cape muter-muter kota Makassar dan nyobain kuliner khas Makassar, akhirnya kita balik ke Ramsis untuk istirahat. Karena besok paginya kita harus berangkat ke tempat utama kita dalam acara ini yaitu Pulau Kapoposang dan Pulau Samalona. Diviiiiiiiiiiiiiing.*\(^.^)/*

The Failed Underwater New Year

162599_1488476221594_7548318_n1

Waktu itu akhir tahun 2010. Itu waktu di mana gw belom pernah nambah jam selam sama sekali selain ketika sertifikasi bulan maret di Karimunjawa. Jadi jam selam ya gw baru 4 kali. Standar kalo mau dapet licence Basic Diver atau One Star atau sederajat tergantung organisasi mana yang ngeluarin licence itu. Nah, kebetulan temen deket gw Odi atau Soleh panggilan lainnya, ngajakin gw nge-trip ke pulau seribu, langsung lah ya gw mengiyakan. Itung-itung buat nambah jam selam. Selain itu pulau seribu juga ga jauh. Jadi, biayanya tentu ga bakal terlalu mahal. Yang paling menarik dari rencana ini adalah kita pengen taun baruan di bawah air. Wuiiiiih. Seru kali yah, pikir gw. Jadi, alat tambahan yang dibutuhin tentu aja kamera underwater. Gunanya ya pasti lah buat dokumentasiin kegiatan kita di bawah air nanti. Keren kan kalo pas pergantian taun gitu kita foto di bawah air sambil megang tulisan. HAPPY NEW YEAR !!

Oke. Jadi, awalnya kita diem-diem aja tuh mau nge-trip berdua. Alesannya bukan apa-apa. Ribet kalo banyakan. Ribet alatnya, koordinir orang-orangnya, dan ujung-ujungnya ga jadi. Yaudah akhirnya kita berdua minjem alat tuh sama organisasi selam kita, UKSA-387. Karena kita anggota, jadi harganya pasti jauh lebih murah dibandingin kalo orang luar yang minjem alatnya. Tapi, pas kita minjem alat itu, bocor lah rencana kita. Akhirnya sebagian anggota lain ada yang mau ikut. Yaudah. Karena ga enak, gw bolehin lah mereka ikut. Jadilah 3 temen gw yang lain ikut. Mereka adalah oscar, kobam, sama ian.

Kita berangkat tanggal 29 Desember 2010 malem. Kita naek kereta ekonomi dari stasiun poncol semarang menuju stasiun senen, Jakarta. Emang sesuai rencana gw sama odi. Kita mau ngegembel ke sana. Pake fasilitas apapun yang semurah mungkin. Yang penting bisa nyelem dan sesuai rencana. Tahun Baruan di bawah air. New Year Underwater. Makanya sebelum berangkat, odi udah ngehubungin salah satu dive center dulu di sana. Dia dapet kontak itu dari kenalannya yang anak IPB. Tujuannya ya kita pengen numpang tidur semalem di dive center itu. Biar gratis. Namanya juga ngegembel. Untungnya, si penjaga dive center itu ngebolehin kita buat nginep di sana. Sekalian bantuin jagain alat-alat di sana aja. Alhamdulillaah. Sesuai rencana.

Kita nyampe stasiun senen kira-kira sebelum shubuh. Karena ga mungkin berangkat ke pulau seribunya jam segitu, akhirnya kita mutusin untuk mampir dulu ke rumah si Oscar yang kebetulan ga terlalu jauh dari senen. Sambil istirahat juga. Sarapan juga. Gratis tentunya. Ada untungnya juga ternyata kalo ramean. Tapi sejauh ini cuma oscar yang nguntungin. Astaghfirullaah. Maaf ya teman-teman.

Ketika udah mulai siang, kita berangkat dari rumah oscar ke pelabuhan muara angke. Itu naik angkot dua kali. Pertama ke terminal grogol dulu, abis itu baru nyambung lagi naik angkot yang ke muara angke. Di muara angke. Kita naik kapal ke pulau yang akan kita kunjungin yaitu pulau pramuka. Ongkosnya kalo ga salah 35 ribu. Singkat cerita, sampe lah kita di pulau pramuka. Tempat yang pertama kita datengin tentu aja dive center yang udah dihubungin odi. Di situ kita naro barang-barang, ngobrol bentar sama penjaganya, baru deh kita langsung nyiapin alat buat penyelaman pertama. Gila yah. Baru nyampe udah mau nyelem aja. Nafsu banget. Karena kita niat ngegembel, jadi kita ga nyewa kapal. Alhasil, kita cuma bisa nyelem di pinggiran pulau. Kita entry dari atas kaya rumah kayu gitu di sebelah kanan dari dermaga utama. Lumayan jauh sih dari dive centernya. Untungnya ada gerobak buat angkut barang. Jadi ga terlalu ribet buat ngangkutinnya.

164325_1630975534778_543953_n

Penyelaman pertama gw ya waktu pertama dateng itu. Sekitar jam 10 pagi. Pemandangannya biasa aja. Ga terlalu bagus. Terumbu karangnya juga ga banyak. Visibility atau jarak pandangnya juga ga terlalu jauh. Tapi biotanya lumayan ada lah yang bagus. Gw sempet ketemu sama ikan Batfish atau Platax. Temen gw juga sempet ketemu Pari bahkan Baracuda.

Abis itu kita istirahat. Makan siang, sholat dan lain-lain. Pas waktu istirahat. Kaget lah gw kedatangan senior gw. Bang Buntel. Dia dateng sama mirza, temen seangkatan gw. Waduh, nambah rame nih. Akhirnya pas penyelaman kedua mereka ikut. Kita dibagi jadi dua kelompok. Kelompok gw di-leader-in sama si kobam, kelompok lain sama bang buntel. Penyelaman kedua juga gw rasa biasa aja. Karena lokasinya juga ga beda jauh. Cuma klo yang pertama di bagian kanan, dan yang ini di bagian kiri dari rumah kayu. Gapapa lah pikir gw. Yang penting tujuannya. Pas night dive di malam taun baru. Hari itu, selesai lah acara penyelamannya.

162911_1648314821921_3753490_n

Pas sorenya, ada kejutan lagi. Ternyata bang buntel yang notabene pengurus FoPMI ( Forum Penyelam Mahasiswa Indonesia) yang pasti punya seabreg kenalan di bidang selam ternyata udah ngehubungin beberapa temen dari Unpad dan UI. Ketika itu ada Komenk dari Unpad, Dito (Ex. UI), beberapa temen yang lain yang gw lupa namanya. Yang paling spesial adalah ada atlit renang sea games yang sekarang aktif di dunia diving dan travelling, Ka Audrey Jiwajenny. Giiillsss. Makin rame aja. Niatnya Cuma bedua ini malah se-RT. Rukun Tetangga yah bukan ReTweete. Tapi mungkin udah jalannya kali ya kalo taun baruan emang harus rame dan meriah.

Pas malemnya, rombongan yang baru dateng tadi plus bang buntel nyewa penginapan. Dengan mencoba untuk istiqomah dan konsisten, gw dan temen-temen dari Uksa tetep tidur di dive center. Ini sih antara menjaga konsistensi sama menjaga isi dompet. Anjir ini di sini kesannya gw pelit banget. Bodo ah.

Nah, di malem pertama ini nih rencana ngegembel (baca: ngirit) kita mulai terusik. Bang buntel ngajak gw dan temen-temen yang lain buat patungan beli ikan. Tujuannya ya buat bakar-bakar gitu. Sekalian makan malem. Yaudah akhirnya kita bakar-bakar ikan tuh. Seru sih. Enak juga makanannya. Intinya komitmen kita mulai goyah nih di malam itu. Dan ini merupakan sebuah awal dari hancurnya sebuah komitmen yang sudah terjalin.

Besoknya, tanggal 31 Desember 2010. Setelah sarapan, kita udah siap-siap tuh buat melakukan penyelaman. Bener dugaan gw. Rencana kita gagal. Ditto udah mesen kapal. Kesimpulannya kita bakal dan harus patungan sewa kapal. Aahhh. Gagaal. Ini bukan plan B apalagi plan A. Ini plan J. Jauuuuh. Yaudah lah gw pasrah. Oke. Sekarang kita tinggalin ya omongan masalah plan ngegembel itu. Sekarang kita ngomongin kegiatannya aja. Okesip.

Nah, setelah semua peralatan siap di atas kapal, kita berangkat menuju satu dive spot. Namanya Wreck Poso. Jadi di situ ada bangke kapal tenggelam gitu. Konon katanya di dalamnya masih ada seorang koki yang jenazahnya belum terangkat sampai sekarang. Hiiiiiyy. Jadi horror gini. Oke. Di sini kita dibagi jadi dua kelompok. Tapi kita nyelam barengan. Kelompok satu di-leader-in sama Ka Audrey. Dan itu bukan kelompok gw. *nangis bombay*. Kelompok gw leadernya si Ditto. Secara dia udah sering banget lah diving di seribu.

168878_1630527283572_1996641_n

Kelompok satu turun duluan. Baru dah kelompok gw. Karen Ditto leadernya, jadi ya gw ikutin dia kan yah. Nah pas di kedalaman 29 meter, terjadi problem. Ditto ngga sih isyarat bahwa dia ngga bisa nemuin tali yang jadi jalan menuju bangke kapal itu. Dia nanya ke gw. Blebekblebek. Artinya: Gimana?. Gw jawab. Bluk bluk bluk. Artinya: Terserah lu to. akhirnya kita cuma muter-muter di sekitar situ aja. Dan kalian tau ga itu ngebosenin banget. Gimana engga. Di bawah itu isinya cuma pasir, pasir dan pasir. Kalo pun ada, itu cuma soft coral yang kecil banget yang kalo mau liat lu harus ngedeketin kepala lu ke dasar.

Ga sampe di situ. Ada masalah baru lagi. Salah satu rombongan kelompok gw, si komenk, ngilang. Mampus. Kemana lagi tuh bocah. Gw samperin Ditto. Gw bilang blebekbekbekblebek. Artinya: To, Komenk ngilang. Ditto clingak-clinguk. Nyariin komenk. Ga ketemu. Akhirnya Ditto mutusin buat nyuruh kita semua naek. Yaudah kita semua naek. Pas di permukaan ternyata Komenk juga ga ada. Kita sempet panik tuh. Tapi ga lama kemudian komenk muncul ke permukaan. Alhamdulillaah. Gw tanya kan. “Menk, kmana lu tadi ngilang gitu?”. Gw tadi ga bisa mask clearing Di, jadi gw naik dulu aja, abis itu gw turun lagi. Jeggeeer. Itu tindakan bodoh banget. Kita ga boleh ngelakuin hal yang kaya gitu. Untuk penjelasannya bisa dicari deh di google. Hehehe. O iyah, gw kasih tau nih masalah mask clearing. Jadi mask clearing itu gunanya bikin masker/kacamata selam kita jernih lagi yang sebelumnya vogging / berkabut akibat ada udara keluar dari idung kita.

Yap. Penyelaman kali ini gw anggap gagal juga. Gw ga nemuin apa-apa di bawah. Dan yang biking qw tambah bete adalah si Mirza dan temen-temen yang lain yang di-leader-in sama ka Audrey bilang, dengan logat bataknya. Kapalnya gede kali lae. Kau liat ga?. Kemudian hening.

168257_1618219335881_7716193_n

Udah 3 kali gw dive tapi belom nemuin apa-apa. Intinya gw belom bisa nikmatin banget lah. Nah, pas abis maghrib gitu kita adain lagi tuh penyelaman. Maghrib Dive. Ini penyelaman yang lebih buruk lagi. Kita nyelam 5 orang dan cuma bawa satu senter. Pertama kita turun itu di bawah kita ternyata bulu babi semua. Banyak banget. Mana arusnya lumayan kuat lagi. Karena alasan keselamatan akhirnya kita naik aja. Kita nyelam kurang dari 10 menit. Ini ke empat kalinya yah. Dan malah makin buruk. Tapi gw masih optimis. Nanti malem. Pas pergantian taun. Semuanya harus berjalan sesuai rencana.

Abis maghrib dive itu kita mandi. Tidak lupa menggosok gigi. Malah nyanyi. Balik lagi. Ada sedikit yang menghibur hati gw nih di malam itu. Si penjaga dive center ngajak kita ke sebuah pesta atau semacam selametan gitu. Yes. Makan gerateeeessss. HAHAHA. Makanannya lengkap. Mantep banget lah pokoknya. Jadi dari situ gw baru tau tuh. Ternyata setiap malam tahun baru, salah satu pengusaha tambak di daerah sekitar pulau pramuka itu selalu ngadain selametan atau pesta seperti ini. Alhamdulillaah. Rejeki ga kemana.

Nah. Detik detik yang gw tunggu hampir tiba. Gw niatnya mau nyiapin alat tuh buat diving. Tapi ternyata arus dan ombaknya lagi lumayan kenceng. Sontak Bang Buntel langsung ngelarang kami buat nyelem. Lagi-lagi masalah keselamatan. Maklum, diving kan olahraga paling bahaya nomor dua setelah paralayang. Jadi ya ga boleh sembarangan. Hah. Mulai ga mood gw. Tapi akhirnya ada lagi tuh yang ngebangkitin mood gw. Ka Audrey ternyata udah bawa kembang api banyak banget. Dia nyiapin banget ternyata buat acara malam itu. Jadilah kita taun baruan di darat. Seperti biasa. Nyalain kembang api. Ternyata yang nyalain kembang api ga Cuma kita. Orang-orang di pulau pramuka yang lain juga banyak banget yang nyalain kembang api. Tambah meriah lah itu taun baruan di pulau itu. Tapi ya tetep aja. BUKAN UNDERWATER.

Kembang api abis. Kemudian hening. Dan cerita ini ga cuma sampe di sini. Abis itu kita ngobrol-ngobrol. Semakin larut lah itu kita bahkan menjelang pagi. Badan gw mulai kerasa ga enak. Kecapean kali yah. Ditambah rasa kecewa yang ada juga. Jadilah gw bersin-bersin. Makin ga enak aja pokoknya. Pas badan gw udah kaya gini. Eeeeehhh, ternyata ka Audrey ngajakin diving. Katanya gapapa lah bukan pas jam 00.00 juga. Yang penting kan masih suasana taun baru. Huaaaaaaaaa. Hati gw ngejerit. Akhirnya kita nyiapin alat. Dan. Kali ini bukan siapa-siapa yang ngomongin masalah keselamatan. Tapi gw sendiri. Akhirnya malem menjelang pagi itu gw mutusin buat ga ikut diving. Alesannya masalah keselamatan. Badan gw lg ga fit gini. Kalo nyelam takut kenapa-kenapa di bawah nanti. Yaudah kan itu gw ga ikut nyelam. Gw nungguin di atas. Mencoba nenangin diri sendiri aja. Dalam hati gw bilang. Ah, paling juga ga bakal ada apa-apa.

Setelah sekitar setengah jam akhirnya mereka muncul ke permukaan. Gw sambut dengan senyum palsu. Tapi tetap berusaha nenangin diri. Tapi semuanya berubah semenjak Negara api menyerang. Nahloh. Bukan. Tapi semua ketenangan diri ini pecah ketika gw denger dari mereka bahwa mereka ngeliat penyu gede banget di bawah. Huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa. Ini udah kaya di sinetron aja. Kayanya gw sial banget. Semua rencana gw gagal. Gw yang ngerencanain tapi gw sendiri yang sama sekali ga bisa nikmatin. Tapi yaaa mau gimana lagi. Udah lah. Ga usah disesalin. Banyak hikmah juga yang bisa gw dapet. Gw bisa nambah temen. Bisa kenal sama ka Audrey juga. Tapi gatau deh sekarang dia masih kenal apa engga sama gw. Hahaha. Semoga aja masih.

Next time, semoga gw bisa ngerencanain trip yang seru lagi. Bareng temen-temen baru. Di tempat baru. Di Indonesia. Tentunya diving lagi. Terakhir, gw pengen sampein ucapan senior gw yang lumayan bagus. Walaupun laut itu luas, tapi ga ada tempat buat kita ngelakuin kesalahan di sana. Salam Diver!!

Dari UKSA Jadi Cinta, Bersama Anisa :)

11311

Berawal dari Open Recruitment di UKM gw, namanya Unit Kegiatan Selam – 387. Biasa orang-orang nyebutnya UKSA. Jadi ceritanya waktu itu gw jadi panitia. Dari serangkaian kegiatan Oprec itu sampailah ke tahap yang namanya Latihan Keterampilan Kolam atau LKK. Dari sekian ratus mahasiswa Undip yang daftar tersisa lah tinggal 60-an peserta, termasuk dia. Namanya Anisa Oktaviani. Cantik. Hitam manis. Banyak yang suka juga sama dia. Termasuk temen-temen dan senior gw. Tapi waktu itu gw biasa aja. Ga ada rasa sama sekali sama dia.

Waktu Oprec itu kebetulan gw jadi Korlap. Ceritanya orang yang paling tegas dan paling galak gitu pas kegiatan. Tapi kalo pas diluar lapangan (baca : kolam), gw jadi orang yang peduli gitu sama semua peserta. Tanpa terkecuali. Termasuk dia. Gw sering smsin semua peserta. Ngasih semangat dan motivasi biar ga pada mundur. Maklum Oprec UKM gw emang semi militer. Di air pula. Jadi emang banyak banget yang mundur. Semacam seleksi alam gitu. Wajar lah. Kan olahraga selam itu olahraga paling bahaya nomor 2 setelah Paralayang. Jadi mentalnya harus dibentuk dulu biar ga sembarangan kalo pas di alam.

Nah waktu smsin si dia kok kayanya gw pengen bales terus smsnya. Singkat cerita gw jadi sering smsan tuh sama dia. Sama peserta lain juga sih. Tapi lebih sering sama dia. Malah gw sering YM-an bahkan telpon-telponan. Makin hari gw makin asik aja ngobrol sama ni orang. Ya akhirnya gw ga bisa boong kalo gw, suka sama dia.

Kebetulan waktu itu dia ga lanjut ke tahap selanjutnya. Bukan karena dia ga memenuhi syarat buat lanjut. Tapi gara-gara ga dibolehin sama orang tuanya. Maklum cewe. Orang tuanya ga mau kali anaknya tambah item. Apalagi sampe ngelupas kulitnya gara-gara sering dijemur di pinggir kolam. Tapi walaupun dia ga lanjut, perasaan gw masih lanjut. Bahkan nambah banyak. Dan akhirnya gw mutusin buat nembak dia.

Tanggal 3 Maret 2011 malem gw nelpon dia. Niatnya cuma pengen nelpon aja. Tapi kita ngobrol lewat telpon itu berjam-jam. Dari jam 11 malem sampe mau shubuh gitu. Sampe panas kali itu kuping gw. Karena kita udah ngobrolin banyak tentang kita masing-masing, Gw ngerasa kita udah saling terbuka tuh satu sama lain. Tadinya gw niat ngajak jalan dia dan bilang lewat telpon. Niatnya ya itu, buat nembak dia. Tapi entah apa yang gw pikirin waktu itu, gw kaya ga sadar gitu. Gw bilang sayang sama dia dan nembak dia lewat telpon. Daaaann jawabannya adalaaaahh. Jeng jeng jeeng. Dipending.

Dia bilang klo dia juga lagi dideketin sama senior dia di kampus. Dan itu senior gw juga. Jleb. Awalnya gw masih biasa aja. Gw mikir gapapa lah. Bersaing sehat kenapa engga. Walaupun sama senior. Tapi selanjutnya dia nanya gw orang mana. Dari suku apa. Gw kaget dong. Kok tiba-tiba dia nanya kaya gitu. Dengan nyoba buat berfikir positif gw bilang aja gw lahir di Jakarta. Tinggal di Tangerang. Bokap gw sunda Nyokap gw Betawi. Gw masih mikir positif. Terus tiba-tiba dia ngomong dengan nada ga enak, “Orang tua gw itu orang Jawa, ga setuju kalo gw pacaran sama orang Sunda atau Betawi”. Jleb lagi. Alesannya ga usah gw bilang di sini. Tau lah kalo orang Sunda sama orang Jawa punya masa lalu yang kurang baik. Waktu Perang Bubat dulu. Antara Kerajaan Majapahit sama Padjadjaran. Ups keceplosan. Ya pokoknya gitu lah alesan orang tuanya. Tapi gw bilang sok bijak gitu sama dia. Gini, “Bukannya gw sok ya nis, tapi kalo masalah orang tua mah gampang. Gw niat baik. Dan gw juga bakal main ke rumah lu. Kenalan sama orang tua lu. Intinya kalo kita punya tujuan baik pasti berujungnya juga baik”. Sedap. Akhirnya dia bilang. Yaudah kita jalanin dulu aja. Kalo lu udah bisa buktiin kalo lu serius sama gw mungkin gw bisa nerima lu. Ga lama setelah itu ada adzan shubuh. Kita udahan tuh telpon-telponannya. Berakhir dengan keputusan yang ngegantung banget buat gw. Tapi gw masih tetep optimis sih. hehe

Delapan hari setelah kejadian di telpon itu. Udah ngelewatin hari-hari sebelumnya dengan terus berusaha ngebuktiin ke dia kalo gw bener-bener serius tentunya. Gw ngajak jalan dia. Kita makan Sate Padang di daerah Jatingaleh, Semarang. Kita makin akrab tuh. Perasaan gw sih gitu. Kita ngobrol-ngobrol seperti biasa. Sambil terus ngeyakinin dia gitu.

Setelah makan kita balik. Gw nganterin dia ke kost-annya. Di depan kost-annya kita masih lanjutin obrolan kita. Sampai pada suatu pembicaraan dan gw ngomong, “Nis, gw serius sama lu. Gw bingung gimana cara buktiinnya ke lu. Yang pasti gw sayang sama lu dan pengen nyayangin lu. Lu mau ga jadi pacar gw?”. Dia diem. Gw diem. Kita maen diem-dieman. Setelah beberapa menit dia ngasih jawaban sambil senyum. Iya.

Waaaaaaaaaaaaaaaaa. Teriak gw dalem hati. Gilaaaaa, gw diterimaaaaaaaa. Gw langsung senyum senyum ga jelas. Pengen teriak tapi malu karena udah malem. Tiba-tiba ada suara yang ngerusak suasana, “Nisa, udah malem. Besok lagi ya”. Suara ibu kostnya nyuruh si Nisa masuk. Akhirnya dia masuk dengan muka senyum. Manis banget senyumannya. Dan gw pulang ke kost dengan muka yang lebih senyum dari senyuman dia. Tapi ga semanis dia pastinya senyuman gw. Pas nyampe ke kost tiba-tiba ada sms dari dia. Isinya gini, “Lu udah ngerencanain ya buat malem ini? Tanggalnya bagus, 11 Maret 2011. Disingkat 11311. Jadilah kita pasangan kekasih yang saling mengasihi. Sampai saat ini kita udah jalan 1 Tahun 2 bulan. Dan semoga terus berlanjut sampai nanti. Sampai kapanpun. Aamiin.

O iya, ada fakta menarik lho tentang tanggal jadian kita. Angka 11. Gw lahir tanggal 9, dia tanggal 2. 9+2=11. Gw lahir bulan 1, dia lahir bulan 10. 1+10=11. Kamar di asrama kampus gw nomor 29. 2+9=11. Nomor belakang HP gw 8, dia 3. 8+3=11. Nama belakang kita juga samaan. Sama-sama berasal dari nama sebuah bulan. Gw Aldi Nuary, dia Anisa Oktaviani. Januari+Oktober=11. Dari fakta-fakta ini mungkin aja kan kalo kita berdua emang jodoh. hehe. Makasih ya UKSA. Kalo bukan karena UKSA mungkin gw ga bakal kaya gini sama dia. Dari UKSA jadi Cinta, Bersama Anisa :)