Allhamdulillah, Rencana Tuhan Memang Indah

just a quick updates. I swear I’ll write all the stories in here after I finished with all the thesis and assignments and practices of course

So,…. yeah….

Pengumuman Blog Competition 2013

Pengumuman Blog Competition 2013

 

10 Delegasi terpilih Beswan Djarum 2012/2013 untuk London International Model United Nations 2014

10 Delegasi terpilih Beswan Djarum 2012/2013 untuk London International Model United Nations 2014

 

Thank you Djarum Foundation! Such an honor to be one of the delegates for LIMUN 2014!

Thank you Djarum Foundation! Such an honor to be one of the delegates for LIMUN 2014!

, , , , , , , , , , , , ,

1 Comment

Kalau Bukan Karena Mereka

I do want to win the Blog Competition, well that’s for sure.

But that is not my only purpose.

For me, to tell the readers about what I really feels on something, without being sugar coated whatsoever, is even more important. And there’s this contented feeling when I’m done writing all the posts. Its like yelling:

“THERE I SAID IT!wqt5v.jpg

And anyway, its been pretty hard on me actually to wrote those 3 freakishly long posts in a very short time. I know, you can blame half of it to me since I’m indeed a procrastinator. But hey, I have a thesis to do! And I got sick pretty bad around 2 weeks ago, I can barely eat anything. 5o9ovt.jpg

So, yeah. If you want to read the posts that I submit, you can check it in here, here, and here. Feel free if you want to share your opinions too! 5yvv4y.jpg

And last but not least, I’d like to say Thank You very much. Terima kasih. Syukron. Danke. Kob kun man. Cong rahmat. – to all of my friends who’s keep supporting me to finish these challenge.

To: Dek Esti, thanks a lot for helping me with the project! And also thanks Myrna and Yuvi who have been a great chit-chat and sharing companions, for helping me when I need someone to beta-ing one of my posts!

You three are the best house-mates in the world! k4gx6x.jpg

To: Mahgrine, Mas Gebya, and Dek Batavia, one of the greatest Indonesian people out there.

We’re so proud of you! 30bedkj.jpg

To: Courtney, Jasim, Ruan, Kat, Petchizz, Brian, and the others, you guys are the best of friends ever! Without your helps and supports, I don’t even know what I can do to finish the project!  How I miss you guys, I hope we can meet again one day!  1zoyr1c.jpg

Terimakasih!

Terimakasih Semuanya!

, , , , , , ,

No Comments

Ketika Garuda di Dada Diaspora Indonesia Dipertanyakan

Masih lekat dalam ingatan saya saat saya membaca surat kabar pada pertengahan bulan Agustus 2013 yang lalu, tentang Konferensi Diaspora Indonesia yang diadakan di Jakarta Convention Center (JCC). Sekitar enam ribu Diaspora yang datang dari 26 negara, datang dan bertemu di JCC. Kongres ini adalah kongres kedua yang diadakan, setelah kongres Diaspora Indonesia yang perdana, diselenggarakan di Los Angeles, Amerika Serikat pada bulan Juli 2012 silam.

Congress of Indonesian Diaspora 2013

Congress of Indonesian Diaspora 2013

Oh iya, bagi yang belum tahu apa itu Diaspora, kalau menurut definisinya sih, Diaspora merujuk kepada Bangsa atau Penduduk, yang terpaksa atau terdorong untuk meninggalkan tanah airnya ke negara atau wilayah lain. (wikipedia)

Masih belum paham juga? Oke. Sederhananya, Diaspora bisa juga disebut sebagai seorang Perantau.

Sedangkan menurut surat kabar yang saya baca saat itu, Diaspora Indonesia sendiri terdiri atas WNI yang bekerja di luar negeri, orang Indonesia keturunan, atau yang bukan lagi warga negara Indonesia, dan orang-orang yang mencintai Indonesia (walaupun bukan WNI dan tidak punya keturunan Indonesia).

Mereka-mereka ini berasal dari berbagai macam profesi. Mulai dari pengusaha, peneliti, mahasiswa atau pelajar, pekerja profesional, hingga Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Indonesian Diaspora Network (IDN) sendiri mencatat ada kurang-lebih sekitar 8 juta warga Indonesia yang kini berstatus sebagai seorang Diaspora, dan tampaknya jumlah ini bisa terus bertambah seiring dengan berjalannya waktu.

Diaspora-Diaspora Terbaik Indonesia (Rudi hartono, BJ Habibie, Sri Mulyani)

Diaspora-Diaspora Terbaik Indonesia (Rudi hartono, BJ Habibie, Sri Mulyani)

the full story please

, , , , ,

No Comments

Tuhan Tidak Iseng

Orang barat bilang sih, “You dont know what you have until its gone.”

Tapi kalau orang Madiun –saya- bilang sih “No. Truth is, you DO know what you had, you just never thought you’d ever lose it.”

Pacar, barang kesukaan, hewan peliharaan, dan saudara sepupu kesayangan, hanyalah sedikit dari beberapa hal yang kita selalu tahu bahwa kita memiliki mereka, they’re always there, hanya saja kadang kita lupa kalau suatu saat kita pasti akan kehilangan semuanya, cepat atau lambat.

Begitu pula dengan yang namanya ‘zona nyaman’ alias comfort zone.wqt5v.jpg

Dan waktu itu, di usia saya yang masih 16 tahun –sixteenth my age yah, jaman-jamannya saya masih imut, masih ababil, dan masih suka menulis $3p3rt! In!-, saya ‘dipaksa’ untuk berpisah jauh-jauh dari yang namanya comfort zone. Saya harus meneruskan pendidikan saya di Amerika Serikat. Di benua yang letaknya ada di balik benua tempat kita tinggal sekarang. Jauh dari orang tua, saudara, sahabat, tetangga, bahkan tukang bakso langganan.

Berat. Susah. Nggak gampang.

Out of the comfort zone is where the magic happens

Out of the comfort zone is where the magic happens

the full story please

, , , , , , ,

3 Comments

Raden Ayu Bernama Retno

Desember 2008

Aku berjalan cepat melintasi trotoar Jalan Sosrowijayan sembari melirik ke arah arloji dijital Winnie si Beruang yang sudah aku punya sejak  aku berusia empat belas tahun. Pukul delapan malam lewat tiga puluh tujuh menit. Aku sedikit merutuk, berusaha untuk mempercepat langkah kaki tanpa terlihat seperti orang yang sedang mengejar maling.

Aku telah terlambat tujuh menit.

Hei! Atención!” seorang turis asing berkulit putih berteriak dalam Bahasa Spanyol, memperingatkanku untuk berhati-hati ketika Becak yang ia tumpangi nyaris menabrak diriku yang dengan tiba-tiba menyeberang jalan .

Aku sedikit tersentak. Sembari tetap berjalan cepat dan berbelok ke arah Jalan Malioboro, kutangkupkan kedua tanganku ke dada sembari berteriak balik kepadanya, “Perdón!” Maaf.

Lelaki berbahasa Spanyol tadi hanya mendengus tak acuh sembari menyuruh abang becak untuk melanjutkan perjalanan mereka. Nampaknya bukan hanya aku saja yang malam ini sedang diburu oleh waktu.

Kurapatkan jaket hijau motif tentara milikku. Udara kota Jogjakarta di bulan Desember seperti sekarang ini memang wajar kalau terasa sangat dingin. Apalagi kota ini tengah diguyur hujan rintik-rintik tanpa henti sejak siang tadi.

 1

the full story please

, , , , ,

No Comments

A Picture is Worth a Thousand Words

I used to draw a lot back then.

I used to draw while stealing some glances at you.

I used to draw and peeking at your artworks and get amazed day by day. We’re on the same art class, remember?

Why did I stop, anyway?

pic 1 pic 2 pic 3 pic 4 pic 5 pic 8 sketch

cr: Amelia Yuwita

All the pictures here are came from my portfolio.

Do not copy or uploads everywhere else without authority

, , , ,

No Comments

Me, Tomboy(ism), and Sports

I was born as a girl, indeed. But if you must know, waktu Mama saya hamil saya dulu, hasil USG sampai bulan ke-enam Mama saya adalah bayinya laki-laki. Jadi ya jangan kaget waktu saya lahir dan semua yang tersedia adalah properti bayi untuk anak laki-laki.

Another thing is, I was born premature. Seven months of pregnancy and my Mom got slipped at home. It was raining hard outside and my Dad was nowhere at home since he was at Gunung Lawu, doing a mountain hiking (not gonna blame him, though. Siapa yang nyangka coba istrinya yang hamil 7 bulan tiba-tiba melahirkan? Waktu suaminya lagi naik gunung pula! Sampai sekarang pun saya selalu tertawa setiap mendengar cerita kelahiran saya yang sangat tidak diduga itu).

But alhamdulillah, despite I gotta stayed inside the incubator for some weeks after I was born, I was totally normal and healthy for a premature baby.

Yes. Normal as a premature baby, but not so much as a baby girl.

Disaat anak kecil perempuan yang lain minta boneka dan barbie untuk mainan, kalian tahu apa mainan pertama saya yang saya minta? Mobil-mobilan Tamiya (with green color and yellow strips on it, I remember precisely). Dan Bapak saya (yess, I called my parents Bapak and Mama for your information) mungkin bisa sedikit ‘disalahkan’ untuk hal yang satu ini sepertinya.  You see, I used to be a spoiled kid until I was 4 or 5 years old. I was practically a brat, I admit. Dan ketika Mama saya tidak pernah setuju untuk membelikan saya mainan-mainan khas anak laki-laki, Bapak saya selalu tidak bisa menolak permintaan saya untuk membelikan saya mainan-mainan macho.

I can be pretty manipulating as a lil kid, you know.

Saya masih ingat ketika liburan panjang sekolah dan saya menginap di rumah eyang saya di Magetan, kakak sepupu laki-laki saya yang dari Jakarta memamerkan permainan barunya kepada saya. Senapan angin mainan yang bisa menembak beneran dengan peluru plastik berbentuk bulat dan kecil yang bisa menembak sasaran sampai lima meter.

It was mesmerizing. Dan satu yang saya tahu, saya harus punya tembak-tembakan macam itu. Kalau perlu yang lebih bagus supaya besoknya saya bisa menang melawan tim kakak sepupu saya yang notabene empat tahun lebih tua daripada saya itu, saat kami bermain perang-perangan di halaman sekolah TK yang letaknya persis di belakang rumah Eyang saya.

And thats how I ended up having a fake AK-47.

1.  Gymnastic (Senam Lantai/ Senam Artistik)

Mama saya lumayan histeris ketika mendapati Bapak saya membelikan mainan tersebut untuk saya. Kata Bapak saya, ya sudahlah namanya juga anak-anak. Tapi kata Mama saya, masalahnya anakmu ini anak perempuan.

Main layangan, main ketapel, memanjat pohon kelengkeng dan belimbing, sudah menjadi makanan sehari-hari saya sejak saya masuk TK. Karena itulah saat saya masuk SD, Mama saya memasukkan saya ke ekstrakulikuler Gymnastic di sekolah saya, dengan harapan bisa membuat saya lebih feminim.

Ya gimana ga berharap seperti itu. Baju untuk latihan gymnastic kan mirip kostum untuk Balet. Serupa tapi tak sama.

One thing that my Mom never expect though, having me practicing cartwheel and handstand all over the house. Di tembok, di kasur, sampai di jalanan depan rumah. Kalau boleh jujur, jiwa kecowokan tomboy saya malah keluar di olahraga yang satu ini. Gimana enggak, untuk pemanasan saja, walaupun kami masih kelas satu SD, kami harus mengeluarkan matras-matras latihan kami sendiri. Satu anak satu matras ukuran besar, disangga menggunakan punggung kami.

Life is hard Men. Sport is hard.

Saya bertahan di ekstrakulikuler ini sampai saya kelas tiga SD. Pencapaian maksimal saya adalah sebagai delegasi dari kota Madiun untuk Porseni (Pekan Olah Raga dan Seni) se-Jawa Timur saat saya duduk di kelas tiga SD. Not bad for something that supposed to be just for fun, right?

The best part in Gymnastic? Saya jadi kenal kakak kelas saya yang keren banget, namanya Mas Deni. Saya kelas dua pada saat dia kelas lima dan juara satu Porseni SD se-Jatim di cabor Gymnastic Putra.

Jaman saya masih SD, bisa kenal kakak kelas yang keren itu termasuk keren.

Jadi saya kenal Mas Deni = Saya keren.

the full story please

, , , , , , , , , ,

2 Comments

Reasons to be single (and happy)

­Well, to be honest, I’m single and pretty much happy. My last relationship was like what? Two years ago I guess? I don’t know how to explain to you guys about life of being single.

Haha. m7b5ol.jpg

I mean like really, there’s no big differences between having a relationship or not. Really. Or…. at least for me.

I’m talking like this not because I’m being naive or even hypocrite. But here the story, I’ve been in two relationships before. The first one last like 3 years or so, and the second one was only last like one and a half year. And tell you what? I don’t think both of them are considered as me being serious. I mean, yes, I do liked them (my exs). Very much. But you know, it just the common thing when you’re being young and experiencing and stuff.

So, like honestly, if someone ask me “Have you ever fall in love before in your life?” I’d say, no. Not yet.

Its not like I never had any crush or what. Yes I do! In fact, I’ve got confessed three times since I went to college, and two of them were my crush. So why would I reject all of them? Well, there are lots of reasons to say yes actually instead of a no. But there’s a thing in a guy that went confessed too early in the stage of going out, that are really-relly-really turning me off. 

Like remember those song from Carly Rae Jepsen, Call Me Maybe? It was like we know each other for only like two or three weeks and then they went overboard by confessing to me.

Big turn off, man. No. Just no.

I know its not impossible for someone to fell in love that soon. But again, not for me. So, instead of making me flustered of happiness, those confessions were freaks me out. Because me, my self, like to take the things slowly. I’d rather getting to know each other for months before considering to take the relationship to the next level. Because, me, somehow, won’t accept any betrayal at all.

Ok, let me repeat that once again. I. Wont. Accept. Any. Betrayal. At. All.

Because first, there’s this thing in my childhood life that makes me really-really-really hate a traitor. So, you are welcome to cheating, lying, or even two-timing me, but then don’t blame me if I don’t want to see your face anymore for the rest of my life. Because in my dictionary of life, a traitor doesn’t deserve any mercy at all.

At all

Thank you very much.

Second, hey whats the point of having a relationship if we cant even be honest with each other? It’s okay if I was still a hormonal teenager or something, because maybe its fun when you can cheat to your BF or GF. Its endearing for such a young age. You know, exploring and stuff, but heck, I’m 21 already. This is not the time for me to playing anymore. Things needs to be thought seriously.

I still remember my auntie told me once that never ever agree to have a relationship with a guy that doesn’t even have any future plans for your relationship. Because there is indeed,  no future at all in that kind of relationship. So yeah, call me old style, but I’m done with playing.

Having twice of ‘failed’ relationships is enough and I don’t want to repeat it again.

Don’t you ever think to get yourself a boyfriend at all? You’ve been single for at least 2 years! 

 
Well, I don’t wanna be such a hypocrite, YES, there are times when I really-really considering to having a relationship. Usually it was around the Final test/exams. Why? Because at that time, usually I’ll have one or two subjects that I don’t really expert in it, so I really need help from someone that is smarter than me. And since my type is always consider as a guy that have to be smarter than me, I wish I have a boyfriend at that time that can taught me all those difficult subjects.

Sounds like you just wanna using them so much?

Well, not really. I always a big fan of intelligent people. For me, as a very realistic woman, those kind of people have their own charms that common people didn’t have. Things like: usually those kind of people will have stronger commitment than others (you know, by always study diligently and stuffs. Hey, intelligence isn’t coming instantly, it needs a hardworking), or you know, those smart people are tend to think first than their acts, are very appeals me.

A fight or an argument between a couple often happens because they act first before they thinking. Like seriously, if you really love a girl (or a boy), you would thinking logically first about what will happen if you throwing your temper tantrum towards your lover. You would never want to hurt her/him right? So you better calm your anger down first, and lets having a calm conversation about what makes the ‘problems or misunderstanding’ happened. And voila! You’d never have any serious fight with your loved one! :D -source: my very own logic-

So, pretty much answer why do I tend to like smart people, isn’t it? 63yhk9.jpg

Because being smart is a-dork-able

Because being smart is a-dork-able

Oh well, I think I need to stop rambling too much about having a relationship………. wqt5v.jpg

The point is, I’m still single because I am still single. Not because I want to, and neither because I don’t want to. I don’t wanna say I am not ready yet or things like that. Its more like I haven’t meet with the right guy yet.

And since I don’t have any reason to be rush (my wedding target is around 27 so pretty much I still have a long time right?), I don’t think I will change that ‘status’ soon. I’m enjoy the way my life is running now1zoyr1c.jpg

Sincerely, Amelia Yuwita. The coolest single on earth. Yes, that’s me.

No Comments

Balada Rangking Satu dan Turbulensi Pesawat (Part 2)

Hari kedua

Pagi-pagi sudah dibangunkan oleh Morning Call hotel lima menit sebelum alarm dari ponsel kami berbunyi itu hell sekali. Mbak, mas, there is a reason why we want you to call us at 03:30 am instead of 03:25 Oke? Sip.

Dengan langkah masih limbung, saya memutuskan untuk bangun dan segera mandi. Dalam perjalanan ke kamar mandi, saya melirik Fina yang masih tidur dengan nyenyaknya, well at least someone got a nice sleep. 2uj0bbk.jpg

Pagi itu saya menghabiskan kurang lebih sepuluh menit untuk mandi.

Tiga menit untuk cuci muka, gosok gigi, dan membersihkan badan, tujuh menit untuk menyiapkan nyali keluar dari shower yang hangat untuk kembali ke kamar yang memiliki suhu sedingin kutub utara.

Seriously what is wrong with this hotel? Kemarin sore saya dan Fina bahkan sudah mematikan AC kamar kami, namun tetap saja suhu di kamar kami tetap pada taraf Dingin Pakek Banget.

Dengan badan yang menggigil hebat, saya keluar dari kamar mandi dan mendapati ternyata Fina sudah bangun. Fina menyusul mandi sedangkan saya mulai berganti kostum kaos Rangking Satu. Dengan usaha keras untuk tidak melihat penampilan lengan saya di kaca, saya mulai mengaplikasikan make-up tipis ke wajah saya, walaupun jujur saya sendiri juga tidak tahu memakai Pelembab, BB cream, dan Bedak tabur sudah termasuk dalam kategori make-up atau belum

Karena yang jelas sesampainya di Ballroom hotel untuk tea break, Mbak Vivi, mbak-mbak cantik dari Djarum Foundation, langsung manggil saya untuk dirias lagi. 5o9ovt.jpg

Selesai dirias, saya langsung turun ke restoran di lantai satu untuk mengambil sarapan. Dan memang Tuhan bersama orang-orang yang duduk di urutan lima puluhan di Rangking Satu, menu utama sarapan Western pagi ini adalah Spaghetti Bolognese. Makanan kesukaan saya.

Dan seolah lupa dengan prinsip ambil sedikit tapi variasi saya yang saya cetuskan sebelumnya, saya kalap. Pagi itu saya memang hanya mengambil Spaghetti, Sosis, dan Fillet Ikan. Minumnya juga hanya jus jeruk.

Tapi ya itu tadi. Besarnya tiga porsi.

Habis? Habis. Tapi setelah itu saya kesusahan untuk balik ke kamar saya yang ada di lantai sepuluh untuk sholat Subuh. Perut saya begah. Sampai di kamar pun saya masih mager. Untung saja sudah wudhu sebelumnya.

Semacam malu juga sih, masa iya cewek makan segitu banyaknya. Tapi Fina menghibur saya dengan mengatakan bahwa Its okay, itu sarapan juga sampai TMII bakalan hilang semua kok. Oh, sungguh roommate yang baik hatinya.2q9ju47.jpg

Fina belum tahu sih, kalau saya diam-diam menyelundupkan sekotak yoghurt dari restoran untuk saya makan setibanya di TMII nanti.

. the full story please

, , , ,

No Comments

Balada Rangking Satu dan Turbulensi Pesawat (Part 1)

Sudah hampir satu bulan berlalu dan sekarang baru menulis di blog itu memang rasa-rasanya basi sekali. Tapi hey, salahkan itu semua kepada lecturer-lecturer saya yang tercinta yang hobi sekali memberikan tugas-tugas papers dan presentations.33w9th1.jpg

Jadi hari Rabu tanggal 16 Mei 2013 yang lalu, saya bersama sekitar 19 arek Beswan Surabaya yang lain, ngluruk ke Jakarta untuk ikut acara Rangking Satu di Trans TV. It was fun, though. I feel like I’m doing a high school trip all over again! Mulai dari kumpul di Bandara bareng, check in bareng, lari-lari ke boarding gate -karena ternyata pesawat kami sudah last call- bareng, hingga foto-foto ala ababil Taman Bungkul di dalam pesawat yang membawa kami terbang dari Surabaya ke Jakarta pada pagi hari itu.

Malas memang rasanya harus disuruh stand by di bandara Juanda jam lima pagi (since our flight is at 6:00), yang mana berarti kami harus berangkat ke bandara sekitar jam setengah lima kurang. Aduh, jam segini mah waria Bundaran Waru saja belum pulang mangkal. Apalagi sesampainya di Jakarta, kami harus menunggu selama kurang lebih empat-lima jam di pangkalan Beswan paling melegenda, Red Corner, untuk menunggu kedatangan dari Beswan DSO lain di Jakarta.

Garing? Pasti. Tapi ya mau bagaimana lagi. Namanya juga gratisan. Kesannya tidak tahu diri sekali kalau begitu tiba di bandara, kami langsung melenggang kangkung menghentikan taksi lalu memintanya mengantarkan kami ke Hotel tempat kami menginap.

Kamu pikir ini FTV? rsxvdw.jpg

the full story please

, , , ,

2 Comments