Articles Comments

Ranah Hujan » lomba blog beswandjarum » BLUE SEA

BLUE SEA

MOZAIK 1

DAWN: Saya Terlahir tidak dengan Sendirian

kendela dunia

jendela dunia

Kalau kita melirik jauh kebelakang, pernahkah terbersit di pikiran kita tentang hidup kita selama ini? Tentang apa yang pernah kita lakukan? Sudahkah kita bahagia? Apakah kita benar-benar bahagia? Bersama siapa? Sendirian? Tak ada teman? benarkah bisa bahagia dengan sendirian?

Tanjung Bira

Tanjung Bira

Langkah awal. ialah Tanjung Bira dari sudut Bulukumba, tepian, Sulawesi Selatan. Ia begitu diam, anggun namun dingin, penuh keseriusan namun begitu perhatian. Adalah rasa syukur memilikinya sebagai salah satu bagian dari diriku. Sungguh tanah air ini diciptakan dalam sebuah mahakarya yang agung, dengan laut sebagai penopangnya, tempatnya berteduh. Laut mengajariku begitu banyak hal, kudapatkan mozaik pertama di sini, Tanjung Bira.

Tanjung Bira

Tanjung Bira

Ia, anggun, tak tersentuh oleh frase datar yang kita sebut sebagai ketidakelokan. Ia begitu dewasa, namun memanjakan setiap yang datang. Ia dingin, seolah-olah tak peduli namun penuh dengan perhatian. Ia beku, namun tak pernah sendirian. Sadarlah aku bahwa ia begitu bahagia, dan kudapatkan sekeping pelajaran tentang apa yang kita sebut sebagai kebahagiaan. Teman.

a happiness

a happiness

Yah, hamparan laut yang begitu berkilau layaknya zambrut menebar pesona keceriaan dengan penuh percaya diri. Ia ternyata tidak dingin, tapi hangat, hangat akan keramahannya. auranya begitu positif, tak pernah berpikiran buruk tentang siapapun. Inilah yang kumaksud sebagai teman. Laut mengajari kita bahwa tidak ada seorang pun yang terlahir didunia ini benar-benar sendirian, because of there is always a hand that you can hold on to.. ialah teman. Didukung oleh suasana matahari terbitnya yang memukau, sadarlah aku bahwa langit dan matahari dan lautan tidak pernah membeda-bedakan siapapun.. jadi kenapa mesti harus bahagia sendiri kalau kita ternyata punya seorang teman.

Tanjung Bira

Teman

Tanjung Bira, sebagai langkah awal mencari mozaik kebahagiaanku yang lainnya. Hamparan pasir putihnya yang lembut seringkali berbisik: Tidakkah kau sadari betapa cinta itu hanyalah untuk berbagi? pada siapakah aku berbagi? Teman. Itulah aku. Dan sebagai teman pertamaku, ialah keluargaku sendiri, mereka adalah yang pertama dan nomor satu.

dare to be

dare to be

Jangan lupakan dasar lautnya yang begitu menawan untuk diselami. Airnya begitu bening, meskipun payau, dan tentu kita bisa melihat keindahan koral di dalamnya. Ada begitu banyak karang, dan juga spesies ikan laut yang begitu mempesona. Itulah ibaratnya hidup, kawan. Seringkali mudah ditebak, namun tak jarang menyakitkan dengan kenyataan yang ada. Perumpamaan lautan yang bening dengan karang yang begitu berjibaku, manusia tidak pernah terlepas dengan yang namanya masalah. Tapi tidak peduli dengan semua masalah itu, karena yang bermasalah adalah bagaimana sebenarnya kita menghadapi masalah itu. Apakah berdiam diri dan tidak melakukan apapun, ataukah lari dari kenyataan sebagai seorang pengecut, atau justru menghadapinya dengan alasan bahwa untuk itulah kita ada, untuk menghadapi yang namanya masalah. Jadi jangan melihat itu sebuah karang berduri dan tajam, kawan.

i do brave

i do brave

Tapi lihatlah dari sisi betapa ternyata karang itu membuat ikan yang hidup di sana menjadi kuat dan bisa bertahan hidup. Karena Masalah ada untuk membuat manusia menjadi lebih baik, karena sungguh kita benar-benar tidak sendirian dengan masalah itu.

disinilah aku mengakhiri mozaik pertamaku, bahwa aku benar-benar tidak sendirian dalam menuju sebuah kebahagiaan. Kebahagiaanku yang pertama, kebersamaan..

teman

teman

Filed under: lomba blog beswandjarum

6 Responses to "BLUE SEA"

  1. Azwar says:

    nice ..friends are happiness

  2. acci says:

    berharap bs terulng kembali.

  3. ahmadzikra says:

    cieeee… ndrii, bahasa tulisannya gimana gitu. menyentuh ke sudut-sudut relung khatulistiwa. tanjung bira di daerah mananya nih? kalau abg kesana diajak kemari ya… :)

  4. dianratnasari says:

    kawan..
    ajak aku kesana..
    hahahaha

  5. inibudijepang says:

    hai ndee..
    membaca tulisan ndee mengingatkanku pada tulisan Dian, meski dia dibilang Ndeso saat memasuki Club malam di Jakarta, ia justru bangga akan identitasnya sebagai warga Kudus.

    sebenarnya kita sering melupakan fitrah kita sebagai manusia, yang membutuhkan orang lain, benda lain, dan hal lain. kebayang kan kalau kita hidup sendiri, apa-apa sendiri. sepi jelas pasti, selanjutnya apa iya kita akan hidup yang bener-bener hidup? kelihatannya kok ndak…
    dan teman terbaik adalah buku. Lho???? hee….

  6. ndee says:

    @bangzikra: ntu di bulukumba, bang.. salah satu kabupaten di sul-sel.. inshaallah bang :D tempatnya keren lhooo

    @mbak dian, siip mbak.. datang lah ke makassar,, saya akan bawa kesana.. inshaallah

    @masbudi: beehhh,,, daleem bang.. saya juga suka buku, dan butuh yang namanya teman

    thanks udah berkunjung ya.. maaf untuk part 2 dan part 3 tanpa gambar.. udah ga bisa ditambahin lagi kata mimin

Leave a Reply

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Before you post, please prove you are sentient.

What color is a typical spring leaf?