Articles Comments

Ranah Hujan » lomba blog beswandjarum » Blue Sea

Blue Sea

Mozaik 2

Sunset: Pare-pare, aku menemukan cinta di sudut jantungmu..

Telah kulewati kehangatan sebuah teman dari pantai Tanjung Bira yang ranum mempesona. Dirimu mengajarkanku bahwa tidaklah cukup lautan dan samudera ini untuk menemukan seorang teman. Ia membisiki dari kisah helaian bulu perindu bahwa ia sedang menantikanmu secara sadar maupun tidak. Itulah pesan yang di sampaikan pasir putih nan eksotis darimu.
Perjalanan kedua, aku menemukannya di pinggan peta berbentuk huruf alfabhet dengan ruas yang terlipat kedalam lekuk teluk yang diterpa langit sore. Ialah Pare-pare, kota kecil tempat berlabuhnya semua getir kerinduan dalam dermaga yang siap menerima siapapun yang datang dan pergi begitu saja. Di sini, di kota kecil Pare-pare, aku menemukan pelajaranku yang ke dua: Cinta.
Tepat sekali, aku tidak saja membutuhkan seorang teman, tapi juga sebuah cinta yang membuncah-buncah di dalamnya. Cinta menyadarkan kita akan sebuah hal, yakni penantian bukanlah apa-apa dari sebuah rasa pertemuan yang menyebabkan entitas. Tidak perlu jauh-jauh meniti pertanyaan tentang cinta dalam kisahnya. Pare-pare dalam bahasa bugis kuno adalah sebuah kain perhiasan yang indah nan rupawan yang biasa dihadiahkan untuk sang kekasih hati sebagai penawar rindu. Ibarat persembahan Taj Mahal dari seorang raja yanga dimabuk cinta, Pare-pare tercipta dari tangan Maha Kreatif dengan seni melebihi tingkat sinuhun. Benar-benar pelajaran mengenai cinta untukku.

Sedikit dibumbui mitos, akan kau temukan sebuah sumur unik yang berada di bibir pantai namun dengan air yang tawar. Ialah sumur jodoh yang keramat. Datanglah ke sana, dan kau akan menemukan cara tersendiri untuk mendapatkan cinta yang selama ini kau cari-cari, siapa tahu ia telah menantikanmu bahkan juga telah mencari-carimu setelah sekian lamanya.

Dari kesemua cinta yang berlimpah-limpah ini, satu hal yang membuatku terkesan dengan kota mungil ini. Kota Pare-pare begitu unik dari yang pernah kutemukan, buktikan saja sendiri betapa pertemuan antara bukit dan pegunungan yang landai bertemu dan terhempas oleh pesona pasir putih matahari terbenam. Ia menghadap ke barat, dalam artian bahwa selalu saja ada harapan di setiap berlalunya matahari, bahwa ia perlu pergi untuk datang kembali dengan pelukan hangat.

Perpaduan antara Gunung dengan pantai menceritakan kisah lain. Ia seperti hitam putih garis kehidupan, bahwa disetiap kebencian yang di gambarkan oleh angkuhnya gunung, cinta selalu saja merekah menantikannya pulang di dermaga tepian teluk. Inilah entitas sebenarnya bahwa dibalik setiap benci yang menyembur dalam nadi setiap insan, ada ruang cinta dan juga rindu yang ia titipkan seolah-olah ingin berteriak: mengapa engkau begitu lama membuatku menanti di sini.

Perjalanan kedua ini kuakhiri dalam damai, dengan penuh cinta tentunya.. Pare-pare adalah guru kasmaran terhebat yang kutemukan, bahwa cinta menyederhanakan segalanya, menyederhanakan kita sehingga begitu mudahnya digapai. Perlambang dari kota Pare-pare yang begitu mungil.
Salam cinta…

Filed under: lomba blog beswandjarum

Leave a Reply

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Before you post, please prove you are sentient.

What is 4 times 3?