Articles Comments

Ranah Hujan » FIREFLIES » BLUE SEA Part 3

BLUE SEA Part 3

Telah kuarungi dua hikayat pedoman dalam menjalani perputaran waktu pada rotasinya. Aku menemukan teman yang membuatku tidak lagi sendirian, dan cinta sebagai pelukis pelangi dengan manis getir hidup. Namun ternyata aku masih membutuhkan sebuah hal lagi karena dengan dua yang tadi sepertinya masih kurang lengkap. Aku mulai kebingungan tentunya, ia begitu asing, namun terasa dekat di sini, di hati ini. Ia begitu samar-samar, namun kehangatannya begitu nyata. Dan barulah aku sadar sekian lama, ia begitu dekat namun kurindukan sehingga menjadi perjalanan dan tujuan terakhirku, rumah dan kampung halamanku.
Kampung halamanku tidaklah segemerlap likaliku hidupmu kawan, ia begitu sederhana–karena banyak cinta di dalamnya. terletak di tepian timur sudut tengah sulawesi, kami menyebutnya Wosu, tempat pengharapan terakhir.
Tidak ada yang menarik di sini, karena kau hanya menemukan matahari pagi dengan senyum genit membosankan, dengan ternak-ternak ayam yang berisik menemani, jangan lupa kambing dan sapi dan kerbau dan kuda dan segala jenis hewan ternak berkaki empat yang suka buang hajat suka-suka hati. Terlalu membosankan. Jalanannya yang sepi sehingga membosankan, Angin pantai yang berbisik-bisik tentang gosip janda bohay di seberang sana yang tiap hari mereka dengungkan sebagai trending topick world wide sehingga juga membosankan karena topik tidak pernah berubah. Semuanya membosankan.
Seperti halnya benci dan cinta yang termaktub dalam sebuah peni, aku tidak pernah memungkiri bahwa kampung halamanku sangatlah membosankan namun sangat kurindui pula. Ia telah menempati sebuah ruang dalam hatiku yang kusebut sebagai penantian, bertetangga dengan teman dan juga cinta. Ia sangat istimewa bagiku karena dari kesemua perjalanan yang telah kulalui untuk mencari arti hidup, bahwa aku butuh teman dan juga cinta, di rumahku kampung halamanku aku menemukan sebuah keluarga yang hidup dalam damai dan penuh senyum hangat. Bahwa merekalah guru sejatiku yang mengajariku tentang saling mencintai dan berbagi walau dalam serba keterbatasan. Dan di sana pula aku menemukan teman yang mampu menghela air mataku saat sedih dan menepuk-nepuk bahuku untuk memberi tahu bahwa aku tidak sendirian saat semua orang pelgi meninggalkanku. Mereka adalah keluargaku.
Jadi, tak peduli dengan seberapa membosankannya, rumah selalu punya cara tersendiri untuk membuat kita rindu. Karena rumah dan kampung halaman adalah tempat tujuan kita yang terakhir saat dunia mulai lelah dengan mimpi-mimpi kita yang tak pernah habis. Di sana ada ayahku yang mencintaiku dalam diamnya, dan ibuku yang merepet-merepet saja mulutnya saat tahu aku belum mandi sore dan akan gelisah tak bisa tidur sebelum tahu aku telah tertidur dengan nyaman berselimutkan kain dan juga bantal sebagai sandaran.
Wosu, persinggahan terakhir ini menutup setiap mata kail pencarianku tentang makna hidup..
tak akan kau temukan seorang teman dan juga cinta yang menggebu-gebu di dalamnya selain di pembuluh saraf dan urat nadi kedua orang tuamu..

salam hangat..

Filed under: FIREFLIES

Leave a Reply

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Before you post, please prove you are sentient.

What has leaves, a trunk, and branches, and grows in forests?