Kolom Otak Andrey

Sepintas Terlihat Jelas – Beswan Djarum 27

Caraku Bermalam Minggu

Malam minggu. Ya, malam ini memang malam minggu. Malamnya para remaja yang sedang dimabuk cinta (katanya sich), malam bagi mereka bagi yang punya pasangan (kecuali long distance). Saatnya buat mereka untuk apel kerumah doi, keluar jalan-jalan keliling kota, atau makan bareng dibawah lampu taman. Diiringi konser tunggal para pengumpul recehan kayaknya semakin menambah romantis. Meski nggak bisa dipungkiri, ada sebagian yang merasa terganggu.

Tapi beda denganku, kalau mereka pergi sama doi, aku hari ini pergi jalan-jalan sendirian. Menyusuri panasnya kota surabaya. Namanya jalan-jalan pastinya jalan kaki dong. Nggak tahu kenapa, aku emang hobi jalan kaki meski kadang juga milih naik taksi (read: angkot). Seberapapun jarak yang ditempuh, dan seberapapun letih yang dirasa, tapi itu membuat hatiku senang. Bisa menikmati suasana sepanjang perajalanan. Mwlihat rumah para kaum elit sampai kaum alit (read: kecil). Semua bisa dinikmati sepanjang jalan, bahkan kita bisa ikut merasakan apa yang mereka rasakan. Dan kalau kita bisa mengambil nilai didalamnya, itu akan menambah nilai sosial kita. Harapan buatku sendiri sich supaya aku tetap bersyukur atas apa yang aku punya sekarang. Karena diluar sana, masih banyak yang orang yang tak seberuntung kita.

Hanya sendiri dan aku sendiri tanpa teman yang bisa diajak ngobrol sepanjang perjalanan. Hanya hati dan imajinasi yang maen loncat kesana kemari melihat keadaan sosial dinegeriku ini. Kenapa aku lebih milih sendiri, itupun juga ada alasannya. Pertama: Tidak ada teman yang mau diajak jalan-jalan apalagi jalan kaki. Kalaupun ada paling juga bakal ngeluh terus. Kedua: Dengan sendirian aku bisa lebih bisa merasakan apa yang dirasakan oleh mereka meskipun aku tak bisa tahu apa kemauan mereka setidaknya dalam kolom otakku ada ide yang harus direkontruksi untuk membuat sebuah perubahan sosial yang bisa diterima oleh semua orang. Ketiga: Mau kemanapun aku berjalan nggak ada yang ngelarang atau aku nggak perlu mikirin ingin jalan-jalan kemana temanku. Nggak enak kan kalau jalan-jalan tapi nggak sesuai keinginan. Setidaknya tiga alasan itulah kenapa aku lebih suka jalan-jalan sendiri.

Seperti biasa, tak lengkap rasanya jika jalan-jalan tanpa berkunjung ketoko buku. Meskipun hanya sekedar melihat-lihat buku baru tapi itu cukup buatku. Setidaknya sudah ada incaran buku yang akan dibeli dan itu artinya harus nabung. Buku incaran yang didapat yaitu bukunya Emha Ainun Najib yang judulnya Tuhanpun Berpuasa dan beberapa buku lain karya cak nun. Tertarik juga sama buku karya Karen Amstrong yang judulnya Sejarah Tuhan tapi harganya lumayan tinggi jadi nahan dulu.

Sebentar berkunjung ketoko buku dirasa cukup, perjalanan dilanjut lagi. Dalam perjalanan bertemu dengan kerumunan orang. Padat dan sesak, banyak orang memenuhi jalan dan banyak lampu-lampu disitu. Ternyata itu adalah semacam pasar atau apa ya nama yang tepat. Intinya, disepanjang jalan itu dipenuhi dengan para pedagang. Mulai dari orang-orang berjualan HP dan pernak-perniknya, baju, sepatu, alat rumah tangga, dan banyak yang lain. Barang-barang yang dijual kebanyakan barang bekas. Harganyapun juga terjangkau sich saya pikir, tergantung pinter-pinternya kita nawar.

Sepatu harga 35rb aja ada kok disini. Sepatunya baru, merknyapun juga merk terkenal, kayak converse, machbeth dan merk-merk terkenal lainnya, cuma nggak tahu, tuch sepatu KW berapa.hehehe… Nah, pasar ini hanya ada pas malam hari aja. Untuk jamnya, dari jam 17.00 WIB mereka sudah mulai membuka lapak tapi belum begitu ramai baru sekitar jam 20.00 WIB sudah dipenuhi oleh pedagang dan pengunjung. Kalau pas jalan-jalan di Kota Surabaya dan lagi nggak ada kerjaan, bolehlah mencoba ketempat ini. Tempatnya persis didepan DTC (Darmo Trade Center) dan sebelahnya stasiun Wonokromo. Jadi kalau naek angkot dari arah manapun minta aja turun depannya DTC tapi tanya dulu sama sopirnya, tuch angkot lewat DTC apa nggak.

Sarannya, kalau kesini hati-hati, dompet, HP dan benda berharga lain pastikan aman. Buat jaga-jaga aja, soalnya kita bakal berdesak-desakan disini. Harus pinter nawar itu wajib, karena kalau nggak ya sama aja kaya beli ditoko-toko atau pusat perbelanaan mewah. Pinter-pinter milih juga wajib tuch biar nggak salah pilih. Belum tentu kayak rambutan tapi bisa jadi kayak kedondong jadi harus teliti tuch pas milih.

Bisa dilihat hasil jepretan kamera HP jadulku. Hanya sebagiat yang kelihatan dan nggak jelas. Kalau mau tahu suasananya langsung aja ke TKP.

Foto0369 Caraku Bermalam Minggu

Beginilah ramainya tempat ini. Sayang, kamera yang digunakan kurang mendukung sehingga hasilnyapun kurang enak dipandang.

Foto0372 Caraku Bermalam Minggu

Foto yang diambil dari atas jembatan penyeberangan.

Ya, memang beginilah caraku bermalam minggu di Kota Pahlawan. Seperti apa caramu bermalam minggu?

 

You can leave a response, or trackback from your own site.

3 Responses to “Caraku Bermalam Minggu”

  1. ganesa says:

    keren ndrii,,kpn kw neng DTC???
    ngopo g mampir???pdhl cerak bgt

  2. intan says:

    malam minggu nie gmn andre ???
    ingatkah nie malem minggu loh

  3. Andrey says:

    Baru nyadar atu teh kalau ini malam minggu…

Leave a Reply

Before you post, please prove you are sentient.

What color is fresh snow?