Kolom Otak Andrey

Sepintas Terlihat Jelas – Beswan Djarum 27

Setelah dua Perjalanan Nusantara selesai, kali ini aku akan menceritakan perjalananku yang kulakukan beberapa bulan yang lalu. Niat awal sebenarnya hanya ingin mengunjungi saudara-saudaraku yang bisa dibilang kurang beruntung karena sudah lama tak pernah berkunjung kesana. Mereka tinggal di Dukuh Sidowayah yang masuk kecamatan Jambon Kabupaten Ponorogo.Tempat yang cukup jauh dari tempatku, setidaknya membutuhkan waktu 2-3 jam perjalanan dengan menggunakan sepeda motor. Sebagian besar penduduknya mengalami keterbelakangan mental, kalau bahasa kerennya itu Down Syndrome atau biasa disebut “Idiot”. Meski begitu kami tetap satu saudara keturunan nabi Adam bukan? So, sudah selayaknya kita turut memperhatikan mereka bukan justru mengucilkannya.

 PeNus#3: Kampung Idiot dibalik Gagahnya Reog Ponorogo

Aku mulai berangkat dari rumah sekitar pukul 08.00 WIB dengan menggunakan sepeda motor. Seperti biasanya, perjalanan kali ini aku tetap sendiri tak ada kawan yang menemani. Meskipun begitu,kesendirian tidak menjadi suatu kendala yang berarti bagiku untuk tetap pergi.

Tak terduga dan diluar rencana, saat aku sampai di daerah Keniten Ponorogo ada acara jalan sehat dalam rangka memperingati isra mi’raj. Kebetulan acara jalan sehat pada waktu itu sudah selesai. Jadi hanya tinggal pengumuman pemenang door prize. Waktu itu sekitar pukul 09.00 WIB. Tapi bukan itu yang menarik perhatianku. Pentas kesenian asli Ponorogo yaitu REOG lah yang cukup menyita perhatianku. Tidak hanya itu, penampilan seorang bocah yang berumur 5 tahun yang piawai memainkan Reog akhirnya mengajakku untuk berhenti sejenak. Katanya sich dia ini pembarong terkecil. Pembarong itu sebutan bagi pemain Reog yang bagian memainkan barongan atau ditepatku biasa disebut “dadak”. Itu low, yang ada kepala harimau dan hiasan bulu burung meraknya. Aldino, nama dari anak kecil ini.

Mau tau aksi Aldino dengan Reognya yang beratnya 6,5 kg? ini videonya.

Selesai penampilan Reog dari Aldino ada juga nich penampilan Tari Bujang Ganong. Ini aksinya.

Selain dua penampilan tadi, ini saatnya melihat aksi Reog yang ukurannya lebih besar yang pemainnya orang-orang dewasa. Ini dia videonya.

Mohon maaf jika hasil recordnya jelek. Maklum, bukan ahlinya. hehehe….

Aku memang asli orang Ponorogo tapi jujur saja, sampai sekarang ini aku nggak bisa kalau suruh nari Reog (gak ada bakat paling yaa???). Sementara ini aku hanya asyik jadi penonton saja. Kebetulan, waktu asyik melihat pertunjukan Reog, aku bertemu dengan temanku namanya Ulum dan Rista. Setelah bercakap-cakap cukup lama akhirnya Ulum mengajakku untuk berkujung kerumah Bapak Ketut yang berada di jalan Jola-joli 83 Tambak Bayan Ponorogo.

Ternyata temanku mengajakku ketempat pembuatan Reog. Senang rasanya, akhirnya bisa melihat langsung pembuatan Kesenian asli Ponorogo ini. Bapak Ketut ternyata adalah salah satu dari tujuh seniman yang ada di Ponorogo. Beliau sudah banyak membuat Reog dari berbagai ukuran dan ternyata kebanyakan yang pesan dari luar Ponorogo. Hebatnya lagi, beliau pernah mendapat pesanan Reog dari Suriname, Malaysia, dan Singapura. Ukuran yang terbesar yang pernah dibuat beliau yaitu 2.8 meter untuk lebarnya. Untuk kepala Reog beliau menggunakan kulit harimau asli yang beliau dapatkan dari Sumatera dan untuk bulu meraknya didapatkan dengan mengimpor dari India.

Harga Reog satu set lengkap yang terdiri dari Reog/barongan, Gamelan, Seragam dan kelengkapannya kurang lebih 45juta. (1 sepeda motor Ninja 250RR brow!!!!). Selain membuat Reog untuk pentas, beliau juga membuat Reog dalam ukuran kecil untuk souvenir.

Beberapa hasil jepretanku dengan Nikon Coolpix S2600.

reog%2520mini PeNus#3: Kampung Idiot dibalik Gagahnya Reog Ponorogo
Ini untuk Souvenir. Yang besar harganya 300rb dan yang kecil 150rb


reog%2520proses%25201 PeNus#3: Kampung Idiot dibalik Gagahnya Reog Ponorogo

Alur pembuatan kepala Reog. Ini hanya gambaran saja. Mulai dari kayu batangan hingga jadi kepala Reog yang menakjubkan


reog%25202 PeNus#3: Kampung Idiot dibalik Gagahnya Reog Ponorogo
Ini ceritanya aku lagi iseng-iseng nyoba pakai Reog. Ternyata berat brow. Beratnya lebih dari 10kg. Pakainya cuma digigit aja tuch batang yang ku pegang kaya yang ada pada gambar 1 (back).


reog%25203 PeNus#3: Kampung Idiot dibalik Gagahnya Reog Ponorogo
Ini gambaran pembuatan dadaknya.

reog%25204 PeNus#3: Kampung Idiot dibalik Gagahnya Reog Ponorogo

Jika sudah dirangkai semua, jadinya bakal kaya gini. Gimana rasanya ya, Gigi bisa ngilu nich. Berat Reog untuk orang dewasa antara 50-60 kg, gimana kalau dinaiki, belum lagi kalau ada angin. Kira-kira beratnya jadi berapa ya??.. Pernah bayangin nggak gimana beratnya??. Its Amazing…….

Saran: kalau ingin melihat Pentas kesenian Reog Ponorogo silahkan berkunjung ke Ponorogo pada bulan Syuro (acara Grebeg Syuro), karena pada bulan ini ada Festival Reog Nasional. Selain pada acara ini juga ada Festival Reog Mini. Jika berkunjung ke Ponorogo pada hari-hari biasa, anda tetap bisa melihat pentas Reog di pendopo Aloon-aloon Ponorogo tapi hanya setiap malam Bulan Purnama.

Setelah lama ngobrol dan mendengarkan cerita soal Reog dan nilai-nilai luhur yang terkandung dibalik kesenian Reog dari Pak Ketut, kami pun berpamitan. Tak terasa jam tanganku sudah menunjukkan pukul 12.30 WIB. Temanku langsung pulang dan aku pun melanjutkan perjalanan menuju ke “Kampung Idiot”. Disebut Kampung Idiot karena sebagian besar penduduknya menderita keterbelakangan mental.

Akses menuju Dukuh Sidowayah tidaklah mudah. Karena kita akan melewati jalan tanah yang berliku dan pohon-pohon tinggi diantara gunung-gunung. Kalau buat shooting film horor gitu keren banget tuch. Setidaknya untuk sampai disana aku membutuhkan waktu 1.5 jam perjalanan dengan sepeda motor. Sayangnya, kameraku mati dan HP juga nggak mendukung sehingga banyak momen yang nggak bisa diabadikan.

Setelah perjalanan cukup jauh dibawah terik panas matahari serta pemandangan alam yang masih alami di sepanjang jalan yang aku lewati. Alam seolah menyapa kedatanganku disana dan akhirnya sampailah aku di dukuh Sidowayah yang daerahnya diapit oleh gunung-gunung. Pemandangan yang tidak biasa bisa dilihat disini. Hampir seluruh penduduk di dukuh ini menderita keterbelakangan mental. Banyak faktor yang menyebakannya, mulai dari perkawinan sedarah, kurang gizi, dan bahkan ada sumber yang menyebutkan penyebabnya adalah krisis ekonomi pada tahun 1997.

Setiap hari mereka hanya makan daun-daunan yang dipetik disekitar rumah mereka. Rumah merekapun hanya beratap jerami dan alasnya dari tanah. Aku juga menjumpai seorang bapak yang sedang asyik mandi pasir di rumahnya. Saat aku bertanya, bapak ini nggak bisa jawab, tingkahnya benar-benar layaknya anak bayi. Bingung juga rasanya, gimana caranya berkomunikasi dengan mereka. Ada juga bapak yang dipasung karena bapak ini selalu berusaha menabrakkan diri kepada apapun yang dijumpainya.

kampung PeNus#3: Kampung Idiot dibalik Gagahnya Reog Ponorogo

Ini adalah kehidupan saudara kita. Foto diambil dari berbagai sumber.

Aku terus berjalan menyusuri kampung ini, mencoba menemukan dan mencari solusi dari fenomena nyata ini. Sulit memang, saat mereka diberi bantuan berupa uang, mereka tidak bisa menggunakannya. Saat diberi kambing untuk dipelihara malah mereka sembelih, jika mereka punya anak laki-laki dan perempuan ya itu yang dinikahkan. Lantas apa solusi yang cocok untuk mereka. Sampai aku pulang dan hingga sekarang ini aku masih memikirkan, kira-kira apa yang harus aku perbuat untuk merubah kondisi memprihatinkan ini. Sungguh perjalananku yang sangat sederhana tapi penuh akan makna,rasa bangga, memiliki, berbagi , syukur dan tentunya ilmu. Puji syukur aku bisa menikmati hidup dan serangkain perjalanku ini, dan sebuah impian besarku saat ini adalah aku ingin menghilangkan sebutan “Kampung Idiot” ini dari Kotaku, Bumi Reog Ponorogo.

Betapa bersyukurnya aku yang masih diberikan kesehatan dan nikmat yang berlimpah. Jauh diluar sana, masih banyak saudara-saudaraku yang tidak seberuntung kayak aku. Bisa mendapatkan Beasiswa dari Djarum Beasiswa Plus merupakan anugerah buatku. Bersyukur aku bisa pergi ke Semarang,  Bandung, Jogja dan Jakarta yang itu semua untuk pertama kalinya. Betapa beruntungnya aku. Kebahagiaan ini semoga bisa kubagi dengan mereka yang kurang beruntung. Ilmu yang ku dapat semoga bisa ku amalkan hingga sebutan “Kampung Idiot” tak ada lagi. Amin...

 

You can leave a response, or trackback from your own site.

25 Responses to “PeNus#3: “Kampung Idiot” dibalik Gagahnya Reog Ponorogo”

  1. johantectona says:

    keren bro.. menyentuh trenyuh… kapan” temenin aku maen kesana ya bro, pengen melihat langsung biar mata ini tidak buta dan selalu menatap ke atas.. oiya klo reog sih kok aku agak agak mistis gtu ya? itu beneran mistis apa ya? hohohoo

  2. Andrey says:

    Oke bang Jo.. silahkan datang ke Ponorogo nanti saya ajak juga ke sanggar Reog kalau mau tahu yang sebenarnya..hehehe…..

  3. liyamayasari says:

    sumpah paling keren iki ndriii
    Mantaph ez

  4. Andrey says:

    Terimakasih ya..hehehe…ini penutup….

  5. Maudy Melissa says:

    sukaaaa :D

  6. dianratnasari says:

    terharu ndre..
    sumpah kamu bakat nulis juga ya jebule…
    keren ndre…
    keren…
    Aamiin semoga doa kamu terkabul ndre g ada lagi kampung idiot itu semoga..

  7. Andrey says:

    @Momod: Terimakasih sudah mampir….

  8. Andrey says:

    @Teh Dian: terimakasih banyak teh. ini masih harus belajar banyak…Tulisannya masih acak-acakan……Semoga teh, semoga impianku terwujud..Amin..

  9. siddiq tseloutsen says:

    reog, warisan budaya dunia. keren tulisannya :)

  10. rovika says:

    bgus mas,,,tp bhasa’y masi aga t’lalu formal,,,d’bwt nyantae aja,,biar menarik,,,hehe
    LANJUTKAN….!!! (^_^)

  11. anny moet moet says:

    beneran di kampung itu orangnya idiot semua ndrey?

  12. dodod says:

    pernah lihat liputan kampung idiot di tv… sedih… bingung juga mau gimana bantunya…

  13. Ditta.w.Utami says:

    Huoowwww… kereeeeen >..<

    Ditta pernah nyoba ngesubmit video tapi gagal :'(

    Baca yang kampung idiot n frasa krisis ekonomi di atas, Ditta jadi inget cerita dosen-dosen kimia di UPI yang pernah kuliah di luar negeri. “Di luar negeri itu, para gelandangan aja dapat santunan dari negara”. Bahkan ada yang sampai disediakan rumah gitu…. :)

    Semoga Indonesia pun bisa untuk tidak menelantarkan masyarakatnya :)
    aamiin ^_^

  14. liyamayasari says:

    aku sering denger soal kampung idiot ndri
    tapi baru tau info sebenarnya dari ini

  15. indra feisal says:

    kk KaMi mengucapkan selamat IDUL FITRI 1433 H

  16. fitri says:

    sedih bget Aq dnger kmpung ideot…
    sdah hdup susah …..n kekurangan
    sedih bngett ….

  17. Putu agnia says:

    Nice post adrey..
    Bikin terenyuh.. :(

  18. intan says:

    wach,,,, minder baca blog kmu ndre,,,,
    hmmmm
    oya kmrn pas 17 agustusan di t4 Q ada yg maen reog2,,, loh muter2 g2,,,, minta angpo

  19. normasholikah says:

    keren banget.. bungkus gih raja ampatnya.. hehe

  20. ahmadzikra says:

    nice…
    bener ngak kebayang tu gimana mainin reognya. beratnya aja udah segitu, belum lagi gerakan-gerakannya.. :D

    untuk kampung idiot, hmm…ini untuk menyadarkan kita juga mungkin ya. kita harus lebih peduli,

  21. wahyu says:

    kren kak,,,,,
    kmpung idiot it dri arah premptan balong kmna?

  22. fitri says:

    keren Abizz…abizzz
    kesenian Reog tuh.. kak
    ni perlu dilestarikannn

  23. mohfaidoljuddi says:

    dre, cerita warokny6a mana?

Leave a Reply

Before you post, please prove you are sentient.

What is 6 * 8?