Archive for September 7th, 2009

Dilema Penambang Pasir : Ekonomi vs. Lingkungan?

This is my story ‘bout my village : Pacitan…

untitled

Pada zaman penjajahan Belanda dulu, Pacitan dianggap sebagai daerah hilir. So, status hutan yang berada di Kabupaten Pacitan disebut sebagai hutan produksi. Padahal secara geografis Pacitan memiliki daerah hulu juga, kayak hutan Gemaharjo di Kecamatan Tegalombo dan Gunung Gember di Kecamatan Bandar. Dengan begitu, harusnya hutan tersebut disebut hutan lindung, bukan hutan produksi.

Nah, akibat salah persepsi yang terjadi sejak berpuluh tahun yang lalu, Perhutani dan masyarakat beranggapan bahwa nggak salah kalo hutan-hutan itu ditebangi. Masyarakat menjual kayu hutan itu buat kebutuhan hidup. Makin lama, hutan makin gundul. Hutan yang gundul itu bikin tanah mudah tererosi oleh air pada musim hujan. Akibatnya, material dan pasir hasil erosi itu pun terbawa air dan menumpuk di sungai.

.. lanjut deh…

5 Comments

mereka TIDAK lebih kotor…

Dua tahun lalu, tepatnya tanggal 25 Maret 2007 jam 7 pagi , seorang teman lama yang tinggal di Malang menjemput ke kosku untuk jalan-jalan. Sebagai mahasiswa yang belom setaun tinggal disini, wajar lah kalo aku jadi maruk jalan-jalan,,hehehe… Kukira bakal jalan-jalan ke tempat wisata yang jadi trademark-nya Malang kayak Paralayang, Selecta, Cangar, atau apa… Ternyata kita berhenti di : ALUN-ALUN KOTA.

Sekali lagi : Alun-alun, yeah… Alun-alun…

dsc00246

Demi menghargai perjuangan yang ngajak, aku turun dari atas motor dengan senyuman paling manis dan kutanya : “ngapain kesini?”

Dia jawab dengan sangat-sangat-sangat simpel : “ngga tau..,aku juga belom pernah kesini…” (dengan senyum manis juga).

Oh God…,dan aku mulai memasuki gerbang KEBOSANAN (with bold,underline, and italic, plus big size of font!!), datang-duduk-diam ala anggota DPR, di tengah alun-alun yang rame ga’ jelas gitu… Plus ngobrol ga’ jelas ma temenku yang ga’ jelas pula… (Halooooow, where we are?)

Hufffh…

Mbak, mas,, belom makan dari pagi…….”, suara anak kecil sekitar 9 taun lah, dengan 3 anak lain yang lebih kecil,–dibelakangku.

…lanjut baca atau kau akan menyesal,hehehe…

3 Comments

Kita butuh PKL, right?

Dulu, kadang aku sebel juga ngeliat PKL (Pedagang Kaki Lima) yang “nongkrong” dimana-mana, bikin macet lah..,plus bikin tambah ruweeet… Mulai dari yang jualan rokok, bakmi goreng, siomay, sol sepatu, de el el…. Tapi bayangin aja kalo ga ada mereka,,, apa kita bakal beli tahu telor atau nasi krawu di mall? Atau beli rokok dua batang langsung ke distributor? Aih, ribet cekali atuh..

………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

Pernah nih pada suatu siang yang puanassss… (lebay euy!),, aku lagi ngantri bayar SPP semester baru di sebuah bank. Nah, karena letaknya pas di jalan propinsi yang penuh dengan kantor-kantor en gedung-gedung yang guede-gede, maka puanasnya minta ampyuuuun… Dari jam 9 pagi mpe jam 11 siang (baru dua jam sih,hehe..) aku ga makan apa-apa, ga sempat sarapan pula paginya. Lapar pun mendera,,,oh…oh… Tapi jangan harap di sekitar situ ada Indomaret atau warung kecil yang menyediakan cemilan pengganjal perut (bantal kale) atau semangkuk hot cui mie,,,di sekitar situ cuma ada (sekali lagi) kantor-kantor en gedung-gedung yang guede-gede…

…lanjutin baca deh…,PKL emang penting kok…

1 Comment