mereka TIDAK lebih kotor…


Dua tahun lalu, tepatnya tanggal 25 Maret 2007 jam 7 pagi , seorang teman lama yang tinggal di Malang menjemput ke kosku untuk jalan-jalan. Sebagai mahasiswa yang belom setaun tinggal disini, wajar lah kalo aku jadi maruk jalan-jalan,,hehehe… Kukira bakal jalan-jalan ke tempat wisata yang jadi trademark-nya Malang kayak Paralayang, Selecta, Cangar, atau apa… Ternyata kita berhenti di : ALUN-ALUN KOTA.

Sekali lagi : Alun-alun, yeah… Alun-alun…

dsc00246

Demi menghargai perjuangan yang ngajak, aku turun dari atas motor dengan senyuman paling manis dan kutanya : “ngapain kesini?”

Dia jawab dengan sangat-sangat-sangat simpel : “ngga tau..,aku juga belom pernah kesini…” (dengan senyum manis juga).

Oh God…,dan aku mulai memasuki gerbang KEBOSANAN (with bold,underline, and italic, plus big size of font!!), datang-duduk-diam ala anggota DPR, di tengah alun-alun yang rame ga’ jelas gitu… Plus ngobrol ga’ jelas ma temenku yang ga’ jelas pula… (Halooooow, where we are?)

Hufffh…

Mbak, mas,, belom makan dari pagi…….”, suara anak kecil sekitar 9 taun lah, dengan 3 anak lain yang lebih kecil,–dibelakangku.


Kulirik jam tangan, ehm…masih jam 9 pagi… So?

Sori dek, ga ada recehan…” jawab temenku.

Kalo ga ada recehan, mas beliin mie rebus aja buat sarapan…”, si anak kecil itu masih agak maksa dengan sedikit mengiba. Bukannya aku lebai yah,,tapi ekspresinya anak itu memelas banget, kayakna dia emang laper deh… Secara udara pagi di Malang kan dingin-dingin keroncongan gitu.. :D

Langsung kusahut sambil menggandeng anak itu, “Oke deh, ayo… Dimana?”

……………………………………………………………………………………………………………………………….

Oh God, kupikir warung atau depot atau… (resto? hehe…), ternyata di balik pohon hias di alun-alun itu buanyak banget orang-orang yang (maap) lusuh dan membawa termos air panas (aku ga yakin airnya memang panas, aku liat mie yang dimakan anak-anak itu tidak mengepulkan uap… Apa iya mienya matang? Apa air itu bersih? Dan seribu tanda tanya di pikiranku,,,)

Mbak, Mas, suwun yo… Jarang-jarang bisa makan makanan yang masih baru!” Dengan mata bersinar-sinar.

What?

Sumpe deh…., aku jadi penasaran sama mereka, kehidupan yang jauh dari bayanganku… Tapi aku khawatir kalo terlalu banyak contact justru bakal membahayakan mereka. Masih terbayang di ingatanku, sinetron-sinetron yang ngambil setting anak jalanan…,mereka punya BOS yang bakal ngawasin 24 jam…

Mbak, kita balik ke ibuk dulu ya..”

Hah, ibuk?

Ibu siapa dek? Ada ibu disini?”

Anak itu tertawa, lebih mirip menyeringai. “ Iya mbak, kita kesini sama ibuk. Itu ada di pojokan alun-alun.”

Kalian ndak sekolah?”

Sekolah mbak, SD di daerah Dampit. Tapi sabtu-minggu kita cari duit disini…”

Dampit kan jauh….,bisa 3 jam kalo pake motor…

Cari duit?”

Iya mbak..,mintak-mintak…”

Wew….,ternyata mereka jadi anjal tuh karena disuruh ortu-nya…

………………………………………………………………………………………………………………………………….

Sepanjang hari Minggu itu aku merenung di dalam kamar kosku yang nyaman dan membayangkan kehidupan seperti mereka. Makan ala kadarnya, pendidikan ala kadarnya (entah sampai lulus atau tidak), dan disuruh mengais rejeki dengan meminta-minta,-oleh ortunya sendiri!

Pertemuan tidak sengaja, -hanya 30 menitan-, dengan mereka itu meninggalkan kesan mendalam.

Dan aku nangis. Betapa selama ini aku kurang bersyukur.

………………………………………………………………………………………………………………………………….

Seminggu kemudian, aku pengen balik kesana lagi. Ke Alun-alun, dan mengajak temanku yang “ga jelas” itu, hehehe… Aku cari-cari mereka di pojokan alun-alun, dan ternyata mereka masih mengingatku.

Mbak Nisa!”

Heiiiii….,baru bangun ya…”

Dan ritual minggu lalu pun terulang, tapi kali ini aku tidak langsung pulang. Aku dan temanku duduk-duduk di tengah alun-alun, dan mereka duduk di sebelahku. Dan kali ini aku juga ga terlalu khawatir karena “si ibuk” sepertinya suka anak-anaknya deket ma aku.., karena itu berarti menghemat jatah duit sarapan untuk 4 orang, bahkan mengucapkan terimakasih.

Padahal sarapan semua anak itu cuma seharga satu cup yogurt-ku.

Mbak, kemarin kita hampir jatuh lho pas ngintip ke GM…”

GM? Oh ya aku tau, salah satu mall alun-alun di dekat sini…

Lalu yang paling kecil menyahut, “ iya mbak, ada tolam bola-bola, melah, tunin, bilu…”

Ha? Maksudnya kolam bola kali…?

Sekilas kulihat anak yang paling besar, Emi, melotot kearah adeknya itu dan samar-samar berkata “hush, jangan ngomong gitu”

Enggak kok mbak, adek itu mimpi. Ndak ada kolam bola disana.”

Aku diam. Berpandangan sejenak dengan temanku, lalu dia mengangguk, seolah ngerti apa yang kumaksud.

Aku tanya : “Kalian pengen kesana?”

Tiga anak kecil-kecil itu,-Ita,Antok,dan Bela (nama yang terakhir mungkin bikin sebagian orang shock)-,berteriak kegirangan tanpa suara, dan langsung mematung waktu si anak tertua berkata : “endak mbak, eman duitnya, mending dipake buat makan.”

Ndak papa, yang nraktir mas-nya koq…,nanti siangnya kita maem di warung situ,” kataku samil nunjuk warung di samping gang masjid.

Beneran ndak papa ta mbak?”

Dan setelah pamit ke si ibuk, mereka berlari ke dekatku sambil berteriak “Horeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee…………..!!!!!!!”

…………………………………………………………………………………………………………………………………..

GM Plaza, 11.13 WIBM (Waktu Indonesia Bagian Malang)

Satpam mendekati aku dan temanku, dan nunjuk ke anak-anak ini. “Mbak, maap tu anjal ndak boleh masuk, nanti bikin berantakan, badannya kotor.”

HAH??? Sok bersih lu pak…

Aku nahan sebel sambil mengangkat Bela yang baru 3 taun ke gendonganku. Entah kenapa gak ada sedikitpun jijik pada mereka.

Huffff… Gila yah, bangunan gini aja tapi pilih-pilih orang. Padahal anak-anak ini gak jorok, walopun kulitnya kusam terbakar matahari, dan mereka ga bawa atribut anjal kok. Jadi bisa kan dianggap sebagai warga sipil umumnya?Jadi berhak masuk kan?Mereka terkendali kok pak,please….pikirku.

Tapi mereka kan ndak kotor pak, lagipula cuma mau maen di…” belum selesai kujawab, temenku memotong, “Ohoho… Tenang aja pak, saya yang jamin gak ada yang berantakan,”kata temenku sambil menarikku masuk. Dan pak satpam pun percaya karena waktu itu penampilan dia kayak orang tajir, hehehehehe…

Begitu sampai di “ARENA BERMAIN ANAK” (dengan kondisi arena yang jauuuuh banget ma Timezone…), petugasnya melirik jijik ke anak-anak yang berjalan di sebelahku, lalu berkata ketus : “Maaf, sudah tutup.”

Anak-anak itu langsung menunduk.

Dan sekali ini aku berpandangan agak lama dengan temanku, speechless.

Hah? Segitunya mereka jijik…Sok elit banget sih…

Mbak, kita ini bayar,” kata temanku.

Oke, tapi cuma di kolam bola aja ya, soalnya nanti memang jadwalnya dibersihkan.”

OKE!” sahut aku dan temenku bebarengan, dan langsung ngasih duit ke depan muka si petugas yang menornya minta ampun.

Dan tanpa menunggu lama, mereka masuk ke kolam bola dengan ceria, sepertinya itu adalah pertama kalinya mereka merasakan BERMAIN dalam arti sebenar-benarnya.

………………………………………………………………………………………………………………………………

Aku tercenung melihat keriangan mereka. Teringat saat aku ngambek pada mamaku hanya karena gak dibolehin maen terlalu lama di Timezone, hanya karena aku minta mobil-mobilan tapi malah dibelikan boneka, hanya karena……-hal-hal sepele yang seharusnya tetap bisa membuat aku bermain dengan tenang, tanpa harus merasa lapar.

Padahal hanya seperti ini ya, tapi belom pernah kulihat anak-anak bermain segembira mereka…”, kata temanku.

Aku mengangguk. Lalu dia menarikku mendekat ke kolam bola itu, dan ikut tertawa melihat polah mereka. Kukeluarkan hp cam-ku dan mengabadikan keceriaan mereka disana.

b

………………………………………………………………………………………………………………………………

Seminggu kemudian.

Seharusnya foto-foto mereka yang kucetak ini sudah ada di tangan mereka. Seharusnya mereka sekarang bisa tertawa mengingat kegembiraan mereka dulu. Seharusnya aku bisa menepati janjiku untuk memberikan foto ini, yang mereka akui sebagai saat-saat paling HEBAT.

—Karena saat itu mereka bisa merasakan seperti anak-anak orang lain, yang lebih beruntung daripada mereka, –yang seperti kita…—

Aku duduk sendiri di tengah taman alun-alun, memegang amplop berisi foto-foto mereka. Dan teringat 15 menit yang lalu saat tukang parkir alun-alun berkata padaku : “ Oh yang di pojokan sana? Kena garuk satpol PP tadi malam mbak!”

Dan aku tidak tau mereka dimana sekarang.

Samar-samar teringat menit-menit terakhir saat bertemu mereka seminggu yang lalu, Emi berkata : “Udah mbak, mbak sama mas aja yang makan di warung,, aku dan adek2 dibelikan mie saja, di warung itu mestinya mahal..”, dan adek2nya mengangguk, dengan sisa-sisa keceriaan di kolam bola.

Pertemuan singkat itu mengubah pandanganku pada anjal-anjal lain.

Aku bersyukur dilahirkan di keluarga yang lebih beruntung. Dan berdoa semoga mereka baik-baik saja, dilindungi oleh Tuhan.

Karena mereka juga makhluk Tuhan, sama seperti kita, sama seperti satpam dan petugas Arena yang jijik pada mereka.

Padahal kita tidak lebih “bersih” daripada mereka.

*terik matahari menuntunku pulang ke kos dan menyimpan foto-foto itu dalam laci, berharap suatu saat dapat bertemu mereka lagi… memenuhi janjiku.*

  1. #1 by johantectona on September 8, 2009 - 3:17 am

    cha…………….
    cing……………
    hehehehe
    itulah fakta disekelilimg kita…
    aq suka tulisan mu ini..
    banyak kisah dibaliknya yang membuat kita sadar akan pentingnya bersyukur…
    aq tunggu postinganmu selanjutnya…
    mari kita ramaikan dunia ini..hwakakakkkkkkk

  2. #2 by margareta on September 8, 2009 - 10:41 pm

    cerita yang menarik, sampai terhanyut suasana,..hehehe..Kalau boleh saran soal judul, bagian Anjal-nya ga ada juga nggak papa kok, karena mungkin orang2 lain tidak terbiasa dengan singkatan itu..tulisan mereka TIDAK lebih kotor itu sangat mengena. :)

  3. #3 by nisa on September 28, 2009 - 12:17 am

    @johan : yuuuuuk…hehehe…. thanks ya Jo… :-)

    @ mbak margareta : oke mbak,,,kadang-kadang aku mbulet kalo bikin judul,,hehehe… makasih ya mbak.. ^^

(will not be published)

Before you post, please prove you are sentient.

What is 6 multiplied by 2?