Dilema Penambang Pasir : Ekonomi vs. Lingkungan?


This is my story ‘bout my village : Pacitan…

untitled

Pada zaman penjajahan Belanda dulu, Pacitan dianggap sebagai daerah hilir. So, status hutan yang berada di Kabupaten Pacitan disebut sebagai hutan produksi. Padahal secara geografis Pacitan memiliki daerah hulu juga, kayak hutan Gemaharjo di Kecamatan Tegalombo dan Gunung Gember di Kecamatan Bandar. Dengan begitu, harusnya hutan tersebut disebut hutan lindung, bukan hutan produksi.

Nah, akibat salah persepsi yang terjadi sejak berpuluh tahun yang lalu, Perhutani dan masyarakat beranggapan bahwa nggak salah kalo hutan-hutan itu ditebangi. Masyarakat menjual kayu hutan itu buat kebutuhan hidup. Makin lama, hutan makin gundul. Hutan yang gundul itu bikin tanah mudah tererosi oleh air pada musim hujan. Akibatnya, material dan pasir hasil erosi itu pun terbawa air dan menumpuk di sungai.


Sungai Grindulu yang dulunya dalem banget (-dan pernah jadi sarana transportasi air juga lho!), sekarang udah mulai dangkal, hiks…. Pendangkalan sungai itu terus terjadi dari taun ke taun, dan di sisi lain sungai Grindulu nggak mampu membuang pasir ke laut.

Parah deh…

Akhirnya, air sungai Grindulu sering meluap dan menggenangi pemukiman.

Kemudian masyarakat menambang pasir yang mendangkalkan sungai tersebut. Tradisi menambang pasir kali itu berlangsung turun temurun selama berpuluh-puluh tahun dan menjadi mata pencaharian pokok bagi masyarakat di daerah aliran sungai.

FYI, kondisi fisik Pacitan juga nggak memungkinkan buat jadi lahan pertanian. Tanah Pacitan berbukit-bukit dengan tekstur tanah padas dan nggak subur, kayak di kecamatan Tegalombo dan Kecamatan Arjosari. Tanaman yang bisa tumbuh di daerah itu cuma ketela dan singkong...

………………………………………………………………………………….

Sesuai dengan kondisi fisik dan kondisi geografisnya, masyarakat Pacitan kesulitan buat cari mata pencaharian dalam bidang pertanian. Masyarakat pedesaan tersebut umumnya nggak memiliki ketrampilan dalam menciptakan dan mengusahakan lapangan kerja, sehingga mereka beranggapan bahwa menambang pasir adalah satu-satunya pekerjaan yang bisa dilakukan.

Secara umum, daerah Pacitan adalah perbukitan yang dilalui oleh sungai Grindulu. So, dalam hal penambangan pasir, masyarakat penambang tu bisa kubagi jadi tiga macam:

  • Masyarakat penambangan daerah perbukitan :Masyarakat ini tinggal didaerah elevasi tinggi yang relatif jauh dari daerah aliran sungai.
  • Masyarakat penambang daerah sungai : Masyarakat ini tinggal di daerah aliran sungai, baik hulu maupun hilir.
  • Masyarakat penambang di daerah perbukitan yang dekat dengan sungai : Masyarakat ini tinggal di daerah perbukitan yang dekat dengan sungai pasir. Mereka nggak hanya menambang pasir di bukit tempat tinggal mereka, namun juga dari sungai yang mengalir di sekitarnya.

……………………………………………………………………………………………………………..

Penambangan pasir, baik pasir kali maupun pasir bukit menimbulkan kontroversi yang cukup ramai di masyarakat.

Berdasar buku-buku yang aku baca, Perda, interview dan hasil jalan-jalan di sungai itu (hehehe…liat orang jongkok :p), aku bikin perbandingan dari pro dan kontra yang ada di masyarakat tentang masalah penambangan pasir, baik pasir bukit maupun pasir kali. Penambangan pasir kali dan pasir bukit yang semula dianggap sebagai kegiatan yang berbeda, ternyata memiliki keterkaitan yang sangat erat dan saling mempengaruhi lho!

Penambangan Pasir Kali

Kondisi sungai di Kabupaten Pacitan tuh secara umum adalah sungai yang masih alami, dengan tebing-tebing sungai yang masih asli (belum di tutup dengan “plengsengan”) dan dengan perbedaan debit yang mencolok saat musim hujan dan kemarau. Musim hujan sering dianggap sebagai “berkah “ walo kadang air sungai Grindulu meluap. “Berkah “yang di maksud tersebut adalah endapan pasir dan material yang terbawa air akibat erosi.

Sunarso (55), warga Kecamatan Tegalombo Pacitan adalah satu dari sekian ribu masyarakat penambang pasir kali yang ada di Kabupaten Pacitan. Dengan pendidikan terakhir tingkat SD, menambang Pasir dianggap sebagai satu-satunya jalan untuk menghidupi keluarganya. Dia bekerja dari pagi sampe sore, menggali pasir di sungai . Harga satu rit (satu mobil pick-up) pasir kali dihargai Rp 40.000.00-Rp 50.000.00 saja. Sementara dia bekerja bersama 4 orang temanya. Sehingga hasil penjualan satu rit pasir dibagi berlima. Berarti Sunarso mendapatkan penghasilan Rp.8.000.00 per hari (bahkan kita pake buat tiket nonton di Cineplex juga ga cukup!). Jumlah yang relatif kecil kan, kalo dibandingkan dengan tenaga yang dikeluarkan, dan resiko yang dihadapi. Para penambang itu tetap bertahan, karena itulah satu-satunya mata pencaharian untuk menghidupi keluarganya.

Tokoh masyarakat Kecamatan Tegalombo, Wiyoto(51), mengatakan bahwa penambangan yang dilakukan oleh penambang nggak merusak lingkungan, karena pasir yang diambil adalah yang berada dibagian tengah sungai bukan pada tebing sungai.

Pemerintah Pacitan pun mengayomi para penambang pasir tersebut. Kayak yang diungkapkan Wakil Bupati Pacitan, H.G. Sudibyo, bahwa penambangan pasir justru membantu memecahkan persoalan pendangkalan sungai Grindulu. Penambang dianggap cukup membantu pemerintah dalam mengeruk endapan sungai dan menekan potensi banjir.

Tapi….,ternyata…. walaupun pasir di sungai tersebut ditambang terus menerus, Sungai Grindulu masih terus mendangkal dari waktu ke waktu.

FYI, kadar lumpur biasanya dinyatakan dalam berat sedimen per satuan volume air. Semakin tinggi kandungan lumpur pada aliran sungai, memberi indikasi semakin tinggi laju erosi yang terjadi pada DAS, dan apakalo erosi semakin besar, berarti keadaan DAS tersebut rusak. Apakalo suatu DAS semakin mengalami kerusakan, berarti kualitas DAS tersebut semakin menurun pula.

Penambangan pasir yang diperkirakan menjadi solusi dari masalah pendangkalan sungai, ternyata justru malah menimbulkan masalah baru.

Kontroversi masalah penambangan pasir kali umumnya tertuju buat para penambang liar yang nggak punya ijin. Penambangan liar tersebut nggak punya pedoman dan aturan dalam pertambangan seperti dalam SPID. Mereka juga nggak punya batas kapasitas dalam menambang, sehingga mereka menambang pasir melebihi batas yang seharusnya diijinkan, bahkan pasir ditebing-tebing sungai pun diambil! Huhuhu….. Padahal kondisi tebing sungai Grindulu banyak yang berada dalam kondisi kritis. Kerusakan lingkungan sungaipun nggak dapat dihindarkan.

Dan kerusakan makin parah akibat nggak adanya pengawasan kontinyu dari dinas terkait...??

Ya gitu deh… Masyarakat yang konsisten dengan SIPD nggak berbeda dengan penambang liar maupun pemegang SIPD yang nggak konsisten. Pada akhirnya mereka merasa nggak adil, lalu kesalahan penambang yang nggak konsisten itu dijadikan pembenaran untuk melakukan kesalahan serupa.

Penambang Pasir Bukit

Kondisi Pacitan yang berbukit-bukit membentuk persepsi yang salah pada masyarakat. Di kampung halamanku tercinta, dusun Bengkal, Desa Tanjungsari adalah salah satu contoh nyata. Keberadaan bukit di belakang pemukiman dianggap sebagai bagian dari tanah pribadi, sehingga warga yang tinggal disana merasa bebas mengeksploitasi bukit yang secara kebetulan berada dibagian belakang rumahnya.

Alasan klasik yang selalu diungkapkan adalah faktor ekonomi. Murti Kahono (60), menambang tanah perbukitan itu sebagai bahan baku pembuatan batu bata, dan batuan didalamnya dijual sebagai bahan baku batu koral. Begitu pula dengan tetanggaku, pak Bonandi (55), menganggap pengerukan bukit sebagai bentuk perluasan tanah yang dimilikinya. Pasir dan batu hasil kerukan tersebut dijual seharga Rp 30.000,00 per rit (satu mobil pick up), dan perluasan tanah hasil kerukan digunakan untuk mendirikan bangunan.

“Kalo bukitnya dikeruk, tanah belakang rumahku jadi lebih luas kan Mbak,” katanya padaku.

Aku cuma bisa nyengir. Whats???

Eksploitasi bukit itu diawali dengan mengambil ranting-ranting sampe penebangan pohon. Akibatnya bukit menjadi semakin gundul dan tererosi oleh air pada musim hujan. Dan akhirnya menjadi endapan pasir di saluran dan sungai. Nggak cukup sampai disitu, masyarakat setempat juga mengeruk (menambang) pasir di bukit belakang rumahnya dan mengambil batu-batu besar penahan longsor untuk dijual.

Kerusakan lingkungan pun nggak dapat dihindarkan. Cukup sering terjadi longsor lho (dalam skala kecil) di bukit yang ditambang. Di desaku memang belum ada korban jiwa, namun bagian belakang rumah penduduk yang ditambang tersebut terkena longsoran, terutama saat musim hujan.

Hutan pun semakin gundul karena pemadam kebakaran kesulitan memadamkan api saat terjadi kebakaran hutan dimusim kemarau. Kondisi tebing yang curam akibat penambangan pasir itu menyulitkan akses pemadam kebakaran menuju lokasi. Akibatnya hutan semakin habis. And finally, pendangkalan sungai pun semakin parah karena material dan pasir dari bukit terbawa erosi saat musin hujan. Material tersebut mengendap dan menumpuk, yang akhirnya ditambang pula oleh masyarakat sekitar Daerah Aliran Sungai.

Kerusakan lingkungan dan kerugian yang terjadi sebenarnya nggak sepadan dengan uang hasil penambangan pasir bukit tersebut. Namun karena kurangnya kepedulian terhadap lingkungan serta keselamatan diri mereka sendiri, masyarakat masih saja memperdagangkan pasir perbukitan secara bebas.

Tuh kan, ngeri ah… Resikonya besar atuh..

Sebenarnya resiko yang dihadapi masyarakat penambang pasir bukit lebih besar daripada resiko yang dihadapi oleh penambang pasir kali. Namun, masyarakat penambang tersebut mengaku lebih menyukai pasir bukit karena lebih kering, lebih ringan, dan dianggap memberikan keuntungan yang lebih bagi mereka, karena lebih mudah diambil sesampe nggak memerlukan tenaga bantuan yang banyak dan hasilnya bisa dinikmati sendiri.

Apa Solusinya Neh?????

Penambangan pasir, baik pasir kali maupun pasir bukit, menimbulkan permasalahan yang sangat kompleks bagi lingkungan. Oleh karena itu, hal yang perlu diingat adalah pentingnya konservasi, bukan sekedar berdasarkan kepentingan ekonomi atau estetika belaka. Ya kan….?

Hal penting yang perlu diingat dalam pencarian solusi adalah sebab utama masyarakat melakukan penambangan yang bersifat merusak tersebut, yaitu masalah ekonomi. Sebagian besar buruh dan penambang memiliki tingkat pendidikan setingkat Sekolah Dasar. Dengan pendidikan dan pengetahuan yang dimilikinya itu, sulit bagi mereka untuk mencari pekerjaan lain.

Mereka bilang, kalo ada pekerjaan lain yang ditawarkan pemerintah, mereka nggak akan menambang pasir tanpa ijin seperti yang mereka lakukan itu.

Faktor ekonomi pula yang membuat mereka nggak memiliki SPID, mengingat prosedur pembuatan SPID dan retribusi yang harus dibayarkan pada pemerintah dirasakan cukup berat bagi mereka.

So, keberadaan lapangan pekerjaan sangat penting bagi masyarakat penambang. Mereka yang tetap menambang pun seharusnya diberikan pengetahuan seputar lingkungan hidup yang mereka eksploitasi tersebut. Penyuluhan perlu dilakukan seefektif dan seefisian mungkin, sebelum lingkungan makin rusak.

Kalo lingkungan rusak, masyarakat pula yang dirugikan. Padahal upaya mengembalikan kondisi lingkungan seperti semula sangat sulit. Reklamasi yang berkelanjutan perlu dilakukan, namun untuk itu diperlukan biaya yang cukup besar.

Catet nih….

Sebelum lingkungan makin rusak, maka perlu dilakukan tindakan preventif dalam penambangan pasir kali :

  1. Walau diijinkan oleh pemerintah, masyarakat penambang harus mematuhi aturan yang ditetapkan, seperti :

  • Dilakukan secara manual, nggak pake mesin sedot pasir.
  • Nggak boleh menambang didaerah yang tebing sungainya kritis.
  • Pasir yang diambil adalah hasil endapan ditengah sungai, bukan yang berada ditebing.

2. Kalo masih ada yang melanggar, maka diperlukan suatu tindakan tegas dari pemerintah, misalnya :

  • Mencabut atau memberhentikan ijin bagi yang melanggar.
  • Mewajibkan seluruh penambang memiliki SIPD dan terus diawali secara kontinyu.
  • Tindak pidana perusakan lingkungan.

Demikian pula pada penambangan pasir bukit. Mengingat resiko yang dihadapi lebih besar daripada penambangan pasir kali, maka tindakan preventif yang dilakukan lebih tegas, antara lain:

  1. Melarang (baca: MELARANG, dalam arti sebenarnya,hehehe…) penambangan pasir bukit secara bebas.
  2. Memberikan kesadaran dan pengetahuan kepada masyarakat mengenai kepemilikan dan hak guna tanah.
  3. Mengawasi dan memberikan sanksi bagi yang melanggar.

Tapi…, ada beberapa titik yang udah rusak. Lingkungan yang rusak memerlukan reklamasi. Bagi penambang pasir kali yang udah memiliki SIPD, mereka juga harus menyediakan uang jaminan reklamasi dan wajib melaksanakan reklamasi bekas wilayah ijin usaha pertambangan (dari bukunya abahku nih, Pasal 29 Perda no. 11 tahun 2003).

Keberadaan hukum dan peraturan yang tegas menjadi salah satu solusi dalam permasalahan penambangan pasir ini. Hukum yang adil dan tegas menjadi penengah yang tepat dalam kaitannya dengan pelanggaran aturan-aturan mengenai perusakan lingkungan, sehingga masyarakat nggak berani mengulang perusakan lingkungan yang pernah dilakukan masyarakat lainnya.

Solusi lain buat usaha reklamasi sungai ini bisa juga dengan:

  1. Membangun pondasi tebing sungai, yaitu dengan membangun talud-talud air dan membangun pondasi batu pada tebing yang kritis.
  2. Pembuatan terasering
  3. Pembibitan tanaman keras dan tanaman pangan.
  4. Penghijauan.
  5. Konservasi DAS :

Peninjauan : PERLU lah!!

Dalam hal konservasi, perlu dilakukan peninjauan terhadap konservasi DAS yang udah dilakukan sebelumnya di daerah lain, dan udah menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Salah satunya di DAS Grindulu sendiri yang berada di Kecamatan Bandar dan Kecamatan Nawangan yang merupakan implementasi dari Gerakan Nasional Kemitraan Penyelamatan Air (GN-KPA) yang udah dicanangkan Presiden SBY (aku dapet info ini dari internet, page-nya kusave, tapi alamat web-nya lupa, hehehe…Sorry ya,,,). Tentu saja langkah positif itu perlu dilakukan juga di daerah-daerah lain, terutama yang kondisinya sudah kritis.

Konservasi tanah dan air yang dilakukan bersama-sama dan bermitra dengan masyarakat akan memberikan hasil yang lebih baik bagi semua pihak. Salah satunya dengan penghijauan yang dalam pengelolaannya bekerjasama dengan masyarakat.

Lain halnya kalo Perhutani mengelola sendiri, masyarakat yang nggak memiliki kesadaran dan tanggungjawab atas kelestarian lingkungan bisa merusak program penghijauan yang sedang berlangsung itu. Sedangkan kalo melibatkan peran serta masyarakat, masyarakat yang terlibat akan merasa ikut memiliki dan ikut bertanggungjawab atas tanaman dan hutan yang dikelolanya. Kompensasi yang mereka terima atas penanaman dan perawatan hutan itu juga akan membantu kondisi perekonomian mereka.

………………………………………………………………………………………………..

Dengan demikian, nggak selamanya kebutuhan ekonomi selalu bertentangan dengan lingkungan. Pemenuhan kebutuhan ekonomi pun bisa dilakukan sejalan dengan pelestarian lingkungan dan akan bermanfaat bagi semua pihak.

Konservasi adalah hal paling penting dalam mendayagunakan lingkungan. Manusia udah diberikan hak untuk mengeksploitasi alam, namun segala sesuatu yang dilakukan harus dibatasi dalam aturan-aturan agar nggak ada yang dirugikan. Setuju? ?

  1. #1 by johantectona on September 8, 2009 - 3:12 am

    kayak kuliah ku ini…hehehe
    keren”…

  2. #2 by afrizalramadhan on September 8, 2009 - 10:14 am

    setuju banget…. tapi juga aku punnya kenangan tentang penambang pasir di daerah sungia brentas mojokerto,,, itu kali pertama aku bisa berenang ,,, hehehe

  3. #3 by margareta on September 8, 2009 - 10:30 pm

    Wahh..tulisan yang sangat lengkap dan dalam dengan banyak info baru. Kalau boleh saran, gimana kalau kita main2 sama strukturnya? Sekarang kan sudah pakem dengan alur maju (dari awal, sejarah dulu, lalu maju ke pandangan sekitar, dan penyelesaian), gimana kalau kita coba alurnya bolak balik sdikit? misalnya dimulai dengan cerita halaman rumah yang makin gede kalau bukitnya ditebang?hihihi..soalnya menarik sekali dan pasti bisa bikin pembaca nempel! :)

  4. #4 by yans on September 22, 2010 - 9:43 pm

    sip keren banget
    skripsiku juga tentang penambangan pasir
    so membantu banget ni….
    thanks..
    :-)

  5. #5 by dwi Pacitan on October 22, 2012 - 7:23 am

    mantap mbak tulisannya… salam kenal dari Dwi tegalombo… kapan2 kalo berkenan mau diskusi lebih lanjut.. Merci!

(will not be published)

Before you post, please prove you are sentient.

What is 4 * 6?