Poligami (2) : “Benarkah poligami saat ini meningkatkan kedudukan perempuan?”


aksi tolak poligami di perspektif.net

aksi tolak poligami di perspektif.net

Kembali lagi bahas tentang headline kedatangan Klub Poligami di Indonesia.

Aku browsing tentang informasi ini dibantu Mas Google, hehe… Ini salah satu infonya…

Ø Detik.yogyakarta.net

Peluncuran klub poligami asal Malaysia, Poligami Ikhwan langsung mendapat respons negatif. LBH Apik menyatakan menolak adanya klub yang di Malaysia memiliki 300 anggota itu.

“Kami mengecam acara launching klub poligami yang telah diadakan di Bandung dan menolak pendirian klub poligami Global Ikhwan cabang Indonesia,” kata Staf Divisi Pelayanan Hukum LBH Apik Abdul Hamim Jauzie dalam rilis kepada detikcom, Senin (19/10/2009).

Abdul mengatakan, berdasarkan pengaduan yang diterima LBH Apik selama ini, praktek poligami dinilai menimbulkan tekanan psikis, penganiayaan fisik, dan penelantaran baik istri maupun anak. Selain itu, poligami juga merupakan bentuk diskriminasi terhadap perempuan seperti dalam UU No 7/1984 tentang Ratifikasi CEDAW (The Convention on The Elimination of Discrimination Againts Women).

Biar lebih jelas juga, aku scan artikel di Harian Surya, hari ini 20 Oktober 2009…

…………………………………………………………………………………….

artikel itu...

artikel itu...

Yuk kita soroti beberapa hal yang berkaitan dengan itu…

Liat paragraf ke-dua yang bunyinya : “Ia menjelaskan, kenapa poligami menjadi obat mujarab untuk mendapatkan cinta Allah. Sebab, dengan poligami seseorang akan senantiasa mengalami kesusahan dalam hidupnya.”

Wew…,pernyataan penuh kontradiksi…

………………………………………………………………………………….

  • Disebutkan bahwa “dengan poligami seseorang akan senantiasa mengalami kesusahan dalam hidupnya”, bukankah tanpa poligami hidup ini udah susah? Lalu buat apa kita cenderung melakukan poligami dengan segala pembenarannya kalo tujuannya buat menyusahkan diri? Masih banyak hal lain yang bisa dilakukan untuk menyusahkan diri, dan kupikir alasan itu gak kompatibel jika digunakan untuk mendekatkan diri pada Tuhan.

  • Disebutkan juga: “poligami menjadi obat mujarab untuk mendapatkan cinta Allah”. Pertanyaanya, apakah orang yang tidak poligami tidak akan atau kesulitan mendapatkan cinta Allah? Jelaslah ini pernyataan yang bisa menyesatkan opini publik. Allah selalu mencintai kita, kita lah yang memilih untuk mencintainya atau tidak. Untuk dapat mencintai dan dicintai Allah, banyak juga kan ibadah wajib dan sunnah lainnya yang bisa meningkatkan cinta pada-Nya? Tidak harus dengan poligami yang sampai saat ini masih menjadi kontroversi tentang relevansinya dengan situasi di masa sekarang.

  • Paragraf berikutnya mengatakan : “Ketika dia dalam kesusahan, maka dia akan meminta pertolongan kepada Allah. Kesusahan yang dialami seorang istri yang suaminya berpoligami sifatnya terus menerus, maka dia pun akan terus meminta tolong kepada Allah.” Oke deh…,meminta tolong kepada Allah sebagai hambanya yang terdzalimi?Apakah sebelum dipoligami kita tidak meminta tolong kepada Allah? Kalo urusannya hanya untuk meningkatkan frekuensi memohon pertolongan Allah, itu kan bisa dilakukan TANPA POLIGAMI. Seorang istri meminta pertolongan karena kesusahan yang dihadirkan oleh sang suami yang berpoligami, dengan kata lain : untuk apa laki-laki berpoligami? Kalo itu hanya akan mendzalimi sang istri…
  • Paragraf ketujuh juga mengatakan tentang hakikat poligami. Apa yang harus dipahami dari hakikat poligami yang dimaksud? Semakin aku mencari informasi tentang poligami, membuka kitab-kitab yang relevan, dan merenungi dengan segenap jiwa raga,, poligami yang dilakukan saat ini sudah jauh dari hakikat poligami yang sesungguhnya, yang pernah dilakukan Nabi dahulu.

Untuk informasi lebih lanjut tentang ini, klik Poligami (1) : “Kontroversi pernyataan Poligami itu Sunnah”

Dengan pernyataan-pernyataan yang disebutkan sang pendiri Klub Poligami itu, bukankah justru menjadi bumerang bagi apa yang dikampanyekannya?

Secara, dalil yang diungkapkan oleh klub Poligami itu bukanlah dalil-dalil yang utuh dan interpretasinya pun hanya sepotong-sepotong. Jujur deh, aku jadi meragukan maksud kampanye mereka…

Hmmm….Apa mungkin mereka mencari “teman senasib” saja?

:)

Ayo kita bandingkan dengan poligami yang terjadi di masa Rasulullah… Apakah saat itu poligami meningkatkan kedudukan perempuan? Dan bandingkan dengan masa sekarang….

Yuk….

Mekanisme poligami yang diterapkan Nabi merupakan strategi untuk meningkatkan kedudukan perempuan dalam tradisi feodal Arab pada abad ke-7 Masehi (baca : PADA ABAD ke-7, lho…). Saat itu, nilai sosial seorang perempuan dan janda sedemikian rendah sehingga seorang laki-laki dapat beristri sebanyak mereka suka.

Sebaliknya, yang dilakukan Nabi adalah membatasi praktek poligami, mengkritik perilaku sewenang-wenang, dan menegaskan keharusan berlaku adil dalam berpoligami.

Ketika Nabi melihat sebagian sahabat telah mengawini delapan sampai sepuluh perempuan, mereka diminta menceraikan dan menyisakan hanya empat. Itulah yang dilakukan Nabi kepada Ghilan bin Salamah ats-Tsaqafi RA, Wahb al-Asadi, dan Qais bin al-Harits. Dan, inilah pernyataan eksplisit dalam pembatasan terhadap kebiasan poligami yang awalnya tanpa batas sama sekali.

Pada semua kesempatan, Nabi justru lebih banyak menekankan prinsip keadilan berpoligami.

Dalam sebuah ungkapan dinyatakan: “Barangsiapa yang mengawini dua perempuan, sedangkan ia tidak bisa berbuat adil kepada keduanya, pada hari akhirat nanti separuh tubuhnya akan lepas dan terputus” (Jâmi' al-Ushûl, juz XII, 168, nomor hadis: 9049). Bahkan, dalam berbagai kesempatan, Nabi SAW menekankan pentingnya bersikap sabar dan menjaga perasaan istri.

Sekali lagi : “Barangsiapa yang mengawini dua perempuan, sedangkan ia tidak bisa berbuat adil kepada keduanya, pada hari akhirat nanti separuh tubuhnya akan lepas dan terputus”

Teks-teks hadis poligami sebenarnya mengarah kepada kritik, pelurusan, dan pengembalian pada prinsip keadilan. Dari sudut ini, pernyataan “poligami itu sunah” sangat bertentangan dengan apa yang disampaikan Nabi. Apalagi dengan melihat pernyataan dan sikap Nabi yang sangat tegas menolak poligami Ali bin Abi Thalib RA. Anehnya, teks hadis ini jarang dimunculkan kalangan propoligami. Padahal, teks ini diriwayatkan para ulama hadis terkemuka: Bukhari, Muslim, Turmudzi, dan Ibn Majah.

Nabi SAW marah besar ketika mendengar putri beliau, Fathimah binti Muhammad SAW, akan dipoligami Ali bin Abi Thalib RA. Ketika mendengar rencana itu, Nabi pun langsung masuk ke masjid dan naik mimbar, lalu berseru: “Beberapa keluarga Bani Hasyim bin al-Mughirah meminta izin kepadaku untuk mengawinkan putri mereka dengan Ali bin Abi Thalib. Ketahuilah, aku tidak akan mengizinkan, sekali lagi tidak akan mengizinkan. Sungguh tidak aku izinkan, kecuali Ali bin Abi Thalib menceraikan putriku, kupersilakan mengawini putri mereka. Ketahuilah, putriku itu bagian dariku; apa yang mengganggu perasaannya adalah menggangguku juga, apa yang menyakiti hatinya adalah menyakiti hatiku juga.” (Jâmi' al-Ushûl, juz XII, 162, nomor hadis: 9026).

Sama dengan Nabi yang berbicara tentang Fathimah, hampir setiap orangtua tidak akan rela jika putrinya dimadu. Seperti dikatakan Nabi, poligami akan menyakiti hati perempuan, dan juga menyakiti hati orangtuanya.

Jika pernyataan Nabi ini dijadikan dasar, maka bisa dipastikan yang sunah justru adalah tidak mempraktikkan poligami karena itu yang tidak dikehendaki Nabi.

Dan, Ali bin Abi Thalib RA sendiri tetap bermonogami sampai Fathimah RA wafat.

——BERSAMBUNG——-

Moga jadi bahan perenungan…

NISA

NISA

, ,

  1. #1 by pujiprabowo on October 23, 2009 - 3:47 pm

    cek

(will not be published)

Before you post, please prove you are sentient.

what is 6 in addition to 4?