Generasi Indonesia dan Dahaga Nasionalisme


Sumpah Pemuda 1928

Sumpah Pemuda 1928

Ternyata tidak semua orang ingat bahwa kemarin adalah Hari Sumpah Pemuda, memperingati 81 tahun yang lalu saat pamuda-pemuda dari seluruh negeri berkumpul dan menyuarakan kebulatan tekad para pemuda untuk mempersatukan pemuda Indonesia dibawah tiga aspek : tanah air, bangsa, dan bahasa.

Secara hafriah, kata “memperingati” berasal dari kata dasar “ingat”, artinya membuka kembali memori pada masa lalu yang telah tersimpan dalam sejarah dan ingatan. Tapi ternyata, hanya sekedar mengingat saja tidak bisa kita lakukan, apalagi merenungi dan menangkap esensinya?


………………………………………………….

RA Kartini

RA Kartini

Bicara masalah esensi, saya jadi ingat Hari Besar Nasional semacam Hari Kartini yang peringatannya sangat jauuuuuuuuh dengan esensinya. RA Kartini memperjuangkan kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan (disini saya bicara tentang hak diluar kewajiban kodrati ya…), seperti halnya hak memperoleh pendidikan bagi perempuan. Tapi kenyataannya dalam memperingati Hari Kartini sangat jauh dari esensi perjuangan RA Kartini itu sendiri : lomba memasak, peragaan busana, pemilihan putri-putrian, dan sejenisnya.

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

putri kartini?

putri kartini?

Hei….,apakah RA Kartini menginginkan perempuan Indonesia memajang dirinya diatas panggung untuk menagih pujian semua orang atas kecantikan fisiknya? Tentu tidak kan…?

RA Kartini menginginkan perempuan Indonesia cerdas lahir batin, karena yang menentukan kelangsungan generasi suatu bangsa adalah peran perempuan sebagai istri dan ibu. Bukankah ibu yang cerdas akan menghasilkan generasi yang cerdas pula? Dan generasi yang cerdas akan membangun negeri dengan lebih baik pula?

Jawabannya : PASTI.

Balik lagi ke bahasan Hari Sumpah Pemuda yuuuuk…

Hmmmmm……

Menurutku peringatan Sumpah Pemuda itu kita peringati setiap hari. Jadi istilahnya bukan Hari Sumpah Pemuda, tapi Jam Sumpah Pemuda, hahaha… Jadi Sumpah Pemuda tu diperingati setiap generasi muda (bahkan generasi tua yang berjiwa muda pun,-seperti ayahku, hehe..-, juga bisa memperingatinya) tiap jam enam pagi saat matahari terbit.

Jadi, saat menatap matahari pagi, setiap pemuda Indonesia (juga pemudi lho! Masa’ perempuan minta kesetaraan hak tapi milih yang enak-enak doang, heheu…) bersumpah dalam hati :

Patriotik banget ya? Hehehe…

Serius nih…, sumpah yang diucapkan tiap pagi itu akan membawa sugesti besar untuk jiwa-jiwa pemuda yang sedang berdahaga dengan rasa nasionalisme. Dan sugesti itu akan berperan sebagai magnet yang menarik hal-hal disekitar yang akan mendorong nasionalisme dalam sugesti itu menjadi TINDAKAN NYATA.

Tindakan nyata?

  • Tentu bukan dengan mengenakan batik setiap hari. Bukankah berbelanja secara berlebihan,-walau itu batik-,adalah gaya hidup hedonis yang bukan menjadi kepribadian Bangsa Indonesia? Tidak perlu berlebihan dalam menyikapi kampanye “cinta produk dalam negeri”, karena sesungguhnya yang berlebihan itu tidak baik. Saking mendukung “cinta pada produk dalam negeri”, sampai harus memborong gerai-gerai produk lokal. Saya rasa itu tidak perlu ya… Yang kita perlukan adalah sikap : menjadikan produk dalam negeri sebagai ALTERNATIF NO.1 saat kita sedang memerlukan suatu barang. Jadi kalau tidak sedang memerlukan, ya nggak usah… Right?
  • Tentu bukan dengan berdemo ditengah jalan menghujat pejabat. Bukankah tidak menutup kemungkinan bahwa suatu saat kita akan menjadi seperti mereka? Bukankah lebih baik kita membenahi diri dahulu, meningkatkan skills and capabilities agar suatu saat kita bisa menjadi bagian dari REPARATOR SISTEM PEMERINTAHAN yang saat ini sedang aus? Aku lihat kemarin ada mahasiswa dari sebuah kampus di Malang yang memperingati Hari Sumpah Pemuda dengan berdemo. Adakah hasilnya? Saya rasa tidak, karena pejabat dan wakil rakyat yang dihujat itu sudah sangat mati rasa. Menyedihkan…
  • Tentu bukan dengan mengadakan lomba balap karung dan sejenisnya yang bermakna merayakan, bukan memperingati. Ini sering kita temui pada peringatan 17 Agustus. Padahal bangsa kita sedang memerlukan banyak pemikiran dan perenungan, tapi kenapa esensi pemikiran dan perenungan ini justru cenderung diabaikan, dan kita lebih mengedepankan esensi hura-hura? Saya tidak bermaksud menyalahkan ritual tahunan ini, karena ada esensi kebersamaan yang perlu dipupuk. Tapi, akan lebih baik bila makna perayaan itu menjadi makna sekunder, dan tetap menjadikan unsur pemikiran dan perenungan dalam makna primernya.
  • Tentu bukan… (isi sendiri lah, pasti teman-teman juga tahu…,heheu…)

And last…

Tentu bukan dengan membaca artikel ini, mengiyakan, lalu berlalu seperti debu… Hehe…,ayo kita lakukan tindakan nyata untuk bangsa kita. Kita bangun negeri dengan memperkokoh moral, skill dan dedikasi kita pada bangsa. Kita belajar, bekerja, berjuang…,semua untuk bangsa ini. Demi Indonesia.

BANGKITLAH GENERASI BANGSA!


Regards,

NISA

NISA

, ,

  1. #1 by margareta on October 29, 2009 - 11:04 pm

    Setuju Nisa! Memperingati sumpah pemuda, tak bisa cuma ‘ingat’ doang, segala hal yang seremonial! Terimakasih sudah mengingatkan kita ya..

  2. #2 by pujiprabowo on October 31, 2009 - 11:48 am

    bener nis..
    ya melakukan hal kecil walaupun sedikit tapi bermakna daripada tidak sama sekali. really nice post sist :)

  3. #3 by nisa on October 31, 2009 - 1:58 pm

    @mbak marGie : sebenernya aku sendiri juga ga begitu inget mbak,,hehe…,abiz hari itu lewat begitu saja tanpa ada acara/peringatan yang berarti,bahkan di TV pun sepi-sepi aja… menyedihkan ya… >,<

  4. #4 by nisa on October 31, 2009 - 1:59 pm

    @uji :
    ujiiiiiiii……,ayo kita ramaikan JAM SUMPAH PEMUDA,, bersumpah ala “sumpah pemuda” tiap jam 6 pagi,,pasti akan bawa sugesti besar untuk nasionalisme kita… ^^

  5. #5 by afrizal ramadhan on November 1, 2009 - 7:42 am

    sebenarnya kita masih relevan ga sih dengan sumpah pemuda, mending di ganti aja deh, ga ada gunannya…. hush…

  6. #6 by nisa on November 1, 2009 - 7:55 am

    @ichalkuw:
    relevan? Sure… Nasionalisme akan selalu relevan dengan jaman model apapun, mulai jaman Glacier mpe jaman Ya’, hehehe…

    Nasionalisme yang tertuang dalam sumpah pemuda kan ibarat kata “I LOVE U” dalam cinta, yang tak lekang oleh waktu…. :)

    (busyeeed, kata-kataku berattt…)

  7. #7 by neneng on November 30, 2009 - 1:24 pm

    memperingati sumpah pemuda adalah kewajiban setiap warga sebagai warga negara yg baik.yaitu dengan melakukan hal-hal yang positif dan bermanfaat baik bagi semuanya.

  8. #8 by Haiyirul Rahman on December 5, 2009 - 2:04 pm

    stuju banget……pemuda mrpk harapan bangsa indonesia…trs maju pemuda

(will not be published)

Before you post, please prove you are sentient.

what is 7 in addition to 6?