PDAM atau PDAB atau….?


Akhir-akhir ini PDAM jadi salah satu topik utama di koran-koran. Di darah Malang yang notabene kondisi sumber air melimpah dan kualitas airnya bagus, tetap aja banyak protes dari masyarakat. Aku ga bisa bayangin gimana di Surabaya atau Jakarta… Ow…Ow…

airnyaga lancar...

airnya gak lancar...

Komentar masyarakat makin heboh sejak manajemen PDAM di berbagai kota berniat menaikkan tarif. Nggak cuma masyarakat aja yang heboh, tapi hampir semua kalangan : mulai dari pemerhati lingkungan, walikota, DPRD, dan para pakar ikut menyoroti hal ini… (entah dia benar-benar peduli atau numpang tenar, hihihi….).

So, ini jelas membuktikan bahwa keberadaan PDAM merupakan aset yang penting buat semua pihak. (baca : SEMUA PIHAK)

Ada yang mlesetin istilah PDAM jadi Perusahaan Daerah Air Mampet, Perusahaan Defisit Air Minum (abis laporannya bangkrut terus!), atau bahkan juga Perusahaan Daerah Air Monopoli… Soalnya hampir semua PDAM di Kabupaten/Kota menguasai seluruh sistem air bersih, mulai dari sumber air, jaringan transmisi, jaringan distribusi, sampai ke tingkat konsumen kayak kita-kita…

Oke deh, kita bisa liat…. persoalan PDAM yang ada bukan karena sumber airnya (air hujan) tidak cukup…,tapi malah berkelimpahan lho. Faktanya, sumber air berlimpah ini tidak bisa disalurkan ke tujuan yang direncanakan (baca: konsumen) dengan kuantitas memadai, apalagi kualitas yang layak.


Permasalahan sebenernya adalah pada manajemennya.

Dari berita-berita di berbagai media, keliatan kan kalo kinerja PDAM masih jauuuuuh dari baik, padahal sudah dimonopoli juga. Banyak keluhan dari pelanggan (bahkan mungkin kamu juga, hehe…) mulai dari air mampet, nggak ngalir, bahkan nggak ngalir tapi tetep ditagih! Ck…Ck…

Kayaknya nih PDAM kudu ganti nama jadi Perusahaan Daerah Air Bersih (PDAB), bukan air minum. Soalnya kualitas airnya kan masih dalam standar SEKEDAR BERSIH, bahkan masih air baku (air untuk mengairi sawah tu lho…). Belum ada air dari PDAM yang langsung bisa diminum tanpa harus direbus dulu, kayak di Amerika atau Kanada…

Sebenernya kalo kita amatin, konsumen di Indonesia ni termasuk konsumen yang baik lho. Harga nggak jadi masalah kalo ada jaminan air yang diberikan berkualitas dan LAYAK untuk diminum. Bahkan kalo protesnya nggak ditanggapin ma PDAM, paling-paling kita cuma bisa mengelus dada. Dan ekstrimnya nih, konsumen sampai harus nulis di koran biar bisa diketahui orang banyak dan (syukur-syukur) direspon sama sang PDAM…

Setau aku nih, kita dilindungi ma UU no.8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen (mungkin UU ini udah direvisi lagi oleh sang pembuat kebijakan yang memegang prinsip : “ganti orang, ganti kebijakan, dan ganti peraturan”,hehehe…)

PDAM kita ibaratkan sebagai warung yang menjual air minum. Konsumen kayak kita ini ibarat pembelinya. Trus NGGAK LOGIS kan, kalo sang PDAM punya utang disana-sini dan ngotot buat menaikkan tarif air minum yang dia jual?

Kita bakal protes, kenapa utang bisa dibebankan pada kita. Aneh banget. Kecuali kalo pelayanannya bagus, kualitas airnya layak, dan kuantitas airnya memadai, mungkin kenaikan itu akan terasa wajar…

Simpelnya gini : “karena kualitas airnya jauh lebih baik daripada kemarin dan pelayanan kami lebih prima, maka air kami naikkan dua kali lipat…”

Nah, kalo kayak gitu…Usulan kenaikan harga (biasanya) bisa diterima karena sesuai dengan hukum ekonomi… ^^

Ayo dong PDAM, tingkatkan pelayanannya… “Better Water, Better Future” kan?

Regards,

Nisa

  1. No comments yet.
(will not be published)

Before you post, please prove you are sentient.

what is 8 + 2?