Poligami (1) : Kontroversi pernyataan “Poligami itu Sunnah”


headline hari ini

headline hari ini

Pagi ini merasa terusik dengan headline sebuah surat kabar berjudul : Ibu-ibu Deklarasi Klub Poligami”.

What???

POLIGAMI?

Dengan memajang gambar seorang suami dengan tiga istri dengan 12 anaknya (mungkin lebih) yang bergandengan tangan menuh-menuhin jalanan, dengan ekspresi berlebihan yang (seolah-olah?) bahagia…

Poligami selalu jadi perdebatan seru, apalagi kalo perdebatan itu dilakukan multigender..,hahaha… secara laki-laki seneng banget bersikap seperti menyetujui poligami, tapi kalo ibunya atau adiknya atau kakaknya dipoligami dia bisa jadi orang pertama yang gak setuju…


PERNYATAAN “poligami itu sunah” sering dipakai sebagai pembenaran poligami.

Padahal niy…, sepanjang hidupnya, Nabi lebih lama bermonogami daripada berpoligami lho. Bayangkan, monogami dilakukan Nabi di tengah masyarakat yang menganggap poligami adalah lumrah. Rumah tangga Nabi SAW bersama istri tunggalnya, Khadijah binti Khuwalid RA, berlangsung selama 28 tahun. Baru deh setelah dua tahun sepeninggal Khadijah, Nabi berpoligami. Itu pun dijalani hanya sekitar delapan tahun dari sisa hidup beliau. Dari kalkulasi ini, sebenarnya tidak beralasan pernyataan “poligami itu sunah”.

Bandingkan : 28 tahun dan 8 tahun!!!

Kalo laki-laki jaman sekarang yang berlindung pada pernyataan “poligami adalah sunnah”, itu sebenarnya hanya bentuk lain dari pengalihan tanggung jawab atas tuntutan untuk berlaku adil… Karena pada kenyataannya, sebagaimana ditegaskan Al Quran, berlaku adil itu sangat sulit dilakukan (liat lagi surat An-Nisa: 129).

DALIL “poligami adalah sunah” biasanya diajukan karena sandaran kepada teks ayat Al Quran (QS An-Nisa, 4: 2-3) lebih mudah dipatahkan. Satu-satunya ayat yang berbicara tentang poligami sebenarnya nggak mengungkapkan hal itu pada konteks memotivasi, apalagi mengapresiasi poligami. Ayat ini meletakkan poligami pada konteks perlindungan terhadap yatim piatu dan janda korban perang.

Sekali lagi : Ayat ini meletakkan poligami pada konteks perlindungan terhadap yatim piatu dan janda korban perang.

So, relevan ga sih kalo menggunakan konteks tersebut di jaman sekarang?

Dari kedua ayat itu, beberapa ulama kontemporer, seperti Syekh Muhammad Abduh, Syekh Rashid Ridha, dan Syekh Muhammad al-Madan –ketiganya ulama terkemuka Azhar Mesir– lebih memilih memperketat.(statement source: Faqihuddin Abdul Kodir Dosen STAIN Cirebon dan peneliti Fahmina Institute Cirebon, Alumnus Fakultas Syariah Universitas Damaskus, Suriah)

Lebih jauh Abduh menyatakan, poligami adalah penyimpangan dari relasi perkawinan yang wajar dan hanya dibenarkan secara syar'i dalam keadaan darurat sosial, seperti perang, dengan syarat tidak menimbulkan kerusakan dan kezaliman. Anehnya, ayat tersebut bagi kalangan yang pro-poligami diplesetin menjadi “hak penuh” laki-laki untuk berpoligami. Dalih mereka, perbuatan itu untuk mengikuti sunah Nabi Muhammad SAW.

So, jadi ANEH bin AJAIB banget ketika praktek poligami bahkan dipakai sebagai tolok ukur keislaman seseorang: semakin aktif berpoligami dianggap semakin baik poisisi keagamaannya. Atau, semakin bersabar seorang istri menerima permaduan, semakin baik kualitas imannya. Slogan-slogan yang sering dimunculkan misalnya, “poligami membawa berkah,” atau “poligami itu indah,” dan yang lebih populer adalah “poligami itu sunah.”

demo tolak poligami

demo tolak poligami

Dalam definisi fiqih, sunah berarti tindakan yang baik untuk dilakukan. Umumnya mengacu kepada perilaku Nabi. Namun, amalan poligami, yang dinisbatkan kepada Nabi, ini jelas sangat distorsif.

Alasannya, jika memang dianggap sunah, mengapa Nabi tidak melakukannya sejak pertama kali berumah tangga?

Sunah, kayak yang didefinisikan Imam Syafi'i (w. 204 H), adalah penerapan Nabi SAW terhadap wahyu yang diturunkan. Pada kasus poligami ini, Nabi sedang mengejawantahkan Ayat An-Nisa 2-3 mengenai perlindungan terhadap janda mati dan anak-anak yatim. Dengan menelusuri kitab Jami' al-Ushul (kompilasi dari enam kitab hadis ternama) karya Imam Ibnu al-Atsir (544-606H), kita dapat menemukan bukti bahwa poligami Nabi adalah media untuk menyelesaikan persoalan sosial saat itu, ketika lembaga sosial yang ada belum cukup kukuh untuk solusi.

Bukti bahwa perkawinan Nabi untuk penyelesaian problem sosial bisa dilihat pada teks-teks hadist yang ngomongin tantang perkawinan-perkawinan Nabi. Kebanyakan dari mereka adalah janda mati, kecuali Aisyah binti Abu Bakr RA.

Selain itu, ungkapan “poligami itu sunah” juga merupakan reduksi yang sangat besar. Nikah saja, menurut fikih, memiliki berbagai predikat hukum, tergantung kondisi calon suami, calon istri, atau kondisi masyarakatnya.

Nikah bisa wajib, sunah, mubah (boleh), atau sekadar diizinkan.

Bahkan, Imam al-Alusi dalam tafsirnya, Rûh al-Ma'âni, menyatakan, nikah bisa diharamkan ketika calon suami tau dirinya tidak akan bisa memenuhi hak-hak istri, apalagi sampai menyakiti dan mencelakakannya. Demikian halnya dengan poligami. Karena itu, Muhammad Abduh dengan melihat kondisi Mesir saat itu, lebih memilih mengharamkan poligami.

A tribute for a better brain, hehe…

NISA

NISA

, ,

  1. #1 by Muhamad Arifin on October 21, 2009 - 1:07 pm

    Secara keseluruhan bagus, tapi ada beberapa bagian yang aq kurang sependapat, walau aq juga kurang menyukai POLIGAMI…
    hal-hal yang kurang saya sukai adalah:
    1. ” dengan ekspresi berlebihan yang (seolah-olah?) bahagia…” –> bahagia itu adanya di hati, dan itu semua bisa ditutupi maupun dibuat-buat.
    2. “Dari kalkulasi ini, sebenarnya tidak beralasan pernyataan “poligami itu sunah”.” –> coba diinget lagi apa sih pengertian sunnah, apakah sunnah itu harus di pikir dengan akal/kalkulasi/analisa???
    3. “So, relevan ga sih kalo menggunakan konteks tersebut di jaman sekarang?” –>apakah sunnah itu hanya relevan di jaman Rosul???? Padahal Al qur’an dan As Sunnah itu bisa dipakai / relevan hingga hari kiamat nanti, bener gak?????
    4. memang sikap orang jika mengetahui sunnah ada bermacam-macam ada yang langsung didengarkan dan ditaati (seperti sahabat terdahulu), ada juga yang dipikir dengan akal dulu, kalo sesuai dengan akal diterima kalau tidak ditolak (diharamkan).

    Tapi dengan artikel itu semua bisa menambah keyakinanq trhadap hadist Rosul yaitu : “Islam akan terbaagi menjadi beberapa aliran, dan yang masuk syurga cuma satu” dan “penghuni neraka itu banyak dari golongan wanita”

    sekedar mengingatkan sebaik-baik umat adalah sahabat Rosul yg terdahulu yang ketika ada hadist/sunnah yang mereka lakukan adalah mendengarkan dan menaati…
    bukanya di pikirkan dulu dengan akal manusia yg lemah & penuh kekurangan baru dilakukan (jika sesuai akal) dan ditolak/diharamkan (jika tidak sesuai akal)

    tolong dikoreksi…

  2. #2 by nisa on October 21, 2009 - 2:52 pm

    terimakasih Arifin udah mampir… ^^
    terimakasih juga atas koreksinya…
    saya jawab semampu saya ya…

    1. Dalam artikel tersebut jelas dikatakan oleh sang istri pertama bahwa dia sendiri selalu mengalami kesusahan (kesedihan) saat dipoligami oleh suaminya. Dari situ bisa kita renungkan, apakah senyum yang diumbar di media benar-benar senyum yang bahagia?

    2. Banyak sekali ibadah sunnah yang bisa diteladani dari Nabi, lalu mengapa justru poligami yang digembor-gemborkan oleh para laki-laki sebagai ibadah sunnah berujung surga? Padahal poligami sendiri dilakukan oleh Nabi hanya 8 tahun karena kondisi peperangan saat itu. Lebih jauh tetang poligami itu, bisa dilihat di poligami (2), klik

    3. Aku sangat meyakini bahwa Al qur’an dan As Sunnah itu sangat bisa dipakai / relevan hingga hari kiamat nanti…,justru itulah kita tidak boleh memahami ayat tersebut sepotong-sepotong… Seperti kenyataannya, sebagaimana ditegaskan Al Quran, berlaku adil itu sangat sulit dilakukan (liat lagi surat An-Nisa: 129). ^^ Tapi YANG AKU MAKSUD dengan relevansi konteks adalah : “konteks perlindungan terhadap yatim piatu dan janda korban perang”… Liat deh kalimat sebelum “So, relevan ga sih kalo menggunakan konteks tersebut di jaman sekarang?”)
    Apakah konteks perlindungan terhadap yatim piatu dan janda korban perang itu relevan dengan kondisi masyarakat sekarang? Kondisi masyarakat dahulu memang memungkinkan untuk melakukan poligami dengan konteks perlindungan terhadap yatim piatu dan janda korban perang, tapi sekarang laki-laki menggunakan alasan seperti poligami yang dilakukan Nabi, padahal kondisinya jelas-jelas berbeda.

    4. mengutip : “Bahkan, Imam al-Alusi dalam tafsirnya, Rûh al-Ma’âni, menyatakan, nikah bisa diharamkan ketika calon suami tau dirinya tidak akan bisa memenuhi hak-hak istri, apalagi sampai menyakiti dan mencelakakannya. Demikian halnya dengan poligami. Karena itu, Muhammad Abduh dengan melihat kondisi Mesir saat itu, lebih memilih mengharamkan poligami.”

    Saya tidak mempertanyakan atau bahkan menentang poligami yang dilakukan Nabi pada jaman dulu, karena yang dilakukan Nabi adalah sangat penuh pertimbangan dan pilihan terbaik untuk masa itu. Alasan Nabi melakukan poligami adalah alasan yang relevan dengan kondisi massa itu… ^^
    Yang saya pertanyakan dan bahkan saya tentang adalah sikap laki-laki pada MASA SEKARANG yang merasa seolah-olah dirinya bisa bersikap se-adil Nabi dan merasa bahwa dia bisa berpoligami sebagaimana yang dilakukan Nabi, tanpa menyadari bahwa pemahaman si laki-laki itu terhadap poligami masih sepotong-sepotong, dan pemahaman yang sepotong2 itu digunakan sebagai pembenaran untuk poligami? Sungguh, laki-laki yang seperti itu justru malah merendahkan hakikat poligami di masa Nabi Muhammad SAW.

    Saya bukan orang yang mengeksklusifkan diri dengan menganggap apa yang saya lakukan dan yang saya pikirkan adalah selalu benar, semua ini adalah hasil diskusi panjang yang ingin saya bagi untuk seuruh perempuan dan laki-laki yang menjadikan poligami sebagai pembenaran atas ketidakmampuannya me-manage batin dan raga…,dan saya bukan orang yang menganggap diri sendiri masuk surga ataukah menjadi penghuni neraka. Wallahu 'alam…

  3. #3 by bandung bandawasa on October 22, 2009 - 2:49 pm

    Cukup menarik tapi saya kurang setuju dengan perbandingan masa antara monogami dan poligami yang dilakukan Nabi SAW. Bisa jadi orang yang punya anggapan Nabi SAW aja sebelum diangkat jadi Rasul/Nabi “Manusia biasa” selama 40 tahun, dan beliau SAW menjalani hidup sebagai Nabi dan Rasul selama 23 tahun. Apakah perbandingan itu bisa dijadikan tolok ukur untuk mendukung Bahwa Poligami tidak dianjurkan dalam Islam? So , perlu adanya pemahaman yang jelas, jangan asal mengutip dari pendapat/ijtihad para Ulama tanpa melihat konteksnya. Bisa jadi akan menimbulkan kebingungan masyrakat awan. Apa anda setuju Poligami dihujat dengan alasan bagian dari KDRT berkaitan dengan psikis wanita saat ini, sedangkan perzinaan dan perselingkuhan dihalalkan dengan alasan ikhlas dan suka-sama suka? Dengan dalil hadits Nabi SAW tentang penolakan beliau terhadap Ali Bin Abi Thalib ketika hendak menikah lagi banyak muslimah yang mengaku punya intelektual tinggi terjebak dalam pemahaman yang cenderung menghujat poligami. Padahal hadits yang lengkap tentang masalah Ali Bin Abi Thalib adalah sbb:
    Abu Yamân meriwayatkan kepada kami dari Syu’aib dari Zuhri dia berkata, Ali ibn Husain meriwayatkan kepadaku bahwa Miswar ibn Makhramah berkata, Sesungguhnya Ali meminang anak perempuan Abu Jahal. Kemudian Fatimah mendengar tentang hal itu lalu kemudian dia datang kepada Rasulullah s.a.w. dan berkata, “Kaummu mengira bahwa kamu tidak marah karena putri-putrimu. Dan ini Ali (ingin) menikahi anak perempuan Abu Jahal.” Lalu Rasulullah s.a.w. berdiri, maka dia pun berdiri. Kemudian aku mendengarkan Beliau ketika mengucapkan tasyahhud (seperti pada khutbah) dan berkata, “Amma Ba’d, Aku telah menikahkan Abu Âsh ibn Rabî’ kemudian dia berbicara kepadaku dan jujur kepadaku. Dan sesungguhnya Fatimah adalah darah dagingku dan aku tidak senang ada sesuatu yang menyakitinya. Demi Allah, tidak berkumpul anak perempuan Rasulullah s.a.w. dengan anak perempuan musuh Allah pada satu laki-laki.” Kemudian Ali meninggalkan pinangannya.
    Jadi Hadits di atas bisa dijadikan sandaran bahwa Nabi SAW bukan tidak mengizinkan Ali untuk menikah lagi, tetapi perempuan yang akan dinikahi oleh Ali yang membuat Nabi SAW tidak setuju sehingga Nabi SAW bersabda:
    Beberapa keluarga Bani Hasyim bin al-Mughirah meminta izin kepadaku untuk mengawinkan putri mereka dengan Ali bin Abi Thalib. Ketahuilah, aku tidak akan mengizinkan, sekali lagi tidak akan mengizinkan. Sungguh tidak aku izinkan, kecuali Ali bin Abi Thalib menceraikan putriku, kupersilakan mengawini putri mereka. Ketahuilah, putriku itu bagian dariku; apa yang mengganggu perasaannya adalah menggangguku juga, apa yang menyakiti hatinya adalah menyakiti hatiku juga.
    Janganlah adil dijadikan alasan untuk membatasi seseorang untuk melakukan poligami, padahal orang yang monogami bisa dikatakan tidak adil, sebab yang namanya adil itu harus ada pembanding, bagaimana mau dikatakan adil seorang laki-laki kalau istrinya cuma satu, adil dari sisi mananya???? kecuali adil menurut pandangan masing-masing individu yang tidak bisa dijadikan dasar ilmiah untuk menghukumi seseorang yang ingin menjalankan Islam secara kaffah.Pembagian menikah dalam pandangan fikih dari yang Wajib sampai yang haram tidak bisa dijadikan dasar hukum tanpa sebab yang jelas. thanks!!!

  4. #4 by nisa on October 22, 2009 - 8:56 pm

    Terima kasih bandung udah mampir…

    Makasih juga untuk infonya,kebetulan saya juga punya bahasan tentang hadits yang lengkap tentang masalah Ali Bin Abi Thalib itu.

    Sangat tidak benar bila hal itu menjadikan anda berpendapat banyak muslimah yang mengaku punya intelektual tinggi terjebak dalam pemahaman yang cenderung menghujat poligami.

    SAYA TIDAK MENGHUJAT POLIGAMI.
    Tolong itu diperhatikan.
    Yang saya “hujat” adalah sikap para laki-laki yang merelevankan diri untuk mengikuti poligami dengan alasan itu sebagai sunnah Nabi. Laki-laki pada masa sekarang tidak berkaca pada kondisinya. Laki-laki yang merasa pantas untuk berpoligami adalah laki-laki yang menyombongkan diri.

    DAN TIDAK ADA SATU PUN PERNYATAAN SAYA YANG MENGATAKAN SETUJU ATAS “perzinaan dan perselingkuhan dihalalkan dengan alasan ikhlas dan suka-sama suka”. Itu tidak termasuk dalam pembahasan poligami dalam artikel ini. Apakah Nabi berpoligami untuk menghindari zina? Setahu saya tidak begitu, Nabi berpoligami untuk menolong janda-janda korban perang dan itu adalah tujuan yang mulia.
    Mohon dipikirkan.

    Sesungguhnya laki-laki yang berpoligami hanya semata-mata untuk menghindari zina adalah LAKI-LAKI YANG MERENDAHKAN DIRI SENDIRI. Laki-laki yang baik seharusnya bisa mengendalikan hawa nafsunya untuk tetap berada dalam ikatan pernikahan yang sah dengan istri pertamanya. Bila seorang perempuan menikah dengan laki-laki yang berpoligami hanya untuk menghindari zina, bukankah dia menikahi laki-laki yang salah? ,-karena sang suami ternyata “bernafsu” terhadap perempuan lain.

    Anda mengatakan :”Janganlah adil dijadikan alasan untuk membatasi seseorang untuk melakukan poligami”,padahal dalam QS An-nisa’ 129 jelas mengungkapkan konteks keadilan dalam berpoligami. Tolong anda jangan sepotong-sepotong dalam mengartikan ayat-ayat tentang poligami. Tidak ada alasan bahwa keislaman seseorang disebut kaffah bila ia telah berpoligami. Ke-kaffah-an keislaman seseorang itu bukanlah manusia yang menilainya, melainkan hanya Allah SWT yang maha mengetahui. Banyak aspek dalam kekaffahan, dan poligami bukanlah tolok ukur yang bisa diandalkan. Mohon dicermati.

    Juga mengenai kalimat anda dalam : “Pembagian menikah dalam pandangan fikih dari yang Wajib sampai yang haram tidak bisa dijadikan dasar hukum tanpa sebab yang jelas”. Hukum tentang pernikahan yang saya ungkapkan dalam artikel diatas adalah analogi, sebagaimana seharusnya kita memahami poligami. Pernikahan adalah sebuah hal yang kompleks, tidak semata-mata meredam nafsu atau zina (seperti yang anda tanyakan). Saya mengerti mengapa anda begitu emosi dalam menanggapi topik poligami dalam artikel diatas, karena anda laki-laki pada umumnya. Jadi, tolong anda menghargai diri anda sendiri dengan menghargai wanita.

    TERIMA KASIH.

  5. #5 by Muhamad Arifin on October 23, 2009 - 1:53 pm

    Assalamu’alaikum

    Sebelumnya saya ingin katakan kalo saya juga tidak setuju dengan POLIGAMI, tetapi yang saya kurang setuju itu masalah pemahamannya.
    blog inikan bisa dibuka oleh siapa saja, jadi pemahaman orang setelah baca ini itu bisa berubah itu yang jadikan saya comment disini,

    ya sekedar ngasih masukan dalam beragama ada beberapa cara yaitu :
    1. Dengan menggunakan akal –> yang mana jika datang suatu hadist atau ayat dalam penafsirannya selalu menggunakan analisa akal (dengan data, kalkulasi dll), jika sesuai dengan akalnya maka ditrimanya, jika tidak sesuai ditolaknya dengan alasan sudah tidak sesuai dengan zaman saat ini…
    2. dengan menggunakan hati –> biasanya menggunakan kalimat “kan ini baik dan tidak ada yang tersinggung, tidak ada yang dibuat sedih/disakiti?”
    3. dengan menggunakan dalil –> jika datang hadist/ayat padanya jika itu sohih maka langsung dilakukannya, tanpa dianalisa terlebih dahulu karena itu semua datangnya dari Allah dan Rosulnya sehingga pasti bisa dilakukan pada jaman apapun..

    Maksudq itu…
    Untuk menyatakan bahwa ini halal/haram tidak bisa menggunakan akal manusia (baik analisa, kalkulasi maupun dari data) karena hukum haram/halal itu sudah jelas dari dalil bukan dari yang lain oke…

    kalo menggunakan kalkulasi tahun coba jawab pertanyaan ini
    Rosul sholat itu berapa tahun??? yang gak sholat berapa tahunnn????
    jadi ngapain kita sholat?????
    bagaimana hasil analisamu????

    oke..
    Jadi jika Rosul telah berikan contoh, Ayat di Alqur’an sudah jelas, maka kenapa masih diributkan lagi…
    & dalam mengatakan Halal/Haram harus menggunakan dalil jangan menggunakan akal, biar g keliru oke….
    salah satu imam besar mengatakan “Jika datangnya dari Allah maka akan saya lakukan, jika datangnya dari Rosul akan saya benarkan, jika datangnya dari sahabat akan saya pikirkan, jika datangnya dari ulama akan saya tolak, karena semua orang bisa lakukan itu” kalo gak salah Guru dari Imam Syafi’i
    oke coba di renungkan lagi apakah mendahulukan akal dari pada dalil itu benar….

    Oke Wassalamu’alaikum

  6. #6 by nisa on October 23, 2009 - 3:59 pm

    Wa’alaikumsalam…

    terimakasih arifin udah mampir dan makasih buat komennya juga…

    seneng deh artikel ini bisa jadi rame dengan komen,hehehe…

    good analysis, I like this, makasih ya… ^^

    yang saya ributkan disini adalah pemahaman laki-laki jaman sekarang terhadap poligami yang semata-mata menganggap poligami disunnahkan (bahkan beranggapan dianjurkan), dan semata-mata untuk menghindari zina. Kenapa laki-laki itu bisa menganggap poligami (hakikatnya kan pernikahan) menjadi begitu remehnya…?

    kalo tentang pendapat dari ulama itu, saya kutip sebagai analogi saja dan sebagai bahan pertimbangan tambahan.
    :)

  7. #7 by Mulkani on October 30, 2009 - 9:02 pm

    ass:
    Mb’, bagaimana kalau poligami yang marak sekarang ini tidak dihubung-hubungkan lagi dengan penekanan Sunnah atau kompilasi hukum Islam lainnya yg berafiliasi dengan poligami?
    Pasalnya, poligami kebanyakan sekarang ini, lebih bertitik-tolak pada konteks (kulit luar)-nya saja, tapi bukan pada substansi (isi dalam)-nya.
    Berbeda halnya di zaman Nabi Muhammad SAW, poligami mutlak pada penekanan substansinya. Lihatlah, Nabi SAW menikahi istri-istri beliau adalah dalam rangka berdakwah untuk menyi’arkan agama ALLAH. Oleh sebab itu, parameternya bukan pada konteks namun terletak pada substansi poligami itu. contoh: diantara istri-istri Rassul SAW terdapat wanita yang mengidap penyakit menaun; dan bahkan tidak dapat lagi melakukan hubungan suami-istri.
    Sementara, poligami yang marak sekarang lebih didorong nafsu, sehingga penekanannya pada konteks yaitu: menikahi anak di bawah umur, menikah dengan mantan artis/fotomodel dsb (pokoknya serba duniawi). Ini hak asasi – jalan saja. Tapi, tolong, jangan pakai dalih Sunnah, karena maknanya berbeda jauh.
    Tolong koreksi bila saya salah terima kasih
    (Mulkani – Jakarta)

  8. #8 by nisa on October 31, 2009 - 1:48 pm

    betul, saya setuju dengan Mulkani. Saya mengungkapkan tentang dalil sunnah ini karena laki-laki masa sekarang selalu saja menggunakan dalil sunnah ini sebagai pembelaan. Bahkan Aa’ Gym pun begitu kan, hehe… itulah kenapa saya jadi kehilangan respek dengan sosok beliau.

    “Sementara, poligami yang marak sekarang lebih didorong nafsu, sehingga penekanannya pada konteks yaitu: menikahi anak di bawah umur, menikah dengan mantan artis/fotomodel dsb (pokoknya serba duniawi).”
    iya, poligami pada masa sekarang telah jauh mengalami PENYIMPANGAN dari hakikat poligami pada masa Rosulullah.
    Hmmm….
    Just imagine,”Adakah laki-laki jaman sekarang yang rela berpoligami dengan janda tua 70 tahun yang keriput dan ompong?”
    Bahkan kiai sekaliber Zainuddin MZ dan Aa’Gym pun memilih berpoligami dengan perempuan muda (yang sebenarnya lebih pantas menjadi anaknya) yang cantik dan segar?
    Benar, bila ditinjau lebih jauh, poligami saat ini hanya mengedepankan aspek duniawi. Alasan sunnah hanya digunakan sebagai pembelaan.

    …Betapa menyedihkan bila laki-laki berpoligami dengan mengedepankan nafsu, tapi berkoar-koar bahwa mereka mengikuti sunnah Rosul.
    ….
    Naudzubillah…

(will not be published)

Before you post, please prove you are sentient.

What color is fresh snow?