Seandainya Indonesia dijajah Belanda Lagi…


Kuliah Manajemen Konstruksi hari itu cukup seru. Dosenku ngasih bahasan tentang trik-trik licik yang dilakukan di dunia konstruksi (baca: konsultan proyek dan kontraktornya…)

bangunan air

bangunan air

“Jadi, angka keamanan harus ditambah cukup banyak karena nantinya apa yang dikerjakan kontraktor tidak akan sama dengan spesifikasi teknis yang diberikan oleh konsultan…,akan ada pengurangan volume disana-sini…”

Cukup mencengangkan ternyata. Aku jadi kepikiran… Moral menjadi modal utama dalam memasuki dunia itu. Godaannya banyak banget, kontraktor tidak akan untung kalo ga mengambil “bagian” dari bahan dan konstruksinya…


Hmmm, mungkin ini juga yang menyebabkan dunia per-konstruksian di negara kita jadi mengkhawatirkan. Dedikasi para pembangun fisik negeri ini ternyata diracuni oleh moral bangsa yang masih lemah. Idealisme terhadap MUTU bangunan masih relatif kecil, dan mereka cukup permisif terhadap kecilnya faktor keamanan akibat korupsi bahan-bahan konstruksi yang digunakan…


Contohnya nih, jembatan baru yang dibangun di daerah Arjosari-Pacitan, yang menghubungkan jalan raya dengan pabrik baru yang akan diresmikan oleh presiden SBY. Belum ada seminggu jembatan itu selesai dibangun, sudah ambruk. Runtuh,-kalo istilah tekniknya,hehehe… Bayangin aja gimana kalo presiden jadi lewat situ dan ambruk. Owh…

Bukan berarti ga bangga dengan bangunan hasil karya anak negeri. Bangsa kita sebenernya juga mampu membangun bangunan-bangunan fisik yang bahkan lebih kuat daripada bangunan peninggalan-peninggalan sang penjajah itu.

Yang perlu disoroti hanya masalah IDEALISME. Idealisme yang berakar dari moral bangsa.

Korupsi bahan konstruksi kayaknya bukan jadi hal yang asing lagi di negara ini. Korupsi dan korupsi, sepertinya menjadi penyakit menular akut yang ga bisa ditolerir lagi.

Pembelaannya begini : “Kalo temen korupsi, masak aku enggak? Rugi dong!”

Kalo korupsinya itu buat hal-hal yang ga membahayakan nyawa orang banyak, mungkin ga terlalu ekstrem ya… Kita tidak terlalu menghujat mereka karena nantinya bakal ketauan sendiri, entah oleh KPK atau komisi-komisi lain (kalo nanti KPK bubar,,hihi)

Tapi kalo yang dikorupsi adalah bahan bangunan yang akan dipakai untuk membuat sebuah bangunan fisik yang menaungi nyawa orang banyak?

Apalagi kalo korupsinya gede-gedean,hmmm….

Idealisme civil engineer hingga level mandor dan buruh bangunan, seharusnya berpegang teguh pada standar mutu, bukan target profit. Sayangnya, ga semua dari mereka yang paham betul dengan standar mutu bangunan. Akhirnya terjadilah pemangkasan mutu disana-sini yang mengakibatkan mutu bangunan jadi rendah, bahkan mungkin sangat rendah.

Choi Chul-Soo di film Momment to Remember aja sampai bertengkar dengan bos-nya gara-gara sebagai mandor dia ga patuh sama bosnya. Bos-nya pengen beton segera dipasang padahal pondasinya tidak cukup kuat, kalo dipasang saat itu juga bisa-bisa gedung akan ambruk. Bos-nya ngejar target profit sih…

mandor kudu berprinsip!

mandor juga kudu berprinsip!

Seandainya aja mandor-mandor kita kayak Choi Chul-Soo,hahaha… Cakep pula ^^

:)

Balik lagi ke bahasan diatas deh…

Aku sering kagum dengan bangunan-bangunan yang dibuat oleh para penjajah Belanda di Indonesia ini (terlepas dari masalah penderitaan bangsa ini karena penjajahan itu ya! )

Istilah gaulnya nih : Kalo bikin bangunan tuh gak tanggung-tanggung.

Kadang-kadang aku mikir, seandainya saja kita dijajah Belanda lagi, setahun saja… Buat memperbaiki bangunan-bangunan struktural yang gak oke,hihihi… Bendungan-bendungan, saluran, tanggul, bendung,…semua diperbaiki… :p

Ayolah kawan, untuk hal ini kita contoh idealisme mereka, Oke?

Untuk pembangunan Indonesia yang lebih baik di masa depan ^^

Regards,

NISA dan INDONESIA
NISA dan INDONESIA

, , ,

  1. #1 by meema on October 17, 2009 - 8:44 am

    Penjajahan tidak boleh ada dimanapun dimuka bumi ini sayang..
    tapi soal mental,bener bgts…
    inilah potret kita,bukan pukul rata,tapi mayoritas lah.oke lah kita bangsa yang toleransinya tinggi, tapi buat hal2hal penting seperti bangunan yang fungsinya menaungi banyak orang,dari awal konstruksinya dah sunat sana-sini,apa ya harus ditoleransi juga..

  2. #2 by margareta on October 17, 2009 - 2:47 pm

    Cara berpikir yang menantang, judulnya menarik, bikin penasaran membayangkan apa yg dibahas.

    Nisa, aku penasaran aja, di tulisan kamu awalnya selalu muncul kode:

    Sehingga pas di bagian awal, tidak terlihat excerptnya. Sayang kan, excerpt ini adalah ‘jendela’ ke tulisan kita, dengan bahasa yang baik, bakal mengundang pembaca untuk bertamu…

  3. #3 by nisa on October 19, 2009 - 5:47 am

    @mbak meema :

    iya sih, aku sebenernya juga ga sepakat dengan segala bentuk penjajahan, hahaha… kecuali kalo si Belanda “menjajah”nya dalam bentuk memperbaiki struktur bangunan-bangunan air di negeri kita ;p

    well,mereka pasti gemes&geleng2 kepala melihat korupsi bahan bangunan yang dilakukan oleh (mayoritas?) engineer kita, owh… seandainya saja mereka juga mewariskan idealismenya… ^^

  4. #4 by nisa on October 19, 2009 - 5:50 am

    @mbak margaret :

    Makasih mbak… ^^
    …tapi kayaknya aku masih perlu edit sana-sini nih,,hehehe…,ada beberapa poin yang belum terposting >,<

    aku masih belum ngerti mbak,, excerpt tuh muncul dimana ya?Walo udah ku isi dengan summary artikelku, tapi kok kayaknya ga ada bedanya, hehe… aku gaptek nih mbak ^^

(will not be published)

Before you post, please prove you are sentient.

what is 5 plus 2?