WEBIO, Inovasi untuk Bumi Indonesia yang Lebih Sehat


banjir&genangan

banjir&genangan

Di posting terdahulu aku pernah ngomongin tentang konsep baru buat mengatasi bahaya banjir di kota-kota.

Konsep ini sebenernya merupakan gabungan dari biopori dan sumur resapan yang terbagi menjadi tiga aspek, yaitu :

  • · sistem,
  • · teknologi (alat), dan
  • · strukturnya.

Untuk sistemnya sendiri, udah kuikutin dalam LKTI Beswan Djarum, tapi cuma masuk ke tingkat regional aja,ihiks… Kalo buat alatnya lagi nunggu persetujuan dana dan paten, jadi ga akan kubuka di blog ini, heheheu… Kapan-kapan aja ya ^^ Nah, kalo strukturnya, rencana kujadiin skripsi, tapi masih dalam tahap penelitian (kapan lulusnya? Huhuhu…. T.T )

Oke Indonesia, yuk kita bahas dulu tentang sistemnya, siapa tau bisa berguna buat kita semua. Oke…. :)


………………………………………………………………………………………

Apa yang terjadi di alam Indonesia?

Wilayah Indonesia memiliki 6 persen persediaan air dunia atau 21 % air Asia-Pasifik. Tapi faktanya nih, di negara kita masih banyak masalah alam yang berkaitan dengan air, seperti banjir, kekeringan dan pencemaran, sehingga menyebabkan gangguan kesehatan dan kerusakan tata lingkungan. Hal ini nunjukin keadaan alam Indonesia telah mengalami kerusakan. Ga bisa dipungkiri pula bahwa kerusakan lingkungan akibat bencana yang disebabkan oleh air tersebut memberikan kerugian yang kompleks di segala aspek kehidupan. Kuantitas dan kualitas bencana yang terjadi mengindikasikan kurang efektifnya pengelolaan sumber daya alam di Indonesia.

Padahal, pengelolaan sumber daya alam yang tepat dan partisipatif dapat membantu meningkatkan potensi sumber daya manusia Indonesia untuk dapat bersaing di percaturan dunia lho…

Selama ini, perkembangan perekonomian suatu wilayah sering dihambat oleh kondisi alam yang nggak menentu. Kerusakan yang paling banyak terjadi disebabkan oleh banjir. Banjir dengan daya rusak yang beragam ini sangat sangat dan sangaaaaaaat berkaitan dengan perubahan signifikan tata guna lahan, terutama di Pulau Jawa. Tapi gimanapun juga perubahan tata guna lahan ini adalah hal yang nggak dapat dihindari sejalan dengan peningkatan jumlah penduduk dan perkembangan kawasan industri serta pemukiman.

Contohnya nih….

banjir di kota besar

banjir di kota besar

Salah satu permasalahan alam yang terjadi setiap tahun adalah banjir di kawasan hilir DAS, seperti Jakarta dan Surabaya. Kerugian yang dialami oleh para korban banjir besar banget dan bisa melemahkan citra Jakarta dan Surabaya sebagai pusat perekonomian. Sebenarnya permasalahan banjir tersebut harus mendapatkan perhatian dan partisipasi aktif dari masyarakat, baik di hulu maupun di hilir DAS. Oleh karena itu, harus diberikan suatu solusi inovatif yang secara efektif dapat dilakukan oleh seluruh masyarakat (partisipatif). Inovasi sederhana namun tepat dan hemat yang mampu meningkatkan daya resap air pada tanah dan mengurangi limpasan aliran air permukaan di kawasan tersebut. Dengan demikian, resiko banjir dan besarnya pengikisan tanah (erosi) akan menurun, sehingga memaksimalkan upaya masyarakat dalam membangun Indonesia.

………………………………………………………………………..

Flashback dikit….

Indonesia punya dua musim: musim penghujan dan musim kemarau sepanjang tahun, dengan jumlah air di suatu wilayah tergantung dari kedua musim itu… Kalo dua musim itu kita amatin lebih lanjut, maka beberapa hal yang sangat penting dapat ditemukan untuk dicermati. Pada waktu musim hujan selalu ada wilayah yang mengalami bencana banjir dan longsor. Sebaliknya, waktu musim kemarau, beberapa wilayah kekeringan.

Ada perbedaan debit air yang sangat besar untuk beberapa sungai pada saat dua musim tersebut berlangsung.

Inget deh…, dalam kurun waktu satu tahun terhitung sejak Januari 2002 hingga Februari 2003 saja telah terjadi bencana banjir sebanyak 72 kali. Seperti dikatakan oleh Jannes Eudes Wawa dalam surat kabar Kompas (2003:1), ”Jika banjir masih terus berlangsung, kerusakan sawah diperkirakan mencapai 1,6 juta hektar”, dan hal tersebut sangat berbahaya bagi ketersediaan pangan. Nggak hanya itu, banjir juga merusak perumahan penduduk, kawasan industri, cagar budaya, dan infrastruktur penting lainnya.

Resapan Air

=

PENTING!

resapan air

resapan air

Peresapan air ke dalam tanah tuh sangat penting mengingat adanya perubahan tata guna tanah di permukaan bumi sebagai konsekuensi dari perkembangan penduduk dan perekonomian. Dengan adanya perubahan tata guna tanah itu, bisa menurunkan kemampuan tanah untuk meresapkan air. Secara kan makin banyak tanah yang tertutup tembok, beton, aspal dan bangunan lainnya yang nggak meresapkan air.

Dilain pihak, pertambahan penduduk dan perkembangan industri menuntut bertambahnya kebutuhan air bersih, yang sampai saat ini masih banyak yang mengandalkan air tanah. Ketidakseimbangan antara pengisian dan pengambilan air tanah ini bikin muka air tanah cenderung makin turun .

Infonya nih, berbagai daerah di DKI Jakarta mengalami penurunan muka air tanah sekitar 30-40 meter dalam kurun waktu 100 tahun. Hal yang sama juga terjadi di Bandung, sebagaimana hasil penelitian Dirjen Geologi dan Sumber Daya Mineral Indonesia bekerjasama dengan Kedutaan Jerman, yang bilang bahwa muka air tanah di Bandung mengalami penurunan sebesar 1-2 meter per tahun.

Ngeri gak sih… >,<

Untuk menanggulangi defisit air tanah, telah banyak konsep yang diajukan, misalnya dengan genangan buatan, tapi dengan pertimbangan lokasi, ketersediaan lahan, biaya dan sumber daya manusia, maka konsep pokok yang akan dikembangkan dalam inovasi Sistem Webio (Well-Biopore) adalah metode sumur resapan yang telah lama digunakan dan metode lubang resapan biopori yang dicetuskan oleh Kamir Raziudin Brata, seorang peneliti dan dosen di Departemen Ilmu Tanah dan Sumber Daya Lahan IPB. Kedua konsep pokok ini aku telaah dan dikembangkan lebih lanjut untuk dapat saling mendukung peresapan air tanah yang lebih efektif dan efisien.

Sumur Resapan, apa itu?

  • Secara sederhana sumur resapan diartikan sebagai sumur gali yang berbentuk lingkaran atau segi empat dengan kedalaman tertentu.
  • Sumur resapan berfungsi untuk menampung dan meresapkan air hujan yang jatuh diatas permukaan tanah baik melalui atap bangunan, jalan dan halaman.
  • Prinsip kerja sumur resapan adalah menyalurkan dan menampung air hujan ke dalam lubang atau sumur agar air dapat memiliki waktu tinggal di permukaan tanah lebih lama sehingga sedikit demi sedikit air dapat meresap ke dalam tanah. Dengan demikian, air akan lebih banyak masuk ke dalam tanah dan sedikit yang mengalir sebagai aliran permukaan (run off).

Beberapa fungsi sumur resapan bagi kehidupan manusia adalah sebagai pengendali banjir dan konservasi air tanah. Fungsi lain dari sumur resapan ini adalah memperbaiki kondisi air tanah atau menaikkan permukaan air sumur. Air yang tersimpan dalam tanah tersebut akan dapat dimanfaatkan melalui sumur-sumur atau mata air.Selain itu adanya sumur resapan juga mampu menekan besarnya aliran permukaan dan berarti dapat menekan laju erosi. Bahkan, penerapan sumur resapan pada kawasan permukiman akan memberikan keuntungan ganda, yaitu dapat memperkecil dimensi jaringan drainasi.

Trus, Biopori tu apa?

biopori

biopori

Biopori atau yang biasa disebut dengan Teknologi Lubang Resapan Biopori merupakan metode alternatif untuk meresapkan air hujan ke dalam tanah, selain dengan sumur resapan. Pemanfaatan Biopori ini akan membuat keseimbangan alam terjaga, sampah organik yang sering menimbulkan bau tak sedap dapat tertangani, disamping itu juga dapat menyimpan air untuk musim kemarau.

Peningkatan jumlah biopori itu dapat dilakukan dengan membuat lubang vertikal kedalam tanah. Lubang-lubang itu selanjutnya diisi bahan organik, seperti sampah-sampah organik rumah tangga, potongan rumput atau vegetasi lainnya, dan sejenisnya. Bahan organik ini kelak akan dijadikan sumber energi bagi organisme di dalam tanah sehinga aktifitas mereka akan meningkat. Dengan meningkatnya aktifitas mereka maka akan semakin banyak biopori yang terbentuk.

Kesinergisan antara lubang vertikal yang dibuat dengan biopori yang terbentuk akan memungkinkan lubang-lubang ini dimanfaatkan sebagai lubang peresapan air artifisial yang relatif murah dan ramah lingkungan.

Selain itu kelebihan dari biopori ini adalah memperkaya kandungan air hujan. Karena setelah diresapkan kedalam tanah lewat Biopori yang mengandung lumpur dan bakteri, air akan melarutkan dan kemudian mengandung mineral-mineral yang diperlukan oleh kehidupan.

Kelebihan LRB lainnya adalah selain sederhana, alat ini sangat mudah digunakan oleh kaum perempuan. Selain itu 10 manfaat dari LRB ini antara lain adalah memelihara cacing tanah, mencegah terjadinya keamblesan (subsidence) dan keretakan tanah, menghambat intrusi air laut, mengubah sampah organik menjadi kompos, meningkatkan kesuburan tanah, menjaga keanekaragaman hayati dalam tanah, mengatasi masalah yang ditimbulkan oleh adanya genangan air seperti Demam Berdarah, Malaria, Kaki Gajah, (mengurangi masalah pembuangan sampah yang mengakibatkan pencemaran udara dan perairan), mengurangi emisi gas rumah kaca (CO2 dan metan), serta mengurangi banjir, longsor dan kekeringan.

………………………………………………………

Sistem Webio (Well-Biopore)

untuk Konservasi Air dan Tanah

……………………………

Secara harfiah, Sistem Webio (Well-Biopore) adalah modifikasi dari kedua sistem tersebut, yaitu dengan menggabungkan desain sumur resapan dan lubang resapan biopori menjadi sebuah sistem peresapan air yang efektif. Sistem ini lebih efektif dari metode konservasi lahan dan air tanah dengan sistem danau buatan ataupun vegetasi, karena nggak memerlukan pembebasan lahan secara khusus yang membuang waktu, tenaga dan biaya.

Sistem Webio juga bersifat seperti web, dimana antara titik Webio yang satu dan yang lain adalah satu kesatuan seperti jejaring yang dikoordinasikan langsung oleh tiap desa ataupun batas administratif lain.

Ini nih… keunggulan inovasi Sistem Webio

dibandingkan dengan metode konservasi lahan lainnya:

1161

1. Cocok digunakan untuk kawasan yang secepatnya memerlukan peresapan air, karena nggak terlalu membutuhkan penanaman dengan vegetasi yang memerlukan waktu lama untuk masa tumbuh atau pemindahan bibit pohon yang merepotkan.

2. Cukup dengan memanfaatkan saluran drainase yang sudah ada, saluran tersebut hanya dimodifikasi di beberapa bagian untuk meningkatkan daya tampungnya tanpa harus manambah luasan lahan.

3. Dapat memperbaiki kesuburan tanah dalam waktu relatif cepat dengan memanfaatkan pembusukan sampah organik yang mengisi pori tersebut menjadi kompos.

4. Meningkatkan peran serta masyarakat secara aktif. Berdasarkan pengembangan dan pemeliharaannya, Sistem Webio menekankan bahwa tiap keluarga adalah bagian penting dari jaring-jaring (web) yang sangat mempengaruhi kekuatan jaring secara keseluruhan sehingga tiap warga merasa memiliki tanggung jawab moral.

…………………………………………………………….

Komponen-komponen Sistem Webio

Sebagai kesatuan sistem yang memadukan keunggulan dari metode-metode konservasi air, sistem Webio memiliki beberapa komponen pokok dengan penamaan, struktur, dan fungsi yang berbeda-beda tergantung penempatan dalam jaringan Webio. Dimensi tiap struktur juga udah dianalisa berdasarkan data rerata curah hujan dan limpasan permukaan yang terjadi di Pulau Jawa. Perhitungan dimensi dapat dilihat dalam lampiran. Komponen-komponen itu adalah sebagai berikut :

A. Webio PSE (Pertemuan Saluran Eksisting)

Pada tiap pertemuan saluran drainase dibuat Well-Biopore dari bahan yang paling banyak terdapat di lokasi. Ilustrasi dapat dilihat sebagai berikut :

webio di saluran

webio di saluran

B. Mini Webio DST (Dasar Saluran Tanah)

Apabila dasar saluran masih berupa tanah, tiap 2 meter saluran dapat dibor beberapa lubang kecil dengan diamater 10 cm dan diberi pipa PVC. Kemudian di bagian atas diberi pengaman besi supaya nggak terperosok ke dalam lubang. Masukkan sampah organik (sisa dapur, sampah kebun/taman) ke dalam lubang.

C. Mini Webio SS (Samping Saluran)

Pada bagian pinggir kanan dan kiri saluran dibuat lubang-lubang resapan juga untuk membantu mengurangi aliran yang masuk kedalam saluran, sehingga luapan air akibat kurangnya kapasitas saluran dapat dihindari.

D.  Webio RK (Rumah dan Kantor)

Pada daerah pemukiman dan perkantoran dibuat seperti skema berikut.

resapan di halaman

resapan di halaman

Untuk Webio Area yang berupa komplek perumahan dengan kapling terbatas, misalnya kompleks perumahan sederhana, penempatan Webio RK yang memenuhi syarat akan relatif sulit. Untuk mengatasi hal ini maka perlu dibuat Webio RKK (kolektif) dimana satu sumur resapan kolektif dapat melayani beberapa rumah, misalnya per blok atau per RT. Untuk menjamin air mengalir dengan lancar, maka sumur resapan kolektif sebaiknya diletakkan pada lahan yang paling rendah diantara kawasan yang dilayani.

Sebenarnya dengan langkah yang disebutkan diatas, sumur resapan saja sudah cukup untuk mengatasi genangan. Namun faktanya di berbagai daerah masih tetap terdapat genangan. Oleh karena itu sistem Webio menawarkan inovasi untuk mengatur genangan tersebut dengan “lubang jebakan” sebanyak mungkin namun tetap terarah dan berestetika.

Sebagai ilustrasi nih…..

Kalo tiap 1 meter di kanan dan kiri saluran dibuat Webio SS, maka untuk saluran sepanjang 100 meter telah terdapat 202 lubang kecil bervolume 1,6 meter kubik yang bisa menjadi tempat pembuangan sampah organik serta meresapkan air dengan volume sekitar 1 meter kubik tiap detik. Dengan kata lain, Webio SS saja mampu menyerapkan debit air banjir sebesar 60 meter kubik tiap jam. Volume peresapan ini tentu akan jauh lebih besar bila dipadukan dengan komponen-komponen Sistem Webio yang lain secara lengkap.

Inget jugaaaaa…. ^^

Adanya peran serta dan dukungan pemerintah terhadap inovasi dalam Sistem Webio hendaknya benar-benar konkrit dan mampu memacu masyarakat untuk lebih menyadari pentingnya menjaga lingkungan, misalnya dengan membuat program Jaringan Webio Terbaik tiap tahun.

Regards,

NISA

NISA

, ,

  1. #1 by iwan on October 19, 2009 - 11:44 am

    Sprti apapun teori yg dibicarakan …. jka tak ada prakteknya …. smuanya hnya akn sia2 …. dn itulah negara kita …. hnya mngeluarkan statemen tp g da bukti nyata … . yach …. smoga za negara kt ni kdpannya kn brubah mnjadi lebih baik …. tntunya baik dalam sgala bidang … amiiin .

  2. #2 by nisa on October 19, 2009 - 3:47 pm

    masalah utama di negara kita sebenernya adalah kesadaran, bahkan dengan “ditampar” bencana pun masih ga sadar juga… ^^
    tapi daripada kita berdiamdiri, berusaha mencari solusi (walau belum praktek) lebih baik kan? :)

    thanks for ur comment,, mampir lagi yaaaaa… ^^v

  3. #3 by Maghfur Amin on October 20, 2009 - 10:04 am

    Pemikiran kamu sebenarnya menarik Nis..emang gk salah dulu aku dkk milih kamu bwt jadi Beswan, hahahaha.
    Ulasan seperti diatas akan lebih menarik dan gk bikin jenuh buat pembaca Blog… jika postingnya diberikan secara bertahap tapi tetp nyambung dengan postingan2 sebelumnya.
    Keuntungannya :
    – Postingan kmu tdk terlalu panjang yg bikn org cpt bosen baca (Blog BUKAN Buku),
    – tiap tulisan kmu bisa punya fokus yg disampaikan di tiap postingnya
    – bikin pembaca yg tertarik dg tulisan kamu jadi penasaran dg tulisan kmu selanjutnya,
    – memancing pengunjung utk datang lagi krn ingin tau kelanjutan postingan kmu.

  4. #4 by nisa on October 20, 2009 - 12:12 pm

    @mz aam : wah kakakkyu mampir…,thanks buad komennya ya mz…. :)

    iya mas,,good idea,,tapi kalo dibikin bertahap tu masalahnya aku suka lupa bikin kelanjutannya,, hwahahahaha…. :D

    Aku baru sadar nih,,ternyata postingan ini panjang banget ya… Jadi malu…. ^^

  5. #5 by gek sintha on October 24, 2009 - 9:46 am

    ya aaammmmpuuunnnn nis,,,,,
    Panjaaannnnggggg buangetttzzzzz,,,,,,
    hahahahahaha,,,,,
    km mau bikin mini LKT??? huhuhu,,,,,
    Tp okeh bgt penyajiannya,,,,,,
    Welcome to MDP sista (klo aku yg jadi jurinya, km langsung menang!!!!!) hoho,,,

  6. #6 by Eki Sophya on October 25, 2009 - 10:44 am

    ASKum…mba nisa.. senengnya searching dapet tulisan punya mba.. ya,, bsa buat nambah isi di tugas essay aku ttg KOnservasi air…emm,, bentar..curhat dikit nieh… ide mba mank bagus c buat dilaksanain… v buat daeraha aku (Banjarmasin) kayanya ga bisa diterapkan tue.. soalnya… daerahku tue tanahnya jenis rawa… jadi.. kalo buat lubang biopori rada susah… cz pasti lubang yg ada dalem tanah always keisi air teruss… v salud dech buat pemikirannya!!! aku ambil yaaa buat tambahan isi tugas essay..he. Lam Kenal!!

  7. #7 by nisa on October 25, 2009 - 8:18 pm

    @gekta : hahaha….,biznya aku bingung juga mo memangkas yang mana,hehehe,,jadi panjang gini deh… ;p
    ayo gekta MDP menanti…. :)

  8. #8 by nisa on October 25, 2009 - 8:24 pm

    @eki : hai eki,…makasih ya udah mampir. seneng deh kalo artikelku bisa berguna,hehe…
    kalo setau aku, konservasi di daerah rawa biasanya dibarengkan dengan model reklamasi daerah rawa, jadi metodenya memang beda.. kapan-kapan aku posting tentang reklamasi daerah rawa juga ya… ^^
    Mampir lagi eki… :)

  9. #9 by aljiun on January 29, 2010 - 4:03 am

    wow, surprise nih dengan penjelasan biopori dan sumur resapannya….kebetulan kita lagi cari litertur2 yang bisa kita sosialisasikan untuk rencana jangka panjang kegiatan kampus …”membuat desa binaan untuk percontohan desa hijau seutuhnya di pinggiran kota sebesar jakarta”….yang aslinya sampai sekarang sangat tidak peduli dengan lingkungan….jika tidak keberatan, mohon berkenan untuk menjadi mentor kita dalam mengaplikasikan rencana kita menjadi sebuah wujud yang riil….thx before, wass

  10. #10 by fadli on April 22, 2010 - 12:16 pm

    blognya sangat berboot yaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa………………….
    thanks 4 ilmunya……….
    :-)

  11. #11 by fadli on April 22, 2010 - 12:17 pm

    fadli :
    blognya sangat berbobot yaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa………………….
    thanks 4 ilmunya……….

(will not be published)

Before you post, please prove you are sentient.

What is 4 * 7?