Poligami (3) : “Koalisi Laki-laki Menolak Poligami, Siapa Hendak Turut…?”


no poligami

no poligami

Lagi-lagi hari ini dikejutkan (dalam arti positif) oleh berita seputar poligami. Yup, udah berdiri sebuah klub yang menamakan dirinya “KOLMI”, Koalisi Laki-laki Menolak Poligami. Klub ini dibentuk sebagai reaksi atas berdirinya Klub Poligami di Bandung beberapa waktu yang lalu. Untuk lebih lanjut artikel saya seputar Klub Poligami, klik disini : Poligami (1) dan Poligami (2).

Kelompok laki-laki yang menolak poligami itu merasa bahwa berdirinya Klub Poligami sebagai bentuk bentuk perendahan diri martabat laki-laki. Yups, selama ini laki-laki memiliki lebih dari satu istri dengan alasan yang paling nge-trend : “menghindari zina”.

“Perendahan martabat laki-laki itu ditujukan dengan anggapan bahwa laki-laki sebagai manusia agresif, menang sendiri, serakah, tidak pernah puas dengan satu perempuan, dan tidak setia. Selama ini banyak terbukti bahwa laki-laki yang berpoligami adalah laki-laki yang tidak punya hati, liar, dan suka berselingkuh. Yang lebih parah lagi, akibat praktek poligami itu kaum laki-laki dianggap sebagai manusia yang tidak bisa mengatur nafsunya.”

Haha… Betul sekali :)

Penggagas Kolmi, Fauzi, dalam berita di Harian Surya mengatakan “ Poligami merupakan upaya perendahan martabat laki-laki dan melanggar prinsip-prinsip keadilan dan kemanusiaan.”

Secara pribadi, aku setuju dengan statement itu. Laki-laki berpoligami semata-mata untuk menghindari zina? Laki-laki berpoligami karena tidak bisa mengendalikan nafsunya (ooops, sori…) dan merasa akan lebih baik bila ia melampiaskannya dalam bentuk : MENIKAH LAGI.

Anggapan laki-laki yang pro-poligami : daripada berzina lebih baik poligami.

Tidakkah mereka berpikir, bahwa dalam suatu pernikahan ada banyak aspek yang harus diperhatikan? Pernikahan bukan hanya melulu masalah “biologis”. Masalah komitmen dengan istri dan penyatuan dua keluarga besar, masalah rencana masa depan, masalah anak dan pendidikannya, juga masalah psikologis yang dihadapi oleh keluarga yang berpoligami.

Apakah anak akan tumbuh dalam kondisi psikologis yang baik bila ayahnya menikah lagi? Dalam psikologi anak, kondisi orangtua yang mengkhianati komitmen adalah sama dengan BROKEN HOME. Apakah itu akan meninggalkan luka dan trauma mendalam bagi sang anak? Jawabannya : IYA.

Seorang anak tidak akan tumbuh dengan kondisi psikologis yang baik bila berada dalam keluarga yang menganggap remeh esensi komitmen dalam pernikahan. Adakah anak yang akan CUEK dan TIDAK PEDULI pada ibunya yang setiap hari menangis dan bersedih karena ditinggal menikah lagi oleh sang ayah tercinta? Kondisi traumatik seperti itu akan membawa si anak dalam kondisi yang buruk pada pendidikan dan jiwa sosialnya.

Dengan kondisi seperti ini, apakah generasi Indonesia akan lebih baik nantinya?I don’t think so…

Saya jadi terpikir, jangan-jangan Klub Poligami masuk ke Indonesia itu berencana untuk menciptakan generasi Indonesia dengan kondisi psikologis yang tidak sehat? Dan kondisi generasi bangsa yang traumatik dan lemah itu akan membawa bangsa Indonesia dalam keterpurukan.

So, saya sangat mendukung dengan Koalisi Laki-laki yang menolak berpoligami. Apa yang mereka pikirkan dari sebuah lembaga perkawinan sangat lengkap dan tidak sepotong-sepotong. Penghargaan seorang laki-laki terhadap perempuan dapat tercermin dari sini. Apakah laki-laki akan rela saat ibunya ditinggal oleh ayahnya untuk berpoligami dengan perempuan lain? Apakah laki-laki akan mengikhlaskan saudara perempuannya terluka karena iparnya juga “bernafsu” pada perempuan lain? Apakah laki-laki akan merelakan anak perempuannya diduakan (atau ditigakan, atau diempatkan…) oleh menantunya?

Tanyakan pada nurani masing-masing…

Menurutku, laki-laki yang membawa-bawa nama agama untuk berpoligami adalah laki-laki yang justru merendahkan agamanya sendiri. Bagaimana tidak? Mereka mengatakan bahwa agamanya men-sunnahkan poligami, padahal yang dia lakukan adalah upaya untuk melampiaskan ketidakmampuannya dalam mengendalikan diri…,dan itu jelas-jelas sangat jauh dari esensi poligami pada masa Rosul.

Mengapa selalu ada kalimat : “…lebih baik poligami daripada berzina..”???

Bukankah akan lebih baik jika : “…lebih baik tidak berzina daripada berzina..”

Hehehe…

Hmmm….. Tadi sore-sore sempat jalan-jalan sama mas Google dan mampir di Tempo Interaktif :

“Sikap poligami, menurutnya, justru bentuk perendahan martabat lelaki. “Lelaki dilabelkan sebagai manusia yang tidak bisa memanajemen syahwatnya,” jelas Wawan.

Koalisi juga berniat mengukuhkan keputusan Mahkamah Konstitusi tentang aturan poligami dalam UU Perkawinan (UU No.1/1974). “UU harusnya bukan lagi memperketat poligami, melainkan harus melarang,” tegasnya. Karena sebagian besar poligami, Wawan melanjutkan, justru mengakibatkan kekerasan, diskriminasi dan pencideraan terhadap nilai-nilai manusia terutama pada perempuan.

Wawan yang juga anggota Jurnal Perempuan, menilai sudah terlalu banyak aturan yang melemahkan peran perempuan mulai dari Peraturan Daerah, tidak ketatnya UU Perkawinan hingga yang baru, yakni lahirnya UU Anti Pornografi dan Pornoaksi. “Kalau poligami ini semarak kembali, tambah sengsara nasib perempuan,” imbuhnya.

Maka momen saat ini, dirasa Wawan, tepat untuk mendeklarasikan Koalisi sebagai penyeimbang Klub Poligami yang baru saja lahir di Bandung. “Laki-laki juga peduli monogami,” imbuhnya. Nantinya gerakan koalisi akan menyebarluaskan kampanye anti poligami dan bekerja sama dengan Lembaga Bantuan Hukum untuk advokasi UU Perkawinan Koalisi Laki-Laki Anti Poligami Tandingi Klub Poligami.”

…………………………………………………………………………………………………………………..

Laki-laki yang anti poligami tersebut adalah laki-laki yang memikirkan lebih jauh tentang keberadaan perempuan yang sangat dihargainya. Hmmm….,kita, perempuan memang membutuhkan laki-laki seperti itu…,yang menghargai kita dan komitmen terhadap sebuah pernikahan.

Saat ini, aku sangat mempertanyakan kondisi bangsa Indonesia kalo poligami makin marak di negeri ini. MAKIN KACAU. Perempuan makin tidak dihargai, dan laki-laki akan membawa kerendahan bagi diri mereka sendiri.

Di semua kasus poligami, istri kedua, ketiga, atau keempat selalu dan selalu : “lebih cantik, lebih segar, dan lebih menggoda” daripada istri pertama. Dan laki-laki yang serakah serta tidak pernah puas dengan istri pertama yang dimilikinya akan mencari segala pembenaran untuk bisa mendapatkan perempuan-perempuan yang “lebih” itu…

Apakah perempuan yang menjadi istri kedua, istri ketiga, atau istri keempat itu tidak menyadari posisi mereka yang HANYA DIJADIKAN SEBAGAI … (oooppsss…,soriiiiii…. aku sampai gak tega ngomongnya…)…???

Apakah perempuan yang menjadi istri kedua, istri ketiga, atau istri keempat itu tidak berpikir tentang : kondisi keluarga yang telah dia rusak, kondisi psikologis anak-anak dari istri pertama, kondisi dua keluarga besar yang akan saling berseteru,…juga pandangan NEGATIF dari masyarakat yang akan menuduh dia PEREMPUAN PERUSAK RUMAH TANGGA ORANG?

Dan apakah mereka tidak berpikir bahwa : si laki-laki mampu meninggalkan istri pertamanya untuk menikah dengan dia.. Tidak menutup kemungkinan bahwa si laki-laki akan meninggalkan dia untuk perempuan lainnya lagi. Is it right?

Intinya, perempuan yang menjadikan dirinya sebagai istri muda (kedua, ketiga, atau keempat) adalah perempuan yang tidak punya hati, tidak punya perasaan, tidak menghargai perasaan perempuan lain dan perempuan seperti itu BUKANLAH kriteria yang tepat untuk menjadi seorang istri, APALAGI SEORANG IBU.

Hampir di semua kasus poligami, ketertarikan mereka adalah pada harta si laki-laki. Istilah kerennya sih : MATERIALISTIS. Laki-laki yang sudah kaya dan mapan, serta mengalami puber kesekian, dan lupa bahwa harta tersebut diperolehnya bersama sang istri pertama,-MULAI MENGALAMI KESERAKAHAN BATIN.

Merasa sudah bisa “membeli” istri kesekian, karena satu istri tidak cukup.

Dan istri kesekian itu, apa istilah yang tepat untuk “mereka”? Perempuan yang bisa dibeli -kah? Atau perempuan…?

Ah, silakan anda sendiri yang mengisinya…

virus R4N1

virus R4N1

Seperti halnya Rani Juliani (ini diluar kasus Antasari Azhar ya…) yang menjadi istri kesekian dari Nasrudin Zulkarnaen… Bagaimana pendapat anda tentang sosoknya sebagai istri muda? Positifkah?

Saya yakin : anda yang berpikiran jernih akan menjawab “SANGAT TIDAK POSITIF”, kecuali bila anda menyadari bahwa anda adalah laki-laki yang tidak bisa mengendalikan diri untuk memiliki istri kedua seperti Rani.

……………………………………………………………………………………………………………………………..

Intinya adalah, anda sendirilah yang memilih untuk menjadi laki-laki seperti apa.

1. Laki-laki yang munafik

Apakah anda ingin menjadi laki-laki yang munafik dan menggunakan agama sebagai kedok? Hai…, banyak jalan menuju surga, banyak sunnah dan ibadah yang bisa mendekatkan kita dengan Tuhan. Janganlah jadi laki-laki yang tidak menghargai komitmen pernikahan yang anda sumpahkan dibawah nama Tuhan.

2. Laki-laki yang merendahkan diri sendiri.

Apakah anda berniat menikah lagi hanya untuk menghindari zina? Itu adalah bukti konkrit yang menunjukkan bahwa anda hanya menganggap perempuan sebagai budak “…” , dan laki-laki seperti itu berkedudukan lebih rendah dari dasar laut. Karena anda adalah laki-laki yang serakah pada wanita, tidak ada bedanya dengan laki-laki yang hobi “…”, hanya saja anda berniat menutupinya dengan kemunafikan.

3. Laki-laki yang tidak menghargai agamanya

Apakah anda merasa agama anda menganjurkan poligami? Berarti anda adalah laki-laki yang mengalami kesalahan persepsi dan interpretasi pada ajaran agama anda. Pelajari segala yang berhubungan dengan poligami dan pernikahan, -SECARA UTUH. Dengan menyadari apakah anda PANTAS berpoligami atau tidak, berarti anda menghargai ajaran agama anda.

4. Laki-laki yang “tidak cukup hanya satu”

Apa nama lain dari laki-laki seperti ini? Serakah atau tamak? Ada istilah yang lebih tepat namun sangat tidak pantas diungkapkan disini karena kata-kata tersebut tidak ada dalam kamus, hehehe… Laki-laki seperti ini sama buruknya dengan laki-laki dalam nomor 1-3, dan perempuan yang lebih mengutamakan kondisi anak akan memilih untuk menjadi single parent. Yap, lebih baik tidak punya suami daripada punya suami yang serakah pada perempuan lain.

Dan lain-lain…, silakan anda membuat kategori sendiri… Saya merasa tidak sanggup membayangkan laki-laki yang tidak jauh berbeda dengan nomor 1-4 diatas… Laki-laki seperti itulah yang akan membawa Indonesia dalam kehancuran karena membawa generasi-generasi yang PATAH HATI, BROKEN HOME, TRAUMATIK, dan rawan kekerasan (fisik dan atau psikologis)…

Bukankah sebuah ikatan perkawinan yang sehat adalah : satu ayah dan satu ibu? Tidak perlu menggunakan alasan “BERBAGI” untuk bisa mendewasakan keluarga, karena berbagi bisa dilakukan kepada sesama dan sosial, bukan dengan membagi hati dibawah komitmen perkawinan yang RAPUH.

Renungkanlah…

Laki-laki yang mampu mengendalikan diri untuk tetap setia pada satu perempuan adalah laki-laki yang menghargai perempuan dan komitmennya. Laki-laki yang menghargai dan menjunjung tinggi keberadaan perempuan adalah wujud bakti kepada ibu mereka sendiri. Wujud kasih sayang kepada saudara-saudara perempuannya. Wujud kesetiaan kepada keluarga dan ikatan perkawinan yang dilakukan dibawah nama Tuhan. Wujud pengabdian dan cinta tak berbatas pada anak-anaknya.

Dicari : laki-laki seperti ini. Adakah yang tidak ingin memiliki suami seperti ini? :)

……………………………………………………………………………………………..

Buat bahan perenungan untuk semua laki-laki dan perempuan,

REGARDS

perempuan...

perempuan...

, ,

  1. #1 by ini budi on November 3, 2009 - 9:57 am

    Q tidak mendukung club manapun…pa lagi yang poligami, kondisi dan keadaan orang di satu daerah dengan yg laen berbeda…pula dlam budaya…
    btw Q suka kata2 ni……………

    “Apakah laki-laki akan rela saat ibunya ditinggal oleh ayahnya untuk berpoligami dengan perempuan lain? Apakah laki-laki akan mengikhlaskan saudara perempuannya terluka karena iparnya juga “bernafsu” pada perempuan lain? Apakah laki-laki akan merelakan anak perempuannya diduakan (atau ditigakan, atau diempatkan…) oleh menantunya?”

    nyentuh bgt….jwbn nurani swajarnya TIDAK RELA!

  2. #2 by uji on November 3, 2009 - 10:12 am

    ampun..hahaha

  3. #3 by khairul rasyid on November 3, 2009 - 11:26 am

    setubuh…
    eh, kepleset…
    setuju maksudnya….

  4. #4 by iwan on November 3, 2009 - 3:09 pm

    aduuuuh …. w bngung neh kasih commentnya , w g dkng orang yg pro n kontra sm poligami . tpi intinya w cma ingn bilang poligami it hukumnya halal slama istrinya tidak lebih dari 4 . sbgaimana yg tlah disebutkan didlm Al-quran. thanx .

  5. #5 by nisa on November 3, 2009 - 3:13 pm

    @budi :
    betul budi,, akhirnya bahasan poligami akan masuk pada budaya yang berhubungan dengan kondisi sosial masyarakat di daerah tsb… Apakah poligami akan mjd budaya di Indonesia? Semoga tidak…

    Thanks buat komennya, mampir lagi ya.. ^^

  6. #6 by nisa on November 3, 2009 - 3:21 pm

    @uji :
    wehehehehehe….,pasti uji jadi takut buat poligami ;p
    hayooooooooo…. ^o^

  7. #7 by nisa on November 3, 2009 - 3:23 pm

    @khairul : hehehe…,makasih udah mampir…
    memang sikap laki-laki terhadap poligami ntu macem-macem sih…,tapi saya yakin sebenarnya laki-laki juga punya nurani… ya kan… :)

  8. #8 by nisa on November 3, 2009 - 3:27 pm

    @iwan :
    thanks buat komennya :)

    saya tidak membicarakan ttg halal-haram,kawan… itu diluar wewenang saya..,yang saya bahas disini adalah pentingnya kekuatan komitmen sebuah pernikahan. Bukankah awal dari poligami adalah ketertarikan dan ketertarikan itu adalah sebuah ketidaksetiaan?

    begitulah… ^^
    mampir lagi ya… ^^

  9. #9 by afrizal ramadhan on November 3, 2009 - 3:33 pm

    poligami itu halal seperti yang dijelasin dalam alqur’an tapi memang banyak banget syaratnya, dan inilah yang mustinya di buat pertimbgan, jangan dijadikan kedok karena agama saja halal dan syarat serta ketentuan diterjang. ini yang salah…

    fiuh…fiuh,,,
    jadi pingin nulis parameter apa sih yang kudu di pake, kalo poligami, dan itu susaah banget…
    ga ada manusia yang adil

    eng ing eng,,, trus aku milih mana…
    aku tetep pada alqur’an dengan kehalalannya tapi aku milih cukup satu aja,, karena aku yakin aku ga bisa adil… hehehe

    jare arek surabaya

    siji ae ga entek… hahaha peace…

  10. #10 by nisa on November 3, 2009 - 3:46 pm

    @ichalku :
    weh,,aku ga ngomongin halal-haram poligami sayang,, aku membahasnya dari SEGI NURANI. Nurani si laki-laki dan nurani si perempuan kedua.

    Betuuul….,selama ini aku perhatikan bahwa laki-laki hanya menggunakan agama sebagai kedok…
    ada buanyaaaaaaaak banget kan syarat untuk poligami, gag hanya masalah ADIL saja… tapi juga masalah kondisi pasangan tersebut. Mungkin ttg ketentuan-ketentuan itu akan ku-post di lain kesempatan, berdasarkan buku-buku ttg pernikahan yang aku rampok dari lemarinya abah,,hihihi…

    Sebenarnya dengan ketentuan-ketentuan dari Islam sendiri yang begitu lengkapnya, bisa dikatakan bahwa POLIGAMI itu : hampir mustahil untuk dilakukan.
    Tapi kok laki-laki jaman skrg menerjang semua itu,huffff…. >,<

    heh…, kalo km niat poligami, kita putus aja wes,,heheheu… ;p

  11. #11 by Syamsul on November 3, 2009 - 3:57 pm

    Assalamualaikum… aku belum baca secara keseluruhan tapi aku InsyaAllah bisa menangkap inti dari pembahasanmu kali ini, aku menghargai setiap pendapat seseorang, karena aku yakin setiap orang berpendapat pasti memiliki dasar2 yang dijadikan alasannya(pegangannya)… yang pasti bagi aku, semulia2nya manusia yaitu nabi kita Muhammad pun, tidak bisa berlaku adil dalam hal “perasaannya” terhadap istri2nya. tapi Beliau SAW mampu berlaku seolah-olah memberikan perasaan yang sama ke setiap istrinya…
    aku tidak menyalahkan siapapun baik yang pro ataupun anti…

    tapi yang terpenting bagiku, “Poligami jangan dimaknai dengan makna yang sempit”… banyak aspek yang orang sering singkirkan dalam memaknai poligami itu sendiri…

  12. #12 by nisa on November 3, 2009 - 4:16 pm

    Wa’alaikumsalam…
    welcome Syamsul… ^^
    benar sekali bahwa : poligami jangan dimaknai sempit..

    So, kalo belum memahami luasnya aspek dalam pernikahan dan poligami, lebih baik tidak usah poligami kan,, hehe…

    …daripada menjadikan agama dan Nabi sebagai pembenaran atas ketidakmampuan dalam mengendalikan diri…
    …Betapa menyedihkan bila laki-laki berpoligami dengan mengedepankan “nafsu”, tapi berkoar-koar bahwa mereka mengikuti sunnah Rosul.

    mengutip dari komen di posting sebelumnya : Pasalnya, poligami kebanyakan sekarang ini, lebih bertitik-tolak pada konteks (kulit luar)-nya saja, tapi bukan pada substansi (isi dalam)-nya.
    Berbeda halnya di zaman Nabi Muhammad SAW, poligami mutlak pada penekanan substansinya. Nabi SAW menikahi istri-istri beliau adalah dalam rangka berdakwah untuk menyi’arkan agama ALLAH. Oleh sebab itu, parameternya terletak pada substansi poligami itu. Contoh: diantara istri-istri Rassul SAW terdapat wanita yang mengidap penyakit menaun; dan bahkan tidak dapat lagi melakukan hubungan suami-istri.
    Sementara, poligami yang marak sekarang lebih didorong nafsu, sehingga penekanannya pada konteks yaitu: menikahi anak di bawah umur, menikah dengan mantan artis/fotomodel dsb.

    Pada akhirnya itu semua kembali pada si laki-laki…,karena poligami adalah pilihan. Dia akan tetap bertahan pada komitmen pernikahan pertamanya, ataukah membuka hati untuk pernikahan kedua? Dan itu berpangkal pada nurani.. (lagi-lagi)

    Thanks Syamsul…
    Mampir lagi ya … :)

  13. #13 by fafan on November 4, 2009 - 6:52 am

    saya balik lagi ke blogmu nih,,hehehe

    kl nurut sy disesuaikan aja sama kebutuhan zaman dan peradaban. regardless bhwa agama membolehkan, kan y repot kl gak sesuai kondisi.

    inget,, prnikahan masuk tataran muamalah, dimana asas mudharat-manfaat (dari sisi sosial-masyarakat) lebih penting, dan halal-haram jd gak bgitu pnting….karena apa, karna yg halal bs jd haram dan bgitu sbaliknya

    daging babi dan bangkai haram apa itu absolut? tentu tidak. perbudakan itu halal apa brati sy boleh punya budak di zaman ini. jika dan hanya jika (haha..ky matematika) suatu saat ada perang2an, dalil perbudakan akan otomatis ‘teraktivasi’ lagi. klo suatu saat -mungkin- poligami bermanfaat,, setelah perang banyak laki2 yang mati.. tujuan poligami ya biar banyak anak, dan karena terlalu banyak janda yg ditinggal mati suaminya..maka kalo dibiarkan akan mubazir dan negara akan makin lemah (bayangkan jumlah penduduk total 1/10 nya gara2 mati perang, bayangkan jumlah rasio laki2:perempuan 1:10). sapa yg mau gali kuburan, manjat pohon pinang..(emang 17an? hehehe), ngebor minyak bumi (bukan inuL lohh..), nambang batubara, n pekerjaan kasar laennya. boleh2 aja wanita bkrja dibidang2 itu, but diingat bahwa wanita diciptakan dg ornamen2 yg lebih halus karena hakekatnya untuk tugas2 halus yg tidak mungkin bisa dilakukan laki2..

    satu hal laen, untuk negara tertentu spt Saudi -KSA, bisa jd kultur poligami adalah biasa. sy liat ya ga papa klo gitu, ya yg pgn poligami pada pindah kesana aja. ok?? pisss… jgn lupa disiram,,hehehe

  14. #14 by nisa on November 4, 2009 - 7:12 am

    Yuhuuuu fafan,, welcome back! Hehehe… ^^

    Sebenarnya halal-haram itu bukan hal yang saya bahas di artikel ini…, toh sehalal atau seharam apapun perbuatan itu, semuanya akan ada pertanggungjawabannya di hadapan Allah. Ya kan?

    Thanks buat komennya…,hihihi, mampir lagi ya… :)

  15. #15 by fafan on November 4, 2009 - 7:45 am

    benere gak trtarik komen poligaminya…
    cuma judul e kayak lirik sebuah lagu pas jaman dulu aku masih kecil,, hehehehehe

  16. #16 by nisa on November 4, 2009 - 4:11 pm

    naik kereta api ya…? haghaghaghaghag…. ^o^

  17. #17 by Wawan Suwandi on June 21, 2010 - 5:16 pm

    Hallo Nisa, senang sekali bisa membaca tulisanmu yg segar ini. Bukan bermaksud narsis, namun dari sekian banyak bahasan tentang poligami dan KOLMI, umumnya sinis dan lagi-lagi mejadikan agama sebagai pembenar untuk memaki aksi-aksi menolak poligami. Penentang hukum Tuhan lah dsb.
    Membaca tulisanmu lumayan memberikan harapan bahwa tidak semua anak indonesia taklid (buta) dalam melihat persolan poligami yg melulu menyandarkan pada ajaran agama sebagai pembenar yg kemudian dijadikan alasan untuk melakukan eksekusi poligami. Saya dan teman-teman yg tergabung dalam KOLMI dan kamu tentunya, sepakat bahwa persoalan poligami adalah masalah budaya dan cara pandang yang keliru tentang eksistensi perempuan serta memandang sebelah mata akan hak-hak kaum perempuan.

    Aku meminta izin untuk menjadikan tulisanmu tentang poligami untuk ditautkan di akun facebook CLUB ANTI POLIGAMI yang terus berdiskusi tentang poligami. Semoga dirimu bersedia turut membahas tentang poligami di akun Club Anti Poligami.

    Salam kenal,

    Wawan Wuwandi

  18. #18 by nisa on June 27, 2010 - 3:02 pm

    @wawan suwandi :
    selamat datang di blog saya Pak Wawan, senang sekali anda berkenan mampir dan memberikan komentar. Silakan tulisan ini ditautkan dengan akun FB KOLMI, saya akan segera mampir di akun tersebut.

    terima kasih, dan salam juga kenal dari saya.. :)

(will not be published)

Before you post, please prove you are sentient.

What is 6 times 9?